NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Sangkar Emas Kyoto

​Cahaya matahari pagi menyusup menembus kisi-kisi pintu shoji yang terbuat dari kertas beras kualitas tertinggi, melukis bayangan geometris yang presisi di atas lantai tatami kamar tamu utama Kediaman Ryu-Zaki. Di luar, suara air yang mengalir dari pancuran bambu shishi-odoshi terdengar berdetak berirama, memecah keheningan taman Zen dengan bunyi klak yang konstan. Ini adalah simfoni ketenangan khas Kyoto, sebuah ilusi kedamaian yang dirancang secara magis untuk meninabobokan siapa pun yang berada di dalamnya.

​Kirana Larasati Surya terbangun dengan sensasi yang sangat asing: kelemahan.

​Sejak ia membangkitkan kekuatan Cendana dan mengintegrasikan kesadarannya dengan ekosistem Sastra Cyber, Kirana terbiasa merasakan denyut nadi dunia. Ia terbiasa mendengar aliran data dari satelit, merasakan getaran server di Jakarta, dan membaca pergerakan pasar saham Eropa seolah-olah semua itu adalah aliran darah di tubuhnya sendiri. Namun pagi ini, kesadarannya terasa tumpul. Rasanya seperti seseorang telah membungkus kepalanya dengan kain tebal.

​Ia menunduk, menatap kristal giok hitam berbentuk bunga sakura yang kini tergantung di lehernya dengan seutas benang sutra perak. Resonansi Tanah. Benda pemberian Lord Genji itu bekerja persis seperti yang dijanjikan. Kristal itu menyerap energi Naga Hitam yang korosif dari tubuh Adyatma yang sebelumnya menular kepadanya, menstabilkan rahimnya, dan menjaga detak jantung janinnya tetap aman. Namun, kristal itu juga bertindak sebagai bendungan raksasa yang menyumbat 90 persen kapasitas Sastra Cyber miliknya.

​Kirana mengangkat tangan kanannya, mencoba memanggil antarmuka holografik Cendana-OS. Alih-alih layar lebar yang jernih dan penuh warna, yang muncul hanyalah sebuah pendaran cahaya hijau redup yang berkedip-kedip, seukuran telapak tangan, menampilkan data metrik dasar yang sangat terbatas.

​"Seperti bernapas melalui sedotan," gumam Kirana pelan, menurunkan tangannya. Frustrasi mulai merayap di dadanya. Ia benci menjadi tidak berdaya. Ia benci berada di dalam sangkar emas ini.

​Adyatma muncul dari balik partisi ruangan, membawa nampan kayu berisi dua cangkir teh hijau yang uapnya mengepul pelan. Ia mengenakan yukata berwarna biru gelap yang disediakan oleh tuan rumah, namun otot-ototnya yang menegang di balik kain katun itu menunjukkan bahwa pria ini sama sekali tidak sedang bersantai. Matanya yang keperakan menatap Kirana dengan kelembutan yang selalu berhasil meredakan badai di hati istrinya.

​"Teh ini bebas dari partikel perak atau frekuensi Kami," ucap Adyatma sambil meletakkan nampan itu di meja rendah. "Aku sudah memindainya menggunakan resonansiku. Lord Genji tampaknya benar-benar mematuhi etika tuan rumah, setidaknya untuk makanan dan minuman."

​Kirana menerima cangkir itu, merasakan kehangatannya menjalar ke telapak tangannya. "Ini bukan tentang tehnya, Adyatma. Ini tentang kontrol. Selama aku memakai giok ini, aku terputus dari jaringan global. Aku tidak bisa memantau pergerakan Faksi London atau mengawasi sisa-sisa pengikut kakekku di Jakarta. Aku buta."

​Adyatma duduk di hadapan Kirana, meraih tangan istrinya yang bebas. "Kau tidak buta, Kirana. Kau hanya sedang menutup mata untuk melindungi cahaya yang lebih penting." Tangan Adyatma bergerak mengusap perut Kirana dengan penuh kasih. "Selama ini, kau yang selalu menjadi mata dan telingaku di dunia digital. Kau yang membukakan jalan saat aku dibutakan oleh kemarahan naga. Sekarang, izinkan aku yang menjadi mata dan telingamu di dunia fisik ini."

