Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 - Tidak Bisa Diremehkan
Halaman tengah Akademi Arvandor sore itu dipenuhi murid dari berbagai tingkat, mulai dari yang baru saja menyelesaikan latihan dasar hingga mereka yang sudah terbiasa berada di lingkaran dalam. Kabar tentang Alverion Dastan yang kembali dan menunjukkan perubahan cepat menyebar lebih cepat dari yang ia perkirakan, bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain seperti bisikan yang sulit dihentikan. Namun, seperti biasanya, rasa penasaran selalu berjalan berdampingan dengan keraguan, karena perubahan mendadak jarang dipercaya tanpa bukti yang cukup.
Bagi sebagian besar orang, ia tetap Alverion yang sama, sosok yang pernah gagal dan menjadi bahan pembicaraan di banyak sudut akademi. Ingatan tentang dirinya yang dulu terlalu kuat untuk hilang hanya dalam waktu singkat, terlebih di tempat seperti ini yang menjunjung tinggi hasil dan reputasi. Nama yang pernah jatuh tidak mudah diangkat kembali, apalagi di hadapan mereka yang terbiasa melihat kelemahan sebagai sesuatu yang layak diinjak.
Alverion melangkah pelan di antara kerumunan, tidak berusaha menarik perhatian, tetapi kehadirannya justru membuat beberapa orang berhenti berbicara di tengah kalimat. Tatapan mulai mengikuti langkahnya, sebagian penuh penilaian yang dingin, sebagian lagi menyimpan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikan. Ia bisa merasakan perubahan itu tanpa harus melihat langsung, cukup dari cara suara di sekitarnya mereda ketika ia lewat.
Ia tahu ini belum selesai, karena satu kemenangan tidak cukup untuk menghapus masa lalu yang panjang. Akademi ini tidak pernah berubah dalam hal itu, selalu menuntut lebih sebelum mengakui seseorang layak berdiri sejajar. Ia tidak berharap penerimaan, hanya memastikan bahwa langkahnya kali ini tidak akan mundur seperti sebelumnya.
Langkahnya terhenti ketika suara tawa pelan terdengar dari depan, tidak terlalu keras tetapi cukup jelas untuk memotong suasana. Suara itu membawa nada yang familiar, jenis suara yang dulu sering ia dengar di saat-saat yang tidak ingin ia ingat kembali. Ingatan lama muncul tanpa diminta, tetapi tidak lagi mengganggu seperti dulu karena ia tidak lagi berdiri di posisi yang sama.
“Lihat siapa yang akhirnya berani muncul.”
Alverion mengangkat pandangannya dengan tenang, membiarkan suara itu menemukan dirinya tanpa tergesa. Di hadapannya berdiri seorang pemuda dengan rambut perak pucat yang tersusun rapi, dikelilingi dua orang lain yang tampak mengikuti setiap gerakannya tanpa banyak bicara. Wajahnya tampan dengan garis tegas, namun senyum yang terukir di sana menyimpan sesuatu yang lebih tajam daripada sekadar ejekan biasa.
Varian Zevran.
Nama itu muncul begitu saja di benaknya, membawa serta potongan-potongan ingatan yang tidak perlu ia gali lebih dalam. Orang yang tidak pernah menyembunyikan penghinaan, yang selalu berada di garis depan ketika orang lain memilih diam. Bukan hanya karena ia kuat, tetapi karena ia menikmati melihat orang lain berada di bawahnya.
Varian melangkah maju dengan santai, tepukan pelan terdengar dari tangannya seolah sedang memberi apresiasi yang tidak benar-benar tulus. Gerakannya terukur, penuh keyakinan, dan tidak ada sedikit pun keraguan dalam sikapnya saat mendekat.
“Hebat. Aku dengar kamu menang beberapa kali di luar. Bahkan melawan Rhevan.”
Ia berhenti tepat di depan Alverion, cukup dekat untuk membuat tekanan itu terasa jelas tanpa harus disentuh. Tatapannya turun sedikit, mempertahankan kebiasaan lamanya memandang dari posisi yang lebih tinggi.
“Tapi jangan salah paham. Dunia luar dan tempat ini berbeda.”
Beberapa murid mulai berkumpul tanpa perlu dipanggil, tertarik oleh situasi yang dengan cepat berubah menjadi pusat perhatian. Nama Varian sendiri sudah cukup untuk menarik kerumunan, dan kehadiran Alverion hanya menambah alasan bagi mereka untuk tetap tinggal. Lingkaran perlahan terbentuk, meninggalkan ruang di tengah yang seolah memang disiapkan untuk sesuatu.
Alverion menatapnya tanpa menunjukkan reaksi berlebihan, menjaga ekspresi tetap tenang meskipun tekanan dari sekitar mulai terasa. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada rasa gentar yang muncul ke permukaan, hanya ketenangan yang justru membuat suasana menjadi lebih berat dari sebelumnya.
Varian menyeringai tipis, sedikit mengernyit karena tidak mendapatkan reaksi yang ia harapkan. Biasanya, satu atau dua kalimat sudah cukup untuk memancing emosi, tetapi kali ini tidak ada perubahan berarti di wajah lawannya.
“Aku masih ingat wajahmu saat kamu gagal di ujian terakhir. Wajah seseorang yang tahu dia tidak punya tempat di sini.”
Kata-kata itu dilontarkan dengan ringan, tetapi cukup tajam untuk membuka luka lama jika masih ada yang tersisa. Beberapa orang di sekitar tertawa kecil, mengikuti arah suasana yang dibangun tanpa banyak berpikir.
Namun Alverion tetap diam, tidak menyangkal dan juga tidak membantah, seolah kata-kata itu sudah kehilangan bobotnya. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan semua itu lewat tanpa perlu ditanggapi.
Varian mengamati sejenak, lalu mengangkat alisnya sedikit.
“Tidak ada jawaban?”
Alverion akhirnya berbicara, suaranya tidak tinggi tetapi cukup jelas untuk terdengar di tengah lingkaran.
“Aku tidak datang untuk membicarakan masa lalu.”
Nada itu datar, tetapi ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tidak ada emosi yang dilebih-lebihkan, hanya pernyataan yang berdiri apa adanya.
Varian tertawa pelan, menggelengkan kepala seolah mendengar sesuatu yang menghibur.
“Sayangnya, masa lalu itu kamu.”
Ia melangkah mundur satu langkah, membuka ruang di antara mereka dengan sengaja, memberi isyarat yang tidak perlu dijelaskan.
“Kalau kamu benar-benar berubah, buktikan.”
Suasana langsung berubah tanpa perlu aba-aba, kerumunan melebar dengan cepat membentuk lingkaran yang lebih jelas. Tidak ada yang mengatur, tetapi semua orang mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Alverion menatap ruang yang terbentuk itu sejenak, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Varian. Ia sudah memperkirakan kemungkinan ini sejak melangkah masuk ke halaman tengah, dan ia tidak berniat menghindarinya.
Ia mengambil pedang kayu dari rak terdekat, merasakan berat yang familiar di tangannya. Sensasi itu sama seperti dulu, tetapi cara ia menggenggamnya sudah berubah, lebih stabil dan tidak lagi ragu.
Varian melakukan hal yang sama, memutar pedangnya dengan gerakan santai yang menunjukkan kebiasaan. Tidak ada ketegangan di wajahnya, seolah ini hanya bagian kecil dari rutinitas yang tidak perlu dipikirkan terlalu dalam.
“Jangan terlalu cepat jatuh. Aku ingin menikmati ini.”
Alverion tidak menanggapi, memilih melangkah ke tengah dengan ritme yang teratur. Napasnya diatur perlahan, sementara energi di dalam tubuhnya mulai bergerak mengikuti kehendaknya, tidak sepenuhnya dilepaskan, hanya cukup untuk menjaga keseimbangan.
Pertarungan dimulai tanpa aba-aba.
Varian bergerak lebih dulu dengan kecepatan yang langsung terasa berbeda, langkahnya ringan tetapi mengandung tekanan yang tidak bisa diabaikan. Ayunan pertamanya mengarah ke leher dengan presisi yang jelas, memaksa Alverion untuk bereaksi tanpa jeda.
Alverion menangkis, benturan keras membuat tangannya sedikit bergetar meskipun ia berhasil menahan serangan itu. Dari satu benturan saja, ia sudah bisa merasakan perbedaan kekuatan yang cukup signifikan.
Serangan kedua datang hampir tanpa jeda, disusul oleh yang ketiga dalam pola yang tidak memberi ruang untuk berpikir lama. Alverion menghindar dengan langkah kecil, menangkis ketika perlu, dan terus menyesuaikan posisi agar tidak terjebak dalam tekanan yang sama.
Varian tidak memberi ruang, setiap ayunan mengandung tenaga dan keyakinan yang menunjukkan pengalamannya. Ia tidak terburu-buru, tetapi juga tidak menahan diri, menjaga ritme yang memaksa lawannya tetap berada dalam posisi bertahan.
Penonton mulai berbisik, sebagian sudah menarik kesimpulan terlalu cepat karena melihat perbedaan yang tampak di permukaan. Namun Alverion tidak terpengaruh oleh itu, fokusnya tetap pada pergerakan di depannya.
Ia bergerak mengikuti ritme, tidak mencoba melawan secara langsung, hanya bertahan dan mengamati dengan sabar. Setiap langkah Varian, setiap perubahan kecil dalam sudut serangan, semuanya ia simpan sebagai bagian dari pola yang perlahan mulai terbaca.
Varian mempercepat serangannya, sedikit kesal karena pertarungan tidak berakhir sesuai harapannya. Tekanan meningkat, tetapi di saat yang sama, ritme mulai berubah, menjadi lebih agresif dan kurang terkontrol.
Alverion melihat itu dengan jelas, dan ia menunggu tanpa terburu-buru. Ia membiarkan beberapa serangan mendekat lebih dari sebelumnya, hanya untuk memahami batas yang bisa ia jaga tanpa kehilangan keseimbangan.
Ketika celah itu akhirnya muncul, ia tidak ragu.
Varian mengayunkan pedang dengan tenaga penuh, membuka sudut yang sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Alverion memiringkan tubuhnya, membiarkan serangan itu melewati sisinya, lalu melangkah masuk ke jarak yang lebih dekat.
Perubahan jarak itu cukup untuk mengganggu ritme Varian.
Pedang mereka bertabrakan dalam ruang sempit, dan Alverion memutar pergelangan tangannya untuk mengalihkan tekanan yang ada. Gerakan itu tidak besar, tetapi cukup untuk membuat arah serangan Varian melenceng sedikit.
Celah terbuka.
Alverion menyerang dengan cepat dan singkat, tidak memberi waktu bagi Varian untuk sepenuhnya menyesuaikan diri. Meskipun Varian masih mampu menghindar, ekspresinya berubah menjadi lebih serius.
Pertarungan berlanjut dengan tempo yang berbeda, tidak lagi satu arah seperti sebelumnya. Alverion mulai membalas, tidak dengan kekuatan besar, tetapi dengan presisi yang memaksa Varian berpikir lebih dari biasanya.
Penonton yang tadinya ramai mulai terdiam, menyadari perubahan yang terjadi di depan mereka. Varian mempercepat lagi, mencoba mengambil kembali kendali, tetapi pola yang ia gunakan sudah tidak sebersih sebelumnya.
Alverion menunggu sekali lagi, menjaga jarak dan waktu dengan hati-hati. Ia tidak terburu-buru menyelesaikan, memastikan momen yang ia ambil benar-benar tepat.
Saat kesempatan itu datang, ia bergerak tanpa ragu.
Serangan Varian meluncur dengan tenaga besar, dan Alverion kembali menghindar dengan sudut yang tipis. Ia melangkah masuk dengan cepat, menutup jarak sebelum Varian bisa menarik kembali pedangnya.
Ayunan pendek mengenai pergelangan tangan.
Pedang Varian terlepas.
Bunyi benturan terdengar jelas di tengah keheningan yang tiba-tiba muncul.
Alverion tidak berhenti di situ, ia mendorong bahu Varian dengan tenaga yang cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan. Dalam satu gerakan lanjutan, ujung pedang kayunya sudah berada dekat di leher Varian, cukup untuk menentukan hasil tanpa perlu dijelaskan.
Keheningan menyelimuti area itu, tidak ada yang langsung berbicara karena semua orang memahami apa yang baru saja terjadi. Varian membeku, matanya menatap Alverion dengan ekspresi yang berubah dari awal.
Alverion menatap balik tanpa menunjukkan emosi berlebihan, napasnya memang berat tetapi tetap stabil. Ia tahu batas yang ia gunakan, dan ia tidak melampauinya.
Beberapa detik berlalu sebelum suara kembali muncul, dimulai dari bisikan yang kemudian menyebar ke seluruh lingkaran. Hasilnya jelas, dan tidak ada yang bisa menyangkalnya.
Alverion menurunkan pedangnya perlahan, lalu melangkah mundur memberi ruang tanpa perlu mengatakan apa pun. Varian tetap diam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“Kamu benar-benar berubah.”
“Aku hanya berhenti menjadi orang yang sama.”
Jawaban itu tidak keras, tetapi cukup untuk didengar oleh mereka yang berada di dekat. Tidak ada penekanan berlebihan, hanya pernyataan yang berdiri sesuai kenyataan yang ada.
Varian tidak menanggapi lagi, ia berbalik dan berjalan keluar dari lingkaran tanpa mengambil pedangnya. Sikapnya masih tenang, tetapi tidak lagi membawa keangkuhan yang sama seperti saat ia datang.
Kerumunan perlahan pecah, percakapan yang muncul kini berbeda dari sebelumnya. Tatapan yang mengarah pada Alverion tidak lagi sekadar meremehkan, melainkan mulai disertai perhitungan dan kewaspadaan.
Alverion berdiri sejenak di tengah lapangan, membiarkan suasana itu mereda dengan sendirinya. Ia tahu ini bukan akhir, hanya perubahan awal dari sesuatu yang lebih besar.
Ia kemudian berbalik dan berjalan keluar dari area itu dengan langkah yang tetap tenang, tanpa perlu mempercepat atau memperlambat. Tidak ada yang menghalangi jalannya, dan tidak ada yang berusaha menghentikannya.
Nama yang dulu diucapkan dengan nada merendahkan kini mulai dibicarakan dengan cara yang berbeda, meskipun belum sepenuhnya berubah. Bagi Alverion, itu sudah cukup untuk hari ini, karena ia tidak membutuhkan pengakuan, hanya arah yang jelas untuk terus melangkah.