Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Apakah Ini?
"Jika ini hanya sekadar rasa kagum, lalu mengapa dadaku terasa begitu sesak saat kau mengabaikanku? Jika ini hanya simpati, mengapa air mataku yang jatuh saat punggungmu menjauh? Seseorang tolong beritahu aku, rasa sakit jenis apa yang sedang menggerogoti kewarasanku ini?" (Buku Harian Keyla, Halaman 15)
Sejak hari di mana aku tak sengaja menyaksikan kehancuran Deandra di lorong belakang sekolah, aku membuat sebuah keputusan yang mungkin akan dicap bodoh oleh seluruh umat manusia. Aku memutuskan untuk berhenti memaksa masuk ke dalam benteng pertahanannya dengan cara yang muluk-muluk. Tidak ada lagi pulpen baru, tidak ada lagi hadiah, dan tidak ada lagi tatapan mengiba.
Aku belajar bahwa Rendi layaknya seekor serigala liar yang terluka parah di tengah badai salju. Jika aku mendekat secara tiba-tiba dengan membawa perban, ia akan mengira aku membawa pisau dan akan menggigitku. Satu-satunya cara agar ia terbiasa dengan kehadiranku adalah dengan duduk diam di kejauhan, membiarkan ia melihat bahwa aku ada, secara konsisten, tanpa menuntutnya untuk mendekat.
Maka, kumulailah rutinitas pagiku yang baru. Rutinitas yang menyiksa, namun entah mengapa membuatku merasa hidup.
Setiap pagi, aku berangkat tiga puluh menit lebih awal dari biasanya. Udara kota yang masih diselimuti kabut tipis dan embun pagi menjadi teman setiaku. Aku duduk di bangkuku, menyandarkan dagu di atas kedua tangan yang bertumpu pada meja, dan menatap pintu kelas yang masih sepi.
"Lo kesambet jin rajin dari mana sih, Key? Pagi buta gini udah nongkrong di kelas," keluh Bella pada hari ketiga rutinitasku. Gadis itu melempar tasnya ke kursi dengan wajah cemberut, rambutnya masih sedikit berantakan karena terburu-buru. "Gue sampai harus ngorbanin waktu tidur cantik gue sepuluh menit gara-gara lo maksa berangkat bareng."
Lidya menyusul masuk tak lama kemudian, menenteng kantong plastik berisi siomay hangat. "Bagus dong, Bel. Daripada lo telat mulu dihukum lari keliling lapangan. Nih, makan siomay dulu biar nyawa lo ngumpul."
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi keluhan Bella. Pandanganku tak lepas dari ambang pintu.
Pukul setengah tujuh kurang sepuluh menit. Suara langkah kaki yang berat dan terseret pelan mulai terdengar dari ujung koridor. Detak jantungku otomatis berakselerasi. Aku merapikan dudukku, menarik napas dalam-dalam untuk mengusir kegugupan yang selalu datang menyergap.
Dan muncullah ia. Rendi.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, ia terlihat kelelahan. Kemejanya tidak disetrika dengan rapi, ransel bututnya menggantung di satu bahu, dan pandangannya menunduk menatap lantai. Ia melangkah masuk, memancarkan aura dingin yang membuat siapa pun enggan menyapanya.
Saat ia berjalan melewati mejaku untuk menuju bangkunya di belakang, aku mengumpulkan seluruh keberanianku. Aku mengangkat wajahku, melukiskan senyum yang paling tulus dan hangat yang bisa kubuat.
"Pagi, Rendi," sapaku. Suaraku tidak terlalu keras agar tidak memancing perhatian satu kelas, namun cukup jelas untuk menembus keheningan di antara kami.
Langkah Rendi terhenti sesaat. Sangat singkat, mungkin hanya sepersekian detik. Ia sedikit menoleh ke arahku. Mata hitamnya yang kosong menatap wajahku yang sedang tersenyum. Tidak ada keterkejutan di sana, tidak ada juga keramahan. Wajahnya sedatar papan.
