"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Maaf
Tengah malam.
Rumah itu sunyi.
Bukan sunyi biasa. Tapi sunyi yang berat, seperti ada sesuatu yang mengambang di udara dan tidak bisa diucapkan. Lampu ruang tamu sudah dimatikan sejak jam sebelas. Hanya lampu kecil di dapur dan lorong yang masih menyala, memberikan cahaya tipis berwarna oranye.
Angga masih terjaga di sofa.
Ia tidak bisa tidur. Matanya merah karena kantuk yang tertahan, tapi setiap kali ia hampir memejamkan kelopak mata, pikirannya langsung melompat ke Adea. Gadis itu di kamarnya. Sendirian. Menangis...mungkin. Atau diam...mungkin juga.
Cumi tidur di lantai dingin dekat kaki sofa. Kucing itu meringkuk seperti bola abu-abu, ekor melingkar di hidung, mendengkur pelan dalam tidurnya.
Seoul Lee sudah lama terlelap di kamar Angga. Dari lorong, terdengar dengkur halus. Bukan dengkur keras, tapi suara napas yang dalam dan teratur, tanda bahwa pria berambut ungu itu sedang tidur nyenyak.
Hanya Angga yang masih terjaga.
Ia duduk di sofa dengan posisi setengah berbaring, bantal di bawah kepala, selimut tipis hanya menutupi perut. Matanya menatap langit-langit ruangan yang gelap.
Kenapa Adea ngunci diri?
Ada apa di kampus tadi?
Kenapa dia gak mau cerita?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Tidak ada jawaban. Hanya pertanyaan yang sama, berulang-ulang.
Ia hampir menutup mata.
Hampir.
Tapi-
Klik.
Suara pintu terbuka.
Bukan pintu depan. Bukan pintu kamar Seoul. Tapi pintu dari ujung lorong. Pintu kamar Adea.
Angga membelalak.
Ia bangkit dari sofa dengan gerakan refleks. Tanpa suara, tanpa berpikir. Kakinya membawanya berlari kecil menuju lorong. Cumi terbangun dan mengeong pelan, tapi Angga tidak mendengar.
Di ujung lorong, di bawah lampu kecil yang menyala redup, berdiri seorang gadis.
Piyama bintang-bintang. Rambut panjang terurai kusut. Wajah pucat. Mata sembab. Hidung merah.
Adea.
Ia berdiri di ambang pintu kamarnya, satu tangan masih memegang kenop pintu, tangan lainnya menggantung lemas di samping tubuh.
Matanya menatap Angga.
Kosong.
Bukan kosong seperti tidak ada perasaan. Tapi kosong seperti terlalu banyak perasaan sehingga tidak ada satu pun yang bisa keluar.
Angga berhenti dua langkah di depannya.
"Dea-"
Adea melangkah.
Satu langkah. Dua langkah. Tubuhnya yang kecil menabrak dada Angga. Kedua tangannya terangkat, melingkar di tubuh besar pria itu di sekitar pinggang, di sekitar punggung, di mana pun jangkauan tangannya bisa sampai.
Ia memeluk Angga.
Erat.
Wajahnya mengubur di dada Angga, di antara tulang rusuk dan jantung yang berdebar cepat. Ia tidak menangis. Tidak bersuara. Hanya memeluk.
Angga merasakannya.
Ia merasakan tubuh kecil yang gemetar. Merasakan jari-jari mungil yang mencengkeram kaus tidurnya seperti takut lepas. Merasakan hangatnya napas Adea yang menembus kain tipis kausnya.
Ia membalas pelukan itu.
Kedua tangannya yang besar melingkar di punggung Adea, satu tangan di bawah tulang belikat, tangan lainnya di pinggang. Ia mendekapnya erat tidak terlalu erat sampai sakit, tapi cukup untuk membuat gadis itu tahu bahwa ia ada di sini. Tidak pergi. Tidak akan pernah pergi.
Tidak ada yang bertanya.
Tidak ada yang menjawab.
Hanya pelukan di tengah malam, di lorong sempit rumah kecil itu, dengan lampu oranye yang menyala redup dan suara dengkur Seoul Lee dari balik pintu kamar.
---
Setelah beberapa lama, Angga tidak tahu berapa lama. Adea melepaskan pelukannya.
Ia mendongak.
Matanya bertemu dengan mata Angga. Masih sembab. Masih merah. Tapi ada sesuatu di sana yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan cinta. Bukan marah. Bukan sedih. Tapi campuran dari semuanya.
Angga tidak bertanya.
Ia hanya meraih tubuh Adea, satu tangan di punggung, satu tangan di bawah lutut dan mengangkatnya. Gadis itu melingkarkan lengannya di leher Angga tanpa protes, tanpa kata-kata.
Angga berjalan masuk ke kamar Adea.
Ia membawa gadis itu melewati pintu, menutupnya dengan kaki, lalu mendorongnya hingga terdengar bunyi klik.
Terkunci.
Dari dalam.
---
Kamar Adea gelap. Hanya lampu tidur kecil di meja samping yang menyala, memberikan cahaya temaram ke seluruh ruangan. Boneka panda dan boneka beruang besar dari pasar malam tergeletak di sudut kasur, seolah sengaja disingkirkan.
Angga duduk di atas kasur.
Ia menyandarkan punggungnya ke kepala kasur, kaki diluruskan ke depan. Dan di pangkuannya, Adea ia letakkan. Gadis itu duduk di antara kedua kakinya, tubuhnya bersandar penuh di dada Angga.
Angga memeluknya dari belakang.
Dekapan yang dalam. Yang penuh. Yang membuat Adea terasa kecil dan terlindungi di antara lengan-lengan kekar itu.
