Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 7
Sabtu sore, penthouse lantai 65 itu terasa seperti ruang ganti teater Broadway sesaat sebelum tirai panggung diangkat.
Yvone duduk mematung di depan cermin rias raksasa di kamarnya. Tiga penata rias profesional bergerak lincah di sekelilingnya, menata rambut dan memoles wajahnya. Di sudut ruangan, Tara sedang sibuk memberikan instruksi kepada asistennya melalui telepon sambil meneliti sepasang sepatu hak tinggi bermerek Jimmy Choo berwarna perak.
Sejak ancaman terhadap Lia terungkap dua hari yang lalu, Yvone merasa seolah ada batu besar yang bersarang di dadanya. Ia telah menelepon adiknya puluhan kali, memastikan Lia selalu berada di keramaian dan tidak pergi ke mana-mana sendirian.
"Yvone, sayang, kau menahan napas lagi," tegur Tara, memutuskan sambungan teleponnya dan menghampiri Yvone. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Yvone, menatap pantulan kakak iparnya itu dari cermin. "Rileks. Kau membuat bahumu kaku seperti papan ujian."
"Aku tidak bisa rileks, Tara," bisik Yvone, matanya menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut erat di pangkuan. "Malam ini... ini pertama kalinya aku tampil di depan publik sebagai istri kakakmu. Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan? Bagaimana kalau ada wartawan yang bertanya tentang ayahku?"
Tara menghela napas lembut. Ia memberi isyarat kepada para penata rias untuk keluar dari kamar sejenak, meninggalkan mereka berdua.
"Dengarkan aku," ucap Tara, suaranya kehilangan nada jenakanya yang biasa, berganti dengan keseriusan yang jarang ia tunjukkan. "Dunia elit Jakarta itu seperti kolam hiu. Mereka akan mencium bau ketakutan sejauh satu mil. Jika mereka bertanya tentang ayahmu, tersenyumlah dengan anggun dan katakan, 'Kami menyerahkan semuanya pada proses hukum yang adil, terima kasih atas simpati Anda.' Hanya itu. Jangan tambahkan satu kata pun."
Yvone menelan ludah, mencoba merekam kalimat itu di otaknya.
"Dan ingat, Yvone," Tara meremas bahu wanita itu lembut, "malam ini kau bukan hanya Yvone Larasati sang desainer interior. Kau adalah Nyonya Dylan Alexander Hartono. Pakailah gelar itu sebagai senjatamu. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu selama kau berdiri di samping Dylan."
Ketukan pelan di pintu menginterupsi mereka. Pintu terbuka, dan Dylan melangkah masuk.
Untuk sesaat, ruangan itu terasa kehilangan gravitasinya. Dylan mengenakan setelan tuksedo hitam pesanan khusus berbahan velvet yang memeluk postur tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu. Rambutnya ditata rapi ke belakang, mengekspos garis rahangnya yang tegas. Ia tampak seperti dewa perang yang menyamar menjadi pangeran dari buku dongeng.
Namun, bukan penampilan Dylan yang membuat napas Yvone tertahan, melainkan tatapan pria itu.
Langkah Dylan terhenti sekitar dua meter dari meja rias. Mata kelamnya terpaku pada Yvone. Wanita itu telah mengenakan gaun sutra emerald green berpotongan leher V yang mengekspos tulang selangkanya dengan elegan. Gaun itu melekat sempurna di lekuk tubuhnya, jatuh menjuntai ke lantai bagai aliran air hijau yang berkilau. Rambut hitamnya digelung rapi ke atas dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang kini dirias flawless dengan lipstik merah burgundy.
Ada jeda hening selama tiga detik penuh. Di mata Dylan, sebuah kilatan emosi yang sangat asing melintas sebuah kekaguman murni yang tak bisa disembunyikan sebelum akhirnya pria itu mengerjapkan mata dan kembali memasang topeng kebekuannya.
"Apakah penampilannya sudah sesuai standar, Bos?" goda Tara, memecah kecanggungan, sangat menyadari keterpakuan kakaknya barusan.
Dylan berdeham pelan, mengalihkan pandangannya ke arah jendela sejenak sebelum kembali menatap Yvone. "Cukup layak."
Hanya itu. Cukup layak. Yvone mendengus dalam hati. Tentu saja pria es ini tidak akan pernah memberikan pujian.
