Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAJA DIBALIK KEGELAPAN
Beberapa hari setelah insiden perawat pembunuh bayaran itu, suasana di rumah menjadi sangat waspada. Pagar diperkuat, satpam ditambah dua kali lipat, dan Arsen benar-benar sudah pulih total. Matanya kembali tajam dan berkilat penuh amarah.
Di ruang kerjanya, Arsen berdiri membelakangi jendela kaca besar yang menghadap ke kota. Di mejanya tersebar foto-foto dan data tentang musuh terbesarnya saat ini.
RAKA.
Kakak tertua dari keluarga yang dulu hancur karena kejatuhan bisnis mereka. Orang bilang Raka adalah otak di balik semua kejahatan kakak-adiknya. Dia dingin, perhitungan, dan tidak punya hati.
"Raka..." bisik Arsen pelan, tangannya mengepal kuat. "Kau kirim adik-adikmu mati satu persatu. Sekarang giliranmu muncul."
Tiba-tiba ponsel di meja berdering. Panggilan video dari nomor tidak dikenal.
Arsen mengerutkan kening, lalu menggeser tombol terima.
Layar menyala. Muncul wajah seorang pria tampan tapi sangat tua sebelum waktunya. Wajahnya dingin, tatapannya tajam seperti elang, dan senyumnya sangat menakutkan. Dia duduk santai di kursi kulit hitam dengan latar belakang ruangan yang gelap dan mewah.
"Selamat sore, Arsen. Lama tidak berjumpa," suara pria itu berat dan berwibawa.
Arsen mendengus sinis. "Raka. Aku tahu kau yang di balik semua ini. Kau kirim Ryan, kau kirim perawat pembunuh... apa lagi yang mau kau lakukan?"
Raka tertawa kecil, suara tawanya dingin dan menusuk. "Cerdas. Tapi sayang terlambat. Ryan sudah di penjara, Natasha sudah gila... sekarang tinggal aku. Dan aku datang bukan buat main-main, Arsen. Aku datang buat menagih hutang nyawa dan kehormatan keluargaku."
"Keluargamu hancur karena keserakahan kalian sendiri! Bukan salahku!" bentak Arsen.
"SIAPA PEDULI! YANG JELAS KALIAN YANG MEMBAWA PETAKA!" Raka membentak balik, suaranya menggelegar. "Dengar baik-baik. Aku punya tawaran buatmu."
"Aku tidak mau tawaran apa pun dari pembunuh!"
"Dengar dulu atau anakmu yang menyesal," ancam Raka santai.
Arsen terdiam, jantungnya berdegup kencang. "Apa yang kau lakukan pada Leo?!"
"Tenang saja. Dia baik-baik saja. Saat ini dia sedang asyik makan kue bersama 'Bibi Sella' tadi. Oh iya, Sella berhasil kabur lho. Ternyata polisi kalian ada yang aku beli."
BRUK!
Arsen terpukul. Jadi Sella tidak diamankan?! Dia malah bawa Leo?!
"KAU JAHAT!! KEMBALIKAN ANAKKU!!" teriak Arsen murka.
"Ssst... tenang. Aku tidak akan sakiti dia... selama kau mau menuruti permintaanku." Raka tersenyum licik. "Syaratnya mudah:
1. Tanda tangani surat penyerahan seluruh aset dan perusahaan Arsen Group atas namaku.
2. Datang sendirian ke markas lamanya ayah kita yang sudah terbengkalai di pinggir kota. Bawa surat itu.
3. Dan yang terakhir... tinggalkan Keisha dan janin yang ada di perutnya. Biarkan dia datang padaku juga, atau aku pastikan Leo tidak akan pernah bisa melihat matahari terbit lagi."
Arsen gemetar hebat. Itu permintaan yang sangat tidak masuk akal! Raka mau hancurkan dia total! Ambil harta, ambil keluarga, biarkan dia mati sengsara!
"Kau gila! Aku tidak akan pernah menyerahkan istri dan anakku padamu!"
"Pikirkan baik-baik, Arsen. Waktumu hanya 2 jam. Kalau dalam 2 jam kau tidak datang dengan surat itu... aku akan potong jari manis Leo dan kirim ke rumahmu sekarang juga. Hahaha!"
TUT... TUT... TUT...
Panggilan terputus.
Arsen menjambak rambutnya frustrasi, lalu dia meninju meja kerja itu sekuat tenaga!
BRUK!!
Meja itu retak!
"ARGHHHH!! RAKA!! KAU BRENGSEK!!"
Di ruang tengah, Keisha yang baru saja turun dari kamar langsung kaget melihat suaminya marah besar dan wajahnya pucat pasi.
"Arsen?! Kenapa?! Ada apa?! Kok wajahmu pucat banget?!" Keisha berlari memegang bahu suaminya.
Arsen menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak bisa berbohong. Situasinya sudah terlalu gawat.
