Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detak di Balik Keheningan
Pintu ganda besar itu terbuka tanpa suara, seolah-olah udara di dalamnya memang dikhususkan untuk menjaga ketenangan yang absolut. Nora melangkah masuk mengikuti Lydia, kakinya tenggelam dalam karpet tebal berkualitas tinggi yang meredam setiap bunyi langkah. Kamar itu sangat luas, dengan jendela-jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menyajikan pemandangan hutan pinus yang bergoyang tertiup angin New York.
Namun, perhatian Nora langsung tersedot pada pusat ruangan. Di atas ranjang berukuran king size dengan sprei sutra berwarna abu-abu arang, seorang pria terbaring diam.
Declan Sullivan.
Nora menahan napas sejenak. Jika ia membayangkan seseorang yang tampak sakit, pucat, dan mengerikan karena koma selama setahun, ia salah besar. Pria itu tampak sangat damai. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas dan hidung mancung yang sempurna. Kulitnya tidak sepucat yang dibayangkan, mungkin berkat perawatan intensif yang ia terima. Rambut gelapnya tersisir rapi, dan bulu matanya yang panjang kontras dengan kelopak matanya yang tertutup rapat. Jika bukan karena beberapa selang medis yang menancap di lengannya dan suara ritmis dari monitor detak jantung di sudut ruangan, Nora akan mengira pria ini hanya sedang tidur siang setelah hari yang panjang.
"Inilah Declan," Lydia berbisik, suaranya mengandung getaran kasih sayang yang pedih. "Putraku yang paling berharga."
Lydia melangkah mendekat dan memberi isyarat agar Nora berdiri di samping ranjang. Nora mendekat, menatap wajah pria yang kini secara hukum adalah suaminya. Ada aura otoritas yang tetap terpancar meski pria itu tidak sadarkan diri—sebuah ketenangan yang jauh berbeda dengan aura mengintimidasi milik Adrian Thorne.
"Nora, dengarkan aku baik-baik," Lydia memulai tugasnya. Ia menyibak sedikit selimut sutra itu, memperlihatkan tubuh Declan yang atletis namun sedikit menyusut karena kurangnya aktivitas fisik. "Setiap pagi dan sore, kau harus menyeka tubuhnya dengan air hangat dan antiseptik khusus ini. Perawat akan membantumu membalikkan tubuhnya jika kau merasa berat, tapi aku ingin kau yang melakukan sentuhan akhirnya."
Lydia kemudian membantu sedikit memiringkan tubuh Declan dengan bantuan bantal penyangga. "Perhatikan bagian punggung dan pinggulnya. Karena dia sudah berbaring sangat lama, luka tekan atau decubitus adalah musuh terbesar kita. Kau harus memastikan kulit di area ini selalu kering dan diolesi salep ini. Jangan biarkan luka sekecil apa pun muncul, karena itu akan menyakitinya meski dia tidak bisa mengatakannya."
Nora memperhatikan dengan seksama, mencatat setiap detail instruksi Lydia di dalam kepalanya. Ia menyentuh kulit lengan Declan yang terasa hangat, sebuah sensasi yang membuatnya tersentak kecil—pria ini benar-benar hidup.
Lydia kemudian berjalan menuju sebuah ruangan besar yang merupakan walk-in closet. Di dalamnya, berderet rapi ratusan kemeja, setelan jas, dan pakaian santai berbahan kasmir yang sangat mahal. "Ini semua pakaiannya. Meskipun dia hanya di tempat tidur, aku ingin dia selalu memakai pakaian yang bersih dan nyaman. Ganti bajunya setiap hari setelah kau memandikannya."
Setelah merasa cukup memberikan instruksi dasar, Lydia berdiri di ambang pintu. Ia menatap Nora dengan tatapan yang seolah menitipkan seluruh harapan hidupnya pada wanita itu.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua. Aku tahu ini aneh bagi seseorang yang baru saja tiba, tapi anggaplah ini waktu pribadimu untuk mengenal suamimu. Aku akan menunggu di ruang makan untuk makan malam nanti."
Lydia keluar, menutup pintu perlahan, meninggalkan Nora dalam keheningan yang kini hanya diisi oleh suara detak jantung mekanis dari monitor. Pip. Pip. Pip.
