Di usia 27 tahun, Vivian Wheeler mengira hidupnya sempurna—hingga ia mendapati dirinya menjadi "pelakor" tanpa sengaja dalam satu hari yang sama.
Setelah memergoki pengkhianatan George, Kekasihnya, yang ternyata telah beristri, Vivian kembali dihantam badai saat dituduh sebagai selingkuhan oleh seorang remaja histeris yang mengamuk hingga merusak mobil Porsche-nya.
Penyebabnya? Logan Enver-Valerio, pemuda 20 tahun yang angkuh, menggunakan foto Acak Vivian sebagai alasan palsu untuk memutuskan Moana.
Tak terima dihina "wanita tua" dan dijadikan tameng, Vivian mendatangi kampus Logan dengan penampilan yang menipu usia, siap memberi pelajaran pada bocah ingusan tersebut.
Pertarungan ego antara sang pewaris tegas dan brondong ini pun dimulai. Siapakah yang akan menyerah saat mulai mencampuradukkan dendam dan obsesi?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Gemuruh suara di dalam stadion indoor universitas siang itu terasa nyaris memecahkan telinga. Bau aroma karet sepatu yang bergesekan dengan lantai kayu parket, hawa panas dari ratusan tubuh yang berhimpitan, dan teriakan yel-yel yang saling bersahutan menciptakan atmosfer kompetisi yang liar. Ini bukan sekadar pertandingan persahabatan; ini adalah penentuan harga diri antar kampus yang selalu menjadi magnet bagi seluruh mahasiswa.
Di pinggir lapangan, tim utama sudah mulai melakukan pemanasan. Logan Enver-Valerio berdiri di tengah-tengah rekannya, melakukan stretching ringan. Ia mengenakan seragam basket berwarna ungu dengan aksen emas—warna kebanggaan universitasnya. Di punggungnya, nomor 26 tercetak. Angka itu tampak kontras dengan kulitnya yang mulai berkeringat dan otot-otot lengannya yang menegang setiap kali ia memantulkan bola.
Perawakannya sempurna. Dengan tinggi badan yang atletis dan wajah yang tetap tampak tampan meski rambutnya mulai berantakan, Logan adalah pusat gravitasi di stadion itu.
Di deretan tribun paling depan, pemandangan tak kalah riuh. Barisan para mantan kekasih Logan tampak berkumpul, seolah sedang melakukan reuni yang tidak diinginkan. Mereka masing-masing memegang botol air mineral dingin, handuk kecil, hingga poster kecil buatan tangan. Mereka bersaing dalam diam, berharap setelah peluit akhir berbunyi, Logan akan berjalan ke arah salah satu dari mereka.
Sebelum pertandingan dimulai, Logan menghentikan gerakannya. Ia berdiri diam di tengah lapangan, matanya yang tajam mulai menyapu deretan tribun penonton. Ia mencari sesuatu—atau lebih tepatnya, seseorang.
Begitu kepala Logan menoleh ke arah tribun barat, teriakan histeris pecah seketika.
"Dia melihat ke arahku! Logan menatapku!" teriak seorang gadis berambut pirang sambil melambaikan tangannya gila-gilaan.
"Jangan percaya diri! Dia menatapku, aku tadi mengedipkan mata padanya!" balas gadis di sebelahnya tak mau kalah.
Di antara kerumunan itu, Amora berdiri dengan dagu terangkat. Meskipun skandal kehamilan palsunya kemarin sempat membuatnya menjadi bahan gunjingan, wanita sepertinya memiliki urat malu yang sudah putus. Ia mengenakan pakaian yang cukup mencolok, mencoba menarik perhatian Logan kembali.
"SEMANGAT LOGAN! SEMANGAT SAYANG! TUNJUKKAN PADA MEREKA SIAPA RAJANYA!" teriak Amora dengan suara melengking, sengaja menekankan kata 'Sayang' agar seluruh stadion tahu seolah-olah mereka masih memiliki hubungan spesial.
Logan yang mendengar teriakan itu hanya bisa mendengus pelan. Ia memutar bola matanya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Amora. "Dasar konyol!" gumamnya lirih, merasa muak dengan drama yang terus diciptakan wanita itu.
Logan kembali menunduk, fokus pada sepatunya. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelip di hatinya. Yah, dia memang sibuk. Bodoh kalau aku berharap dia benar-benar datang, batinnya pahit.
