NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: PERJAMUAN DI SARANG SERIGALA

Sabtu sore tiba dengan tekanan yang nyaris mencekik. Langit Jakarta yang berwarna jingga kemerahan terlihat dari balik jendela butik tempat Laluna baru saja menyelesaikan riasan wajahnya.

Ia menatap pantulannya di cermin besar, gaun emerald green yang dipilihkan tempo hari membalut tubuhnya dengan sempurna, mempertegas lekuk pinggang dan warna kulitnya yang cerah.

Rambutnya disanggul modern yang menyisakan beberapa helai jatuh membingkai wajah, memberikan kesan elegan namun tetap lembut.

Namun, di balik penampilan bak putri bangsawan itu, tangan Laluna dingin seperti es. Cincin platinum di jari manisnya terasa sangat berat, seolah setiap karat berlian di sana adalah beban tanggung jawab yang siap meremukkannya.

"Nyonya, mobil sudah menunggu di bawah," suara Dimas terdengar dari balik pintu ruang rias.

Laluna menarik napas panjang. Ini hanya peran, Laluna. Hanya dua jam di depan orang tua itu, lalu kau bisa pulang dan bersembunyi lagi di dapur, batinnya menyemangati diri sendiri.

Saat ia turun ke lobi, Reihan sudah menunggu di dalam mobil. Pria itu mengenakan setelan jas hitam bespoke dengan kemeja putih bersih.

Ketika Laluna masuk dan duduk di sampingnya, Reihan sempat tertegun selama beberapa detik. Matanya menyapu penampilan Laluna dari atas ke bawah, sebuah tatapan yang lebih lama dari biasanya.

"Kau tampak... memadai," ucap Reihan datar, meski ada nada sedikit tertahan dalam suaranya.

"Terima kasih untuk pujian yang sangat 'hangat' itu, Tuan CEO," balas Laluna dengan nada sarkasme yang halus.

Reihan tidak menjawab.

Sepanjang perjalanan menuju kediaman utama Arta Wiguna di daerah Menteng, ia hanya sibuk memberikan instruksi terakhir.

"Ingat, kakekku, Surya Arta Wiguna, adalah pria yang membaca kebohongan seperti membaca laporan keuangan.

Jangan terlalu banyak bicara jika tidak perlu. Tetaplah di sampingku, dan jangan lepaskan kaitan tanganmu dari lenganku kecuali aku yang melakukannya."

"Aku mengerti. Kita adalah pasangan yang paling bahagia di dunia, kan?"

"Bukan bahagia, Laluna. Kita adalah pasangan yang solid. Di keluarga ini, kebahagiaan adalah mitos, tapi kekuatan adalah segalanya."

Mobil berhenti di depan sebuah rumah kolonial megah dengan pilar-pilar putih raksasa. Puluhan mobil mewah lainnya sudah berjajar di halaman luas itu. Saat pintu mobil dibuka, Reihan keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Laluna.

Laluna menyambut tangan itu.

Telapak tangan Reihan besar, hangat, dan sangat kokoh. Sesaat, rasa aman yang aneh merayapi hati Laluna, sebuah perasaan yang seharusnya tidak boleh ia miliki terhadap pria yang mengontrak hidupnya.

Mereka melangkah masuk ke dalam aula utama. Ratusan mata segera tertuju pada mereka. Bisikan-bisikan mulai terdengar seperti dengungan lebah. Itu dia? Siapa gadis itu? Benarkah Reihan sudah menikah diam-diam?

Di ujung ruangan, di atas kursi kayu jati yang diukir rumit, duduk seorang pria tua dengan rambut putih perak dan mata yang masih tajam meski sudah dimakan usia. Surya Arta Wiguna.

"Kakek," Reihan membungkuk hormat, menarik Laluna untuk melakukan hal yang sama.

"Ini Laluna. Istriku."

Surya terdiam, menatap Laluna dengan intensitas yang membuat Laluna merasa seolah sedang dipindai oleh mesin X-ray. Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga para tamu lain ikut menahan napas.

"Kemarilah, Gadis Wijaya," suara Surya serak namun berwibawa.

Laluna melangkah maju satu tindak.

"Selamat malam, Opa Surya. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda."

Surya menatap tangan Laluna, memperhatikan cincin yang melingkar di sana.

"Kau memakai cincin milik mendiang istriku. Reihan rupanya sangat percaya diri memberikan itu padamu." Ia kemudian beralih menatap cucunya.

"Dia cantik, Reihan. Jauh lebih hidup daripada angka-angka di bursa sahammu. Tapi kecantikan tidak bisa menyelamatkan perusahaan jika kau tidak memiliki keturunan."

Wajah Reihan mengeras.

"Kami baru saja memulai, Kek. Semuanya butuh proses."

"Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama," sahut Surya dingin, lalu memberi isyarat agar mereka bergabung dengan tamu lainnya.

Laluna merasa seolah ia baru saja lolos dari lubang jarum. Namun, ujian sebenarnya baru saja dimulai. Saat Reihan ditarik oleh beberapa paman dan sepupunya untuk membicarakan bisnis, Laluna ditinggalkan di dekat meja prasmanan.

Di sanalah Clarissa Mahendra muncul, kali ini mengenakan gaun merah menyala yang tampak sangat provokatif. Ia tidak sendirian, ia bersama seorang wanita paruh baya yang memiliki sorot mata angkuh yang sama. Ibu Diana, bibi Reihan yang terkenal tidak menyukai posisi Reihan sebagai CEO.

"Jadi ini 'asisten domestik' yang kau bicarakan kemarin, Reihan?" Clarissa berkata dengan suara yang cukup keras hingga menarik perhatian tamu di sekitar.

"Atau haruskah aku memanggilmu Nyonya Rahasia?"

Laluna memutar tubuhnya, memasang senyum paling manis yang ia miliki.

"Halo, Nona Clarissa. Senang melihat Anda lagi. Dan ya, posisi saya di rumah Tuan Reihan memang sangat... krusial."

"Jangan sombong, Nak," sahut Ibu Diana dengan nada menghina.

"Kami tahu keluarga Wijaya sedang di ujung tanduk. Menikahi Reihan mungkin cara pintasmu untuk keluar dari kemiskinan, tapi di rumah ini, kau hanyalah orang asing yang beruntung."

Laluna merasakan dadanya sesak, namun ia teringat kata-kata Reihan, Jika kau bukan sutradaranya, maka kau adalah propertinya.

"Saya mungkin orang asing bagi Anda, Nyonya," ucap Laluna dengan suara yang tetap tenang namun bergetar oleh keberanian.

"Tapi bagi Reihan, saya adalah orang yang menunggunya pulang setiap malam. Dan sejauh yang saya lihat, di keluarga ini, kehadiran yang tulus jauh lebih berharga daripada status yang dipamerkan."

Clarissa tertawa sinis.

"Tulus? Kau pikir Reihan tahu arti kata itu? Dia hanya memanfaatkanmu untuk menyenangkan kakeknya. Begitu posisinya aman, kau akan dibuang seperti sampah."

"Mungkin saja," balas Laluna, melangkah satu kaki lebih dekat ke arah Clarissa.

"Tapi setidaknya untuk saat ini, sayalah yang memakai cincin Arta Wiguna di jari saya, bukan Anda. Jadi, jika Anda ingin menyapa saya, tolong gunakan sedikit sopan santun."

Wajah Clarissa memerah karena marah. Ia hendak membalas saat sebuah tangan kokoh melingkar di pinggang Laluna.

Reihan muncul di sana, menatap bibinya dan Clarissa dengan pandangan yang mampu membekukan air.

"Ada masalah di sini?" tanya Reihan dingin.

"Reihan, istrimu ini sangat tidak sopan!" lapor Ibu Diana.

Reihan menarik Laluna lebih rapat ke tubuhnya, sebuah tindakan posesif yang membuat jantung Laluna melompat.

"Jika istriku bersikap tidak sopan, itu pasti karena ada alasan yang kuat. Dan Bibit, jika kau atau Clarissa memiliki masalah dengan keberadaannya, maka kalian memiliki masalah denganku."

