NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Dekapan di Tengah Malam

​Ekspresi pria itu tampak begitu serius, sesuatu yang sulit dipahami oleh Tania. Namun, ia merasa permintaan maaf dari sosok seperti pria ini memiliki bobot yang luar biasa. Rasa tidak nyaman dan dongkol yang sempat bersarang di hatinya perlahan menguap.

​"Hm... iya, dimaafkan," ucap Tania sambil menghirup napas, berusaha membuat suaranya terdengar lebih santai. "Karena kamu sudah mengobati kakiku dan kelihatannya tulus, aku maafkan."

​Nada bicaranya ringan, membawa aura kepolosan khas gadis muda yang menawan. Sudut bibirnya pun terangkat sedikit, membentuk senyum tipis.

​Tatap mata Hans tertuju pada wajah cantik itu selama beberapa detik. Senyuman Tania seolah menyilaukan matanya yang biasanya hanya melihat kegelapan.

​Bibir tipisnya bergerak pelan, "Hans Lesmana. Itu namaku."

​Setelah terdiam sejenak, ia menambahkan dengan suara berat yang mengandung otoritas mutlak, "Ingat itu baik-baik."

​Jantung Tania berdegup kencang. Ia mengulang nama itu dalam hati: Hans Lesmana.

​Nama yang sangat cocok dengan kesan yang ia berikan—dingin, namun menyimpan sisi liar yang sulit ditaklukkan. Terutama kalimat terakhirnya, "Ingat itu baik-baik," begitu dominan hingga membuat Tania merasa sedikit sesak napas, namun anehnya, ia tidak merasa benci.

​Tepat saat itu, ponsel Tania berdering nyaring, memecah suasana canggung di antara mereka. Tania segera menjawab; itu dari Ghina.

​"Halo, Ghin... aku tidak apa-apa. Kamu ke sini saja..." Tania menggantung kalimatnya dan menoleh ke arah Hans dengan pandangan bertanya. "Ini ruangan nomor berapa?"

​Hans tidak memalingkan wajah saat menjawab lugas, "8888."

​"Ruang VVIP 8888, ke sini ya." Tania menutup telepon dan mengembuskan napas lega. Dengan adanya sahabatnya nanti, ia tidak perlu menghadapi kumpulan orang-orang berkuasa ini sendirian.

​Kurang dari dua menit, pintu ruangan terbuka dengan suara brak! Ghina merangsek masuk seperti angin puting beliung. Suaranya sudah terdengar sebelum sosoknya muncul.

​"Tania! Kamu tidak apa-apa? Kamu membuatku takut setengah mati! Siapa orang gila yang menabrakmu, hah?"

​Namun, begitu ia melihat pemandangan di dalam ruangan, suaranya terhenti seketika. Matanya membelalak, dan mulutnya membentuk huruf O sempurna.

​Di atas sofa, selain Tania, ada seorang pria dengan aura yang begitu kuat hingga terasa menyesakkan, sedang fokus menatap pergelangan kaki Tania. Di sisi lain, Yohan—putra mahkota keluarga kaya yang terkenal seantero Jakarta—tampak seperti sedang menonton pertunjukan menarik.

​Duduk di sekitar mereka adalah beberapa orang lain yang tidak Ghina kenali namanya, namun dari penampilannya jelas adalah kaum konglomerat—sosok-sosok yang biasanya hanya muncul di sampul majalah bisnis atau rumor kalangan jetset. Mereka semua menatap Ghina, sang penyusup yang ceroboh, dengan sikap tenang.

​Ghina menarik napas dalam-dalam, otaknya mendadak blank. Ia mematung di tempat.

​Ya Tuhan, perkumpulan macam apa ini! Kenapa Tania bisa ada di sini?

​Ia segera meredam kegarangannya. Dengan gerakan kikuk, ia beringsut ke samping Tania dan berbisik sangat pelan, "Tania sayang... siapa mereka? Kenapa auranya seperti dewa semua? Kakimu... kakimu bagaimana? Parah tidak?"

​Pandangannya tertuju pada pergelangan kaki Tania yang masih merah merona, dan nadanya langsung berubah tegang.

​Tania menepuk tangan sahabatnya dengan lembut. "Tidak apa-apa, cuma terkilir sedikit dan sudah diobati. Aku ingin pulang."

​Dengan adanya Ghina di sisinya, keberanian Tania sedikit bertambah.

