NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GEMURUH LANGIT DAN DARAH TUA

Asap mengepul dari reruntuhan taman kediaman Tuan Yan. Arka berdiri di tengah kawah kecil yang tercipta akibat hantaman energinya sendiri. Di seberangnya, pria tua berbaju putih itu—yang kemudian diketahui sebagai Tetua Pertama dari Tiga Tetua Gunung, bernama Ki Ageng—masih berdiri dengan tenang. Tongkat kayunya tertancap di tanah, namun anehnya, tak ada sebutir debu pun yang menempel pada jubah putihnya yang berkilau di bawah cahaya bulan.

"Anak muda, kau memiliki bakat yang langka. Dalam seratus tahun terakhir, baru kali ini aku melihat seseorang yang bisa membantai enam Shadow Guard Level S tanpa bernapas terengah-engah," suara Ki Ageng terdengar berat, seperti suara gesekan batu besar di dasar sungai. "Tapi bakat tanpa kerendahan hati hanyalah resep menuju pemakaman dini."

Arka tidak menyahut. Ia sedang sibuk menekan gejolak di dalam dadanya. Mata Saktinya kini tidak hanya berdenyut, tapi terasa seperti bara api yang ditekan masuk ke dalam otaknya. Pandangannya berubah; ia tidak lagi melihat taman atau pepohonan. Ia melihat dunia sebagai jaring-jaring energi. Dan di mata Arka, Ki Ageng adalah sebuah pusaran energi berwarna hijau tua yang sangat pekat, melambangkan elemen kayu dan bumi yang telah mencapai tingkat kesempurnaan.

"Terlalu banyak bicara untuk orang yang sudah bau tanah," sahut Arka datar. Ia melangkah maju. Setiap langkahnya meninggalkan bekas kaki yang menghitam di rumput, hangus oleh aura destruktif yang merembes keluar dari pori-porinya.

"Kurang ajar!"

Ki Ageng menghentakkan tongkatnya. DUAAKK!

Tanah di bawah kaki Arka mendadak meledak. Akar-akar raksasa yang sekeras baja melesat keluar dari dalam bumi, melilit kaki dan tangan Arka dalam hitungan milidetik. Akar itu tidak hanya mengikat, tapi juga memiliki duri-duri halus yang mencoba menghisap energi kehidupan dari tubuh Arka.

"Ini adalah Teknik Penjara Bumi," ujar Ki Ageng sambil berjalan mendekat. "Semakin kau melawan, semakin cepat energi dalam tubuhmu terkuras habis. Kau hanyalah seekor katak di bawah tempurung, Arka. Kau merasa kuat karena hanya berhadapan dengan manusia biasa, tapi di hadapan praktisi sejati, kau bukan apa-apa."

Arka menundukkan kepalanya. Rambutnya menutupi matanya yang kini bersinar emas-kemerahan. Suara tawa kecil, dingin dan parau, keluar dari tenggorokannya.

BOOOOOM!

Sebuah ledakan energi berwarna emas murni meledak dari pusat tubuh Arka. Akar-akar raksasa itu hancur menjadi serpihan kayu dalam sekejap. Arka melesat maju, kecepatannya kini melampaui batas yang bisa ditangkap oleh mata manusia. Ia berubah menjadi bayangan emas yang membelah kegelapan malam.

Ki Ageng terbelalak. Ia mengangkat tongkatnya untuk menangkis, namun kepalan tangan Arka sudah mendarat di atas permukaan energi pelindung sang tetua.

PANG!

Suara hantaman itu terdengar seperti dua gunung yang bertabrakan. Gelombang kejutnya menyapu sisa-sisa pohon di sekitar mereka hingga tumbang. Ki Ageng terdorong mundur sepuluh langkah, kakinya menyeret tanah hingga membentuk parit dalam.

