NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Suasana di kamar Aira sore itu terasa begitu hening dan mencekam. Hanya terdengar suara jarum jam dinding yang berdetak pelan, tik… tok… tik… tok…, seiring dengan detak jantung gadis itu yang berirama tidak menentu.

Aira duduk di tepi ranjangnya, memeluk lututnya sendiri. Matanya menatap kosong ke arah jendela tempat sinar matahari sore mulai memudar, digantikan oleh bayangan-bayangan gelap yang mulai merayap masuk. Pikirannya kalut. Segala sesuatu berjalan begitu cepat, terlalu cepat baginya untuk mencerna semuanya.

Hari ini adalah hari di mana seluruh dunianya berubah. Pernikahan dengan pria asing, Elvano Praditya, bukan lagi sekadar wacana atau tawar-menawar, melainkan sebuah keputusan mutlak yang sudah ditandatangani oleh takdir dan kebutuhan.

Ting… tong… ting… tong…

Bel rumah berbunyi nyaring, memecah lamunan Aira. Namun sebelum sempat Aira bereaksi, suara langkah kaki yang sangat cepat dan berat sudah terdengar berlarian dari arah ruang tamu menuju tangga, lalu langsung menuju pintu kamarnya.

BRAKK!!

Pintu kamar yang tadinya tertutup rapat langsung terbuka lebar dengan kasar, seolah diterjang badai.

“RA!! AIRAAA!! JAWAB JUJUR SAMA GUE!! KABAR ITU BENERAN GAK SIH?!”

Suara teriakan yang sangat nyaring, tinggi, dan penuh emosi itu langsung memenuhi seluruh ruangan. Aira tersentak kaget hebat, tubuhnya melonjak sedikit karena kaget. Jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak.

Di ambang pintu, berdiri sosok gadis dengan rambut ikal yang sedikit berantakan karena berlari, napasnya memburu, wajahnya memerah padam, dan matanya melotot lebar seolah baru melihat hantu.

Itu Dinda. Sahabat baiknya sejak kecil. Satu-satunya orang yang tahu segalanya tentang Aira, dan satu-satunya orang yang bisa berteriak seheboh ini di depannya tanpa merasa sungkan.

“Di… Dinda…” Aira menelan ludahnya dengan susah payah. Wajahnya langsung berubah pucat. Dia tahu, saat berita ini sampai ke telinga Dinda, pasti akan terjadi badai seperti ini. “Kamu… kok tiba-tiba datang?”

Dinda tidak menjawab langsung. Dia melempar tas ranselnya dengan sembarangan ke atas kasur, lalu berjalan cepat mendekati Aira dengan langkah yang lebar. Tanpa basa-basi lagi, kedua tangan Dinda langsung mencengkeram kuat kedua bahu Aira, lalu menggoyangkan tubuh sahabatnya itu dengan kasar namun penuh dengan kepanikan.

“Tiba-tiba datang apanya?!” seru Dinda dengan suara yang sedikit melengking. Matanya menatap tajam ke manik mata Aira. “Gue denger dari mana-mana, Ra! Dari warung sebelah, dari tetangga, bahkan dari grup WhatsApp RT! Katanya… katanya kamu mau nikah?! Beneran gak sih?! Jangan bilang gue ini cuma mimpi buruk!”

Dinda menghela napas panjang, ia mencoba mengatur napasnya yang tersengal, tapi matanya semakin membelalak saat melanjutkan kalimatnya.

“Dan yang bikin gue pengen pingsan dan nyungsep ke lobang semut itu… calon suami lo itu ELVANO PRADITYA?! CEO ganteng tapi dingin beku itu?! Pemilik gedung pencakar langit itu?! Ya ampun Ra! Lo sadar gak sih apa yang lo omongin?! Lo beneran gila ya?!”

Aira hanya bisa diam, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tidak berani menatap mata tajam sahabatnya itu. Rasa bersalah dan takut bercampur menjadi satu di dadanya.