​Hans melangkah maju, nadanya terdengar sangat natural. "Aku antar."

​Tania segera menggeleng dan menunjuk ke arah luar. "Tidak perlu repot-repot, sopir keluargaku sudah menunggu di bawah."

​Ia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan pria ini.

​Ghina melirik kaki Tania, lalu menatap sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter yang tergeletak di samping sofa. Ia merasa dilema dan tampak khawatir. "Tania, kakimu bengkak begitu... dan kamu pakai high heels, bagaimana mau turun? Pasti sakit sekali kalau dipaksakan jalan."

​Tania pun mengernyit, menatap sepatunya. Itu memang masalah besar. Ia tidak mungkin meloncat-loncat dengan satu kaki sampai ke lobi, kan?

​Hans memperhatikan gurat kebingungan di wajah Tania. Melihat bengkak di kakinya membuat hatinya sedikit berdenyut, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​Ia melangkah maju, setitik kelembutan yang bahkan tidak ia sadari menyelinap ke dalam suaranya yang dingin. "Masih sakit? Biar kugendong ke bawah."

​Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah keputusan yang tak bisa dibantah. Namun, di akhir kalimatnya, ada nada halus yang seolah sedang meminta izin.

​Pipi Tania seketika memanas. Sosok Hans yang tinggi menciptakan tekanan yang tak terlihat. Ia mendongak, menatap mata hitam pria itu yang seolah tanpa batas. Tatapan yang begitu fokus dan tajam itu membuat irama jantung Tania berantakan.

​Ia memang masih merasa kesakitan dan sulit bergerak. Setelah ragu sejenak, ia akhirnya mengangguk sangat pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "...Maaf merepotkan."

​Detik berikutnya, aroma parfum pine yang segar dan maskulin dari tubuh pria itu menyelimutinya. Setelah sensasi melayang yang singkat, ia sudah bersandar dengan mantap di dada bidang yang terasa hangat.

​Hans mengangkatnya dengan posisi bridal style. Lengannya sekokoh batu karang; Tania bahkan tidak merasakan guncangan sedikit pun.

​Hans merasa tubuh di dekapannya sangat ringan dan lembut. Harum dari rambut Tania terhirup masuk ke hidungnya, mengusik pikirannya. Lengannya tanpa sadar mengencang; sebuah rasa puas dan posesif yang luar biasa liar tumbuh di hatinya.

​Ia menginginkan gadis ini!

​Saat pikiran itu muncul, Hans sendiri merasa terkejut. Ia selalu membanggakan dirinya sebagai orang yang dingin dan penuh kendali. Kapan ia pernah memiliki emosi sekuat ini pada gadis yang baru ia temui? Namun perasaan ini begitu nyata dan kuat hingga tak bisa diabaikan.

​Hans menunduk. Telinga Tania yang memerah dan bulu matanya yang bergetar karena gugup berada tepat di depan matanya. Ia bahkan bisa merasakan napas hangat Tania.

​"Anak pintar," bisiknya dengan suara sedikit serak, seolah sedang menekan sesuatu di dalam dirinya.

​Ia berpikir, jika ia bisa menggendongnya seperti ini selamanya, itu bukan ide yang buruk.

​Sementara itu di dalam ruangan, Yohan dan yang lainnya merasa rahang mereka sudah jatuh ke lantai. Terutama Yohan; ia mengucek matanya berulang kali, takut ia sedang berhalusinasi karena terlalu banyak minum. Apakah ini benar-benar Kak Hans yang selama ini menganggap wanita sebagai sumber masalah?

​Gerakan yang hati-hati itu, tatapan khawatir yang tak bisa disembunyikan... berbagai pikiran melintas di otak Yohan. Apa gunung es ini akhirnya mencair? Atau dia langsung ingin melompat ke garis finish?

​Hans seolah tuli terhadap tatapan-tatapan penuh keheranan di belakangnya. Dengan langkah mantap, ia menggendong Tania menyusuri koridor, keluar dari kemegahan "Sky Palace".

​Sopir Tania sudah memajukan mobil ke depan pintu masuk dan menunggu dengan hormat sambil membukakan pintu belakang.

​Ghina akhirnya tersadar dari syoknya. Ia berlari kembali ke ruangan tadi, menyambar tas Tania dan tasnya sendiri, lalu tanpa sempat menjelaskan pada yang lain, ia hanya berseru pendek, "Kami duluan ya!" dan mengejar mereka secepat kilat.

1
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!