Wasit sudah berdiri di tengah lapangan, bersiap untuk melakukan jump ball. Suasana stadion mendadak hening sejenak saat semua pemain mengambil posisi masing-masing. Ketegangan memuncak.
Namun, tepat sebelum wasit meniup peluitnya, sebuah suara yang sangat jernih dan berwibawa memecah kesunyian dari arah ujung tribun atas yang tadinya sepi.
"SEMANGAT, HONEY!!!!!"
Suara itu tidak melengking seperti gadis-gadis remaja di sana. Suara itu memiliki nada dewasa, namun penuh dengan energi yang mengejutkan.
Logan tersentak. Kepalanya tersentak ke arah sumber suara secepat kilat. Ia mengenal suara itu. Suara yang semalam membisikkan kata-kata di telinganya. Suara yang tadi pagi menolaknya lewat telepon.
"Vivian...?" bisik Logan tak percaya.
Di sana, berdiri di antara kerumunan penonton yang mulai menoleh padanya, Vivian Wheeler tampak seperti penglihatan yang tidak nyata. Ia melepaskan setelan power suit kantornya dan menggantinya dengan kemeja Dengan dalaman tangtop terbuka, dan celana jeans levis bergaya varsity yang membuatnya tampak sepuluh tahun lebih muda. Rambutnya digerai indah, menyembunyikan leher indahnya. Ia tidak terlihat seperti bos perusahaan besar; ia terlihat seperti primadona kampus yang sedang menyemangati kekasihnya.
Vivian melambaikan tangan dengan senyum lebar yang jarang ia tunjukkan pada dunia. Ia benar-benar datang. Ia membatalkan rapat jutaan dolarnya hanya untuk berdiri di tribun panas ini.
"Wuuuuuuuu! Lihat itu! Siapa wanita cantik itu?!" teriak Bernado, rekan setim Logan, sambil menyikut pinggang Logan. "Dia memanggilmu Honey? Logan, kau benar-benar menyembunyikan berlian!"
Teman-teman setim Logan mulai bersorak menggoda, membuat wajah Logan yang biasanya sangar kini memerah karena malu sekaligus bangga. Senyum smirk pemenangnya kembali muncul, namun kali ini jauh lebih tulus.
Pertandingan pun dimulai.
Logan bermain seolah-olah ia memiliki sayap di sepatunya. Setiap gerakan dribble-nya begitu presisi, setiap umpan yang ia berikan mematikan, dan yang paling luar biasa, ia mencetak poin demi poin melalui tembakan tiga angka yang mustahil. Setiap kali bola masuk ke dalam ring, Logan akan menoleh ke arah Vivian dan memberikan kedipan mata atau isyarat tangan yang membuat penonton wanita lainnya menjerit iri.
Namun, di sisi lain tribun, suasana hati seseorang sedang berada di titik nadir. Amora mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang tajam menatap Vivian dengan tatapan penuh kebencian.
"Wanita itu lagi?" desis Amora. "Dia benar-benar berani muncul di sini?"
Amora memperhatikan penampilan Vivian yang tampak begitu segar dan cantik. Ada rasa iri yang membakar dadanya melihat bagaimana Logan menatap wanita itu—tatapan yang tidak pernah Logan berikan padanya selama mereka bersama.
"Wanita tua itu apa tidak ingat umur? Berpakaian seperti anak remaja hanya untuk menarik perhatian anak kuliahan. Benar-benar menjijikkan," gumam Amora ketus pada teman di sampingnya. "Dia pikir dia bisa menang hanya dengan dandan begitu? Kita lihat saja sampai mana dia bisa bertahan mendampingi Logan yang liar."
Amora tidak menyadari bahwa kata-katanya hanyalah cerminan dari rasa kalahnya. Di tengah lapangan, Logan baru saja melakukan layup spektakuler yang menambah poin timnya. Ia berlari melewati tribun tempat Vivian berada, berteriak kecil, "Ini untukmu, Sayang!"
Vivian tertawa, menutup mulutnya dengan tangan, merasa hatinya membuncah oleh perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di stadion yang bising ini, di tengah persaingan dan kebencian Amora, Vivian menyadari bahwa ia tidak peduli disebut "wanita tua" atau apa pun. Karena saat ini, pria nomor 26 itu adalah miliknya, dan ia adalah satu-satunya alasan kenapa Logan berjuang begitu keras di lapangan.
Pertandingan masih berlangsung panjang, namun bagi Logan, ia sudah memenangkan piala yang paling berharga sejak Vivian meneriakkan kata 'Honey' di depan ribuan orang.
(Logan)