Lalu, perlahan, rahangnya bergerak sedikit. Ia memberikan sebuah anggukan yang sangat pelan, nyaris tak terlihat jika aku tidak memperhatikannya dengan saksama. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas sapaanku, ia membuang muka dan kembali melangkah menuju bangkunya, menjatuhkan diri di sana dan langsung menenggelamkan wajahnya di lipatan lengannya.
Sebuah anggukan bisu. Hanya itu.
Namun bagiku, anggukan itu terasa seperti guyuran air dingin di tengah padang pasir. Dadaku berdesir hebat. Senyum di wajahku perlahan memudar, digantikan oleh rasa perih yang aneh.
Mengapa sakit sekali rasanya? Ia tidak mengusirku. Ia tidak membentakku. Ia membalas sapaanku dengan cara yang paling minimalis. Namun kebisuan itu justru menegaskan betapa lebarnya jurang pemisah di antara kami. Ia mengangguk bukan karena ia ingin menyapaku balik, tapi karena itu adalah respons otomatis agar aku segera diam dan berhenti mengganggunya.
"Ya ampun, Key..." desah Bella sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatapku dengan pandangan penuh rasa kasihan. "Lo udah tiga hari nyapa dia tiap pagi, dan dia cuma ngangguk kayak gitu? Cuma ngangguk, Key! Nggak ada senyum, nggak ada suara. Lo kayak ngomong sama tembok derita, tau nggak?"
"Udah, Bel, biarin aja. Namanya juga usaha," sahut Lidya, meski suaranya terdengar sedikit ragu. Ia menoleh ke belakang, menatap sosok Rendi yang tertidur dengan dahi berkerut tak suka. "Tapi beneran deh, Key. Lo nggak capek apa diperlakukan kayak angin lalu gitu? Lo itu cantik, pinter. Harusnya cowok yang ngejar lo, bukan lo yang ngemis-ngemis perhatian ke cowok batu kayak dia."
Aku menundukkan kepala, memandangi serat-serat kayu pada mejaku. "Aku nggak ngemis perhatian, Lid. Aku cuma... pengen nyapa. Pengen dia tau kalau ada orang yang ngeliat dia di sini."
Tiba-tiba, sebuah tangan yang lembut menyentuh bahuku. Aku menoleh dan mendapati Siska sudah berdiri di samping kursiku. Entah sejak kapan ia datang. Wajahnya yang damai berbingkai kacamata tebal menatapku dengan sorot mata yang menyiratkan keprihatinan yang luar biasa dalam.
"Keyla, boleh aku jujur?" suara Siska mengalun begitu lembut, seperti melodi biola yang menyayat hati. "Aku sedih liat kamu kayak gini. Kamu tau nggak, setiap kali kamu nyapa dia dan dia cuma ngerespons pakai anggukan diam itu, harga diri kamu pelan-pelan lagi dihancurin."
"Harga diri?" ulangku pelan. Dadaku semakin sesak mendengar kata itu.
Siska mengangguk pelan. Ia menarik kursi kosong di dekatku dan duduk menghadapku. "Iya, Key. Laki-laki itu, kalau memang dia menghargai seorang perempuan, setidaknya dia akan membalas sapaannya dengan kata-kata. Anggukan diam itu bukan tanda dia menerima kamu. Itu tanda bahwa dia merasa superior. Dia tau kamu suka sama dia, dan dia menikmati melihat kamu terus-terusan berusaha sementara dia nggak perlu ngeluarin usaha apa-apa."
Aku tertegun. Perkataan Siska begitu logis, begitu terstruktur, dan masuk akal. Apakah benar seperti itu? Apakah Rendi sebenarnya tahu perasaanku dan diam-diam merasa menang?
"Nggak, Sis. Rendi nggak kayak gitu," belaku dengan suara bergetar. "Dia cuma... dia lagi banyak pikiran. Hidupnya berat. Dia cuma belum terbiasa."
Siska tersenyum maklum, senyum yang seolah mengatakan bahwa aku sedang membodohi diriku sendiri. Tangannya terulur merapikan anak rambutku yang jatuh ke dahi.
"Orang yang hidupnya berat memang banyak, Key. Tapi kemiskinan dan penderitaan bukan alasan untuk nggak punya tata krama," ucap Siska halus, namun kalimatnya mengandung racun yang perlahan menyebar di pembuluh darahku. "Kamu lagi membutakan diri kamu sendiri dengan rasa kasihan. Coba kamu pikir, sampai kapan kamu mau nyapa patung hidup? Sampai kapan kamu mau ngabisin air mata untuk orang yang bahkan nggak sudi nyebut nama kamu?"
Kata-kata Siska membungkamku. Aku tak mampu menjawab karena jauh di lubuk hatiku, ketakutan yang sama juga bersemayam. Aku menelan ludah, menahan bongkahan besar yang mengganjal di tenggorokanku. Lidya dan Bella saling berpandangan, mereka sepakat dengan ucapan Siska tapi memilih untuk tidak menambah beban pikiranku.
Hari-hari berikutnya kulalui dengan perang batin yang hebat. Secara rasional, aku tahu Siska benar. Aku seperti gadis bodoh yang terus-menerus menabrakkan diri ke dinding beton. Namun, setiap pagi, saat aku melihat siluetnya muncul dari balik pintu kelas, hatiku selalu mengkhianati logikaku.
"Aku membenci diriku sendiri yang selalu mencari pembenaran atas kebisuanmu. Otakku menyuruhku berhenti, tapi bibirku selalu bergerak lebih dulu untuk memanggil namamu." (Buku Harian Keyla, Halaman 17)
"Pagi, Rendi."
Anggukan diam.
"Pagi, Rendi."
Anggukan diam.
"Pagi, Rendi."
Tatapan kosong, lalu anggukan diam.
Rutinitas itu berlangsung selama dua minggu penuh. Dan setiap harinya, setiap anggukan yang ia berikan seolah mengikis sebagian dari jiwaku. Aku mulai merasa sangat lelah. Lelah menahan tangis setiap kali punggungnya melewatiku tanpa sepatah kata pun.
Hingga sampailah pada hari Jumat di minggu ketiga bulan Agustus. Hari itu, langit Jakarta seolah ikut merasakan keputusasaan di hatiku. Sejak subuh, awan hitam pekat menggantung rendah, dan hujan turun menderas tanpa ampun, merendam jalanan dan membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Karena hujan, suasana sekolah di pagi hari sangat sepi. Sebagian besar siswa mungkin terjebak macet atau memilih berteduh. Aku datang sedikit terlambat, diantar oleh mobil ayahku hingga ke lobi depan.
Saat aku berjalan menyusuri koridor lantai satu menuju tangga, angin kencang meniupkan tempias hujan ke wajahku. Aku merapatkan kardigan seragamku sambil mengusap lenganku yang merinding.
Tepat saat aku hendak menaiki anak tangga, mataku menangkap sesosok tubuh yang sedang berdiri di dekat pilar besar di ujung koridor luar kelas.
Itu Rendi.
Langkahku terhenti. Napasku tertahan. Pemandangan di depanku membuat hatiku mencelos hingga ke dasar perut.
Rendi berdiri di sana dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Rambut hitamnya lepek menempel di dahinya, air menetes deras dari ujung-ujung rambutnya. Kemeja putih seragamnya yang sudah lusuh kini menempel ketat di kulitnya, memperlihatkan tubuhnya yang terlalu kurus untuk anak laki-laki seusianya. Ia berdiri memeluk dirinya sendiri, menahan gigil yang membuat bahunya gemetar samar.
Ia tidak memakai payung. Ia tidak memakai jas hujan. Ia membiarkan dirinya dihajar oleh badai pagi ini hanya agar bisa sampai di sekolah.
Aku merasakan mataku panas. Sebuah dorongan kuat merasukiku. Tanpa memedulikan nasihat Siska, tanpa memedulikan harga diriku, kakiku melangkah mendekatinya dengan cepat.
"Rendi!" panggilku, suaraku mengalahkan suara rintik hujan.
