NovelToon NovelToon
Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Manual Book: Obsesi Tersembunyi Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Mantan / Nikah Kontrak
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah mewakili suasana hati Runa yang sedang berada di titik terendah. Di atas ranjang, Runa meringkuk kesakitan. Perut bawahnya terasa seperti diremas-remas hebat—efek dari hari pertama siklus menstruasinya yang selalu menyiksa, ditambah stres akibat foto Azel dan Glenka yang masih menghantui pikirannya.

​Runa berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak boleh absen. Hari ini adalah hari ketiga ujian semester, dan ia memegang tanggung jawab besar sebagai pengawas ruang utama.

​Di meja makan, Azel sudah menunggu dengan kemeja rapi dan tatapan yang tidak pernah lepas dari gerak-gerik istrinya. Mata tajamnya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres.

​"Runa, kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Azel, suaranya terdengar seperti tuntutan daripada sekadar pertanyaan. "Dan kenapa jalanmu begitu lambat?"

​Runa mencoba tersenyum, meski bibirnya terlihat kebiruan. "Cuma kurang tidur, Zel. Kan semalam aku kerjain laporan ujian."

​Azel bangkit dari duduknya, melangkah mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Runa. "Tidak panas. Tapi tanganmu dingin. Kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"

​"Enggak, Zel. Ayo berangkat, nanti aku telat," potong Runa cepat, mencoba menghindari interogasi lebih lanjut.

​Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Runa hanya diam menatap jendela. Ia memikirkan bagaimana nanti di ruang guru. Berita tentang Azel dan Glenka Ambrossa sudah menjadi headline di berbagai portal berita hiburan. Ia yakin rekan-rekannya—bahkan mungkin Pak Dimas—sudah melihatnya.

​Sesampainya di gerbang sekolah, Azel tidak langsung membukakan pintu. Ia menatap Runa lekat-lekat.

​"Kalau kamu merasa sakit, telepon aku. Aku akan menjemputmu dalam lima menit, tidak peduli rapat apa pun yang sedang aku pimpin," ucap Azel tegas.

​"Iya, Zel. Aku turun ya."

​Begitu Runa melangkah masuk ke koridor, suasana terasa berbeda. Beberapa guru junior tampak berbisik-bisik sambil menatap layar ponsel mereka, lalu melirik Runa dengan tatapan kasihan.

​"Eh, Bu Runa... sudah datang?" sapa Bu Ratna dengan nada yang terdengar dipaksakan. "Bu Runa sudah baca berita... eh, maksud saya, sudah siap mengawas?"

​Runa hanya tersenyum kaku. "Sudah, Bu."

​Di sudut ruang guru, Pak Dimas mendekat dengan wajah prihatin. "Bu Runa, Anda pucat sekali. Apa perlu saya gantikan jadwal mengawas pagi ini? Anda sepertinya sedang tidak sehat."

​"Saya tidak apa-apa, Pak Dimas. Terima kasih," jawab Runa singkat, mencoba menjaga jarak sesuai "instruksi" Azel.

​Namun, rasa nyeri di perutnya semakin menjadi. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Saat ia hendak mengambil berkas ujian, pandangannya sedikit mengabur. Ia harus bertahan, setidaknya sampai jam ujian pertama selesai.

​Sementara itu, di kantor Zelbarra Group, Azel tidak bisa fokus pada presentasi di depannya. Ia terus membuka aplikasi CCTV sekolah Runa yang sudah ia pasang secara legal melalui bantuan Pak Haris. Ia melihat Runa di ruang ujian, duduk tegak namun tangannya terus memegangi perut bawahnya.

​Azel mendengus. Ia meraih ponselnya dan membuka "Runa's Manual Book".

​'Catatan: Tanggal 23. Siklus bulanannya biasanya tiba di tanggal ini. Gejala: Wajah pucat, maag sensitif, dan dia akan bersikap keras kepala seolah dia adalah pahlawan.'

​"Sial," umpat Azel pelan. "Dia sedang datang bulan dan tetap memaksakan diri mengawas."

​Azel menekan tombol interkom. "Batalkan semua jadwal siang ini. Siapkan mobil. Kirim kurir ke apotek sekarang, beli bantalan pemanas elektrik dan cokelat hitam kadar 70%. Sekarang!"

​Pukul 11 siang, saat jam istirahat ujian, Runa sedang terduduk lemas di kursi ruang guru. Kepalanya disandarkan di meja. Bu Ratna masuk dengan wajah panik.

​"Runa! Itu... di depan ada ribut-ribut lagi! Pak Azel datang!"