Nora berdiri mematung di sisi ranjang. Ia merasa canggung. Selama lima tahun terakhir, ia selalu berhadapan dengan Adrian yang penuh tuntutan dan kata-kata tajam. Kini, ia berhadapan dengan seorang pria yang hanya bisa diam.
"Halo, Declan," bisik Nora akhirnya. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri di dalam ruangan luas itu.
Ia menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang. Nora menatap wajah Declan lebih dekat. "Namaku Nora. Mungkin kau sudah dengar dari ibumu, tapi akulah wanita yang mereka 'beli' dari keluarga Leone untuk menemanimu tidur selamanya."
Nora tertawa hambar, sebuah tawa sedih yang segera hilang ditelan sunyi. "Aku tidak tahu kau orang seperti apa. Apakah kau pria yang baik? Ataukah kau sama saja dengan pria-pria lain di duniaku yang hanya peduli pada kekuasaan?"
Nora mengulurkan tangan, dengan ragu ia menyentuh jemari Declan yang besar dan panjang. "Tapi kurasa, untuk saat ini, aku lebih suka kau yang seperti ini. Kau tidak bisa membentakku, kau tidak bisa menyakitiku, dan kau tidak bisa memerintahkan orang untuk menyeretku ke gudang."
Nora teringat pada kotak cincin di tasnya. Ia mengambilnya, mengeluarkan dua lingkaran logam yang berkilau di bawah lampu kamar. Ia menarik napas panjang, lalu menyisipkan salah satu cincin ke jari manis tangan kirinya. Terasa pas. Terasa seperti sebuah ikatan baru yang sah, sebuah identitas yang bukan lagi 'tameng Adrian'.
Lalu, ia mengambil tangan kiri Declan. Tangan itu terasa berat namun kokoh. Dengan gerakan yang sangat lembut dan takzim, Nora memasangkan cincin pasangannya ke jari manis Declan.
"Nah, sekarang kita resmi," gumam Nora. "Secara hukum, secara cincin, dan secara nasib."
Ia menatap cincin yang kini melingkar di jari mereka berdua. Ada rasa aneh yang menjalari dadanya—bukan cinta, tentu saja belum, tapi sebuah rasa solidaritas. Mereka berdua adalah korban dari ambisi keluarga mereka masing-masing. Declan terjebak dalam tidurnya, dan Nora terjebak dalam pelariannya.
Nora berdiri, merasakan tubuhnya yang sangat lelah mulai menagih haknya. Luka-luka di tubuhnya masih berdenyut, dan perjalanan panjang dari California ke New York baru saja berakhir.
"Dengar, Declan Sullivan," Nora membungkuk sedikit ke arah telinga Declan, suaranya kini mengandung nada jenaka yang sudah lama tidak ia gunakan. "Meskipun aku istrimu sekarang, jangan berpikir aku akan duduk di sini sepanjang malam menatapmu. Aku sangat lelah, aku berkeringat, dan aku benar-benar butuh mandi air panas yang lama."
Ia menepuk pelan lengan Declan, seolah pria itu benar-benar sedang mendengarkan rencananya.
"Jadi, aku akan meninggalkanmu sebentar. Jangan pergi ke mana-mana, oke? Oh, maaf, aku lupa kau memang tidak bisa pergi ke mana-mana," Nora terkekeh pelan pada leluconnya sendiri yang sedikit gelap. "Aku akan mandi di kamar sebelah, lalu kita akan mulai petualangan merawat tubuhmu besok pagi. Selamat tidur, Suami."
Nora berbalik, berjalan menuju pintu penghubung ke kamarnya sendiri dengan langkah yang terasa sedikit lebih ringan. Ia tidak menyadari, tepat saat ia menutup pintu kamar mandi dan suara aliran air mulai terdengar, jarum monitor detak jantung di samping ranjang Declan berfluktuasi sedikit lebih cepat untuk sesaat, dan ujung jari manis pria itu—yang baru saja dipasangi cincin oleh Nora—bergetar sangat halus, seolah-olah ia baru saja mendengar suara yang membangunkan jiwanya dari kegelapan yang dalam.
Nora telah pergi untuk membersihkan diri dari masa lalunya, tanpa tahu bahwa kehadirannya baru saja memicu denyut pertama dalam kebangkitan sang penguasa Sullivan yang sesungguhnya.