Adea tidak bicara. Ia hanya memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Angga, rambutnya yang kusut menyentuh pipi pria itu.
Mereka diam.
Hanya suara napas yang beradu. Hanya detak jantung yang saling mendengar.
Dan tiba-tiba-
Angga menarik rambut Adea.
Bukan menarik dengan kasar. Tapi gusar. Seperti ada sesuatu yang putus di dalam dirinya. Jari-jarinya menyusup ke rambut panjang itu, menggenggam erat di bagian belakang kepala, menarik sedikit ke belakang hingga wajah Adea mendongak.
Adea terkejut. Matanya membelalak.
Tapi ia tidak melawan.
Angga menarik tengkuk gadis itu mendekat.
Dan ia menciumnya.
Bibir tebalnya menempel di bibir mungil Adea. Kaku. Canggung. Mereka berdua belum pernah melakukan ini sebelumnya. Belum pernah. Selama bertahun-tahun bersahabat, selama bertahun-tahun tinggal serumah, tidak pernah. Bukan karena tidak mau. Tapi karena tidak berani.
Tapi malam ini, Angga tidak bisa menahan lagi.
Ia tidak melepaskan gadis itu begitu saja.
Ciumannya menjadi lebih dalam. Lidahnya menyentuh bibir Adea, meminta izin. Dan Adea memberikannya. Bibir mungil itu terbuka sedikit, dan lidah Angga masuk, bertemu dengan lidah Adea.
Lilitan.
Penuh nafsu.
Penuh kerinduan yang membara selama bertahun-tahun.
Angga mengecupnya seperti orang kehausan yang menemukan air di tengah padang pasir. Seperti orang yang sekarat dan hanya gadis ini yang bisa menyelamatkannya.
Adea tidak melawan.
Ia bahkan membalas. Tangannya yang semula diam di pangkuan kini terangkat, meraih kerah kaus Angga, menariknya lebih dekat meski tidak ada jarak yang tersisa.
Angga semakin memanas.
Tangannya yang sedari tadi memegang rambut Adea kini turun. Jari-jarinya yang besar dan kasar menyelusup ke bawah piyama tipis Adea, masuk dari sela kerah yang longgar.
Kulit Adea terasa hangat.
Ia mengelus punggung gadis itu, punggung halus yang meremang saat disentuh tangan dingin Angga. Bukan karena takut. Tapi karena sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Adea menarik napas pendek.
Tapi ia tidak menghentikan Angga.
Ia hanya memejamkan mata lebih erat, jari-jarinya mencengkeram kaus Angga lebih kuat.
---
Setelah beberapa lama..entah berapa lama..mereka berdua melepaskan ciuman itu.
Napas mereka saling beradu. Pendek. Berat. Memburu.
Dahi menempel dahi. Hidung menyentuh hidung. Jarak antara mereka hampir tidak ada.
Angga menatap Adea.
Matanya penuh damba. Penuh rasa yang selama ini ia pendam. Penuh kata-kata yang tidak pernah ia ucapkan karena takut.
Ia mengangkat tangannya. Jari-jarinya yang masih sedikit gemetar mengelus pipi Adea. Pipi chubby yang basah oleh air mata yang tidak ia sadari jatuh.
"Dea," bisik Angga. Suaranya parau.
Adea tidak menjawab. Ia hanya memeluk Angga erat. Kepalanya kembali mengubur di dada pria itu, tangan melingkar di punggung lebar.
Angga merebahkan tubuh mereka berdua.
Adea di bawah, Angga di samping. Tidak di atas, tidak menindih. Ia membaringkan gadis itu di kasur dengan lembut, lalu ia berbaring di sampingnya, satu tangan menjadi bantal di bawah kepala Adea, tangan lainnya melingkar di pinggang gadis itu.
Ia memeluk Adea dari samping.
Erat.
Penuh rasa takut kehilangan.
Karena hari ini ia hampir kehilangan Adea bukan secara fisik, tapi secara emosional. Gadis itu menutup diri. Mengunci pintu. Tidak mau bicara. Dan Angga tidak tahu kenapa.
Tapi malam ini, ia memeluknya.
Dan ia tidak akan melepaskannya sampai fajar tiba.
---
Adea sudah mulai terlelap.
Napasnya menjadi lebih teratur. Tubuhnya yang tadinya tegang mulai lemas di pelukan Angga.
Tapi Angga masih terjaga.
Matanya menatap wajah Adea dari dekat. Alis yang sedikit mengernyit dalam tidur. Hidung mungil yang kadang mendengus pelan. Bibir yang masih sedikit basah.
"Aku minta maaf," bisik Angga.
Suaranya hampir tidak terdengar. Hanya getaran di tenggorokan yang merambat ke udara malam yang dingin.
Entah untuk apa ia minta maaf.
Untuk ciuman itu? Untuk tangannya yang masuk ke piyama Adea? Untuk semua rasa yang selama ini ia pendam dan baru meledak malam ini? Atau untuk sesuatu yang lebih besar..sesuatu yang belum terjadi tapi sudah ia bayangkan?
Atau mungkin ia minta maaf karena tidak cukup kuat menjaga Adea dari apapun yang membuat gadis itu mengunci diri di kamar seharian.
Adea bergerak sedikit dalam tidurnya. Bibirnya bergumam tidak jelas.
Tapi tangannya yang semula di dada Angga, kini meraih jari-jari Angga dan menggenggamnya erat.
Adea mendengar permintaan maaf itu.
Dan ia menerimanya.
Karena memang ia butuh kalimat itu. Butuh Angga sadar bahwa ada yang salah. Butuh Angga bertanya, meski tidak dengan kata-kata.
Tapi malam ini, Angga tidak bertanya.
Ia hanya memeluk.
Dan itu cukup untuk saat ini.
---
Bersambung...,