Suara hantaman itu terdengar seperti dua gunung yang bertabrakan. Gelombang kejutnya menyapu sisa-sisa pohon di sekitar mereka hingga tumbang. Ki Ageng terdorong mundur sepuluh langkah, kakinya menyeret tanah hingga membentuk parit dalam.

"Bagaimana mungkin..." gumam Ki Ageng, tangannya yang memegang tongkat kini bergetar hebat. "Kau belum melakukan kultivasi formal, bagaimana cadangan energimu bisa sepadat ini?"

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia kembali menyerang. Serangkaian pukulan bertubi-tubi dilancarkan, masing-masing membawa beban ribuan ton tekanan. Setiap kali tinju Arka beradu dengan tongkat Ki Ageng, percikan energi memercik ke udara seperti kembang api maut.

Mata Sakti Arka mulai bekerja di level yang berbeda. Ia mulai melihat 'titik aliran' di tubuh Ki Ageng—titik-titik lemah di mana energi sang tetua bersirkulasi.

Di sana!

Arka merendahkan tubuhnya, menghindari sabetan tongkat yang membawa angin puyuh, lalu ia menusukkan dua jarinya tepat ke arah ulu hati Ki Ageng. Teknik ini bukan tentang kekuatan kasar, melainkan tentang gangguan frekuensi energi.

PUK!

Mata Ki Ageng melotot. Ia memuntahkan seteguk darah hitam. Pertahanannya runtuh sesaat. Arka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia memutar tubuhnya, memberikan tendangan memutar yang telak menghantam rahang sang tetua.

KRAK!

Tubuh tua itu meluncur deras, menghantam tembok beton kediaman Tuan Yan hingga jebol. Debu konstruksi menutupi segalanya.

Hening sejenak.

Arka berdiri diam, napasnya mulai sedikit berat. Mata kanannya mulai mengeluarkan setetes darah—tanda bahwa ia memaksa Evolusi Tahap Dua melampaui kapasitas fisiknya. Namun, ia tidak bisa berhenti. Instingnya mengatakan bahwa orang tua itu belum selesai.

Dari balik reruntuhan debu, sebuah tawa dingin terdengar. "Bagus... Bagus sekali! Sudah tiga puluh tahun aku tidak merasakan rasa darahku sendiri."

Ki Ageng keluar dari reruntuhan. Bajunya yang putih kini kotor dan robek, memperlihatkan kulitnya yang anehnya terlihat seperti kulit pohon yang mengeras. Ia tidak lagi terlihat seperti kakek tua yang bijak, melainkan seperti monster kuno yang haus darah.

"Kau memaksaku menggunakan Kartu As-ku, bocah," Ki Ageng mengangkat tangannya ke langit. "Dengan nama Konsorsium dan sumpah Tiga Tetua, aku memanggil: Roh Gunung Merapi!"

Langit Jakarta yang tadinya hitam kelam mendadak berubah menjadi merah membara. Suhu udara naik secara drastis hingga rumput-rumput di sekitar mereka mulai terbakar spontan. Di belakang Ki Ageng, muncul bayangan raksasa berbentuk siluet manusia dari api dan lava

Tekanan energinya begitu besar hingga Arka merasa paru-parunya seperti dihimpit beton. Di dalam gedung, Tuan Yan dan para pelayan jatuh pingsan karena tidak kuat menahan aura yang begitu menindas.

"Ini adalah kekuatan tingkat Earth Realm," desis Ki Ageng dengan wajah beringas. "Mati kau dalam abu!"

Raksasa api itu mengayunkan tangannya ke arah Arka. Sebuah hantaman lava pijar yang sanggup meratakan satu blok perumahan meluncur turun.

Arka mendongak. Di tengah kepungan maut itu, ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam jiwanya. Mata Saktinya tidak lagi memberikan peringatan bahaya, melainkan... perintah. Perintah untuk menelan.

Apakah ini yang disebut Kakek sebagai 'Naga yang Terkurung'? batin Arka.

Arka tidak lari. Ia justru menutup matanya. Ia membiarkan seluruh pertahanan energinya turun. Ia memfokuskan seluruh sisa kekuatannya pada satu titik: pupil matanya.

"Jika kau adalah gunung, maka aku adalah langit yang akan menelanmu!" teriak Arka.

Saat lava itu nyaris menyentuh ujung kepalanya, Mata Sakti Arka terbuka lebar. Kali ini, tidak ada warna emas. Seluruh irisnya berubah menjadi hitam pekat sepekat lubang hitam di luar angkasa.

TEKNIK MATA SAKTI: NIHILITAS!

Gelombang hitam meledak dari mata Arka. Lava panas yang seharusnya menghanguskannya mendadak terhisap masuk ke dalam pusaran hitam di depan Arka. Bukan hanya lava, tapi aura raksasa api di belakang Ki Ageng pun mulai terkoyak, ditarik paksa oleh gravitasi absolut yang diciptakan Arka.

"Apa?! Tidak mungkin! Kekuatan apa ini?!" Ki Ageng berteriak histeris. Ia mencoba menarik kembali energinya, tapi terlambat. Ia bisa merasakan jiwanya sendiri ikut terseret keluar melalui matanya.

Ruang dan waktu di taman itu seolah terdistorsi. Suara teriakan Ki Ageng menghilang, tertelan oleh kesunyian absolut dari teknik Arka.

Beberapa detik kemudian, semuanya berakhir.

Ledakan hitam itu menghilang, menyisakan taman yang benar-benar gundul. Tidak ada rumput, tidak ada sisa bangunan, hanya tanah merah yang gersang. Ki Ageng bersimpuh di tanah, tubuhnya layu seperti buah kering. Ia masih hidup, tapi seluruh kultivasi dan energi dalamnya telah lenyap—dihisap habis oleh Arka

Arka berdiri limbung. Darah kini mengalir dari kedua matanya. Kepalanya terasa seperti dipukul palu godam berulang kali. Namun, di tengah rasa sakit itu, ia merasakan energi baru yang sangat besar mengalir di pembuluh darahnya—energi hasil jarahan dari Ki Ageng.

Ia berjalan mendekati Ki Ageng yang sudah tak berdaya. Arka mencengkeram kerah baju orang tua itu.

"Katakan," bisik Arka, suaranya mengandung ancaman dari dasar neraka. "Siapa dua tetua lainnya, dan di mana Konsorsium menyembunyikan 'Kunci Dimensi' yang kalian curi dari brankas ibuku?"

Ki Ageng hanya bisa megap-megap, matanya yang pudar menatap Arka dengan ketakutan yang tak terlukiskan. "Kau... kau bukan manusia... kau adalah bencana...

Sebelum Arka sempat mendapat jawaban, sebuah bayangan melesat dari arah kegelapan hutan di belakang rumah. Bukan serangan, melainkan sebuah bom asap beracun yang meledak tepat di antara mereka.

"Arka! Mundur!" suara itu milik Clarissa.

Arka mencoba mengejar, namun tubuhnya akhirnya mencapai batas. Ia jatuh berlutut, pandangannya menggelap. Hal terakhir yang ia lihat adalah Clarissa yang berlari ke arahnya dengan wajah pucat, dan siluet dua orang lainnya yang berdiri di atas atap gedung, menatapnya dengan tatapan dingin.

Arka tak sadarkan diri, tapi di dalam alam bawah sadarnya, ia melihat Kakek Misterius itu lagi. Sang Kakek menunjuk ke arah sebuah pintu besar yang dirantai. "Kau baru saja membuka satu rantai, Arka. Tapi ingat, saat kau memakan energi orang lain, kau juga memakan kebencian mereka. Bersiaplah, karena dua Tetua lainnya tidak akan datang dengan kehormatan... mereka datang untuk menjemput nyawa ibumu."

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
asik juga nih
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!