“Jawab dong Ra!!” Dinda semakin panik, goyangan di bahu Aira semakin kencang. “Jangan diem aja kayak patung! Itu beneran atau cuma gosip jahat orang yang mau ngerusak nama baik lo?! Kok bisa-bisanya lo mau nikah sama orang yang bahkan lo gak kenal?! Lo tahu gak sih orang-orang bilang apa soal dia?!”

Dinda menarik napas panjang, lalu melontarkan semua omongan yang dia dengar.

“Orang-orang bilang dia itu kejam, Ra! Gak punya hati! Dia itu iblis berkulit malaikat! Dia bisa bikin orang nangis cuma dengan tatapan matanya! Lo mau hidup sama orang kayak gitu?! Ra, jawab gue!”

Aira mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sudah berkaca-kaca, bibirnya bergetar hebat menahan isakan tangis yang ingin meledak.

“Iya Din…” jawab Aira pelan, suaranya terdengar serak dan lemah. “Semua yang kamu dengar itu… bener.”

“BRAKK!!”

Seolah tersambar petir di siang bolong, Dinda langsung melepaskan cengkeramannya dari bahu Aira. Kakinya terasa lemas seketika, membuatnya mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak meja belajar, lalu dia terduduk lemas di lantai. Mulutnya ternganga lebar, matanya tak berkedip menatap Aira tak percaya.

“B… beneran?!” bisik Dinda, suaranya bergetar hebat. “Lo serius ngomong ini, Ra? Bilang sama gue ini cuma mimpi! Bilang dong! Bilang Dinda gila dan berhalusinasi!”

“Enggak Din…” Aira menggeleng pelan, air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya dengan deras. “Itu semua bener. Semuanya sudah disepakati. Minggu depan lamaran, bulan depan akad nikah. Prosesnya sangat cepat karena… karena ada alasan tertentu.”

Dinda langsung memegang kepalanya sendiri dengan kedua tangannya, jari-jarinya menyisir rambut ikalnya dengan kasar karena frustrasi.

“Ya Tuhan… Ya Tuhan! Gila! Ini beneran gila! Aira Maharani, lo sadar gak sih risiko yang lo ambil?!” seru Dinda dengan suara parau. “Nikah sama pria paling dingin di dunia?! Lo cantik, baik, masih muda banget! Lo masih bisa cari orang lain yang lebih baik, yang sayang sama lo! Kenapa harus milih jalan yang sesulit ini?! Kenapa harus nerima orang yang bahkan gak lo kenal sama sekali?!”

Aira menunduk, bahunya terguncang karena menangis.

“Karena Papa, Din…” jawab Aira lirih, dadanya terasa sesak seperti ditimpa batu besar. “Papa butuh operasi segera, biayanya sangat besar. Sangat besar sampai kita gak mungkin bisa bayar. Belum lagi usaha keluarga yang lagi bangkrut, banyak sekali utang yang menumpuk. Kalau gak segera diurus, Papa bisa…”

Aira tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Isakan tangisnya semakin keras membayangkan nasib ayahnya.

Dinda yang tadinya marah dan panik, perlahan terdiam. Emosinya meredup, berubah menjadi kekhawatiran yang mendalam. Dia tahu betul kondisi keluarga Aira sedang terpuruk. Dia tahu betapa sakitnya melihat orang tua menderita.

Dinda bangkit dari lantai, lalu duduk kembali di samping Aira, kali ini suaranya lebih lembut.

“Terus… apa hubungannya sama nikah sama dia?” tanya Dinda pelan, matanya menatap penuh selidik. “Masa iya cuma karena mau bantuin, dia minta lo nikah? Itu kan penculikan nasib!”

Aira mengusap air matanya dengan punggung tangannya, lalu menatap Dinda dengan tatapan yang campur aduk antara sedih dan tekad yang kuat.

“Mas Elvano tahu semua itu, Din. Dia tahu kondisi keluarga gue lagi di titik terendah. Dia bersedia tanggung semua biaya operasi Papa sampai sembuh. Dia mau lunasin semua utang kita sampai lunas. Dia juga mau bangkitin lagi usaha keluarga gue biar bisa jalan lagi.”

Aira menarik napas panjang, lalu berkata dengan tegas namun penuh dengan kesedihan.

