NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan yang Bertahan

Udara pagi di kampus Universitas Nusantara terasa lebih berat dari biasanya bagi Leah. Ia melangkah menyusuri koridor Fakultas Ekonomi dengan buku-buku yang didekap erat di dada, seolah-olah benda mati itu bisa melindunginya dari pemandangan yang sebentar lagi akan ia hadapi. Di ujung koridor, dekat area taman yang rindang, ia melihat mereka.

Denzel Shaquille berdiri di sana. Ia tidak lagi mengenakan jas lengkap yang kaku; kemeja birunya yang disetrika rapi dengan lengan digulung menunjukkan sisi yang lebih santai, namun tetap berwibawa. Di sampingnya, Seraphina tampak sedang menceritakan sesuatu dengan antusias, sesekali menyentuh lengan Denzel atau membenarkan kerah kemeja pria itu.

Leah berhenti sejenak, mematung di balik bayangan pilar. Dadanya berdenyut perih. Bukankah ini yang ia inginkan? Bukankah ia yang menyusun skenario ini? Ia yang mendorong Denzel ke arah Seraphina agar pria itu punya kehidupan "normal", agar Jeff Chevalier tidak lagi memiliki sasaran empuk untuk dihina, dan agar ia sendiri terbebas dari rasa bersalah yang menghimpit. Namun, melihat tangan Seraphina yang bergelayut manja di lengan yang biasanya menjadi sandarannya saat ia turun dari mobil, Leah merasa seperti baru saja menyerahkan oksigennya kepada orang lain.

Denzel, seolah memiliki indra keenam yang hanya terkalibrasi untuk satu orang, tiba-tiba menoleh.

Pandangan mereka bertemu melintasi kerumunan mahasiswa. Hanya satu detik. Namun dalam satu detik itu, Leah melihat segalanya. Ia melihat mata Denzel yang tetap dingin namun sarat akan luka, sebuah tatapan yang diam-diam berteriak bahwa kehadirannya di samping Seraphina hanyalah sebuah bentuk kepatuhan. Denzel tidak tersenyum padanya, ia hanya memberikan anggukan kecil—sebuah pengakuan atas kehadiran sang majikan—sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada Seraphina.

Namun, Leah menyadari sesuatu yang lebih dalam. Meski Denzel tampak mendengarkan Seraphina, mata pria itu selalu bergerak secara refleks. Setiap kali ada suara langkah kaki yang mendekati Leah, atau setiap kali seorang mahasiswa pria tak sengaja bersenggolan dengan Leah di koridor, mata Denzel akan beralih sekilas ke arahnya. Tajam, waspada, dan protektif.

Denzel sedang melakukan kencan, namun jiwanya sedang melakukan pengawalan.

"Denzel? Kau dengar aku tidak?" suara Seraphina terdengar manja, menarik kembali fokus Denzel.

"Maaf, Sera. Aku hanya memastikan area ini aman," jawab Denzel pelan. Suaranya rendah, namun Leah bisa mendengarnya karena angin membawa bariton itu tepat ke arahnya.

"Kau ini selalu saja merasa sedang bertugas," Seraphina terkekeh, meski ada sedikit nada kecewa di suaranya. Ia tidak menyadari bahwa "keamanan" yang dimaksud Denzel bukanlah tentang kerumunan kampus, melainkan tentang satu gadis yang berdiri sepuluh meter di belakang mereka.

Leah segera memalingkan wajah dan berjalan cepat menuju ruang kelasnya. Ia tidak tahan lagi. Ia merasa seperti seorang arsitek yang baru saja membangun penjara bagi dirinya sendiri. Sepanjang kuliah makroekonomi, Leah tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya melayang pada bagaimana Denzel membukakan pintu untuk Sera pagi tadi, bagaimana Denzel memberikan perhatian-perhatian kecil yang biasanya hanya ia terima.

Di sisi lain, Seraphina mulai menyadari ada sesuatu yang ganjil. Ia bukan gadis bodoh. Meski ia sangat bahagia karena akhirnya bisa berkencan dengan pria pujaannya, ia merasakan dinding es yang tak terlihat di antara dirinya dan Denzel.

Setiap kali mereka duduk bersama di kantin atau di taman, Denzel akan memposisikan dirinya sedemikian rupa sehingga ia bisa melihat pintu masuk atau tempat di mana Leah berada. Saat mereka makan siang, mata Denzel seringkali berhenti di satu titik di kejauhan—biasanya di meja tempat Leah duduk bersama teman-teman lainnya. Tatapan itu bukan tatapan biasa; itu adalah tatapan yang bertahan, tatapan yang penuh kerinduan yang ditahan dengan disiplin baja.

"Denzel," panggil Seraphina saat mereka sedang duduk di bangku taman sore itu. "Apa kau sedang menunggu seseorang?"

Denzel tersentak kecil, sebuah reaksi yang sangat jarang ia tunjukkan. "Tidak, Sera. Kenapa kau bertanya begitu?"

Seraphina tersenyum kecut, ia memainkan ujung rambutnya. "Kau terus menatap ke arah gerbang utama atau ke arah gedung fakultas Leah. Sejak tadi pagi, aku merasa... kau sedang bersamaku, tapi matamu sedang mencari Leah."

Denzel terdiam. Ia merasakan hatinya mencelos. Apakah ia begitu transparan? "Nona Leah adalah tanggung jawab saya, Sera. Itu adalah insting yang sudah tertanam selama sepuluh tahun. Maaf jika itu membuatmu tidak nyaman."

