NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Jantung di Dalam Kegelapan

Kapten Bao menghentikan perahunya tepat di depan mulut gua. Layar digulung, dayung diangkat. Pria tua itu menatap kegelapan di hadapan mereka dengan campuran takut dan kagum—dua emosi yang jarang muncul di wajah pelaut berpengalaman sepertinya.

"Sampai di sini saja aku bisa mengantarmu," katanya, suaranya pelan seperti takut membangunkan sesuatu. "Perahuku tidak akan muat masuk ke sana. Dan jujur saja... aku tidak mau masuk."

Xiao Chen mengangguk. Ia mengerti. Tempat ini memang bukan untuk manusia biasa. Bahkan ia sendiri—dengan Tulang Patah Surga di dadanya dan Energi Chaos di sekujur tubuhnya—merasakan hawa dingin yang merayap di tulang punggung. Bukan dingin fisik, melainkan dingin yang berasal dari kehadiran sesuatu yang sangat kuno dan sangat kuat.

Hui berdiri di sampingnya, bulu tengkuknya berdiri sempurna. Tapi serigala hitam itu tidak menggeram. Ia hanya menatap kegelapan gua dengan mata merah yang waspada, siap mengikuti ke mana pun tuannya pergi.

"Aku akan turun di sini," kata Xiao Chen. "Kau tunggu di luar?"

Kapten Bao menggeleng. "Aku akan berlabuh di teluk kecil sebelah barat. Ada tempat yang cukup aman dari karang. Kalau kau kembali... bersiullah tiga kali. Aku akan dengar."

"Dan kalau aku tidak kembali?"

Kapten Bao menatapnya lama. "Maka aku akan pulang, dan Lian Xin akan tahu bahwa kau gagal. Tapi entah kenapa..." Ia menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi yang menguning. "...aku merasa kau akan kembali."

Xiao Chen tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu melompat dari perahu ke batu karang datar di samping mulut gua. Hui mengikutinya dengan lompatan ringan. Bersama, mereka berdiri di ambang kegelapan.

Perahu Kapten Bao perlahan menjauh, menghilang di balik dinding tulang raksasa. Kini Xiao Chen benar-benar sendirian bersama serigalanya.

Ia menyalakan obor kecil dari kain dan minyak yang ia bawa. Cahaya jingga menari-nari, menciptakan bayangan aneh di dinding gua. Tapi semakin ia melangkah masuk, semakin ia sadar bahwa obor ini hampir tidak berguna. Kegelapan di sini bukan sekadar ketiadaan cahaya—melainkan keberadaan kegelapan itu sendiri. Seperti Mutiara Kegelapan, tempat ini menyerap cahaya.

"Simpan obormu," kata Yue Que. "Gunakan matamu yang lain."

Xiao Chen mematikan obor. Ia menutup mata fisiknya, dan membuka "mata" yang diberikan oleh Tulang Patah Surga. Energi Chaos di tulang-tulangnya mengirimkan getaran-getaran halus ke sekitarnya, menciptakan peta tiga dimensi dari gua ini.

Dan ia melihatnya.

Gua itu bukan sekadar lubang di batu. Ini adalah rongga dada Naga Laut Chaos. Dinding-dindingnya adalah tulang-tulang raksasa yang membusuk menjadi batu selama ribuan tahun. Lantainya adalah sedimen dari sisik-sisik yang mengeras. Dan di tengah rongga raksasa ini, setengah terendam di dalam kolam air hitam yang tidak beriak...

...ada Kapal Tulang.

Xiao Chen membuka mata fisiknya. Cahaya dari Energi Chaos di tubuhnya—samar keemasan dari simbol di dadanya—kini sedikit menerangi sekitar. Cukup untuk melihat bentuk kapal itu.

Kapal itu tidak besar. Mungkin sepanjang sepuluh langkah orang dewasa, dengan satu tiang utama dan satu layar. Tapi setiap inci dari kapal itu... terbuat dari tulang. Tulang-tulang paus, tulang-tulang naga, tulang-tulang makhluk laut kuno yang sudah punah—disusun dengan presisi yang tidak mungkin dilakukan oleh tangan manusia biasa. Lambungnya melengkung anggun seperti tulang rusuk. Layarnya terbuat dari selaput tipis yang tembus cahaya—mungkin dari sayap ikan pari raksasa.

