"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. Serangan Masa Lalu
Kemenangan Juna Raksa atas drama audit palsu Satria semalam masih menjadi topik terpanas di berbagai forum otomotif dan akun gosip media sosial. Namun, bagi Juna, ribuan pujian dari netizen tidak ada artinya jika dibandingkan dengan satu senyuman dari bidadari olinya.
Siang itu, udara di dalam kantor bengkel Juna Modifikasi terasa sejuk, kontras dengan teriknya aspal Jakarta di luar sana. Juna sedang duduk bersandar di pinggiran meja kerjanya, sementara Cantik tampak serius memeriksa draf kontrak kerja sama internasional yang sempat tertunda akibat keributan kemarin.
"Jun, ini poin tentang distribusi spare part ke Jepang perlu tanda tangan Papa Sudirjo juga sebagai saksi utama?" tanya Cantik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Nggak perlu, Sayang. Cukup tanda tangan gue sebagai pemilik tunggal dan lu sebagai saksi ahli merangkap calon pendamping hidup," Juna menyahut sambil tertawa kecil. Ia menunduk, mencoba mengintip wajah Cantik yang tampak sangat cantik saat sedang mode serius. "Kenapa? Lu takut gue ugal-ugalan lagi pas tanda tangan?"
Cantik mendongak, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. "Gue cuma takut lu terlalu semangat sampai lupa kalau perut lu belum diisi sejak pagi."
Baru saja Juna hendak melancarkan gombalan mautnya, pintu kaca kantor terbuka dengan sentakan kasar. Sebuah aroma parfum yang sangat menyengat—perpaduan antara bunga lili dan kemewahan yang dipaksakan—langsung menyerbu ruangan yang biasanya hanya beraroma pelumas dan kopi itu.
Seorang gadis dengan tank top sutra berwarna emerald dan kacamata hitam bertengger di atas kepala muncul dengan gaya bak model di atas catwalk. Begitu matanya tertuju pada Juna, ia langsung memekik dengan suara melengking.
"JUN-JUN! OH MY GOD! KAMU BENERAN SUDAH JADI BOS SEKARANG!"
Cantik dan Juna serentak menoleh. Juna mengerutkan keningnya dalam-dalam. Panggilan "Jun-Jun" itu adalah mimpi buruk dari masa SMA-nya yang paling ingin ia hapus dari memori.
"Lisa?" gumam Juna dengan nada yang lebih mirip seperti sedang mendiagnosis kerusakan mesin daripada menyapa teman lama.
"IH! MASIH INGET!" Gadis bernama Lisa itu berlari kecil, benar-benar menganggap Cantik sebagai pajangan ruangan, dan langsung menggelayut manja di lengan Juna. "Gila ya, Jun-Jun! Aku liat kamu di berita kemarin. Keren banget pas kamu labrak Bang Satria. Aku langsung bilang ke Mama aku, 'Ma, liat deh mantan aku sekarang makin hot!'"
Cantik meletakkan pulpennya dengan bunyi tek yang cukup keras di atas meja marmer. Ia berdiri perlahan, merapikan blus pastelnya yang tanpa celah, lalu menatap Lisa dengan tatapan yang sangat tenang—tatapan seorang wanita dewasa yang sedang melihat serangga pengganggu masuk ke wilayah pribadinya.
"Jun, nggak mau ngenalin temennya?" tanya Cantik, suaranya terdengar sangat manis, namun Juna bisa merasakan suhu di ruangan itu mendadak turun hingga titik beku.
Juna segera melepas pegangan tangan Lisa dengan gerakan halus namun tegas. "Ini... Lisa, Kak. Mantan gue pas kelas dua SMA."
"Ih, kok mantan sih? Mantan terindah tahu!" Lisa menyela sambil mengerucutkan bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala. Ia baru seolah "menyadari" keberadaan Cantik. "Eh, ada Tante... eh, maksud aku Kak Cantik ya? Hai, Kak! Aku Lisa. Aku sering denger soal Kakak dari berita. Hebat ya Kakak bisa ngemong Juna yang bandel ini."
Lisa melangkah mendekati Cantik, mengulurkan tangannya yang berkuku manicure rapi. "Pasti capek ya Kak, ngurusin Juna? Dulu aja aku yang seumuran sama dia sering kewalahan gara-gara dia ugal-ugalan terus. Makanya aku sempet 'istirahat' dulu dari dia. Ternyata Juna sekarang sukanya yang lebih... matang ya? Biar ada yang ngurusin jemput sekolah?"
Cantik menyambut uluran tangan itu, meremasnya dengan tekanan yang pas untuk menunjukkan siapa "Nyonya" di sini. "Ngurusin Juna itu bukan pekerjaan, Lisa. Itu kebahagiaan. Dan soal 'matang', Juna memang butuh seseorang yang bisa diajak diskusi masa depan, bukan cuma diajak mabar atau bahas warna cat kuku."
Lisa tersenyum tipis, sama sekali tidak merasa terancam. Ia justru kembali menatap Juna dengan tatapan manja. "Jun-Jun, aku ke sini mau minta tolong loh. Mobil aku suaranya aneh, kayaknya butuh sentuhan tangan kamu yang ajaib itu. Masa kamu tega nolak mantan yang jauh-jauh dateng dari luar kota?"
"Gue sibuk, Lis. Ada montir lain di depan yang lebih ahli urus mobil standar," jawab Juna pendek. Ia merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang mulai memanas.
"Yah, kok gitu? Padahal aku sudah janji sama Tante Maya—maksud aku Mama Maya kamu—buat ajak kamu makan malam di rumah. Mama Maya kangen banget loh sama aku! Beliau bilang kangen sama calon menantu kesayangannya yang dulu sering bawain martabak manis tengah malem ke rumah," Lisa sengaja menekankan kata "calon menantu" sambil melirik Cantik dengan sinis.
Lisa kembali mendekat, kali ini ia mengambil selembar tisu di meja Juna dan mencoba mengusap sedikit noda hitam di pipi Juna yang sebenarnya tidak ada. "Lu kotor banget sih, Jun. Sini biar aku bersihin..."
SREEET.
Cantik dengan sigap merebut tisu itu dari tangan Lisa sebelum ujung jari gadis itu menyentuh kulit Juna.
"Biar saya saja, Lisa. Juna ini memang suka kotor kalau lagi kerja, tapi dia paling nggak suka kalau ada orang asing yang mencoba 'membersihkan' miliknya tanpa izin," ujar Cantik sambil mengelap pipi Juna dengan gerakan yang sangat intim, persis seperti yang dilakukannya di pesta keluarga Bani Sudirjo kemarin.
Lisa memutar bola matanya, tampak mulai jengkel. "Oke, oke. Aku ngerti. Kakak protektif banget ya. Wajar sih, namanya juga dapet 'berlian' yang masih muda, pasti takut ilang kalau ditinggal bentar."
Lisa berbalik, menyambar tas branded-nya di kursi. "Jun, aku tunggu di depan ya. Mobil aku pokoknya harus kamu yang pegang. Kalau nggak, aku bakal ngadu ke Mama Maya kalau anak bungsunya sekarang sombong banget sama aku!"
Setelah Lisa keluar dan pintu kaca tertutup rapat, keheningan di kantor itu terasa sangat mencekam. Juna menatap Cantik yang kini sibuk membereskan dokumen dengan gerakan yang jauh lebih cepat dan kasar dari biasanya.
"Kak..." panggil Juna pelan, suaranya sedikit ragu.
"Apa, Jun-Jun?" sahut Cantik tanpa menoleh. "Lucu ya panggilannya. Kayak nama camilan anak-anak atau nama kucing peliharaan."
Juna meringis, ia mengacak rambutnya frustrasi. Ia tahu ini lebih bahaya daripada laporan penggelapan dana Satria. "Kak, sumpah, itu panggilan alay zaman gue belum kenal dunia. Gue juga geli dengernya."
Juna mencoba memegang tangan Cantik, tapi Cantik menghindar dengan halus namun tegas. "Udah sana, layani 'mantan terindah' lu itu. Kasihan kan kalau Mama Maya sampai dapet laporan kalau anak bungsunya jahat sama tamu spesialnya."
"Kak, lu cemburu ya?" Juna mencoba menggoda, berharap tensinya menurun.
Cantik menghentikan gerakannya, menatap Juna dengan tatapan yang sanggup membekukan oli mesin. "Cemburu? Sama bocah yang bangga dipanggil mantan terindah? Nggak level, Juna Raksa. Gue cuma lagi mikir, ternyata selera lu pas SMA itu... cukup menarik."
Cantik berjalan keluar kantor dengan kepala tegak dan wibawa yang tak tergoyahkan, meninggalkan Juna yang berdiri mematung.
"Aduh... Bang Satria baru tamat, sekarang muncul si Ratu Drama. Hidup gue beneran ugal-ugalan!" gumam Juna sambil menatap layar monitor CCTV yang menampilkan Lisa sedang bersandar di motor sport-nya sambil berpose selfie.
Hari ini, sepertinya Juna harus menyiapkan strategi "penebusan dosa" yang sangat besar, karena ia tahu, Cantik yang diam jauh lebih berbahaya daripada Cantik yang meledak-ledak.