Seraphina menarik napas panjang. Ia ingin marah, ia ingin bertanya apakah Denzel benar-benar menyukainya atau hanya terpaksa. Namun, ia memilih untuk diam. Ia terlalu mencintai pria ini, dan ia percaya bahwa waktu akan mengubah segalanya. Ia percaya bahwa jika ia terus bersikap baik dan perhatian, Denzel akan perlahan-lahan melupakan insting "pelindung"-nya dan mulai melihatnya sebagai seorang wanita yang layak dicintai.

"Aku mengerti," ucap Seraphina lembut, ia menggenggam tangan Denzel. "Tapi untuk saat ini, bisakah kau menatapku saja? Sebentar saja?"

Denzel menatap tangan Seraphina yang mungil di atas tangannya yang besar dan kasar. Ia merasakan rasa bersalah yang sangat besar. Seraphina memberikan hatinya, sementara ia hanya memberikan kebohongan yang terorganisir. Denzel memaksa dirinya untuk menatap mata Seraphina dan tersenyum—senyum palsu yang ia latih di depan cermin semalam.

"Tentu, Sera."

Namun, di sudut matanya, ia melihat siluet Leah yang baru saja keluar dari perpustakaan. Dan tanpa bisa ia kendalikan, jantungnya berdegup kencang hanya karena melihat gadis itu merapikan rambutnya yang tertiup angin. Denzel harus mengepalkan tangannya yang bebas agar tidak refleks berdiri dan menghampiri Leah untuk membantunya membawakan tumpukan buku yang berat itu.

Sore itu, saat jam pulang tiba, pemandangan di parkiran kampus kembali menjadi panggung drama yang sunyi. Denzel mengantar Seraphina ke mobilnya, memberikan kecupan formal di punggung tangan gadis itu—sebuah gerakan yang membuat mahasiswa lain bersorak menggoda, namun membuat Leah yang berdiri di dekat mobilnya sendiri merasa ingin menghilang.

Denzel kemudian berjalan menuju Leah. Transisi itu begitu cepat. Dalam hitungan detik, ia berubah dari "kekasih yang perhatian" menjadi "asisten yang kaku".

"Kita pulang sekarang, Nona Leah?" tanya Denzel, suaranya kembali dingin dan datar.

Leah masuk ke mobil tanpa menjawab. Sepanjang perjalanan pulang, hening kembali menjadi penguasa kabin. Leah menatap punggung Denzel melalui spion, dan ia melihat betapa pria itu tampak kelelahan. Bukan kelelahan fisik, tapi kelelahan mental karena harus terus-menerus membagi dirinya menjadi dua kepribadian yang saling bertentangan.

"Kau hebat dalam berakting, Denzel," ucap Leah tiba-tiba, suaranya sarat akan sarkasme yang menyembunyikan rasa cemburu.

Denzel tidak menoleh. "Saya tidak sedang berakting, Leah. Saya sedang menjalankan apa yang Anda minta. Bukankah ini yang Anda sebut 'ide yang bagus'?"

Kalimat itu menghantam Leah seperti tamparan keras. Denzel benar. Ini adalah idenya. Ini adalah rancangannya. Dan sekarang, ia tidak punya hak untuk mengeluh saat Denzel melakukannya dengan sangat sempurna.

"Tentu saja. Ini sangat bagus," sahut Leah pelan, ia membuang muka ke arah jendela agar Denzel tidak melihat air mata yang mulai menggenang. "Sera terlihat sangat bahagia. Kau melakukannya dengan baik."

Denzel mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih. Aku melakukannya dengan baik karena aku sedang melindungimu dari diriku sendiri, Leah, batinnya. Setiap detik aku menatapnya, aku sedang menghukum hatiku karena berani menginginkanmu.

Sesampainya di rumah, Denzel membukakan pintu untuk Leah seperti biasa. Namun saat Leah melangkah keluar, ujung roknya tersangkut di pintu mobil. Secara refleks, Denzel membungkuk untuk membantunya. Jari-jari mereka bersentuhan sekejap.

Waktu seolah berhenti. Denzel menatap tangan Leah, lalu perlahan mengangkat matanya untuk menatap wajah gadis itu. Untuk pertama kalinya dalam hari itu, tatapan mereka tidak terhalang oleh Seraphina, tidak terhalang oleh "tugas", dan tidak terhalang oleh kepura-puraan. Itu adalah tatapan yang bertahan—tatapan yang penuh dengan segala hal yang tidak boleh mereka ucapkan. Cinta, kerinduan, rasa sakit, dan keputusasaan.

"Nona Leah..." bisik Denzel, suaranya pecah.

Leah segera menarik tangannya, wajahnya pucat. "Terima kasih, Denzel. Istirahatlah. Kau... kau pasti lelah setelah berkencan seharian."

Leah berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Denzel yang masih terpaku di samping mobil. Denzel menatap telapak tangannya yang baru saja menyentuh Leah. Rasa hangat itu masih ada, kontras dengan kedinginan yang ia rasakan saat bersama Seraphina.

Tatapan itu akan terus bertahan. Meski ia menggandeng tangan orang lain, meski ia mencium pipi orang lain, matanya akan selalu menjadi radar yang mencari keberadaan Leah Ramiro. Denzel Shaquille menyadari bahwa ia telah memenangkan keamanan untuk Leah, namun ia baru saja kalah dalam perang untuk menyelamatkan jiwanya sendiri.

Malam itu, Denzel berdiri di paviliunnya, memandang ke arah jendela Leah yang lampunya belum padam. Ia tahu Leah sedang di sana, mungkin sedang merutuki keputusannya sendiri. Dan Denzel, dengan segala loyalitasnya yang menyiksa, bersumpah akan terus menatap gadis itu dari kejauhan—menjadi bayangan yang paling setia, meski bayangan itu kini harus berbagi ruang dengan harapan palsu yang ia berikan pada wanita lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!