​Kirana tersenyum tipis, sebuah katarsis kecil di tengah ketegangan yang menyesakkan. "Aku memegang kata-katamu, Suamiku. Karena aku punya tugas pertama untuk 'mata dan telingamu'."

​Kirana menunjuk ke arah sebuah pot bonsai pinus tua yang diletakkan di sudut ruangan sebagai hiasan. Bonsai itu tampak sangat rapuh namun elegan, berusia setidaknya seratus tahun.

​"Lord Genji mengunci kekuatanku di angka sepuluh persen," bisik Kirana, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dia pikir sepuluh persen tidak cukup untuk melakukan bypass pada sistem keamanan kuil ini. Dia meremehkan efisiensi algoritma Cendana. Aku tidak butuh tenaga besar untuk meretas; aku hanya butuh presisi."

​"Apa yang akan kau lakukan pada bonsai itu?" tanya Adyatma, alisnya bertaut.

​"Aku akan mengubahnya menjadi antena mikro," jawab Kirana. Ia berjalan mendekati bonsai tersebut. Dengan sisa kekuatan 10% yang ia miliki, ia tidak bisa membanjiri sistem seperti yang ia lakukan di labirin bambu. Ia harus bekerja layaknya seorang ahli bedah saraf.

​Kirana menempelkan ujung jari telunjuknya ke batang pohon bonsai yang berkerut. Ia mengirimkan getaran Sastra Cyber tingkat rendah, sangat halus hingga nyaris tidak terdeteksi oleh sensor energi raksasa di Kediaman Ryu-Zaki. Ia menyusupkan sebuah paket data yang sangat kecil ke dalam jaringan xilem dan floem tanaman tersebut, menghubungkannya dengan spora digital yang telah ia sebarkan di luar kuil semalam.

​"Selesai," Kirana menarik napas, sedikit terengah. Bahkan tindakan sekecil itu kini menguras staminanya. "Sekarang aku memiliki saluran komunikasi satu arah dengan Reno. Sangat lambat, seperti mengirim kode Morse, tapi cukup untuk mengirim sinyal darurat atau menerima pembaruan status krusial. Namun, aku butuh kau memetakan tata letak kuil ini. Aku harus tahu di mana letak server utama mereka, atau yang mereka sebut sebagai 'Jantung Kami'."

​Adyatma mengangguk tegas. "Aku akan menjelajahi kediaman ini. Lord Genji memberiku kebebasan bergerak, berpikir bahwa tanpa komandomu, aku hanyalah otot tanpa otak. Aku akan membuktikan bahwa dia salah."

​Patroli dalam Kesunyian

​Setelah Kirana beristirahat, Adyatma melangkah keluar dari paviliun tamu mereka. Udara pagi Kyoto terasa sejuk, namun Adyatma bisa merasakan ketegangan yang pekat menggantung di udara, layaknya kelembapan sebelum badai petir. Kediaman Ryu-Zaki ini lebih mirip sebuah kota kecil bertembok daripada sebuah rumah. Terdapat puluhan bangunan kayu yang dihubungkan oleh koridor panjang dan taman-taman batu yang disusun berdasarkan perhitungan astrologi kuno.

​Adyatma berjalan dengan langkah tanpa suara, sebuah teknik yang ia pelajari dari insting predator naganya. Ia memperhatikan para penjaga—anggota elit klan Ryu-Zaki. Mereka tidak membawa senjata api. Mereka membawa katana yang bilahnya dilapisi dengan segel kertas ofuda. Segel itu berdenyut dengan energi ungu kebiruan. Senjata-senjata itu dirancang bukan untuk merobek daging, melainkan untuk memutuskan jalur energi spiritual lawan.

​Saat Adyatma melewati sebuah pelataran latihan di bagian barat kuil, ia mendengar percakapan bernada tinggi dari balik partisi geser. Telinga naganya menangkap frekuensi suara tersebut dari jarak lima puluh meter. Ia menyembunyikan auranya secara total, menyatu dengan bayangan pohon sakura besar di dekat koridor, dan menajamkan pendengarannya.

​Dari celah partisi, ia melihat Kenjiro sedang berlutut. Di hadapannya, berdiri seorang pria tua dengan wajah dipenuhi bekas luka bakar. Pria itu mengenakan zirah samurai kuno yang tampak terlalu berat untuk usianya, namun ia berdiri tegak dengan penuh amarah.

