NovelToon NovelToon
Benang Yang Tersembunyi

Benang Yang Tersembunyi

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Anak Genius / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Ketika Dunia Menjadi Musuh

Pagi itu, Seoul terasa lebih dingin dari biasanya. Chae-young baru saja mengantar si kembar ke sekolah internasional yang dipaksakan oleh Matteo. Ia pikir, di sekolah semahal itu, anak-anaknya akan aman. Namun, ia tidak tahu bahwa racun bernama Soo-hee telah menyebar lebih dulu.

Soo-hee, yang kalap karena Chae-young tidak memberikannya uang sesuai yang ia minta—mengirimkan foto USG lama dan dokumen persalinan Chae-young ke grup pesan singkat orang tua murid. Ia menambahkan bumbu keji: "Wanita ini sengaja menjebak pengusaha kaya lima tahun lalu dan sekarang kembali untuk mengeruk harta."

Saat jam istirahat, dunia si kembar runtuh. Chan-yeol sedang duduk di bangku taman, mencoba membaca buku, saat segerombolan anak yang lebih besar mengepungnya.

"Hei, anak tanpa Ayah!" teriak salah satu anak, meniru ucapan ibunya di rumah. "Ibumu orang jahat, ya? Katanya kalian cuma anak haram yang dipakai buat minta uang!"

Chae-rin mulai menangis, memeluk lengan kakaknya erat-erat. "Bohong! Daddy itu orang baik! Daddy punya kantor besar!"

"Daddy kalian cuma pura-pura! Ibumu pencuri!"

Chan-yeol berdiri, matanya yang ice blue—persis Matteo—berkilat tajam. Ia tidak memukul, tapi ia menatap mereka dengan keberanian yang sanggup membuat anak-anak itu mundur selangkah. Namun, hatinya hancur. Ia melihat bisik-bisik dari para guru dan orang tua yang menjemput lebih awal.

Di saat yang sama, sebuah portal berita bisnis papan atas mengunggah artikel utama yang dikirimkan oleh orang suruhan Cessie.

"SKANDAL M-NEXUS: PEWARIS SMITH MEMILIKI ANAK DI LUAR PERNIKAHAN DENGAN DESAINER LOKAL?"

Cessie tersenyum puas di kamar hotelnya. Ia ingin memojokkan Matteo. Ia pikir, dengan merusak nama baik Chae-young dan mengekspos status si kembar, Matteo akan malu dan meninggalkannya demi menjaga reputasi Smith.

"Kita lihat, Matt. Apa kau masih mau mengakui janda itu saat seluruh pemegang sahammu menuntut penjelasan?" gumam Cessie licik.

Chae-young baru saja sampai di depan gerbang sekolah saat ia melihat Chae-rin berlari ke arahnya dengan wajah sembab dan baju yang sedikit kotor. Chan-yeol berjalan di belakangnya dengan tangan terkepal dan kepala tertunduk.

"Mommy..." Chae-rin terisak di pelukannya. "Mereka bilang Mommy orang jahat. Mereka bilang Daddy tidak mau sama kita."

Dunia Chae-young terasa berputar. Ia melihat tatapan menghakimi dari ibu-ibu sosialita di sekitarnya. Ponselnya terus bergetar—pesan dari Song-min yang melaporkan bahwa wartawan mulai mengendus butiknya.

Gila. Semuanya gila, batin Chae-young. Ia merasa sangat tidak berdaya, sampai sebuah mobil hitam mewah berhenti dengan decitan ban yang kasar tepat di depan lobi.

Matteo keluar dari mobil. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung, namun auranya sangat mematikan. Ia tidak memedulikan tatapan orang-orang. Langkahnya lebar menuju Chae-young dan anak-anak.

Ia langsung berlutut di depan Chan-yeol dan Chae-rin. "Siapa yang mengatakannya?" suara Matteo rendah, bergetar karena menahan amarah yang sanggup meledakkan gedung itu.

Chan-yeol hanya diam, namun matanya menatap Matteo dengan luka yang dalam. "Apa benar kami hanya alat supaya Mommy dapat uang, Daddy?"

Matteo memejamkan mata sejenak, dadanya terasa sesak. Ia berdiri dan menatap Chae-young yang tampak lemas. Tanpa kata, Matteo meraih kunci mobil dari asistennya.

"Masukkan semua barang anak-anak ke mobil," perintah Matteo pada Soo-hyun.

"Matteo, apa yang kau lakukan?" tanya Chae-young parau.

"Sekarang sudah tidak aman untuk kalian di Mapo, Chae-young-ah," ucap Matteo sambil menarik Chae-young masuk ke dalam pelukannya di depan semua orang—sebuah pernyataan bisu bahwa wanita ini adalah miliknya.

"Sepertinya seseorang sudah melewati batas. Mereka menyerang anak-anakku. Dan aku bersumpah, mereka akan membayar semuanya dengan kehancuran mereka."

Matteo menatap Chae-young dengan intens. "Kau tidak punya pilihan lagi. Ikut aku ke rumahku. Di sana, tidak ada satu pun manusia yang bisa menyentuh kalian tanpa izin dariku. Aku akan menyelesaikan berita ini, tapi aku butuh kalian di tempat yang aman."

Chae-young menatap anak-anaknya yang ketakutan. Logikanya yang dulu menolak Matteo, kini menyerah. Demi ketenangan si kembar, ia harus masuk ke dalam perlindungan sang Titan—pria aneh yang ternyata adalah satu-satunya orang yang berani melawan seluruh dunia demi mereka.

"Baiklah," bisik Chae-young. "Bawa kami pergi dari sini."

Matteo membantu mereka masuk ke dalam mobil. "Soo-hyun."

"Iya Tuan?"

