NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN DEKATI WANITA ITU

BAB 24 — JANGAN DEKATI WANITA ITU

Sejak hari di kebun binatang, hidup Keisha berubah total dan begitu cepat tanpa pernah meminta izinnya terlebih dahulu.

Arsen datang hampir setiap hari tanpa kenal lelah.

Kadang pagi buta sudah datang membawa sarapan lengkap.

Kadang sore menjemput Leo untuk bermain di luar.

Kadang malam hanya singgah untuk makan malam bersama sekadar ingin melihat wajah mereka, lalu pulang larut.

Pria itu masuk ke dalam ritme kehidupan rumah tangga mereka dengan sangat lancar dan natural.

Dan yang paling menyebalkan bagi Keisha...

Semua orang di rumah itu mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Ibunya bahkan sudah menyiapkan cangkir kopi khusus milik Arsen di lemari piring.

Ayahnya mulai sering duduk bermain catur dengannya di teras, bahkan tampak akrab.

Leo tak henti-hentinya bercerita tentang "Papa" ini dan "Papa" itu.

Hanya Keisha satu-satunya orang yang masih berusaha keras menjaga jarak dan bersikap dingin.

Namun semakin ia berusaha menjauh, semakin pria itu tampak ada di mana-mana, seakan udara yang ia hirup.

 

Pagi itu, Keisha mendapat telepon dari teman lamanya, Nadia.

“Sha! Aku baru buka studio desain nih. Kamu mau bantuin proyek freelance nggak? Lumayan banget buat tambahan dan biar kamu update lagi.”

Mata Keisha langsung berbinar-binar cerah.

Sudah lama sekali ia ingin bekerja kembali dan produktif. Selama di Kanada ia terbiasa hidup mandiri dan bekerja, tapi sejak kembali ke Indonesia dan tinggal di rumah orang tua, ia merasa terlalu bergantung dan waktunya terasa kosong.

“Aku mau! Tentu saja aku mau!”

“Yaudah, siang ini datang ya ke tempatku. Kita bahas detailnya.”

Setelah menutup telepon, Keisha tersenyum lebar untuk pertama kalinya pagi itu. Perasaannya campur aduk antara senang dan antusias.

Ia segera berdandan sederhana, mengenakan blouse warna krem yang lembut dipadukan dengan celana jeans yang nyaman. Ia ingin terlihat rapi namun tetap santai.

Ibunya melihat dari arah dapur dan tersenyum.

“Mau ke mana cantik-cantik gitu, Nak?”

“Ketemu teman, Bu. Katanya ada tawaran kerjaan desain.”

“Oh bagus dong! Bagus banget. Kamu kan memang jagoannya. Kamu juga perlu punya kegiatan dan hidupmu sendiri lagi, Sha.”

Kalimat ibunya itu membuat hati Keisha terasa sangat lega dan didukung.

 

Saat ia baru saja melangkah keluar pagar dan hendak memesan taksi online, sebuah mobil hitam besar berhenti tepat di depannya menghalangi jalan.

Keisha memejamkan mata sambil menghela napas panjang pasrah.

“Kenapa sih timing kamu selalu buruk dan pas banget gini sih...” gumamnya kesal.

Pintu mobil terbuka. Arsen turun dengan setelan jas warna biru gelap yang sangat rapi, kemeja dalamnya putih bersih, dan wajah yang terlalu tampan untuk ukuran pagi hari yang sederhana.

“Kamu mau ke mana?” tanyanya langsung, matanya mengamati penampilan Keisha dengan teliti.

“Bukan urusanmu.”

“Kamu berdandan.”

“Aku memang mandi dan pakai baju rapi tiap hari, Arsen. Bukan cuma kalau ketemu kamu.”

Arsen menatapnya dari atas sampai bawah, rahangnya terlihat mengeras sedikit ada rasa tidak suka yang samar.

“Dengan siapa kamu pergi?”

Keisha tertawa sinis.

“Wawancara kerja. Puas?”

“Aku antar.”

“Tidak usah. Aku bisa sendiri.”

“Aku bilang aku antar.”

“Aku bilang TIDAK!”

Mereka saling tatap tajam di bawah terik matahari pagi, dua orang yang sama-sama keras kepala dan sama-sama tidak mau kalah.

Akhirnya Keisha memilih mengabaikannya dan berjalan menuju taksi online yang baru saja datang. Ia masuk ke dalam mobil dengan cepat.

Arsen hanya berdiri mematung melihatnya, lalu dengan santai mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa tombol.

Tidak sampai dua menit kemudian, pengemudi taksi itu menoleh ke belakang dengan wajah bingung dan minta maaf.

“Maaf ya Bu, pesanannya saya batalkan dulu ada keperluan mendadak.”

Keisha melotot syok. Ia langsung menoleh keluar jendela dan melihat Arsen masih berdiri di sana dengan wajah datar.