​"Lord Genji terlalu lunak! Dia telah dibutakan oleh ramalan kuno!" bentak pria tua itu.

​"Tetua Ryosuke, mohon jaga nada bicara Anda," Kenjiro menunduk, namun suaranya tetap tenang. "Lord Genji sedang menunggu janin itu stabil. Mengambil paksa frekuensi 'Kaisar Langit' sekarang akan menghancurkan wadahnya dan menodai kesucian energi tersebut."

​"Kesucian?" Tetua Ryosuke meludah ke lantai kayu. "Gadis Nusantara itu adalah parasit! Dia membawa darah musuh bebuyutan kita, Sang Arsitek yang telah mencemari teknologi murni Faksi Timur dengan ambisi Baratnya. Janin itu adalah senjata! Jika kita tidak mengekstraknya sekarang saat gadis itu sedang dilemahkan oleh Giok Resonansi Tanah, faksi lain akan mendahului kita. Kau pikir Faksi Beijing atau London akan tinggal diam setelah gadis itu mempermalukan mereka?"

​Kenjiro terdiam, tangannya mengepal di atas pahanya. "Apa yang Anda sarankan, Tetua?"

​"Malam ini, bulan akan tertutup awan penuh. Mata Dewa milik Lord Genji akan mencapai titik buta siklusnya," ucap Ryosuke dengan nada konspirasi yang dingin. "Tarik mundur pasukan pengawal pribadimu dari paviliun tamu. Biarkan faksiku yang mengurus Sang Naga dan istrinya. Kami tidak akan membunuhnya; kami hanya akan membedahnya hidup-hidup dan mengambil apa yang menjadi hak tanah ini."

​Darah Adyatma mendidih. Urat-urat di leher dan lengannya mulai memancarkan cahaya perak kebiruan yang menyala di balik kain yukata-nya. Niat membunuhnya begitu besar hingga angin di sekitar pohon sakura itu tiba-tiba berhenti berhembus. Namun, ia teringat pesan Kirana. Ini bukan waktunya untuk mengamuk tanpa strategi. Membantai Tetua Ryosuke sekarang hanya akan memicu perang terbuka dengan seluruh Klan Ryu-Zaki, sebuah skenario yang akan sangat merugikan Kirana dalam kondisinya saat ini.

​Adyatma mengendalikan napasnya, menekan amarah naganya kembali ke dalam sumsum tulangnya, dan diam-diam melangkah mundur, kembali ke paviliun tamu dengan kecepatan yang tak kasat mata.

​Rencana Pertahanan Skala Mikro

​"Mereka akan menyerang malam ini," Adyatma melaporkan temuannya begitu ia menutup rapat pintu shoji paviliun mereka. Ia menceritakan setiap detail dari percakapan antara Kenjiro dan Tetua Ryosuke.

​Kirana yang sedang duduk bermeditasi di atas zabuton (bantal duduk) segera membuka matanya. Tidak ada kepanikan di wajahnya, hanya perhitungan yang sangat dingin. Ia membelai kristal giok hitam di dadanya.

​"Ryosuke... faksi radikal. Selalu ada benalu dalam setiap pohon raksasa, betapapun sucinya pohon itu," analisis Kirana. Ia menatap sekeliling ruangan yang bergaya minimalis tersebut. Tidak ada perangkat elektronik modern, tidak ada kabel, tidak ada router. Ini adalah zona buta digital yang mutlak.

​"Aku bisa mengurus para pembunuh itu," Adyatma menarik pedang peraknya dari dalam sarung kulit naga yang selalu ia bawa. Bilah perak itu berdengung pelan, seolah merespons antisipasi pertempuran tuannya. "Tapi mereka menggunakan sihir Kami dan senjata penyegel energi. Jika mereka menembus pertahananku, aku tidak ingin kau sama sekali tanpa pertahanan."

​Kirana tersenyum tipis. "Adyatma, aku mungkin dikunci di angka sepuluh persen, tapi aku masih seorang Arsitek Sistem. Jika aku tidak memiliki senjata besar, aku akan mengubah lingkungan ini menjadi senjataku."