Dylan melangkah mendekat, merogoh saku dalam tuksedonya, dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran panjang. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung berlian dengan liontin zamrud besar yang warnanya serasi dengan gaun Yvone.
"Pakai ini," perintahnya datar.
Yvone menatap kalung yang harganya mungkin bisa membeli satu blok perumahan lamanya itu dengan ngeri. "Itu terlalu berlebihan, Tuan Hartono. Saya bisa menjatuhkannya, atau menghilangkannya—"
"Berdiri," sela Dylan, nada suaranya tidak menerima penolakan.
Dengan enggan, Yvone berdiri. Tingginya dengan sepatu hak masih membuatnya harus mendongak sedikit untuk menatap Dylan. Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga tidak ada ruang tersisa.
Dylan mengangkat kalung itu, melingkarkannya ke leher Yvone. Kedua lengannya mengurung Yvone saat ia mengaitkan pengunci kalung di tengkuk wanita itu. Yvone bisa merasakan hawa panas dari tubuh Dylan, aroma vetiver dan cedarwood yang maskulin membungkusnya. Napas pria itu menerpa pelan kulit bahu Yvone, mengirimkan aliran listrik kecil yang membuat Yvone meremang. Jantungnya berdegup tak beraturan, bingung antara rasa benci, takut, dan... sesuatu yang lain yang tak ingin ia akui.
"Jangan terlihat tegang," bisik Dylan tepat di telinga Yvone, suaranya rendah dan bergetar di udara. "Malam ini, seluruh mata media akan tertuju pada kita. Tersenyumlah, atau mereka akan mengira aku menyiksamu di rumah."
"Bukannya itu kenyataannya?" balas Yvone sinis, meskipun suaranya jauh lebih pelan dan bergetar dari yang ia harapkan.
Dylan mundur selangkah, menatap karya seninya dengan puas. Ia menatap lurus ke mata Yvone, mengabaikan sindiran barusan. "Waktunya berangkat."
Di dalam Rolls-Royce Phantom yang meluncur menembus malam Jakarta, keheningan terasa begitu tebal. Yvone duduk kaku di sudutnya, menjaga jarak sejauh mungkin dari Dylan.
"Acara malam ini adalah malam amal untuk yayasan kesehatan jantung anak," suara Dylan memecah keheningan. Matanya menatap lurus ke depan. "Namun kenyataannya, ini adalah arena lobi politik. Menteri-menteri, anggota DPR, dan para pesaing bisnisku akan hadir di sana."
"Termasuk Menteri Hadi?" tanya Yvone, suaranya sedikit tercekat menyebut nama dalang di balik penderitaan ayahnya.
"Ya. Dan kemungkinan besar ia akan membawa istri serta koneksi-koneksinya." Dylan menoleh menatap Yvone, sorot matanya tajam memperingatkan. "Aku butuh kau bersikap layaknya istri yang memujamu. Malam ini, kita bukan dua orang asing yang terikat kontrak. Kita adalah pengantin baru yang dimabuk asmara. Kau mengerti?"
"Aku bukan aktris pemenang piala Citra," gumam Yvone sinis.
"Berpura-puralah nyawamu bergantung pada aktingmu," balas Dylan dingin. "Karena nyawa ayahmu, dan masa depan keluargamu, memang bergantung pada hal ini."
Kata-kata itu membungkam Yvone seketika. Mengingatkan kembali pada rantai tak kasat mata yang mengikat lehernya. Ia mengangguk pelan, meremas tas clutch-nya erat-erat.
Mobil melambat saat memasuki driveway sebuah hotel bintang lima paling eksklusif di kawasan SCBD. Dari balik kaca film, Yvone bisa melihat kilatan cahaya blitz kamera yang bertubi-tubi seperti badai petir buatan. Puluhan wartawan berkerumun di balik garis pembatas red carpet.
Jantung Yvone berdegup sangat kencang hingga ia merasa mual. Tangannya dingin seperti es.
Mobil berhenti sempurna. Pak Joko bergegas turun dan membukakan pintu untuk Dylan.
"Waktunya pertunjukan," gumam Dylan pelan.
Begitu Dylan keluar dari mobil, rentetan suara kamera mengudara. Pria itu mengancingkan satu kancing jasnya dengan elegan, lalu berbalik dan mengulurkan tangannya ke dalam mobil.