“Kamu serius?!” teriak Keisha.

“Sangat serius,” jawab Arsen tenang dari kejauhan.

“Kamu keterlaluan!”

“Naik mobil. Atau aku tarik kamu paksa masuk.”

 

Di dalam mobil mewah itu, suasana terasa dingin dan tegang.

Keisha duduk dengan wajah masam mencuka, menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun ke arah pria di sampingnya.

Arsen menyetir dengan satu tangan, santai namun penuh dominasi.

“Apa kamu memang harus mengontrol segalanya dalam hidup ini?!” protes Keisha akhirnya.

“Kalau aku tidak mengontrol, kamu pasti akan hilang lagi dari pandanganku. Aku tidak mau ambil risiko.”

“Aku cuma mau cari kerja, punya kegiatan sendiri!”

“Kerja di mana?”

“Di studio desain teman.”

“Gajinya berapa?”

“Itu bukan urusanmu! Jangan sok tahu!”

“Aku bisa bayar kamu lima kali lipat dari gaji yang mereka tawarkan kalau kamu mau kerja di perusahaanku.”

Keisha menoleh tajam.

“Aku tidak butuh uangmu, Arsen! Aku mau bekerja dengan kemampuanku sendiri!”

Arsen menoleh sekilas, tatapannya lembut namun dalam.

“Aku tahu. Itu salah satu alasan kenapa aku belum gila total menunggumu.”

Jantung Keisha kembali berdetak tidak karuan. Sialan, pria ini selalu punya cara buat bikin dia lupa marah.

 

Studio desain itu terlihat kecil namun sangat hangat dan penuh kreativitas.

Temannya, Nadia, menyambut dengan sangat heboh.

“Shaaa! Akhirnya datang juga!”

Namun senyum Nadia langsung mendadak berhenti dan melambat saat melihat Arsen turun dari mobil di belakang Keisha dengan aura yang sangat kuat dan mahal.

“Ini... siapa, Sha?” bisiknya gugup.

“Masalah berjalan,” jawab Keisha datar tanpa beban.

Arsen maju selangkah dan mengulurkan tangan sopan.

“Arsen. Salam kenal.”

Nadia menjabat tangannya dengan wajah salah tingkah dan gugup.

Beberapa pegawai lain di studio juga mulai melirik dan berbisik-bisik. Aura pria itu memang terlalu mencolok dan gagah untuk tempat se-santai ini.

 

Di ruang meeting kecil, Nadia mulai menjelaskan detail proyek desain interior untuk sebuah kafe baru yang cukup besar.

Keisha tampak sangat antusias mendengarkan, matanya berbinar cerah. Akhirnya ia merasa menjadi dirinya sendiri kembali.

Bukan hanya sebagai seorang ibu.

Bukan hanya sebagai perempuan yang dikejar-kejar mantan kekasih kaya raya.

Tapi sebagai seorang desainer yang profesional.

Namun di tengah pembicaraan yang seru itu, pintu terbuka dan seorang pria masuk membawa berkas sampel bahan.

Pria itu tinggi, ramah, berwajah bersih dan sopan.

“Sorry telat guys, macet parah.”

Nadia tersenyum lebar.

“Oh iya, kenalin. Ini Rio, partner aku di proyek ini. Ahli banget soal material.”

Rio menatap Keisha dan tersenyum sangat hangat dan ramah.

“Halo. Kamu pasti Keisha ya? Nadia banyak cerita.”

“Halo. Iya saya Keisha,” balas wanita itu sopan sambil tersenyum balik.

Dari sudut ruangan yang agak gelap, suhu udara seketika terasa turun drastis.

 

Arsen yang sejak tadi diam mendengarkan dengan santai kini perlahan berdiri dari tempat duduknya.

“Aku tunggu di luar.”

Suaranya datar, dingin, dan datar.

Namun semua orang di ruangan itu bisa merasakan bahwa itu bukan sekadar kalimat biasa. Ada aura bahaya yang menyertainya.

Begitu pintu tertutup, Nadia langsung mendekat ke Keisha dan berbisik heboh.

“Serem banget sih temen kamu! Aura boss banget!”

Rio tertawa kecil santai.

“Pacar kamu?” tanyanya pelan.

“Bukan!” jawab Keisha terlalu cepat dan tegas.

Rio tersenyum makin lepas dan santai mendengar jawaban itu.

“Syukurlah kalau begitu. Berarti aku punya kesempatan dong.”

Keisha terkejut dan pipinya langsung menghangat merah muda mendengar godaan itu.

 

Satu jam kemudian meeting selesai.

Rio dengan sopan menawarkan diri mengantar Keisha pulang karena katanya searah jalan pulang.

“Boleh aku antar, Sha? Sekalian lanjut ngobrol.”