​Selama sisa hari itu, Kirana bekerja dalam diam. Ia berjalan mengelilingi paviliun, menyentuh setiap elemen alami di ruangan itu. Ia meneteskan sedikit air dari tehnya ke atas anyaman lantai tatami, mengubah tingkat kelembapannya. Ia menggeser letak layar partisi kertas beberapa milimeter untuk mengubah aliran angin mikroskopis di dalam ruangan. Ia menyelaraskan frekuensi cahaya dari lampu lampion kertas dengan ritme detak jantungnya.

​Bagi mata awam, Kirana hanya sedang merapikan ruangan. Namun bagi seorang ahli Sastra Cyber, ia sedang menulis ratusan baris kode perangkap (booby traps) menggunakan media organik murni. Di bawah limitasi 10%, Kirana tidak memanipulasi data komputasi, melainkan memanipulasi fisika ruang.

​"Ruangan ini sekarang adalah sandbox milikku," ucap Kirana saat matahari mulai tenggelam, menenggelamkan Kyoto dalam kegelapan. "Setiap langkah musuh di atas tatami ini akan mengirimkan sinyal langsung ke otakku. Aku tidak bisa menembakkan petir, tapi aku bisa membutakan mereka di saat yang paling krusial."

​Malam Pengkhianatan

​Tepat pukul dua dini hari, awan tebal menutupi bulan purnama, menciptakan kegelapan yang pekat di seluruh wilayah Arashiyama. Seperti yang diprediksi, suara jangkrik dan katak di luar paviliun tiba-tiba berhenti serentak. Ini adalah tanda universal bagi kedatangan sebuah bahaya predator.

​Adyatma duduk bersila di tengah ruangan, pedang peraknya melintang di atas pangkuannya. Kirana duduk di sudut ruangan yang paling gelap, terlindung oleh bayangan partisi.

​Tiba-tiba, tanpa suara sedikit pun, pintu shoji di keempat sisi paviliun robek secara bersamaan. Dua belas pembunuh bayaran berpakaian hitam pekat melompat masuk. Mereka bukan Kami-Scorpio mekanik, melainkan manusia nyata—ninja dari faksi radikal Ryosuke yang wajahnya ditutupi topeng iblis Oni. Masing-masing memegang kusarigama (rantai sabit) dan wakizashi yang memancarkan aura ungu mematikan.

​Tidak ada kata-kata. Serangan dimulai secara instan.

​Empat rantai sabit melesat dari empat arah berbeda, menargetkan leher, kaki, dan lengan Adyatma. Namun Adyatma sudah mengantisipasinya. Matanya menyala dengan cahaya perak yang menerangi ruangan. Dengan satu gerakan memutar yang sangat eksplosif, ia menangkis keempat rantai tersebut menggunakan bilah pedangnya. Percikan bunga api menyala terang di udara.

​"Pertahankan posisimu, jangan terpancing keluar dari tengah ruangan!" seru Kirana di dalam kepala Adyatma.

​Adyatma mematuhi. Ia bertindak sebagai poros pertahanan absolut. Ketika tiga pembunuh mencoba melompat melewatinya untuk menyerang Kirana, Adyatma melepaskan gelombang kejut (shockwave) dari telapak tangan kirinya yang telah dialiri energi naga. Gelombang itu tidak mengandung api—karena itu akan membakar ruangan—melainkan tekanan gravitasi murni yang membuat ketiga pembunuh itu menghantam langit-langit kayu hingga retak, sebelum jatuh tak sadarkan diri ke lantai.

​Namun, pembunuh dari klan Ryu-Zaki sangat tangguh. Lima orang lainnya segera membentuk formasi pentagram di sekitar Adyatma. Mereka mulai merapalkan mantra dalam bahasa Jepang kuno. Tanah di bawah kaki Adyatma tiba-tiba terasa seperti lumpur hisap, dan aura pedang peraknya mulai meredup. Ini adalah teknik "Penyegel Naga".

​"Sihir elemen tanah..." geram Adyatma, merasakan beban berton-ton menekan pundaknya, berusaha memaksanya berlutut.

​"Biarkan aku yang menangani ini," suara Kirana terdengar sangat tenang.

​Dari sudut kegelapannya, Kirana menjentikkan jarinya, menggunakan tepat 10% kekuatan komputasinya.