​Runa tersentak bangun, namun rasa nyeri di perutnya membuatnya hampir terjatuh kembali. Azel masuk ke ruang guru tanpa permisi, mengabaikan tatapan semua orang. Di tangannya, ia membawa tas kecil berisi perlengkapan darurat.

​"Zel? Kenapa kamu ke sini lagi?" bisik Runa malu.

​Azel tidak menjawab. Ia berlutut di samping kursi Runa, tidak peduli pakaian mahalnya menyentuh lantai ruang guru yang biasa saja. Ia memegang tangan Runa yang dingin.

​"Kenapa tidak bilang kalau hari ini hari pertamamu?" tanya Azel dengan suara rendah yang penuh kekhawatiran.

​"Aku... aku bisa tahan, Zel. Aku nggak mau ganggu kerjaan kamu."

​"Pekerjaanku tidak ada artinya kalau kamu menderita seperti ini," Azel berdiri, lalu menatap tajam ke arah Bu Ratna dan Pak Haris yang berdiri di ambang pintu. "Pak Haris, istri saya pulang sekarang. Saya sudah mengirim staf saya untuk menggantikan posisi pengawas atau apa pun itu. Urusan administrasi, biarkan asisten saya yang urus."

​Azel kembali menatap Runa, wajahnya sedikit melunak. Ia mengeluarkan bantal pemanas dari tasnya dan meletakkannya di perut Runa. "Pakai ini. Dan ini cokelatmu. Aku tahu kamu sedang stres karena berita sampah itu, tapi jangan biarkan fisikmu ikut hancur."

​Azel melirik ke arah meja guru lain, di mana beberapa guru masih memegang ponsel. "Dan untuk semuanya... foto yang kalian lihat di berita itu adalah sampah. Wanita itu hanya parasit bisnis. Jangan ada yang berani membahasnya di depan istri saya kalau kalian masih ingin bekerja di bawah perlindungan yayasan ini."

​Runa merasa dunianya seolah berhenti. Azel membelanya dengan begitu terbuka, di saat ia merasa paling tidak berharga.

​Azel kemudian menggendong Runa keluar dari ruang guru. Kali ini, Runa tidak protes. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Azel, membiarkan suaminya itu menjadi tameng dari segala bisik-bisik dan rasa sakit yang ia rasakan.

​Sesampainya di mobil, Azel memasangkan sabuk pengaman dengan sangat hati-hati. Ia mengambil ponselnya, membuka folder "Runa’s Manual Book", dan menambahkan baris baru:

​'Catatan: Hari pertama menstruasi. Level keras kepala: Maksimal. Kesimpulan: Jangan pernah tanya dia mau pulang atau tidak, langsung angkut saja. Dia butuh cokelat, pelukan, dan jaminan kalau tidak ada wanita lain yang bisa menggeser posisinya. Besok, bawakan termos air hangat ke sekolah.'

​Azel mengecup kening Runa. "Istirahatlah. Kita pulang. Dan besok, kalau kamu masih sakit, aku yang akan mengawas ujian di kelasmu sambil memangku kamu."

​"Zel! Itu nggak lucu!" Runa tertawa kecil di tengah rasa sakitnya.

​"Aku tidak sedang bercanda, Runa," sahut Azel datar, tapi jemarinya menggenggam tangan Runa dengan sangat erat sepanjang jalan pulang.

1
Ayusha
ya ampun kirain aku yg kelewat baca beneran ke IGD. 😄
Ayusha
nyatet nya tar aja kenapa si jel, lg panik masih sempet2nya nulis /Facepalm/
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣
kelakuan ajel emang...
total 1 replies
Ayusha
ya ampyuun sampe segitunya jel /Facepalm/
Ayusha: kalo aku di posisi Runa mungkin udh gila. gila karena ke absurdan Ajel, dan Ter gila2 Karena kebucinan nya 🤣🤣
total 2 replies
Ariska Kamisa
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Ayusha
/Joyful//Joyful/
Ayusha
katanya kayak meluk kayu kering, emang masih naf su juga 🤣
Ariska Kamisa: emang dasar ajel mah bilangnya apa tapi kelakuannya apa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
balon kali terbang /Sob/
Ayusha
mantap jel, aku padamu 😍
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Nesya
dapat suami yang mencintai, mertua yang baik dan pengertian beruntung ny kamu runa, nikmati harimu runa waktunya bahagia
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nesya
👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih jempolnya kak♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
sa ae lu jel. melting kan gue 🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Ayusha
tinggal bilang "menikahlah denganku"
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣
Ariska Kamisa: tsundere banget ya kak ...🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayusha
oke, tim cowok posesif dengan segala obsesi nya🤭
Ariska Kamisa: oke satu tim kita kak.. terimakasih banyak ♥️♥️♥️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!