NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Racun di Balik Ulasan

​Pagi itu, aku terbangun bukan karena alarm ponsel atau cahaya matahari yang menyilaukan mata, melainkan karena rasa mual yang tiba-tiba menggulung perutku. Perasaanku luar biasa tidak enak. Firasat buruk itu semakin menguat saat tanganku meraba ke bawah bantal dan mendapati ponselku tidak berhenti bergetar sejak pukul enam pagi.

​Dengan mata yang masih setengah mengantuk, aku menyalakan layar. Ada belasan pesan singkat, rentetan panggilan tak terjawab, dan tangkapan layar dari Nisa.

​Membaca baris pertama pesannya saja sudah cukup membuat nyawaku serasa ditarik paksa dari raga.

​"Mbak Nja, lo harus lihat Google Maps kedai kita sekarang! Sumpah, ada apa sih semalam?! Kok ulasannya jadi begini?!" bunyi pesan Nisa, huruf kapitalnya menyiratkan kepanikan absolut.

​Dengan tangan yang mendadak sedingin es dan gemetar hebat, aku membuka aplikasi peta tersebut, mengetikkan nama Kedai Kala Senja.

​Jantungku mencelus. Darahku seolah berhenti mengalir.

​Dalam semalam hanya dalam hitungan jam saat aku tertidur rating kedaiku yang tadinya bertengger dengan bangga di angka nyaris sempurna 4.8, kini anjlok drastis, hancur lebur ke angka 2.1 dengan warna merah yang menyala mengejekku.

​Ada lebih dari lima puluh ulasan bintang satu baru yang muncul dalam waktu yang nyaris bersamaan di jam dua dini hari. Dan isinya... isinya membuatku nyaris muntah. Keluhan tentang keracunan makanan akut, pelayanan yang sangat kasar dan rasis, barista yang tidak higienis, hingga tuduhan menjijikkan tentang adanya bangkai tikus di area bar.

​"Ini... ini nggak mungkin. Ya Tuhan, ini fitnah," bisikku ngeri. Napasku tersengal saat aku men-scroll layar dengan panik.

​Aku tahu persis bagaimana standarku menjaga kebersihan kedai ini! Aku yang merawat tempat ini seperti merawat bayiku sendiri. Setiap biji kopi yang masuk, setiap liter susu di dalam kulkas, selalu kucek tanggal kedaluwarsanya dua kali sehari. Tidak ada satu pun barang busuk yang pernah melewati mesin espresso-ku.

​Dan yang paling membuatku muak adalah foto-foto yang dilampirkan dalam ulasan palsu tersebut. Ada foto seekor kecoak besar mengambang di dalam cangkir kopi latte.

​Bodoh, batinku menjerit marah. Jenis cangkir keramik murahan bermotif bunga di foto itu sama sekali tidak pernah kumiliki di kedaiku!

​Ini bukan sekadar komplain pelanggan yang kecewa. Ini adalah pembunuhan karakter. Ada yang sengaja menyewa pasukan buzzer berbayar untuk menghancurkan reputasi tempat ini hingga ke akarnya.

​Belum sempat otakku yang malang mencerna sabotase digital gila itu, aku memaksakan diri mandi ala kadarnya dan meluncur ke kedai secepat yang aku bisa. Aku harus mengecek semuanya. Aku harus membuat klarifikasi.

​Namun, kejutan berikutnya rupanya sudah menungguku tepat saat aku baru saja turun dari ojek online dan hendak membuka gembok rolling door kedai.

​Sebuah mobil MPV berwarna silver dengan stempel resmi Pemerintah Kota berhenti mendadak tepat di belakangku. Tiga orang pria berseragam cokelat aparatur sipil turun dari mobil dengan wajah sekaku kanebo kering. Salah satu dari mereka menenteng map dokumen berlogo garuda.

​"Selamat pagi. Anda Saudari Senja, pemilik tempat usaha ini?" tegur pria yang paling depan. Nada bicaranya khas birokrat dingin, mengintimidasi, dan sama sekali tidak bisa dibantah.