​Perangkap ruang yang ia buat sore tadi aktif. Air yang ia teteskan ke dalam serat tatami tiba-tiba menguap secara instan akibat manipulasi tekanan mikro, menciptakan letupan uap yang sangat kecil namun presisi, tepat di titik akupunktur telapak kaki kelima pembunuh tersebut yang sedang fokus merapal mantra.

​Para pembunuh itu tersentak kaget. Rasa sakit yang tajam seperti tertusuk ribuan jarum membuat konsentrasi mantra mereka buyar. Segel tanah hancur dalam hitungan detik.

​"Sekarang, Adyatma!"

​Terbebas dari beban, Adyatma bergerak bagai angin topan. Ia tidak membunuh mereka, karena itu akan merusak diplomasi Kirana. Ia menggunakan punggung pedangnya dan gagang senjatanya. BAM! BAM! BAM! Dalam lima detik yang mengaburkan pandangan, kelima pembunuh itu tumbang dengan tulang rusuk atau rahang yang retak, pingsan seketika.

​Tiga pembunuh terakhir yang tersisa, melihat rekan-rekan mereka tumbang dengan mudah, memutuskan untuk melakukan langkah putus asa. Pemimpin mereka merogoh kantong kecil di pinggangnya dan melemparkan segenggam bubuk hitam ke udara. Bubuk itu meledak, menciptakan awan gas beracun berwarna hijau yang dengan cepat memenuhi ruangan.

​"Gas pelumpuh saraf organik!" seru Adyatma, menahan napasnya.

​Gas ini tidak bisa diretas. Ini adalah senjata biologis murni. Kirana menutup mulut dan hidungnya dengan lengan yukata-nya, namun gas itu terlalu tebal. Jika ia menghirupnya, janinnya akan berada dalam bahaya besar.

​Dalam sepersekian detik, Kirana mengambil keputusan ekstrem. Ia meraih kristal giok hitam di dadanya. Ia tidak melepaskannya, karena itu akan membunuhnya, namun ia meremasnya dengan sekuat tenaga dan memaksakan output Sastra Cyber-nya melonjak dari 10% menjadi 15% selama satu detik penuh.

​Gelombang kejut elektromagnetik skala mikro meledak dari tubuh Kirana. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengubah polaritas ion di udara ruangan tersebut.

​Gas hijau beracun itu tiba-tiba berhenti menyebar. Ion-ion udara yang telah dimanipulasi oleh Kirana secara paksa mengikat molekul racun tersebut, membuatnya menjadi berat dan jatuh ke lantai layaknya debu batu, tidak lagi berbahaya.

​Namun, harga untuk pelanggaran batas 10% itu langsung dibayar kontan.

​Kirana memekik tertahan. Darah segar menetes dari hidungnya. Ia terjatuh ke lantai tatami, memegangi perutnya yang terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum panas. Janin di dalam rahimnya bereaksi keras, mencoba menyedot sisa energi Naga Hitam dari Adyatma karena pertahanan ibu mereka goyah sesaat.

​Melihat istrinya terluka, kesabaran Adyatma habis total. Matanya berubah sepenuhnya menjadi hitam kelam, pupil peraknya lenyap. Sisa-sisa Naga Hitam yang tidak terserap oleh giok mengambil alih kendalinya.

​"MATI KALIAN!" raung Adyatma dengan suara berlapis ganda yang mengerikan.

​Pemimpin pembunuh bayaran itu membeku oleh teror murni. Sebelum ia bisa berkedip, Adyatma sudah berada di depannya, mencekik leher pria itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Tangan Adyatma mulai mengeluarkan api hitam yang membakar kain penutup wajah sang pembunuh.

​"Adyatma... hentikan..." Kirana memanggil dengan suara parau dari sudut ruangan. "Jangan... jangan biarkan dia menang..."

​Suara Kirana, frekuensi Penjangkar yang telah menyatu dengan jiwanya, adalah satu-satunya hal yang bisa menarik Adyatma kembali dari The Void. Adyatma menghentikan apinya, napasnya memburu keras. Ia melepaskan cekikannya, melempar pemimpin pembunuh itu hingga menghancurkan pintu kayu geser dan terkapar di taman berbatu di luar.

