Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2
Sore itu, pukul 16.20, suasana kantor mulai berubah. Aktivitas yang sejak pagi terasa padat perlahan melonggar. Suara ketikan keyboard mulai berkurang, beberapa kursi sudah ditinggalkan pemiliknya, dan sebagian karyawan terlihat bersiap untuk pulang.
Namun di tengah suasana yang mulai santai itu, Bu Ida justru tampak berbeda. Ia keluar dari ruangannya dengan langkah cepat, wajahnya menyiratkan sedikit kepanikan. Di tangannya terdapat sebuah map tebal berwarna cokelat yang tampak penting.
Matanya menyapu area kerja, mencari seseorang.
“Aira,” panggilnya begitu menemukan sosok yang ia cari.
Aira yang sedang merapikan mejanya langsung menoleh. Ia berdiri dengan sigap, refleks sebagai pegawai baru yang masih berusaha menunjukkan kesan baik.
“Iya, Bu?” jawabnya sopan.
Bu Ida mendekat tanpa membuang waktu.
“Maaf sekali, Aira. Ibu ada keperluan mendadak dan harus segera pulang,” ucapnya cepat. “Padahal laporan ini harus diserahkan ke direktur hari ini.”
Aira melirik map di tangan Bu Ida, lalu kembali menatap atasannya.
“Kalau kamu tidak keberatan… bisa tolong antar ke lantai lima? Ke ruang direktur,” lanjut Bu Ida dengan nada penuh harap.
Tanpa berpikir lama, Aira mengangguk.
“Tentu, Bu. Saya bisa antar sekarang.”
Wajah Bu Ida langsung terlihat lega.
“Terima kasih sekali, Aira. Ibu benar-benar terbantu.”
Ia menyerahkan map tersebut dengan hati-hati. Aira menerimanya dengan kedua tangan, seolah sadar bahwa yang ia pegang bukan sekadar dokumen biasa.
“Ini penting, ya, Bu?” tanya Aira memastikan.
“Penting,” jawab Bu Ida singkat, lalu tersenyum. “Makanya harus sampai sekarang juga.”
Aira mengangguk mantap.
“Baik, Bu. Akan saya serahkan langsung.”
Bu Ida tampak sedikit lebih santai.
“Besok Ibu belikan camilan buat kamu,” katanya tiba-tiba.
Aira langsung tersenyum canggung.
“Tidak usah, Bu. Tidak perlu repot-repot.”
Namun Bu Ida justru menggeleng pelan.
“Sudah, jangan ditolak. Anggap saja ucapan terima kasih.”
Aira akhirnya menyerah.
“Kalau begitu… terima kasih, Bu.”
Bu Ida mengangguk puas, lalu melambaikan tangan sebelum bergegas pergi meninggalkan kantor.
Aira membalas lambaian itu dengan senyum tipis.
Begitu Bu Ida menghilang dari pandangan, Aira menatap map di tangannya. Entah kenapa, perasaan aneh mulai muncul.
“Direktur…” gumamnya pelan.
Ia menarik napas kecil, lalu berjalan menuju lift.
Sepanjang langkahnya, pikirannya tidak bisa diam. Ia teringat percakapannya dengan Ayunda saat makan siang tadi.
“Atasan kita itu orangnya baik, kok,” kata Ayunda waktu itu dengan santai.
“Baik?” Aira sempat bertanya.
“Iya. Tidak galak seperti yang dibayangkan.”
“Syukurlah,” jawab Aira lega.
Ayunda lalu tersenyum jahil. “Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Dia tampan.”
Aira saat itu hanya tertawa kecil. Ia tidak terlalu memikirkan hal itu.
Namun sekarang, saat berdiri di depan lift dengan map penting di tangannya, rasa penasaran itu muncul tanpa diundang.
“Memangnya setampan apa…” pikirnya.
Pintu lift terbuka.
Aira masuk dan menekan tombol lantai lima.
Begitu pintu tertutup, suasana menjadi hening. Hanya suara mesin lift yang terdengar pelan.
Detik demi detik terasa lebih panjang dari biasanya.
Aira menatap angka yang terus bertambah.
Satu… dua… tiga… empat…
Dan akhirnya—
Lima.
Pintu lift terbuka.
Aira melangkah keluar perlahan.
Suasana lantai lima langsung terasa berbeda. Lebih sepi. Lebih rapi. Lebih… eksklusif.
Langkahnya tanpa sadar melambat.
Matanya menyapu koridor, hingga akhirnya berhenti pada sebuah pintu besar dengan desain mewah. Di sampingnya, terdapat papan nama berwarna hitam dengan tulisan emas yang mencolok.
Bimantara Dwi Cahyo.
Nama itu membuat Aira membeku.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Nama itu terlalu familiar.
Terlalu dekat dengan masa lalu yang sudah lama ia kubur.
Namun ia segera menggeleng, mencoba menepis pikiran itu.
“Bima yang aku kenal itu di Bekasi… bukan di sini,” gumamnya.
“Dan… dia tidak mungkin jadi direktur.”
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.
“Fokus. Ini hanya kebetulan nama.”
Dengan sisa keyakinan yang ia paksa sendiri, Aira mengangkat tangan dan mengetuk pintu.
“Masuk.”
Suara itu terdengar.
Dalam. Tenang. Tegas.
Dan… sangat familiar.
Tangan Aira sedikit gemetar saat membuka pintu.
Ia melangkah masuk.
Dan dalam sekejap, dunia seolah berhenti.
Seorang pria duduk di kursi kerjanya dengan santai. Ia mengenakan kemeja rapi, posturnya tegap, dan aura karismanya begitu kuat.
Aira terpaku.
Wajah itu…
Tidak mungkin salah.
“Bima…” batinnya bergetar.
Namun refleksnya lebih cepat dari perasaannya. Ia langsung menunduk, menahan semua reaksi yang hampir keluar.
“Maaf, Pak,” ucapnya formal. “Saya dari bagian finance. Ini laporan dari Bu Ida.”
Pria itu mengangkat kepala dan menatapnya.
Tatapannya tajam.
Seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi.
“Letakkan di sini,” katanya sambil menunjuk meja.
Aira mendekat dan meletakkan map itu dengan hati-hati.
“Nama kamu?” tanya pria itu.
“Aira, Pak,” jawabnya singkat.
“Pegawai baru?”
“Iya, Pak. Hari ini hari pertama.”
Aira tetap menunduk. Ia ingin segera pergi sebelum situasi ini semakin sulit.
Namun pria itu belum selesai.
“Bagaimana kesan kamu bekerja di sini?”
Pertanyaan itu membuat Aira sedikit terdiam.
“Saya… senang, Pak. Lingkungannya nyaman,” jawabnya hati-hati.
Ia kemudian menambahkan,
“Kalau tidak ada lagi, saya izin kembali, Pak.”
“Duduk.”
Satu kata.
Tegas.
Tidak memberi ruang untuk menolak.
Aira perlahan mengangkat wajahnya sedikit, ragu.
“Pak…?”
“Saya bilang duduk.”
Nada suaranya tetap tenang, tapi jelas tidak bisa dibantah.
Dengan perasaan tidak nyaman, Aira akhirnya duduk di kursi di depan meja.
Tangannya saling menggenggam di pangkuan.
Pria itu menutup map laporan, lalu bersandar.
“Kamu tinggal di mana?”
“Saat ini di rumah saudara, Pak. Saya sedang mencari kost,” jawab Aira pelan.
Pria itu mengangguk.
Lalu ia berdiri.
Langkahnya pelan… namun terasa menekan.
Setiap langkah mendekat membuat napas Aira semakin berat.
“Lihat saya.”
Aira membeku.
“Pak…”
“Lihat saya.”
Nada itu lebih rendah, tapi lebih dalam.
Dengan gemetar, Aira akhirnya mengangkat wajahnya.
Dan saat itu juga, semua keraguan runtuh.
Itu benar-benar Bima.
Tidak ada lagi yang bisa ia sangkal.
Bima tersenyum tipis.
“Kamu masih ingat saya?”
Aira langsung mengalihkan pandangan.
“Maaf, Pak. Sepertinya kita belum pernah bertemu sebelumnya.”
Jawaban itu terdengar kaku.
Dipaksakan.
Bima tertawa kecil.
“Ternyata kamu masih sama,” katanya pelan.
Ia mendekat sedikit.
“Saya merindukan kamu, Aira.”
Kata-kata itu membuat Aira terkejut.
Ia menatap Bima dengan cepat.
“Pak…”
Bima menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya.
“Sekarang masih tidak ingat?” bisiknya.
Aira menarik napas cepat.
“Pak, saya ke sini hanya untuk bekerja,” katanya tegas meski suaranya bergetar.
“Saya tidak punya maksud lain.”
Bima berhenti.
Tatapannya berubah.
Dingin.
“Saya juga tidak berniat mengulang hubungan lama,” ucapnya datar.
“Hubungan yang kamu putuskan sepihak.”
Aira menunduk.
Rasa bersalah itu muncul kembali.
“Maaf…” ucapnya pelan.
Suasana menjadi sunyi.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Bima akhirnya menghela napas.
“Sudahlah,” katanya.
Nada suaranya berubah lebih ringan.
“Itu sudah berlalu.”
Aira perlahan mengangkat wajahnya.
“Saya ingin membuka lembaran baru,” lanjut Bima.
“Sebagai atasan dan bawahan.”
Aira terdiam.
“Dan saya akan melupakan semuanya,” tambahnya.
Aira mengangguk pelan.
“Terima kasih, Pak.”
Bima kembali ke kursinya.
Ia membuka dokumen, seolah pembicaraan tadi tidak pernah terjadi.
“Kamu boleh kembali. Sudah jam pulang.”
Aira berdiri.
“Baik, Pak.”
Ia membungkuk sedikit, lalu berbalik.
Langkahnya terasa tidak stabil.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu—
“Aira.”
Ia berhenti.
Perlahan menoleh.
Bima tidak melihatnya. Matanya tetap pada dokumen.
Namun suaranya terdengar jelas.
“Kamu tidak berubah.”
Aira terdiam.
Banyak hal ingin ia katakan.
Namun tidak ada yang keluar.
Ia membuka pintu dan keluar.
Begitu pintu tertutup, Aira bersandar sejenak di dinding.
Napannya tidak teratur.
“Kenapa… harus dia…” bisiknya.
Ia berjalan menuju lift dengan langkah cepat.
Pikirannya kacau.
Semua yang ia kira sudah selesai… ternyata masih tersisa.
Di dalam lift, ia menatap pantulan dirinya.
Wajahnya pucat.
Matanya gelisah.
“Ini hanya pekerjaan,” katanya pada dirinya sendiri.
“Aku harus fokus.”
Namun jauh di dalam hatinya—
ia tahu semuanya tidak akan sesederhana itu.
Pintu lift terbuka.
Aira melangkah keluar.
Namun bayangan masa lalu itu…
tetap mengikutinya.