Dan di haluan kapal, terpahat sebuah kepala naga. Bukan ukiran kayu—melainkan tengkorak asli Naga Laut Chaos, dengan kedua rongga matanya yang kosong. Satu rongga kosong. Satu lagi... berisi bola hitam yang berdenyut pelan.

Mata Naga yang satunya.

"Mutiara Kegelapan yang kau bawa," bisik Yue Que. "Itu adalah mata yang hilang. Kapal ini menunggumu mengembalikannya."

Xiao Chen melangkah mendekat. Setiap langkahnya bergema di rongga raksasa itu. Air hitam di kolam tidak bergerak, bahkan saat kakinya menyentuh permukaannya. Ia berjalan di atas air seolah-olah itu adalah lantai kaca—mungkin efek dari Energi Chaos yang beresonansi dengan tempat ini.

Ia tiba di samping kapal. Tangannya terulur, menyentuh lambung tulang itu.

DUG!

Dunia berputar. Xiao Chen tersedot ke dalam penglihatan—sama seperti saat ia menyentuh Mutiara Kegelapan.

Ia melihat Naga Laut Chaos dalam kejayaannya. Makhluk raksasa yang membelah lautan, bersisik hitam berkilau, dengan dua mata keemasan yang bersinar seperti matahari kecil. Ia adalah peliharaan Leluhur Pertama, sahabat setia yang bertarung di sisinya melawan pasukan Surga.

Ia melihat pertempuran terakhir. Langit runtuh. Laut mendidih. Naga itu terkena serangan mematikan dari tiga Utusan Langit sekaligus. Tubuhnya hancur, tulang-tulangnya berserakan. Tapi sebelum mati, ia menggunakan sisa kekuatannya untuk membentuk kapal dari tulang-tulangnya sendiri—sebuah warisan bagi generasi mendatang.

"Pewaris..." suara itu bukan kata-kata, melainkan getaran perasaan. "Kau datang... membawa mataku yang hilang..."

Xiao Chen tersadar dari penglihatan itu. Ia masih berdiri di samping kapal. Tapi kini ia tahu apa yang harus dilakukan.

Ia mengeluarkan Mutiara Kegelapan dari Ruang Warisan. Bola hitam itu berdenyut lebih cepat, seolah merasakan kedekatan dengan tubuh asalnya. Xiao Chen melangkah ke haluan kapal, menghadap tengkorak naga dengan satu rongga mata kosong.

Perlahan, ia memasukkan mutiara itu ke dalam rongga yang kosong.

KLIK!

Suara seperti potongan puzzle yang pas. Mutiara itu menyatu sempurna dengan rongga mata, seolah memang diciptakan untuk berada di sana.

Dan kemudian... kedua mata tengkorak itu menyala.

Bukan hitam seperti sebelumnya. Melainkan keemasan. Warna yang sama dengan mata asli Naga Laut Chaos saat masih hidup. Cahaya itu menerangi seluruh gua, mengusir kegelapan yang sudah bertahta selama ribuan tahun.

Kapal Tulang bergetar. Tulang-tulangnya bergeser, menyesuaikan diri. Layar dari selaput ikan pari mengembang dengan sendirinya, meskipun tidak ada angin di dalam gua ini. Dan sebuah suara—bukan di telinga, melainkan di dalam jiwa Xiao Chen—bergema:

"Aku adalah Shen Long... Naga Laut Chaos... dan aku mengenalimu, Pewaris Tulang Patah. Kau memiliki darah tuanku di tulang-tulangmu. Apakah kau layak menjadi nahkodaku?"

Xiao Chen berdiri tegak, menatap kedua mata emas yang kini menatapnya—benar-benar menatapnya, dengan kesadaran penuh.

"Aku adalah Xiao Chen, pewaris Ras Dewa Patah. Aku tidak tahu apakah aku layak. Tapi aku tahu aku tidak akan berhenti sampai Langit runtuh. Kalau kau mau membantuku... kita akan lakukan bersama."

Keheningan. Kedua mata emas itu berkedip.

Lalu, Kapal Tulang itu tertawa. Bukan suara mengejek—melainkan suara kegembiraan yang sudah lama terpendam.

"Ribuan tahun aku menunggu... dan akhirnya datang juga seseorang dengan hati naga. Naiklah, Xiao Chen. Kita punya lautan untuk ditaklukkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!