"Sha... Leo... Leo diculik lagi. Raka yang ambil. Dia minta aku menyerahkan perusahaan, menyerahkan harta... dan..." Arsen terdiam, air matanya jatuh. "Dia minta aku menyerahkan kamu juga, Sayang."
BRUK!
Kaki Keisha lemas. Dia jatuh terduduk di sofa. "Leo... anakku... apa yang dia mau lakukan pada anakku?!"
"Dia mau balas dendam total, Sha. Dia mau kita hancur. Dia mau aku hidup tapi tanpa apa-apa."
Keisha menggeleng kuat-kuat, air matanya mengalir deras tapi matanya mulai memancarkan api semangat. "TIDAK BOLEH! Kita tidak boleh menyerah! Jangan kasih perusahaan! Jangan kasih aku! Kita cari cara lain!"
"Tapi nyawa Leo, Sha! Raka itu gila! Dia benar-benar mau bunuh Leo kalau aku tidak menurut!" Arsen memegang kedua bahu istrinya gemetar. "Aku sudah pikirkan semuanya. Aku akan pergi ke sana. Aku akan bawa surat itu buat memancing dia. Tapi aku tidak akan benar-benar memberikannya. Aku punya rencana."
"Aku ikut!" seru Keisha tegas.
"Tidak! Bahaya! Kamu hamil! Raka mau kamu! Kalau kamu ikut dia akan makin kuat!"
"Justru karena dia mau aku, itu jadi kelemahan dia! Arsen dengerin aku..." Keisha memegang wajah suaminya erat-erat. "Kita sudah lewati banyak bahaya bersama. Kali ini juga kita lewati bareng-bareng. Jangan pisah lagi. Aku punya ide..."
Keisha membisikkan rencananya di telinga Arsen. Wajah Arsen yang tadinya cemas perlahan berubah menjadi terkejut, lalu tersenyum bangga.
"Kau gila ya, Sayang... tapi aku suka. Kalau begitu... mari kita mainkan permainan ini sampai habis."
2 Jam Kemudian... Di Gedung Tua...
Gedung besar yang dulu menjadi markas perusahaan lawas itu kini gelap, berdebu, dan menyeramkan. Suasana mencekam sekali.
Di aula utama, Leo duduk di sebuah kursi, tangannya diikat, wajahnya menangis ketakutan. Di sebelahnya berdiri Sella yang tersenyum jahat memegang pisau.
Dan di singgasana tua di ujung ruangan, Raka duduk dengan gagah dan angkuh menunggu.
Tiba-tiba pintu besar terbuka.
KREEKK...
Arsen masuk sendirian. Dia memegang sebuah map cokelat besar di tangannya. Wajahnya datar, tapi matanya waspada.
"HAHAAHA! DATANG JUGA KAU, ARSEN! BAGUS! BUKTIKAN KAU AYAH YANG BAIK!" teriak Raka.
"LEPASKAN ANAKKU! INI SURATNYA! SEMUA ASETKU! SEKARANG LEPAS DIA!" bentak Arsen sambil melempar map itu ke lantai.
Raka menunjuk Sella. Sella segera mengambil map itu dan memeriksanya. Dia tersenyum lalu mengangguk ke arah Raka. "Asli, Bos. Surat kuasa dan tanda tangannya lengkap."
Raka tertawa puas. "AKU MENANG! AKU YANG JADI RAJA SEKARANG! KAU MISKIN! KAU GAGAL!"
Raka berdiri dan berjalan mendekati Arsen dengan langkah perlahan dan sombong.
"Terima kasih untuk perusahaannya, Arsen. Dan sekarang... serahkan Keisha padaku. Aku tahu dia cantik dan subur. Dia akan melahirkan anak-anakku dan melupakanmu."
"JANGAN HARAPAN! ISTRIKU BUKAN BARANG!"
"Terpaksa harus jadi barangku sekarang!" Raka mengangkat tangannya memberi kode. "Sella! Bunuh anak itu sekarang! Biar ayahnya lihat!"
"SIAP BOS!" Sella mengangkat pisau tinggi-tinggi siap menusuk ke arah Leo!
"JANGAAAAAN!!" Arsen mau menerjang tapi dua preman besar menghadangnya.
DORRR!! DORRR!!
Tiba-tiba suara tembakan terdengar! Tapi bukan menembak Arsen atau Leo!
BRUK! BRUK!
Dua preman yang menghadang Arsen jatuh tersungkur!
Dan dari arah langit-langit dan pintu belakang...
"GERAKKAN!!"
Puluhan pasukan khusus polisi dan tim SWAT menyerbu masuk dengan senjata lengkap! Lampu sorot menyala terang menerangi seluruh ruangan!
"POLISI!! SERAHKAN DIRI KALIAN!!"
Raka dan Sella terbelalak kaget! Wajah mereka pucat pasi!