​"I-iya, Pak. Benar. Ada apa ya pagi-pagi begini?" tanyaku, memaksakan diri menelan ludah agar suaraku tidak terdengar bergetar.

​"Kami dari gabungan Dinas Kesehatan dan Dinas Perizinan. Kami menerima banyak laporan kedaruratan dari masyarakat sejak subuh tadi terkait pelanggaran sanitasi tingkat berat dan gangguan ketertiban di lokasi ini. Sesuai prosedur, kami harus melakukan inspeksi mendadak sekarang juga."

​"Laporan? Pak, laporan di internet itu palsu! Itu ulah buzzer! Saya bisa buktikan—"

​"Tolong kooperatif dan buka pintunya, Mbak, atau kami terpaksa menyegelnya dari luar dengan bantuan aparat keamanan," potong pria itu tajam tanpa sedikit pun belas kasihan.

​Otakku nge-blank. Aku hanya bisa berdiri terpaku, mati rasa, saat membuka kunci dan membiarkan mereka masuk.

​Mataku nanar mengikuti pergerakan mereka yang mulai menggeledah area kekuasaanku. Mereka membongkar laci pantry-ku dengan kasar, memeriksa setiap rak di gudang penyimpanan, menyorotkan senter terang ke kolong mesin espresso, hingga memotret setiap sudut dinding bata yang memang mulai mengelupas karena dimakan usia. Mereka mencatat segala hal kecil di papan jalan mereka dengan tatapan menghakimi yang luar biasa merendahkan. Seolah kedaiku adalah sarang penyakit mematikan.

​Ini tempatku, batinku menjerit pilu melihat barang-barang peninggalan nenekku disentuh dan dicatat dengan pandangan jijik. Ini rumahku. Jangan sentuh barang-barang Nenek.

​"Mbak Senja," ujar ketua petugas itu setelah satu jam melakukan pemeriksaan tanpa ampun. Ia berdiri di hadapanku dengan raut wajah memvonis. "Bangunan ini secara struktur sudah tidak layak untuk kegiatan usaha pangan. Ada banyak retakan di dinding, ventilasi yang tidak memadai untuk membuang asap roasting, dan kami menemukan jejak kelembapan tinggi di sudut atap yang berisiko fatal menumbuhkan jamur."

​"Pak, itu bangunan heritage. Bangunan tua! Tentu saja ada retakan! Tapi meja bar dan alat-alat seduh saya seratus persen higienis!" belaku putus asa, suaraku mulai pecah.

​"Ditambah lagi ada laporan keracunan massal yang sedang viral pagi ini, kami tidak mau mengambil risiko hukum jika terjadi apa-apa pada warga," lanjut pria itu sama sekali tidak acuh pada pembelaanku. Ia menyodorkan sebuah surat resmi dengan stempel merah ke hadapanku. "Kami terpaksa membekukan sementara izin operasional kedai ini sampai investigasi independen selesai dilakukan."

​"Dibekukan?!" Mataku membelalak ngeri. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya menggenang di pelupuk. "Tapi Pak, saya bisa buktikan stok saya aman! Bapak bisa periksa CCTV saya, tidak ada satu pun pelanggan yang muntah atau keracunan kemarin! Tolonglah, Pak, ini satu-satunya mata pencaharian saya untuk makan..."

​"Silakan ajukan keberatan secara formal di kantor pusat minggu depan dengan membawa bukti-bukti yang Anda maksud," jawabnya retoris. "Untuk sekarang, silakan pasang tanda 'Tutup' di depan, dan jangan beroperasi sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Jika Anda melanggar, Anda akan dipidana."

​Setelah petugas itu menempelkan stiker segel "TUTUP SEMENTARA" yang berwarna mencolok di kaca jendela depanku lalu pergi, lututku benar-benar kehilangan tulang penyangganya.

​Aku jatuh terduduk di kursi kayu depan bar. Air mataku akhirnya tumpah, menganak sungai melewati pipiku yang dingin. Bahuku bergetar hebat diiringi isakan yang menyayat memecah kekosongan kedai.

​Ini bukan sekadar nasib buruk. Ini bukan kebetulan yang sial. Ini adalah serangan brutal yang sangat, sangat terencana.

​Di sela tangisku, aku teringat tatapan mata almond Clara di restoran hotel yang elegan beberapa hari lalu. Kata-kata perempuan ningrat itu kembali menggema di telingaku bagaikan lonceng kematian:

​'Jika Arka jatuh, kedai kamu adalah hal pertama yang akan diratakan dengan tanah oleh ayahnya sebagai bentuk balas dendam.'

​Ternyata, Clara atau Handoko Danadyaksa sama sekali tidak menunggu Arka jatuh. Mereka memutuskan untuk mulai menghancurkan duniaku saat ini juga. Mereka menggunakan kekuasaan, uang yang tidak berseri, dan koneksi birokrasi yang tidak akan pernah bisa kulawan, hanya untuk menginjak seekor semut penjual kopi sepertiku.

​Di tengah isak tangis keputusasaanku, layar ponselku yang tergeletak di atas meja menyala terang. Ada satu pesan singkat masuk.

​Bukan dari Arka. Bukan dari Nisa. Melainkan dari nomor tanpa nama.

​Tanganku yang basah oleh air mata dan keringat dingin meraih ponsel itu. Aku membaca sederet kalimat yang sukses membekukan sisa-sisa darah di dalam tubuhku.

​'Gimana rasanya kehilangan satu-satunya hal yang kamu banggakan? Ini baru pemanasan, Senja. Kalau kamu sayang sama kedai ini, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Pergi sejauh mungkin dari tunanganku, atau lihat tempat ini jadi puing-puing tanah.'

​Aku meremas ponsel itu hingga buku-buku jariku memutih pucat. Dadaku terasa begitu sesak hingga aku nyaris tidak bisa menarik oksigen masuk.

​Aku merasa sangat kerdil. Aku seperti tikus tanah kecil tak berdaya yang sedang dipermainkan dengan kejam oleh sekawanan predator besar yang kebosanan. Insting pertamaku adalah membuka kontak. Aku ingin menekan nama Arka. Aku ingin menghubunginya, berteriak padanya sambil menangis, dan mengemis pertolongannya karena hanya pria berpayung hitam itu yang bisa menghentikan kegilaan keluarganya ini.

​Namun, ibu jariku terhenti tepat di atas tombol panggil hijau itu.

​Pikiranku berputar pada wajah Arka tadi malam di area parkir. Wajah pria itu yang tampak begitu hancur, basah kuyup oleh hujan, kelelahan, dan putus asa karena disandera oleh ayahnya sendiri demi menyelamatkanku.

​Apakah Arka sanggup menolongku kali ini? tanyaku dalam hati yang remuk redam. Ataukah, keberadaan Arka dalam hidupku... justru adalah alasan tunggal mengapa semua kehancuran dan rasa sakit ini terjadi padaku?

​Tanganku terkulai lemas di atas meja kayu. Aku membiarkan layar ponsel itu mati dengan sendirinya, menelan kembali harapanku pada pria itu ke dalam kegelapan.

​Sore itu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun sejarah berdirinya tempat ini, Kedai Kala Senja benar-benar gelap gulita dan terkunci rapat di jam operasionalnya.

​Aku duduk sendirian memeluk lutut di pojok ruangan yang pengap dan gelap. Ditemani deru suara mesin paku bumi dari proyek Cipta Megah di luar sana yang seolah sedang menertawakan kekalahan telakku, aku akhirnya menyadari satu kebenaran yang paling kejam.

​Mencintai seseorang pangeran dari menara kaca yang terlalu tinggi... ternyata membutuhkan biaya hidup yang jauh lebih mahal daripada yang sanggup kubayar dengan sisa nyawaku.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!