"Cari tahu dalang kedua pembuat artikel tadi. Jangan biarkan mereka keluar dari Seoul sebelum aku menemuinya."

Mobil itu pun melesat menuju kediaman pribadi Matteo—sebuah rumah mewah di perbukitan yang akan menjadi saksi bisu awal baru bagi keluarga kecil yang sedang terluka itu.

Gerbang besi raksasa kediaman pribadi Matteo di perbukitan Seongbuk-dong terbuka perlahan. Mobil hitam itu meluncur membelah halaman rumput yang sangat luas, menuju sebuah mansion bergaya modern-minimalis yang tampak sangat kokoh. Bagi Chae-young, rumah ini lebih mirip benteng daripada tempat tinggal.

Begitu mobil berhenti, Matteo turun dan membukakan pintu untuk Chae-young serta si kembar. Chan-yeol turun dengan wajah yang masih kaku, sementara Chae-rin menggandeng erat tangan Mommy-nya, matanya yang sembap menatap kagum ke arah bangunan besar di depannya.

"Ini rumah Daddy?" bisik Chae-rin takjub.

"Ini rumah kalian sekarang," jawab Matteo dengan suara berat namun lembut.

Mereka melangkah masuk ke dalam lobi yang luas dengan langit-langit tinggi. Seorang kepala pelayan pria dan dua asisten rumah tangga sudah berdiri rapi menyambut mereka.

"Siapkan kamar untuk anak-anak," perintah Matteo singkat pada kepala pelayannya.

Chae-young langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Matteo dengan tatapan yang sangat tegas—tatapan yang mengatakan bahwa ia tidak akan menyerahkan harga dirinya begitu saja.

"Tunggu dulu," ucap Chae-young. Ia berbalik menatap Matteo. "Aku setuju tinggal di sini demi keamanan anak-anak karena situasi di luar sedang gila. Tapi jangan berpikir ini artinya aku menerimamu sepenuhnya."

Matteo mengernyit, tangannya yang baru saja hendak menyentuh pundak Chae-young tertahan di udara. "Maksudmu?"

"Kita belum menikah, Matteo. Dan aku tidak ingin anak-anak melihat hal yang salah," Chae-young menegakkan punggungnya. "Aku ingin kamar yang terpisah atau setidaknya cukup jauh untuk menjaga privasiku."

Matteo terdiam sejenak. Ada sedikit kilatan kecewa di matanya, namun ia juga merasa kagum dengan ketegasan Chae-young. Pria itu mengangguk tipis.

"Baiklah. Aku menghargai keputusanmu," ucap Matteo. Ia menoleh pada pelayannya. "Tempatkan Nona Park di Master Guest Suite di lantai dua bagian timur. Dan siapkan kamar anak-anak tepat di sebelahnya. Pastikan ada pintu penghubung antara kamar anak-anak dan kamar Chae-young."

"Lalu kamarmu?" tanya Chae-young selidik.

"Kamarku ada di lantai tiga bagian barat. Cukup jauh untuk tidak membuatmu merasa terganggu, tapi cukup dekat jika kau membutuhkanku di tengah malam," balas Matteo dengan senyum tipis yang tampak sedikit aneh di mata Chae-young.

Malam harinya, setelah si kembar tertidur lelap karena kelelahan menangis seharian, Chae-young berdiri di balkon kamarnya. Pemandangan lampu kota Seoul dari atas bukit ini sangat indah, namun hatinya masih terasa berat.

Tiba-tiba, ia mendengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Chae-young membukanya sedikit dan mendapati Matteo berdiri di sana, masih mengenakan kemeja yang sama, namun kancing atasnya sudah terbuka.

"Aku hanya ingin membawakan ini," ucap Matteo sambil menyerahkan segelas susu hangat dan sebuah tablet.

"Susu?" Chae-young mengerutkan dahi.

"Kau tidak makan malam tadi. Dan tablet ini..." Matteo menggeser layar tablet itu. "Berita tentang miring tentang kita sudah dihapus secara total dari internet. Tim hukumku sudah melayangkan gugatan pada portal berita itu. Dan, Soo-hee sudah masuk dalam daftar hitam kepolisian karena pencemaran nama baik. Dia tidak akan bisa mengganggumu lagi."

Chae-young terdiam, menatap layar tablet itu. Kecepatan Matteo dalam membereskan kekacauan benar-benar menakutkan sekaligus melegakan.

"Terima kasih," bisik Chae-young.

"Jangan berterima kasih. Ini tugasku," jawab Matteo. Ia menatap pintu kamar Chae-young yang hanya terbuka sedikit. "Kau benar-benar tidak ingin aku masuk?"

"Tidak, Matteo. Garis tetaplah garis. Selamat malam," Chae-young hampir menutup pintu, namun tangan Matteo menahannya sebentar.

"Chae-young-ah... aku akan menunggu sampai kau sendiri yang menghapus garis itu. Tapi ingat, di rumah ini, kau adalah ratunya. Apapun yang kau butuhkan, katakan saja."

Matteo melepaskan tangannya dan berbalik menuju tangga lantai tiga. Chae-young menutup pintu dengan perasaan yang campur aduk. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, memegang gelas susu hangat pemberian pria itu.

Dia benar-benar pria aneh, batin Chae-young. Dia bisa menghancurkan dunia orang lain dalam sekejap, tapi dia juga bisa membawakan susu hangat dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.

Di lantai tiga, Matteo berdiri di koridor gelap, menatap ke arah bagian timur di mana Chae-young berada. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto profil Cessie di kontaknya. Dengan satu gerakan cepat, ia memblokir nomor itu secara permanen.

"Permainanmu selesai, Cessie," gumam Matteo dingin. "Dan untukmu, Soo-hee... kau akan tahu apa artinya mengusik sesuatu yang tak seharusnya kau singgung."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!