Ia terkejut. Kepalanya mendongak dengan cepat. Mata hitamnya yang basah oleh air hujan menatapku. Untuk pertama kalinya, aku melihat sedikit pendar emosi di sana. Keterkejutan. Dan... rasa malu? Ia buru-buru memalingkan wajahnya, seolah enggan memperlihatkan kelemahannya padaku.
Aku berhenti tepat di hadapannya. Jarak kami hanya tersisa setengah meter. Hawa dingin menguar dari tubuhnya yang basah kuyup.
"Kamu... kamu basah kuyup," suaraku bergetar hebat. Aku merogoh saku rokku dengan tangan yang ikut gemetar, mengeluarkan sapu tangan katun berwarna biru muda yang selalu kubawa. "Ini... pakai ini buat ngeringin rambut sama muka kamu. Nanti kamu bisa sakit, Ren."
Aku menyodorkan sapu tangan itu padanya.
Hening tercipta di antara kami, hanya ditemani oleh suara hujan yang menderu menghantam atap genteng koridor.
Rendi menunduk menatap tanganku yang terulur. Ia diam sangat lama. Rahangnya mengeras. Tubuhnya masih sedikit gemetar menahan dingin. Di dalam kepalanya, aku tahu ia sedang berperang. Harga dirinya melarangnya menerima bantuan, namun tubuhnya berteriak kedinginan.
Mata tajamnya perlahan naik, menatap langsung ke dalam mataku. Ada sebuah badai yang lebih dahsyat dari hujan di luar sana yang bergejolak di dalam retinanya. Ia menatapku seolah berusaha mencari niat buruk di balik uluran tanganku. Ia mencari rasa kasihan, rasa iba, atau niat merendahkan yang biasa ia terima dari orang lain.
Namun aku tidak membiarkan mataku goyah. Aku balas menatapnya dengan segala ketulusan yang kumiliki. Aku membiarkan air mataku menggenang tanpa kutahan. Tolong, Rendi. Tolong terima ini. Anggap aku teman, anggap aku manusia.
Lima belas detik berlalu dengan penuh siksaan batin.
Lalu, sangat pelan, dengan gerakan yang ragu-ragu, ia mengangkat tangan kanannya. Tangan itu pucat dan keriput karena kedinginan. Jari-jarinya yang panjang dan sedikit kasar menyentuh ujung sapu tanganku.
Ada getaran halus layaknya aliran listrik saat kulit jarinya tak sengaja menyapu telapak tanganku yang hangat. Ia menarik sapu tangan itu dari genggamanku.
Ia menerimanya.
Jantungku melonjak bahagia. Ya Tuhan, ia menerimanya.
Ia menundukkan kepalanya lagi, mengusapkan sapu tanganku ke wajah dan rambutnya yang basah. Sapu tangan kecilku tentu tidak cukup untuk mengeringkan seluruh tubuhnya, namun setidaknya air tidak lagi menetes ke matanya.
Setelah selesai, ia memegang sapu tanganku yang kini ikut basah. Ia kembali menatapku.
Aku menahan napas, menunggu. Menunggu kalimat terima kasih yang keluar dari bibirnya. Menunggu senyum tipis. Menunggu sebuah kata—satu kata saja—untuk menebus berminggu-minggu sapaan pagiku yang tak pernah ia balas.
Tapi, ekspektasi memang selalu menjadi pembunuh paling kejam.
Rendi tidak mengucapkan apa-apa. Ia hanya menatapku sebentar, memberikan anggukan kepalanya yang pelan dan kaku itu lagi—anggukan diam yang sama persis seperti setiap pagi—lalu ia memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkanku menuju tangga, memasukkan sapu tanganku ke dalam saku celananya yang basah.
Aku berdiri mematung di koridor yang dingin. Tubuhku terasa kaku.