Yvone menatap tangan besar yang terulur padanya itu. Ini adalah ambang pintu. Sekali ia menerima tangan itu dan melangkah keluar, tidak ada jalan kembali. Dengan tarikan napas panjang yang gemetar, Yvone meletakkan tangannya yang dingin di atas telapak tangan Dylan yang hangat.
Dylan menggenggam tangannya erat, menariknya keluar dengan lembut namun penuh tenaga.
Begitu ujung sepatu Yvone menyentuh red carpet, kilatan kamera menjadi seratus kali lebih brutal. Nama Dylan diteriakkan dari berbagai arah.
"Pak Dylan! Di sini Pak!"
"Nyonya Hartono! Bagaimana perasaan Anda setelah pernikahan tertutup minggu lalu?"
"Apakah gaun Anda dari desainer Paris, Nyonya?"
Yvone terdiam kaku, terbutakan oleh cahaya blitz. Rasa panik mulai menguasainya. Ia ingin mundur, lari kembali ke dalam mobil yang aman.
Namun, tiba-tiba, sebuah tangan kokoh melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuhnya merapat hingga menempel pada sisi tubuh Dylan. Kehangatan pria itu seketika menembus lapisan sutra gaunnya, memberikan semacam jangkar penyeimbang di tengah badai cahaya.
Yvone mendongak, menatap Dylan dengan kaget.
Wajah dingin dan datar yang selalu ditunjukkan pria itu di penthouse telah lenyap tanpa sisa. Sebagai gantinya, Dylan menatap Yvone dengan senyum yang begitu lembut, mata kelamnya memancarkan pancaran kekaguman dan afeksi yang terlihat sangat, sangat nyata. Pria itu menatap Yvone seolah wanita itu adalah pusat alam semestanya.
"Tersenyumlah, Sayang. Mereka menyukaimu," bisik Dylan, bibirnya bergerak sangat dekat dengan pelipis Yvone, terlihat di kamera seolah ia sedang membisikkan kata-kata cinta. Padahal, suaranya tetaplah pragmatis.
Yvone mengerjapkan mata, masih terkejut dengan kemampuan pria itu mengubah kepribadian dalam hitungan detik. Mengingat ancaman terhadap Lia dan nasib ayahnya, Yvone memaksa otot-otot wajahnya bekerja. Ia membalas tatapan Dylan, lalu mengukir senyum semanis mungkin, senyum yang dulunya selalu ia berikan saat ia masih merasa bahagia.
Kamera menangkap momen itu Tatapan penuh damba dari sang miliarder es, dan senyum memikat dari sang istri misterius yang berhasil menaklukkan hatinya.
Malam itu, di atas red carpet, ilusi sempurna telah tercipta.
Sambil terus mempertahankan senyumnya, Dylan menuntun Yvone melangkah perlahan menuju pintu utama ballroom. Genggaman tangannya di pinggang Yvone terasa begitu protektif, menuntunnya menembus kerumunan.
"Kau melakukan dengan baik," bisik Dylan tanpa menggerakkan bibirnya saat mereka menjauh dari kerumunan wartawan dan memasuki lobi yang sedikit lebih tenang.
Yvone menghela napas panjang, perutnya melilit karena ketegangan. "Berapa lama kita harus berada di dalam sana?"
"Sampai aku mendapatkan kesepakatan tertulis dari perwakilan bank konsorsium, dan memastikan Pak Hadi tahu posisinya." Senyum lembut di wajah Dylan memudar perlahan, digantikan oleh rahang yang kembali kaku dan mata predator yang siap menerkam.
Dylan menatap pintu ganda ballroom raksasa di depan mereka yang sedang dibukakan oleh petugas hotel. Suara denting gelas anggur, tawa palsu, dan alunan musik orkestra klasik mengalun keluar.
Pria itu menunduk menatap Yvone, cengkeramannya di pinggang wanita itu mengerat.
"Selamat datang di sarang ular, Yvone," bisik Dylan. "Tetap di sampingku, jangan percaya siapa pun, dan apa pun yang terjadi... jangan lepaskan tanganku."
Pintu ballroom terbuka sepenuhnya, dan Yvone Larasati melangkah masuk.