Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Jejak Menuju Selatan
Pagi keberangkatan tiba dengan langit kelabu. Awan-awan tebal menggantung rendah di atas hutan, seolah alam pun enggan melepas kepergian mereka. Arga berdiri di mulut gua markas, ransel kulit di punggungnya berisi bekal kering dan sebuah kitab tipis pemberian Darmaji—catatan perjalanan para pemburu yang pernah mencoba mencapai Lembah Selatan dan gagal.
"Kau tidak perlu mengantarku sampai perbatasan," kata Arga pada Sinta yang berdiri di sampingnya, jubah hitamnya berkibar ditiup angin pagi.
"Aku tidak mengantarmu. Aku memastikan kau tidak mati sebelum mencapai tujuan." Suara Sinta tetap datar, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. "Lagi pula, Darmaji yang menyuruh. Bukan keinginanku."
Arga tidak membalas. Ia sudah cukup mengenal Sinta untuk tahu bahwa di balik sikap dinginnya, wanita itu peduli. Dengan caranya sendiri.
Darmaji muncul dari dalam lorong, tongkatnya mengetuk lantai batu. "Kalian sudah siap?"
Arga mengangguk.
"Tetua Abu masih membisu. Tapi tim interogasi menemukan sesuatu di jubahnya." Darmaji mengeluarkan selembar kain kecil dengan ukiran simbol—sebuah mata di dalam segitiga. "Simbol ini adalah tanda pasukan elit Lingkaran Naga Hitam. Mereka disebut 'Mata Naga'. Konon, mereka bisa melihat apa pun yang tersembunyi. Jika kau bertemu orang dengan simbol ini... berhati-hatilah."
Arga mengambil kain itu dan menyimpannya. "Akan kuingat."
"Dan satu hal lagi." Darmaji menatapnya lekat-lekat. "Lembah Selatan adalah tempat yang bahkan kitab-kitab kuno tidak berani menyebutnya dengan jelas. Jika kau merasa tidak bisa melanjutkan, kembalilah. Lebih baik menunda daripada mati sia-sia."
"Aku tidak akan mati."
Darmaji tersenyum tipis. "Kuharap begitu."
---
Mereka berjalan ke selatan, menembus hutan yang semakin lebat dan sunyi. Berbeda dengan perjalanan ke Pegunungan Kabut yang dipenuhi suara binatang, hutan di selatan terasa... hampa. Seolah semua makhluk hidup telah pergi, meninggalkan hanya pepohonan raksasa yang diam membisu.
Sinta berjalan di depan, pedangnya terhunus meski tidak ada ancaman terlihat. Arga mengikutinya, indranya diperluas. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut tenang, tapi ada sesuatu yang mengganggunya. Getaran halus di udara. Seperti dengungan lebah yang terlalu jauh untuk didengar, tapi cukup dekat untuk dirasakan.
"Kau merasakannya?" tanya Arga.
Sinta berhenti. "Rasakan apa?"
"Dengungan. Seperti... energi yang tertahan."
Sinta mengernyit. "Aku tidak merasakan apa-apa. Mungkin karena kau keturunan Penjaga. Indramu lebih peka terhadap hal-hal seperti ini."
Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin jauh ke selatan, semakin kuat dengungan itu. Arga mulai bisa membedakannya—bukan satu sumber, melainkan banyak. Tersebar di seluruh hutan. Seperti sisa-sisa formasi kuno yang telah mati, tapi masih memancarkan gema terakhirnya.
Menjelang senja, mereka tiba di sebuah sungai. Airnya jernih, mengalir tenang di antara batu-batu licin. Tapi yang membuat Arga berhenti adalah apa yang ada di seberang sungai.
Sebuah gapura batu. Sederhana, hanya dua pilar dan satu balok melintang. Tapi di balok itu, terukir simbol yang sama dengan liontinnya: lingkaran, bulan sabit, dan bintang.
"Perbatasan," bisik Sinta. "Di sinilah aku harus berhenti."
Arga menatap gapura itu. Dengungan yang ia rasakan kini berubah menjadi suara yang jelas—bukan di telinganya, melainkan di benaknya. Suara banyak orang, berbisik dalam bahasa kuno yang tidak ia mengerti sepenuhnya.
"Kau dengar itu?" tanyanya.
Sinta menggeleng. "Hanya angin."
Arga melangkah maju, tapi Sinta menahan lengannya.
"Arga." Suaranya berubah serius. "Aku tidak tahu apa yang menunggumu di balik gapura itu. Tapi aku ingin kau tahu... kau adalah rekan terbaik yang pernah kupunya. Meski kau menyebalkan."
Arga nyaris tersenyum. "Kau juga. Untuk seseorang yang selalu ingin membunuhku saat latihan."
Sinta tertawa kecil—mungkin pertama kalinya Arga mendengarnya tertawa. "Itu karena kau pantas dibunuh." Ia melepaskan lengannya. "Pergilah. Dan kembalilah hidup-hidup. Aku masih ingin mengalahkanmu suatu hari nanti."
Arga mengangguk. Ia menyeberangi sungai, air dingin membasahi kakinya. Sampai di seberang, ia berbalik dan menatap Sinta yang masih berdiri di sana.
"Sampaikan pada Darmaji... terima kasih. Untuk semuanya."
Sinta mengangguk. Lalu, tanpa kata-kata lagi, ia berbalik dan berjalan kembali ke dalam hutan, menghilang di antara pepohonan.
Arga menatap kepergiannya sampai bayangan jubah hitamnya tak terlihat lagi. Lalu ia berbalik dan melangkah melewati gapura batu.
---
Begitu ia melewati ambang gapura, dunia berubah.
Hutan di depannya tetap sama—pepohonan raksasa, lumut tebal, tanah lembap. Tapi warnanya berbeda. Lebih pudar. Seperti melihat lukisan tua yang catnya mulai memudar dimakan usia. Udara terasa lebih berat, lebih dingin. Dan suara bisikan di benaknya kini terdengar jelas, meski ia tetap tidak bisa memahami kata-katanya.
Liontin tiga bentuk di dadanya tiba-tiba memanas. Bukan panas yang menyakitkan—lebih seperti kehangatan yang menyebar, seolah menyambutnya pulang.
"Selamat datang, darah Penjaga."
Suara itu. Suara yang sama dari dalam liontin. Kini terdengar lebih dekat, lebih nyata.
"Kau telah memasuki tanah suci para Penjaga pertama. Di sini, waktu berjalan berbeda. Di sini, kenangan tidak pernah mati. Berjalanlah. Dan kau akan menemukan apa yang kau cari."
Arga menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah maju, masuk lebih dalam ke hutan yang pudar. Di depannya, jalan setapak dari batu-batu kuno mulai terlihat, tertutup lumut tapi masih jelas arahnya.
Lembah Selatan. Ia belum tahu apa yang menunggunya di sana. Tapi satu hal yang pasti: ia tidak akan kembali sampai ia cukup kuat. Sampai ia siap menghadapi Lingkaran Naga Hitam. Sampai ia bisa memperbarui segel dan mengurung Pemangsa untuk selamanya.
Langkahnya mantap. Matanya lurus ke depan.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga