NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sutra Biru

Matahari sore menggantung rendah di langit Kota Ironforge, memandikan jalanan batu dengan cahaya keemasan yang hangat. Namun, kehangatan itu tidak mampu mencairkan ketegangan yang mulai merayap di udara kota.

Berita tentang Ujian Masuk Sekte Awan Putih telah menyebar seperti wabah penyakit.

Di setiap sudut jalan, di setiap kedai teh, dan di setiap pasar, topik pembicaraan telah berubah. Tidak ada lagi yang membicarakan harga beras atau gosip perselingkuhan janda sebelah. Semua orang membicarakan satu hal: Kultivasi.

Yang Chen melangkah keluar dari pintu kayu ukir Paviliun Air Surgawi.

Penampilan Yang Chen telah berubah total.

Yang Chen tidak lagi mengenakan jubah hitam kasar yang berbau darah dan lumpur. Pakaian itu telah dibakar di tungku pemandian. Sebagai gantinya, Yang Chen kini mengenakan jubah bela diri (Martial Robe) berwarna biru nila gelap yang terbuat dari kain katun berkualitas tinggi. Potongannya sederhana namun elegan, pas di badan, menonjolkan bahu Yang Chen yang kini lebih bidang dan pinggang yang tegap.

Rambut hitam panjang Yang Chen, yang sebelumnya kusut masai seperti sarang burung, kini telah dicuci bersih, diminyaki dengan minyak cendana, dan diikat rapi tinggi-tinggi di belakang kepala menggunakan pita sutra hitam.

Wajah Yang Chen, yang kini bersih dari daki dan darah, memperlihatkan fitur aslinya. Tulang pipi yang tajam, hidung mancung yang lurus, dan sepasang mata hitam pekat yang memancarkan ketenangan sedalam samudra. Meskipun tubuh Zhao Wei masih tergolong kurus, aura Stone Skin (Kulit Batu) memberikan kesan padat dan berat pada postur Yang Chen.

Yang Chen bukan lagi "pengemis gila" atau "budak pelarian". Yang Chen kini terlihat seperti seorang Tuan Muda dari klan terpandang yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa.

Yang Chen berjalan menyusuri trotoar menuju Distrik Selatan.

Langkah kaki Yang Chen ringan namun bertenaga. Setiap kali tumit sepatu bot baru Yang Chen menyentuh tanah, tidak ada suara seretan. Hanya bunyi tuk yang bersih dan ritmis.

Di sepanjang jalan, Yang Chen melihat kepanikan ekonomi mikro sedang terjadi.

Toko senjata yang tadi sepi, kini diserbu para pemuda yang ingin membeli pedang pertama mereka. Toko jimat dipenuhi orang tua yang memborong kertas mantra pelindung untuk anak-anak mereka.

"Hukum Penawaran dan Permintaan," gumam Yang Chen pelan, mengamati seorang pedagang keliling yang menaikkan harga Air Suci (yang sebenarnya cuma air sumur didoakan) menjadi sepuluh kali lipat. "Kepanikan adalah ladang uang bagi mereka yang siap."

Tujuan Yang Chen adalah Paviliun Seribu Herbal.

Yang Chen perlu bertemu Master Liu atau Tetua Gu. Yang Chen ingin mengambil jatah Inti Monster yang dijanjikan dalam kontrak, atau jika belum ada, Yang Chen akan menggunakan uang emasnya untuk membeli bahan racikan Peningkat Qi untuk menembus Tingkat 4.

Yang Chen sampai di depan gedung megah Paviliun Seribu Herbal.

Pemandangan di sana kacau balau.

Biasanya, toko obat elit ini tenang dan berkelas. Tapi hari ini, antrean manusia mengular sampai ke jalanan. Orang-orang berdesak-desakan di depan pintu, berteriak-teriak sambil melambaikan kantong uang.

"Buka pintunya! Aku butuh Rumput Darah!" "Anakku harus ikut ujian! Jual padaku!" "Aku bayar dua kali lipat! Minggir kalian!"

Enam orang penjaga toko yang kekar harus berbaris membuat barikade hidup di depan pintu untuk menahan gelombang massa yang histeris.

Yang Chen berdiri di seberang jalan, mengamati kekacauan itu dengan alis terangkat.

"Mereka menutup toko?" analisis Yang Chen. "Bukan. Mereka membatasi akses. Hanya pelanggan VIP atau bangsawan yang boleh masuk. Sisanya dibiarkan berebut sisa di luar."

Yang Chen tidak berniat antre. Waktu Yang Chen terlalu berharga untuk dihabiskan berdesakan dengan keringat orang asing.

Yang Chen menyeberang jalan, membelah kerumunan dengan teknik Langkah Hantu (Ghost Step) dasar—bukan teleportasi, tapi teknik menggeser tubuh mengikuti celah aliran manusia. Yang Chen bergerak licin seperti belut, melewati celah-celah sempit di antara bahu orang-orang tanpa bersentuhan sedikitpun.

Yang Chen sampai di depan barikade penjaga.

"Berhenti!" bentak salah satu penjaga, menodongkan gada kayunya ke dada Yang Chen. "Toko penuh! Antre di belakang!"

Yang Chen tidak bicara. Yang Chen menyelipkan tangan kanannya ke balik jubah biru.