“Syaratnya cuma satu… aku harus jadi istrinya. Itu kesepakatan kita, Din. Pernikahan kontrak. Cuma buat ngelegitin nama di depan keluarga besar mereka dan masyarakat. Nanti kalau waktunya habis, kontrak selesai, kita bisa berpisah dengan cara baik-baik.”

Dinda ternganga lagi, kali ini matanya membelalak kaget mendengar kata ‘kontrak’.

“Jadi… ini cuma perjanjian bisnis? Lo jual diri lo sendiri demi nyelamatin keluarga lo?!” seru Dinda, kali ini suaranya penuh dengan rasa sayang dan kesal campur aduk. “Ra, sadar dong! Itu bukan solusi! Itu pengorbanan yang terlalu besar!”

“Bukan jual diri, Din…” Aira menggeleng cepat, memegang tangan Dinda erat-erat. “Aira anggap ini saling menguntungkan. Dia butuh istri buat tenangin orang tuanya dan buat urusan bisnis, aku butuh bantuan buat selamatkan keluarga aku. Itu aja. Nggak ada yang dirugikan.”

“Menguntungkan apanya?!” seru Dinda lagi, matanya mulai basah. “Lo bakal hidup di rumah mewah, makan makanan enak, pake baju bagus, tapi hati lo bakal beku! Lo bakal hidup sama orang yang gak cinta sama lo! Lo bakal tidur satu atap tapi rasanya kayak orang asing! Lo siap ngerasain sepi yang kayak gitu?! Lo siap ngerasa nggak dihargai sebagai wanita?!”

Pertanyaan Dinda itu tepat sasaran, menusuk tepat ke jantung Aira. Benar apa yang dikatakan sahabatnya. Itu adalah hal yang paling Aira takutkan. Kesepian.

“Aira rela, Din…” Aira memaksakan senyum tipis yang terlihat sangat menyedihkan. “Asalkan Papa sembuh, asalkan keluarga kita selamat, Aira ikhlas apapun resikonya. Aira cuma minta satu sama kamu… dukung Aira ya. Jangan bikin Aira makin bingung.”

Melihat ketulusan dan kesedihan di mata sahabatnya, Dinda tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya hancur melihat Aira harus menanggung beban seberat ini sendirian. Tanpa bisa menahan diri lagi, Dinda langsung menarik tubuh Aira ke dalam pelukan yang sangat erat.

“Ih dasar bodoh! Sahabat paling bodoh dan paling baik hati yang gue kenal!” isak Dinda di bahu Aira, ikut menangis. “Kenapa lo harus nanggung semua ini sendirian? Pasti berat banget ya rasanya… Maafin gue ya Ra, karena gue gak bisa bantu banyak selain jadi pendengar.”

Mereka berdua menangis dalam pelukan yang cukup lama, meluapkan semua emosi yang terpendam. Rasa takut, sedih, dan cemas bercampur menjadi satu.

Setelah emosi mereka sedikit mereda, Dinda melepaskan pelukannya. Dia mengusap air mata di pipi Aira dengan kasar namun lembut menggunakan ibu jarinya. Wajahnya yang tadinya sedih, perlahan berubah menjadi sangat serius, lalu tiba-tiba alisnya terangkat tinggi dengan tatapan yang seolah bisa menembus pikiran Aira.

“Tapi inget ya Ra!!” seru Dinda tegas, menunjuk hidung Aira pelan. “Lo masuk ke situ dengan pikiran dingin dan logika, tapi hati itu gak bisa diatur! Hati itu punya cara sendiri buat ngerasain!”

Dinda mendekatkan wajahnya, berbisik dengan penuh penekanan.

“HATI-HATI JANDA MUDA YA!!”

Aira mengerjap bingung. “Hah? Janda muda apaan sih Din?”

“Apaan gimana! Janda muda itu istilah buat lo yang nanti kalau udah pisah, udah punya status mantan istri orang, dan yang paling parah… kalau lo beneran jatuh cinta sama suami kontrak lo sendiri!” Dinda menjelaskan dengan logika ceweknya. “Nanti kalau udah sayang banget, udah terbiasa, terus tiba-tiba dia minta cerai karena kontrak habis… yang sakit hati lo sendiri! Lo denger gak?! Jangan sampai baper! Jangan sampai jatuh hati!”

Aira langsung memukul pelan lengan Dinda, wajahnya memerah padam karena malu dan tersinggung sedikit.

“Apasih Din! Ngomong apa sih lo! Mana mungkin Aira cinta sama orang yang dingin kayak dia! Kita cuma hubungan bisnis kok! Nanti juga pisah!” elak Aira cepat.

“Halah… siapa yang tahu?!” Dinda terkekeh jahil, matanya berbinar jahat. “Cowok ganteng, kaya raya, badan juga oke, wajah juga dapet! Wajar kalau cewek klepek-klepek diliatin dia! Lagian kan kalian bakal tinggal serumah! Satu rumah! Satu atap! Siapa tahu es batu sebesar gunung itu luluh juga kena sinar matahari kayak lo! Atau… jangan-jangan lo yang naksir duluan nih? Hah? Ngaku!”

“Dinda!! Udah ah!!” Aira memukul-mukul bantal dengan kesal, wajahnya memerah bak kepiting rebus. “Aira lagi panik nih malah dieledek terus! Kamu ini temen apa musuh sih!”

“Yaudah yaudah, gue serius kok!” Dinda mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, tapi senyumnya masih mengembang. “Gue sebagai sahabat bakal dukung seratus persen apapun keputusan lo! Gue bakal jadi pasukan nomor satu buat lo! Gue bakal bantuin lo siap-siap, jadi bridesmaid, apa aja deh!”

Dinda kembali menatap Aira dengan wajah serius lagi.

“Tapi inget ya pesan gue… kalau dia berani nyakitin lo sedikit aja, baik fisik, hati, atau mental, bilang gue! Gue gebukin pake sandal jepit walaupun dia bos besar sekalipun! Gue gak peduli! Gue bakal bawa pasukan buat nyerang rumahnya!”

Aira akhirnya tersenyum tipis, merasa sedikit lega memiliki sahabat sebaik dan seheboh Dinda. Rasanya beban di dadanya sedikit berkurang.

“Makasih ya Din… makasih udah mau ngerti,” ucap Aira tulus.

Sementara itu, di lantai teratas Gedung Praditya Group.

Suasana di ruangan rapat yang luas dan mewah itu terasa begitu dingin dan mencekam. Semua karyawan dan manajer yang tadinya duduk rapat menundukkan kepala, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Di ujung meja panjang itu, Elvano Praditya duduk dengan postur yang tegak. Wajahnya datar tanpa ekspresi, mata tajamnya menatap bergantian ke arah orang-orang di hadapannya. Suaranya rendah, dingin, dan tegas saat memberikan arahan.

“Laporan keuangan bulan ini menurun 5%. Saya tidak mau tahu alasannya. Perbaiki dalam dua minggu atau posisi kalian diganti.”

Hanya kalimat singkat itu, namun efeknya membuat seluruh orang di ruangan itu gemetar.

“Baik, Tuan Elvano.”

“Siap, Pak.”

“Rapat selesai.”

Elvano bangkit dari kursinya, menyesuaikan jas mahalnya, lalu berjalan keluar dengan langkah pasti tanpa menoleh ke kiri atau kanan. Aura kekuasaan yang dia pancarkan begitu kuat hingga orang-orang otomatis menyingkir memberi jalan.

Begitu pintu ruangan tertutup, seluruh karyawan menghela napas panjang serentak seolah baru lolos dari maut.

Elvano berjalan menuju ruangan kerjanya yang pribadi. Di sana, Raka sudah menunggu dengan santai sambil bersandar di meja kerja sahabatnya itu, ia memainkan pulpen dengan santai.

“Wih… galak banget sih Bos Besar hari ini?” ledek Raka saat Elvano masuk. “Apa karena lagi mikirin calon istri ya? Hati-hati lho Van, nanti kalau ketemu ceweknya jangan kaku banget gitu dong. Nanti dia lari ketakutan.”

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!