"APA?! BAGAIMANA BISA?!" teriak Raka panik.
Arsen tersenyum miring, lalu dia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan alat pemancar sinyal kecil.
"Kau pikir aku bodoh datang tanpa persiapan? Surat itu asli... tapi aku sudah laporkan semua gerak-gerikmu sejak awal. Kau menang kertasnya... tapi kau kalah permainannya, Raka!"
Tapi Raka bukan orang biasa. Dia panik lalu dengan cepat menarik pistol dari pinggangnya dan menodongkan tepat ke kepala Leo!
"JANGAN MAJU! ATAU ANAK INI YANG MATI!" teriak Raka histeris, menarik Leo ke dadanya sebagai tameng.
Semua orang berhenti. Situasi kembali genting.
"Raka! Lepaskan anak itu! Kau sudah kalah!" teriak Komandan Polisi.
"AKU TIDAK AKAN KALAH! AKU LEBIH BAIK MATI DARIPADA MASUK PENJARA!" Raka mulai kehilangan akal sehat. Jarinya sudah siap menarik pelatuk.
Arsen gemetar melihat anaknya diancam. "Raka! Tolong... itu anakku. Dia tidak bersalah. Ambillah aku saja..."
Tiba-tiba...
"LEPASIN AYAHKU!!"
Suara teriakan kecil tapi lantang terdengar!
Leo yang tadinya menangis ketakutan, tiba-tiba mengangkat kakinya yang kecil dan menginjak sekuat tenaga tepat di jari kaki Raka!
GLEK!!
"ADUH!!" Raka kesakitan dan lengahnya sedikit mengendur!
"SEKARANG, PAPA!!" teriak Leo lagi.
Arsen tidak menyia-nyiakan kesempatan! Dengan kecepatan kilat dia melempar pisau lipat yang dia sembunyikan!
WUSSS!!
JRENG!
Pisau itu menancap tepat di tangan Raka yang memegang pistol!
"ARGHHH!!" Pistol itu jatuh!
Arsen langsung menerjang tubuh Raka dan menghajarnya bertubi-tubi!
BOK! BOK! BOK!
"Ini buat nyakitin istriku! Ini buat nyiksa anakku! DAN INI BUAT SEMUA YANG KAU LAKUKIN PADA KELUARGA KITA!"
Raka babak belur dan tak berdaya. Polisi segera menangkap dan memborgolnya.
Arsen langsung berlari memeluk anaknya yang menangis. "Leo... Sayang... kamu hebat! Kamu sangat hebat! Papa bangga sama kamu!"
"Papa... Leo takut..." rengek anak itu sambil memeluk leher ayahnya erat-erat.
"Sekarang sudah aman. Semua penjahat sudah ditangkap."
Arsen menoleh ke arah pintu. Di sana, Keisha berdiri dengan wajah menangis bahagia sambil memegang perutnya. Dia yang memberi kode pada pasukan untuk masuk tadi dari tempat persembunyiannya.
Mereka bertiga akhirnya bersatu kembali.
Raka yang sedang diseret melewati mereka hanya bisa mendengus marah dan meludah.
"KALIAN MENANG KALI INI! TAPI INGAT! KELUARGA KALIAN TIDAK AKAN PERNAH BAHAGIA! AKU KIRIM KUTUKAN BUAT BAYI YANG ADA DI PERUT ITU! DIA AKAN JADI PEMBAWA MUSIBAH!"
Arsen tidak peduli. Dia menendang wajah Raka agar diam. "Tutup mulutmu! Anakku akan jadi anak baik dan beruntung! Bawa dia pergi sebelum aku bunuh dia di sini!"
Akhirnya... keluarga gila itu sudah habis semuanya! Natasha gila, Ryan dipenjara, Raka kalah!
Malam itu, di rumah mereka yang hangat...
Keisha tidur di dada bidang Arsen, Leo tidur nyenyak di samping mereka memeluk kaki Mama nya.
"Sayang..." bisik Keisha pelan.
"Hmm?"
"Kita sudah menang kan? Semua musuh sudah habis?"
Arsen mengelus rambut istrinya dan perutnya lembut.
"Iya Sayang. Kita menang. Mulai sekarang... tidak ada lagi yang perlu ditakuti. Kita akan hidup bahagia selamanya. Aku janji."
"Tapi kata Raka... dia ngomong sesuatu soal bayi kita..." bisik Keisha cemas.
Arsen mencium kening istrinya. "Jangan dengar omongan orang gila. Bayi kita adalah anugerah. Dia akan jadi penyempurna kebahagiaan kita."
Mereka pun tertidur dengan damai. Tidak tahu kalau di suatu tempat yang jauh... ada mata yang terus memantau mereka. Dan kutukan yang diucapkan Raka tadi... sepertinya tidak hanya omongan kosong belaka.