Sebelum Keisha sempat menjawab atau menolak, pintu studio terbuka kembali dengan kasar.

Arsen masuk kembali.

Tatapan matanya yang tajam langsung jatuh tepat ke arah Rio.

Lalu beralih ke tangan pria itu yang masih memegang map dan berdiri terlalu dekat dengan Keisha.

“Tidak perlu.”

Rio mengernyitkan dahi bingung.

“Maaf? Maksudnya?”

“Aku yang antar dia pulang. Terima kasih.”

Rio menatap Keisha bingung.

“Temanmu ini?”

Keisha menghela napas panjang.

“Bisa dibilang... masalah berjalan.”

 

Di area parkiran, Arsen membuka pintu mobilnya dengan tenang namun penuh tekanan.

Namun Keisha tidak langsung masuk. Ia berdiri mematung menatap pria itu.

“Kamu tuh bikin aku malu tau nggak sih! Sifat posesifmu keterlaluan!”

“Aku menyelamatkan waktumu dan menyelamatkan dia.”

“Aku bisa pulang sendiri! Aku orang dewasa!”

“Pria tadi... dia menyukaimu. Aku lihat matanya.”

“Terus kenapa?! Hak dia buat suka kan?!”

Arsen melangkah mendekat satu langkah cepat, jarak mereka sangat dekat.

Ia menatap lurus ke arah Rio yang masih berdiri di depan pintu masuk, lalu berkata dengan suara keras dan jelas agar terdengar sampai ke sana:

“Jangan dekati wanita itu.”

Keisha menatap Arsen tak percaya.

“Kamu bicara ke dia atau ke dirimu sendiri?!” cibirnya.

Rahang Arsen mengeras, tatapannya tajam menusuk.

“Aku serius, Keisha.”

“Aku juga serius!”

Keisha menantang balik dengan berani.

“Kamu bukan suamiku. Kamu tidak punya hak melarang orang lain mendekatiku.”

Sunyi mencekam selama beberapa detik.

Lalu Arsen tersenyum tipis, senyum yang sangat berbahaya dan membuat jantung berdebar.

“Belum.”

Satu kata itu membuat dunia Keisha seakan berhenti berputar.

 

Malam harinya di rumah, Keisha masih mendongkol dan kesal sendiri memikirkan kejadian siang tadi.

Namun begitu ia membuka pintu depan, suara tawa renyah Leo langsung menyambutnya.

“Mamaaa! Lihat nih! Papa bikin tenda!”

Keisha melongo dan membeku di tempatnya.

Ruang tamu rumahnya kini berubah total menjadi sebuah perkemahan mini! Tenda mainan besar berdiri tegak, dilengkapi lampu-lampu kecil indah, bantal-bantal empuk, dan tumpukan cemilan di sekitarnya.

Leo tertawa kegirangan di dalam tenda.

Arsen duduk santai di lantai sambil melipat sisa kertas instruksi pemasangan.

Ia menoleh saat melihat Keisha datang, wajahnya tenang dan tampak puas.

“Kamu lama sekali.”

Keisha menatap tak percaya.

“Kamu... kamu ngapain masih ada di rumahku?! Ini jam berapa?!”

“Merebut hati penghuni rumah,” jawabnya santai.

Dari dalam tenda, Leo bersorak keras.

“Papa menang! Papa menang!”

Keisha memegang dadanya yang berdebar kencang.

Pria ini... benar-benar ancaman nasional bagi ketenangan hatinya.

Bersambung...

1
Lasmin Alif nur sejati
ohh,, berarti ini ceritanya ngulang lagi ke masa Arsen baru memuin Keisha, mau minta restu ke orang tuanya Keisha, tapi maaf ya Thor, ceritanya jadi bingungin, maaf ini loh Thor bukan mau merendahkan atau menjatuhkan, cuma pendapat dari saya, seharusnya dilanjut saja biar gak bingung pembaca
wiwi: makasih kak😄
total 3 replies
Yunes
Yaaa abis😭😭😭😭
wiwi: tunggu updatenya Kak
total 2 replies
Yunes
Cie cie bau2 nikah nich😍😍😄
Yunes
Wow😍😍😍
Yunes
MasyaAllah aq suka aku suka 😍😍😍💪💪
Yunes
Lanjut Thor kereeennn
Yunes
Alhamdulillahi 😍😍 Happy with ur Son
Yunes
😍😍😍💪💪
Yunes
Semangat Thor😍💪💪
Yunes
😭😭😭
Yunes
Mudah2 an tidak hamli amiiiin🤭
Lasmin Alif nur sejati
ceritanya bagus Thor, tapi kadang bingung, alurnya maju mundur apa gimana ini ya, kemarin sudah ada Aluna sekarang cuma ada leo
wiwi: makasih kak
total 3 replies
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!