Tanpa menunggu jawaban, Reihan menuntun Laluna menjauh dari kerumunan itu menuju teras belakang yang lebih sepi. Begitu sampai di sana, Reihan melepaskan tangannya, namun ia tetap berdiri sangat dekat dengan Laluna.

"Kau melakukan apa yang kusuruh," ucap Reihan pelan.

"Kau melawan."

Laluna bersandar pada pagar balkon, mencoba mengatur napasnya.

"Aku tidak suka orang-orang itu, Reihan. Mereka memperlakukanmu seolah kau hanya sebuah mesin ATM, dan memperlakukanku seolah aku adalah virus."

Reihan menatap kegelapan taman di bawah mereka.

"Itulah Arta Wiguna. Kami dididik untuk menjadi serigala. Jika kau tidak menggigit, kau akan dimakan."

Laluna menoleh menatap profil samping wajah Reihan. Di bawah cahaya lampu taman yang kekuningan, wajah pria itu tampak lebih manusiawi. Ada gurat kelelahan yang tidak pernah ia tunjukkan di kantor.

"Kenapa kau tidak pernah mencoba menjadi berbeda dari mereka?" tanya Laluna lembut.

Reihan menoleh, mata mereka bertemu dalam keheningan yang panjang. Untuk sesaat, tembok es itu seolah retak.

"Karena jika aku menjadi berbeda, aku akan kehilangan segalanya, Laluna. Termasuk kemampuan untuk melindungi orang-orang yang... yang berada di bawah tanggung jawabku."

Laluna terdiam. Ia baru menyadari bahwa sikap dingin Reihan adalah sebuah baju zirah. Pria ini tidak sedang memerintah dunianya, ia sedang bertahan hidup di dalamnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Itu adalah Surya Arta Wiguna, berjalan perlahan dengan tongkatnya.

"Reihan, biarkan aku bicara berdua dengan istrimu," perintah sang kakek.

Reihan sempat ragu, namun ia mengangguk patuh.

"Aku akan menunggumu di dalam," bisiknya pada Laluna sebelum melangkah pergi.

Laluna kini berdiri sendirian dengan sang penguasa dinasti. Surya menatap ke arah kejauhan, lalu berkata tanpa menoleh, "Laluna, kakekmu adalah pria yang jujur. Itu sebabnya dia hampir bangkrut berkali-kali. Aku ingin tahu, apakah kejujuran itu menurun padamu? Beritahu aku, apa yang Reihan janjikan padamu untuk pernikahan ini?"

Jantung Laluna berdegup kencang. Ini adalah ujian kejujuran yang berbahaya. Jika ia berbohong dan ketahuan, semuanya berakhir. Jika ia jujur, ia mungkin menghancurkan rencana Reihan.

Laluna menarik napas panjang, menatap sang kakek dengan mata yang tak berkedip. "Dia tidak menjanjikan cinta, Opa. Dia menjanjikan kelangsungan hidup bagi keluarga saya. Dan sebagai gantinya, saya berjanji untuk menjadi sekutu yang paling setia untuknya di rumah ini."

Surya Arta Wiguna terdiam, lalu sebuah tawa kecil yang kering keluar dari bibirnya. "Sekutu, ya? Jawaban yang menarik. Reihan tidak butuh wanita yang memujanya, dia butuh wanita yang bisa menjaga punggungnya saat dia sedang berperang. Jangan mengecewakanku, Laluna."

Surya berbalik pergi,

meninggalkan Laluna yang masih terpaku. Di kejauhan, ia melihat Reihan sedang menatapnya dari balik pintu kaca aula. Dalam keramaian itu, mereka berdua tampak seperti dua orang asing yang baru saja menyadari bahwa di medan perang ini, mereka hanya memiliki satu sama lain.

Malam itu, saat mereka pulang, tidak ada lagi perdebatan di dalam mobil. Kesunyian itu tidak lagi terasa dingin, melainkan terasa seperti sebuah kesepakatan yang tidak terucapkan. Sebuah rahasia baru telah lahir, mereka bukan lagi sekadar kontrak, melainkan rekan seperjuangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!