"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Labirin di Balik Rak Buku
"Jangan lepaskan tanganku, Airine. Jika kamu menghirup aroma almond pahit atau melihat kabut tipis di lantai, segera tekan masker oksigenmu. Paham?"
Arnold berbisik tepat di telinga Airine, suaranya sangat rendah hingga nyaris tertelan oleh kesunyian yang mencekam di lobi utama kediaman Rubyjane. Ruangan yang biasanya terang benderang itu kini hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang masuk melalui jendela tinggi. Lampu kristal di atas mereka tampak seperti duri-duri tajam yang mengancam dalam kegelapan.
Airine mengangguk, jemarinya meremas kain rompi taktis Arnold. "Aku tahu bau itu, Arnold. Sianida atau gas saraf derivat Cobra. Tapi lihat... para pelayan dan tim keamananmu, mereka tidak mati. Mereka hanya tertidur."
Airine menunjuk ke arah dua anggota tim Shadow Guard yang tergeletak di dekat pilar. Dada mereka masih naik turun dengan teratur. Sebagai dokter, Airine segera menyadari polanya. "Ini bukan gas pembunuh. Kakek menggunakan Isoflurane dosis tinggi melalui ventilasi. Dia ingin rumah ini kosong, tapi dia tidak ingin merusak 'aset' berharganya sebelum dia mendapatkan apa yang dia cari."
"Satya, amankan perimeter lobi. Jangan biarkan siapa pun masuk atau keluar," perintah Arnold melalui radio silent. Ia kemudian menoleh ke Airine. "Perpustakaan ada di lantai dua, kan? Di balik sayap barat?"
"Iya. Tapi lewat tangga utama terlalu terbuka. Ada lorong pelayan di balik dapur, itu langsung tembus ke ruang kerja Kakek," jawab Airine dengan bisikan tegas.
Mereka bergerak cepat namun tanpa suara. Arnold memimpin di depan, senjatanya mengarah ke setiap sudut gelap, sementara Airine mengikuti di belakang dengan tas medis yang ia dekap erat. Saat mereka sampai di pintu kayu jati besar bertuliskan Library, Arnold berhenti.
"Kuncinya, Airine. Kunci fisik dari makam itu," desis Arnold.
Airine meraba saku rahasia di tasnya dan mengeluarkan kunci kuno yang terasa dingin di telapak tangannya. Arnold mengambilnya, memasukkannya ke lubang kunci, dan... KLIK.
Pintu terbuka tanpa suara. Bau kertas tua dan kayu cendana menyambut mereka. Di dalam, ruangan itu tampak acak-acakan. Buku-buku berserakan di lantai, dan kursi kerja besar Edward Jane sudah terbalik.
"Dia sudah di sini," gumam Arnold, matanya menyapu ruangan. "Tapi di mana dia?"
"Brankasnya... di bawah lantai kayu, di dekat rak buku biografi," Airine berlari kecil menuju sudut ruangan. Ia berlutut dan mulai meraba sela-sela kayu parket yang tampak sempurna. "Di sini! Ada celah kecil!"
Arnold membantu mencongkel papan kayu itu dengan pisau taktisnya. Di bawahnya, sebuah kotak besi tua dengan lubang kunci yang sama persis dengan yang ada di tangan Arnold muncul ke permukaan.
"Buka, Airine. Ini hakmu," ucap Arnold sambil menyerahkan kembali kunci itu.
Dengan tangan gemetar, Airine memutar kunci tersebut. Suara mekanisme gigi roda kuno berputar terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu. Tutup brankas terbuka, namun di dalamnya bukan hanya tumpukan koin atau surat.
Ada sebuah tabung perak kecil dengan indikator suhu digital yang masih menyala: -18°C. Dan di sampingnya, sebuah buku harian kecil bersampul kulit hitam.
"Ini dia... Cobra-9 yang asli. Prototipenya," bisik Airine. "Kakek menyimpannya di bawah kakiku selama ini."
"Bagus sekali, Airine. Kamu memang selalu memiliki ingatan yang tajam tentang rumah ini."
Suara itu muncul dari balik bayang-bayang rak buku tinggi di ujung ruangan. Edward Jane melangkah keluar. Ia tidak lagi menggunakan eksoskeleton atau kursi roda. Ia berdiri tegak, meski napasnya terdengar berat dan dibantu oleh tabung oksigen kecil di pinggangnya. Di tangannya, ia memegang sebuah detonator yang terhubung dengan lampu-lampu kecil yang baru disadari Arnold tertanam di sepanjang rak buku.