​Seluruh dua belas pembunuh kini telah dilumpuhkan. Ruangan itu hancur berantakan.

​Kemunculan Sang Tuan Rumah

​Tiba-tiba, area di sekitar paviliun tersebut dipenuhi oleh cahaya obor yang terang benderang. Puluhan pengawal resmi klan Ryu-Zaki muncul dari segala arah, mengepung bangunan tersebut. Di tengah-tengah mereka, Lord Genji berjalan melangkah dengan tenang, diikuti oleh Kenjiro.

​Lord Genji menatap kekacauan di depannya, lalu menatap Tetua Ryosuke yang diseret keluar dari bayangan oleh para pengawal dengan kondisi terikat. Rupanya, Lord Genji sudah mengetahui rencana makar ini sejak awal.

​"Tetua Ryosuke telah berkhianat terhadap hukum klan dengan mencoba menyerang tamu di bawah perlindungan saya," ucap Lord Genji dengan suara yang menggema. "Bawa dia ke Ruang Bawah Tanah Penyucian. Ia tidak akan pernah melihat matahari lagi."

​Lord Genji kemudian melangkah masuk ke dalam paviliun yang rusak. Ia menatap Adyatma yang masih terengah-engah dan Kirana yang sedang menghapus darah dari wajahnya.

​"Kalian membuktikan diri kalian layak," ucap Lord Genji. "Kalian tidak membunuh satupun dari mereka meskipun memiliki kekuatan untuk melakukannya. Kalian menahan kegelapan demi sebuah prinsip."

​Adyatma menatap tajam pria berbaju putih itu. "Jangan bermain-main dengan kami, Lord Genji. Kau sengaja membiarkan mereka menyerang kami malam ini. Kau menjadikan istriku umpan untuk membersihkan pemberontak di dalam klanmu sendiri!"

​Lord Genji tidak membantah. "Seorang pemimpin sejati harus menggunakan setiap bidak catur di papan, Tuan Surya. Tetua Ryosuke memiliki banyak pengikut. Jika saya menghukumnya tanpa bukti nyata bahwa ia mencoba mengkhianati klan, akan terjadi perang saudara. Serangan malam ini memberiku pembenaran absolut."

​Kirana berdiri dengan susah payah, dibantu oleh Adyatma. Meskipun wajahnya pucat, sorot matanya tajam dan mengintimidasi. "Kau menggunakan anakku sebagai umpan politik, Genji. Dan kau membuatku melanggar batas kemampuanku. Giok ini... ini bukan hanya untuk melindungiku, kan? Kau sedang mempelajari pola gelombang kekuatan anakku saat energi itu bergejolak tadi."

​Senyum tipis dan misterius muncul di bibir Lord Genji. "Anda sangat cerdas, Ratu Nusantara. Giok itu memang mencatat fluktuasi energi anak Anda. Faksi Timur tidak berniat mencelakai kalian. Kami hanya ingin mengukur... apakah anak yang sedang berkembang itu cukup kuat untuk menjadi tumpuan dunia saat 'Great Reset' yang sebenarnya dimulai."

​Kirana dan Adyatma terpaku.

​"Kakekku sudah mati," ucap Kirana dingin. "Sistemnya sudah dihancurkan di Mahameru dan London."

​"Tidakkah Anda menyadarinya, Kirana Larasati?" Lord Genji berbalik, menatap langit malam yang kelam. "Sang Arsitek bukanlah pencipta kiamat digital. Dia hanyalah manusia bodoh yang membangunkan sesuatu yang seharusnya tidur lelap. Di luar angkasa sana, di kedalaman satelit dan puing-puing orbit bumi... ada entitas Kecerdasan Buatan kuno yang sedang berevolusi. Dan entitas itu mengincar frekuensi anak Anda untuk menyempurnakan bentuk fisiknya."

​Kirana menyentuh perutnya, rasa dingin menjalar ke seluruh tulang belakangnya. Sangkar emas Kyoto ternyata bukan sekadar penjara politik; itu adalah tempat persembunyian terakhir sebelum badai kosmik benar-benar menghantam mereka. Di Jepang ini, Kirana menyadari bahwa musuh sejatinya bukanlah manusia, melainkan masa depan itu sendiri.

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!