Penjaga itu menegang, mengira Yang Chen akan mengambil senjata.

Yang Chen mengeluarkan sebuah kartu logam berwarna hitam pekat dengan ukiran naga emas kecil di sudutnya.

Kartu VIP Hitam Naga Emas.

Kartu ini diberikan oleh Tetua Gu kemarin sebagai bagian dari kesepakatan bisnis Cairan Tempering. Di Kota Ironforge, Rumah Lelang Naga Emas dan Paviliun Seribu Herbal memiliki kerja sama erat. Kartu ini diakui di kedua tempat sebagai simbol status tertinggi.

Mata penjaga itu membelalak melihat kartu tersebut. Kilauan emas pada kartu hitam itu tidak mungkin dipalsukan.

Sikap penjaga itu berubah 180 derajat dalam sepersekian detik. Wajah garangnya runtuh, digantikan oleh senyum penjilat yang canggung.

"A-Ah! Tuan Muda memegang Kartu Hitam!" Penjaga itu membungkuk dalam-dalam. "Maafkan mata hamba yang buta! Silakan! Silakan masuk! Kami selalu menyisakan ruang untuk tamu terhormat seperti Tuan!"

Penjaga itu menendang rekannya di samping agar minggir, membuka celah di barikade.

Orang-orang yang antre berteriak protes. "Hei! Kenapa dia boleh masuk?!" "Ini tidak adil!"

"Diam kalian sampah!" bentak penjaga itu pada kerumunan. "Dia Tamu VIP! Kalau kalian punya kartu hitam, kalian juga boleh masuk! Kalau tidak, tutup mulut!"

Yang Chen menyimpan kembali kartunya, lalu melangkah masuk ke dalam toko dengan tenang, meninggalkan keributan di belakang punggung Yang Chen.

Interior Paviliun Seribu Herbal terasa sejuk dan wangi, kontras dengan bau keringat di luar.

Namun, suasana di dalam juga tegang.

Tidak banyak pelanggan di dalam. Hanya ada sekitar lima atau enam orang, semuanya berpakaian sutra mewah—para bangsawan kota.

Di tengah ruangan, di depan meja konter utama, sedang terjadi keributan kecil.

Seorang pemuda berusia sekitar 18 tahun, mengenakan jubah putih dengan bordir bangau perak (lambang kemewahan), sedang memukul meja konter dengan kipas lipatnya.

Brak! Brak!

Pemuda berbaju putih itu memiliki wajah tampan tapi sombong, dengan dagu yang selalu terangkat tinggi. Di belakangnya berdiri dua pengawal pribadi yang memancarkan aura Body Tempering Tingkat 4.

Di balik meja konter, Master Liu (si Alkemis Gemuk yang kemarin memuji Yang Chen) sedang mengusap keringat di dahinya yang botak dengan sapu tangan. Wajah Master Liu pucat dan serba salah.

"Tuan Muda Lin," kata Master Liu dengan suara memohon. "Saya benar-benar tidak bisa. Stok Akar Ginseng Merah itu sudah dipesan oleh Walikota. Saya tidak berani menjualnya kepada Anda."

Pemuda itu, Lin Feng (Tuan Muda Kedua dari Klan Lin, salah satu dari tiga klan besar di kota ini), mendengus kasar.

"Walikota?" cibir Lin Feng. "Ayahku akan makan malam dengan Walikota nanti malam. Aku yakin Walikota tidak akan keberatan jika aku mengambil ginseng ini untuk persiapan ujianku. Aku, Lin Feng, adalah kandidat terkuat tahun ini! Masa depanku adalah masa depan kota ini!"

Arogansi Lin Feng begitu pekat hingga membuat udara terasa sesak.

"Tapi... tapi..." Master Liu tergagap.

"Tidak ada tapi!" Lin Feng melemparkan kantong uang yang berat ke atas meja. "Aku beli semuanya. Tiga batang Ginseng Merah, lima kotak Bubuk Penguat Tulang, dan sepuluh botol Pil Pemulihan. Bungkus sekarang! Atau aku akan menyuruh ayahku menutup toko ini karena menjual obat palsu!"

Ancaman murahan, tapi efektif jika datang dari Klan Lin yang menguasai jalur distribusi garam dan besi di kota.

Master Liu terjepit. Master Liu tidak berani menolak Klan Lin, tapi Master Liu juga takut pada Walikota.

1
saniscara patriawuha.
sikattttt sudahhhhhh...
saniscara patriawuha.
serapppppp kabehhhhh
saniscara patriawuha.
bantaiiii sudahhhhh.....
saniscara patriawuha.
gasssss polllll jangan ada yg di tahan tahan,,, loshkeunnnn...
saniscara patriawuha.
gassssss deuiij manggg chennnn....
Bambang Slamet
luar biasa mantab menarik
saniscara patriawuha.
sikatttttt dannn cabik cabikkk....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn manggg otorrrr
saniscara patriawuha.
lanjottttt keunnnnn...
saniscara patriawuha.
gassdddd polllll...
Jojo Shua
👍💪
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
mantapppppp mang yangggg....
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiiii manggg yanggggg....
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polll manggg chennn
saniscara patriawuha.
mantapllppp......
Jojo Shua
🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!