"Kek, berhenti! Semuanya sudah berakhir! Pulau itu hancur, laboratorium Kakek musnah!" teriak Airine, berdiri di depan Arnold untuk melindunginya.
"Hancur? Tidak, Sayang. Itu hanya pembersihan," Edward tersenyum mengerikan. "Dunia luar menganggapku mati, dan sekarang laboratorium itu juga dianggap musnah. Aku bisa memulai lagi dari nol dengan tabung yang ada di tanganmu itu. Berikan padaku, Airine."
"Jangan, Airine! Dia akan meledakkan rumah ini jika dia mendapatkan tabung itu!" bentak Arnold, membidikkan senjatanya tepat ke dada Edward. "Letakkan detonatornya, Pak Tua! Kamu tidak punya jalan keluar. Helikoptermu sudah dikepung!"
"Oh, Arnold... Kamu pikir aku datang ke sini untuk melarikan diri?" Edward tertawa parau. "Aku datang ke sini untuk menjemput cucuku. Airine, darahmu adalah komponen penstabil yang tidak bisa kutemukan di tempat lain. Bergabunglah denganku, atau biarkan suamimu ini hancur bersama kenangan rumah ini."
Airine menatap tabung perak di tangannya, lalu menatap Arnold. Ia melihat rahang suaminya mengeras. Airine tahu, Arnold tidak akan menembak karena takut ledakannya akan memicu bahan kimia di dalam tabung.
"Kek, Kakek bilang Kakek menyayangiku," Airine melangkah maju satu langkah, menjauh dari Arnold. "Jika Kakek benar-benar menyayangiku, Kakek tidak akan membiarkan aku hidup dalam ketakutan seperti ini. Kakek membuatku menjadi yatim piatu, Kakek merusak pernikahan pertamaku, dan sekarang Kakek ingin mengambil nyawaku juga?"
"Aku memberimu keabadian, Airine! Bukan kematian!" teriak Edward.
"Keabadian tanpa jiwa itu namanya kutukan!" Airine mengangkat tabung perak itu tinggi-tinggi. "Jika Kakek melangkah satu langkah lagi, aku akan memecahkan tabung ini di lantai. Kita semua akan terpapar, dan tidak ada yang akan keluar dari sini hidup-hidup!"
Edward membeku. "Jangan nekat, Airine! Kamu seorang dokter! Kamu tidak akan membunuh dirimu sendiri!"
"Aku seorang dokter yang tahu cara membedah bagian yang membusuk agar tubuh tetap hidup," Airine menatap kakeknya dengan tatapan dingin yang belum pernah dilihat Arnold sebelumnya. "Dan sekarang, bagian yang membusuk itu adalah Kakek."
"Arnold, sekarang!" teriak Airine mendadak.
Arnold tidak menembakkan peluru. Ia melemparkan sebuah flashbang yang sudah ia siapkan di tangan kirinya.
BOOOM!
Cahaya putih membutakan memenuhi perpustakaan. Edward Jane berteriak, menutupi matanya. Arnold menerjang maju, menghantam tangan Edward hingga detonator itu terlepas, lalu menjatuhkan pria tua itu ke lantai dengan kuncian maut.
"Satya! Masuk! Target diamankan!" Arnold berteriak melalui radio.
Cahaya kembali normal saat tim Shadow Guard menyerbu masuk. Airine terduduk lemas, memeluk tabung perak itu erat-erat. Arnold segera melepaskan Edward ke tangan anak buahnya dan berlari ke arah Airine.
"Kamu tidak apa-apa? Kamu tidak memecahkannya, kan?" Arnold memeriksa tubuh Airine dengan panik.
Airine menggeleng, air matanya jatuh membasahi pipinya yang berdebu. "Aku hanya menggertak, Arnold... Aku tidak akan sanggup menghancurkan rumah ini."
Arnold menarik Airine ke pelukannya, mengabaikan kehadiran anak buahnya. "Kamu luar biasa, Airine. Kamu baru saja memenangkan perang ini."
Namun, saat Edward Jane diseret keluar, ia menoleh ke arah mereka dengan senyum tipis yang penuh teka-teki. "Ini belum selesai, Arnold Dexter. Periksa buku harian itu... periksa siapa sebenarnya yang mendanai proyek ini sejak awal. Kamu akan terkejut mengetahui siapa musuhmu yang sebenarnya."
Arnold menatap buku harian hitam yang masih tertinggal di brankas. Ia merasakan firasat buruk. Kemenangan ini terasa terlalu mudah. Apakah ada orang lain di atas Edward Jane yang selama ini menarik benang merahnya?
...****************...