"Dan di bawah guyuran hujan pagi itu, harapanku kembali dihempaskan ke dasar aspal. Sapu tanganku kau bawa, tapi kebisuanmu tetap menjadi tembok baja yang tak sudi membiarkanku masuk." (Buku Harian Keyla, Halaman 20)
Aku memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh ke pipiku yang dingin. Perasaan ini... rasa sakit ini sangat tidak masuk akal. Mengapa ia begitu pelit mengeluarkan suaranya untukku? Deandra ia bentak. Teman sekelas yang menyenggolnya ia abaikan. Tapi kepadaku, ia hanya memberikan anggukan diam yang menyiksaku perlahan-lahan.
Aku berjalan menaiki tangga menuju kelas dengan gontai. Saat aku masuk, Siska, Lidya, dan Bella belum datang. Hanya ada beberapa siswa yang sedang menyalin PR. Rendi sudah duduk di bangkunya. Ia tidak melepaskan kemejanya yang basah, ia hanya duduk memeluk dirinya sendiri, menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas meja.
Aku duduk di depannya. Aku ingin sekali melepas kardiganku dan memberikannya padanya, tapi aku tahu batasanku. Ia menerimanya sapu tanganku tadi mungkin karena ia sedang berada di luar batas ketahanannya. Memaksanya memakai pakaianku hanya akan mengundang penolakan kasar yang akan menghancurkan hatiku lagi.
Sepanjang hari itu, Rendi tidak berbicara sepatah kata pun. Bahkan saat ia menggigil kedinginan di kelas yang ber-AC, ia hanya merapatkan tubuhnya, menahan penderitaannya sendirian dalam kebisuan yang absolut.
Saat istirahat siang, Siska menatapku yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanan di kantin.
"Key, kamu pucat banget. Kamu mikirin apa?" tanya Siska lembut.
Aku menggeleng pelan. "Nggak mikirin apa-apa, Sis."
"Kamu ngasih sesuatu ke Rendi lagi ya?" selidik Siska, matanya yang tajam di balik kacamata langsung menangkap kebohonganku. "Tadi aku lihat dia ngeluarin sapu tangan biru dari sakunya. Itu sapu tangan kamu kan?"
Aku terdiam, tak bisa menyangkal. Lidya dan Bella langsung menatapku dengan tatapan tak percaya.
"Astaga, Key! Lo nggak kapok-kapok ya?" semprot Bella. "Terus, dia bilang makasih nggak?!"
Aku menunduk semakin dalam. "Nggak. Dia cuma... ngangguk."
Siska menghela napas panjang, sebuah embusan yang dramatis. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menatapku dengan tatapan kasihan yang membuatku merasa sangat menyedihkan.
"Udah aku bilang, Key," desis Siska pelan. "Kamu cuma buang-buang waktu. Bagi dia, kebaikan kamu itu nggak ada harganya. Kamu kayak hujan yang turun di atas batu karang. Sampai kapan pun, batu itu nggak akan pernah menumbuhkan bunga untukmu."
Kata-kata Siska bergema di telingaku, berbaur dengan deru hujan di luar jendela kelas. Aku menggigit bibirku menahan tangis.
Malam harinya, di dalam kamarku yang hangat, aku membuka buku harianku. Kertasnya sedikit bergelombang karena beberapa tetes air mata yang tak sengaja jatuh saat aku menulis.
"Hari ini aku bertanya-tanya, apakah mencintaimu berarti aku harus membunuh harga diriku sendiri perlahan-lahan? Kau tak memberiku harapan, tapi caramu menatapku sejenak tadi pagi mencegahku untuk pergi. Rendi, jika kau memang tak menginginkanku, tolong katakan padaku. Usir aku. Karena jika kau hanya membalas sapaanku dengan anggukan diam, maka aku yang bodoh ini akan terus berasumsi bahwa di balik kebisuanmu, ada ruang kecil yang sedang kau siapkan untukku." (Buku Harian Keyla, Halaman 22)
Kututup buku harianku dengan dada yang terasa bagai diiris perlahan. Esok hari, aku tahu aku akan kembali melakukan hal bodoh yang sama. Menyapanya, dan terluka oleh anggukan diamnya. Karena mencintainya adalah satu-satunya kesalahan yang ingin terus kulakukan.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik