Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Pukul lima pagi. Los Angeles masih didekap oleh sisa-sisa kegelapan, dan embun tipis mulai menyelimuti kaca jendela. Di dalam kamar yang hangat, Faelynn masih tenggelam dalam mimpi indahnya, sampai sebuah tangan besar yang hangat menyentuh bahunya, menggoyangkannya pelan namun konsisten.
"Lyn... bangun, Sayang. Ayo kita olahraga pagi," bisik sebuah suara berat yang serak, tepat di samping telinganya.
Faelynn mengerang kecil, menarik selimutnya hingga menutupi kepala. "Hmm... lima menit lagi, Ay... Ini masih terlalu pagi," gumamnya dengan suara khas bangun tidur yang serak dan manja.
Kingsley terkekeh. Pria itu sudah sepenuhnya terjaga, mengenakan kaus dalam hitam yang ketat, menampakkan otot lengan dan bahunya yang kokoh. "Tidak ada lima menit lagi. Ini hari terakhirku sebelum aku harus kembali ke markas operasional untuk laporan akhir. Aku ingin menghabiskan pagi ini dengan lari pagi bersamamu."
Faelynn mengintip dari balik selimut dengan satu mata. "Lari pagi? Aku penulis, King. Olahragaku adalah mengetik sepuluh ribu kata sehari. Itu sudah cukup membakar kalori otakku."
"Aku tidak menerima penolakan," Kingsley menarik selimut Faelynn dengan lembut tapi tegas. "Aku sudah memesan pakaian olahraga untuk kita berdua semalam lewat kurir ekspres. Sudah ada di atas mejamu. Cepat ganti, atau aku yang akan menggantikan pakaianmu?"
Mata Faelynn seketika terbuka lebar. Ia terduduk di ranjang, menatap Kingsley dengan wajah merona. "Kau... kau benar-benar menyebalkan. Aku tidak suka olahraga, kau tahu itu!"
"Oh ya?" Kingsley mendekat, menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Faelynn, mengunci gadis itu dalam jarak yang sangat dekat. Ia menatap bibir Faelynn dengan tatapan intens yang sering Faelynn tulis di novel-novel romansanya. "Tapi sepertinya kau akan suka olahraga bersamaku, Lyn. Bayangkan... kita berkeringat bersama, napas yang memburu, jantung yang berdegup kencang, dan rasa panas yang menjalar di seluruh tubuh..."
Faelynn menahan napas. Kalimat itu—struktur kata-katanya—terasa sangat familiar. "Tunggu... itu dialog di Bab 17 novel terakhirku! Kau mencurinya!"
Kingsley menyeringai nakal, ujung jarinya membelai rahang Faelynn. "Aku tidak mencuri, aku hanya melakukan riset lapangan. Bukankah kau menulis bahwa 'dalam peluh yang bercucuran, dua jiwa menemukan ritme yang sama'? Mari kita buktikan apakah tulisanmu itu akurat secara klinis, Sayang."
"K-kau... kau benar-benar mesum!" seru Faelynn, mendorong dada Kingsley yang keras seperti batu, meskipun wajahnya tidak bisa menyembunyikan senyum malunya.
"Cepat pakai bajunya, atau aku akan mulai mempraktikkan Bab 18 yang jauh lebih eksplisit itu," goda Kingsley sambil mengerlingkan mata sebelum melangkah keluar kamar.
Sepuluh menit kemudian, mereka keluar dari apartemen. Faelynn mengenakan setelan celana pendek dan jaket olahraga berwarna kuning light yang sangat pas di tubuhnya, sementara Kingsley mengenakan setelan hitam yang membuatnya tampak seperti atlet profesional—atau lebih tepatnya, seperti bodyguard elit.
Begitu mereka keluar dari lobi apartemen, dunia luar seolah berhenti sejenak. Beberapa tetangga yang sudah bangun—termasuk Mrs. Higgins yang sedang mengambil koran—mematung di tempat.
Tinggi badan Kingsley yang mencapai 190 cm, bahunya yang lebar, dan langkah kakinya yang penuh otoritas membuat semua mata tertuju padanya. Di sampingnya, Faelynn yang tingginya hanya 160 cm terlihat sangat mungil, kepalanya bahkan tidak mencapai bahu Kingsley. Mereka tampak seperti karakter yang melompat keluar dari sampul novel romantis premium.
"Itu... siapa?" bisik Mrs. Higgins, matanya mengikuti pergerakan mereka tanpa berkedip. "Bukannya kemarin kabarnya kekasihnya meninggal?"
Kingsley tidak mempedulikan bisikan itu. Ia justru merangkul bahu Faelynn secara posesif, memastikan semua orang melihat bahwa ia sangat nyata dan sangat hidup.
Sambil mulai berlari kecil menyusuri trotoar yang masih sepi, Faelynn mendongak menatap Kingsley yang bahkan tidak terlihat terengah-engah.
"Ay..." panggil Faelynn sambil mengatur napasnya yang mulai pendek.
"Ya, Sayang?"
"Aku penasaran... apa di agensimu, semua anggotanya setinggi tiang listrik sepertimu? Maksudku, apa itu syarat mutlak untuk jadi agen rahasia?"
Kingsley tertawa pelan, menyesuaikan langkah larinya dengan langkah pendek Faelynn agar gadis itu tidak tertinggal. "Hampir semuanya, Lyn. Kami butuh jangkauan fisik yang luas. Rekan-rekanku di unit operasi lapangan rata-rata setinggi aku. Bahkan, ada seniorku, namanya Marcus, tingginya hampir 200 sentimeter. Jika dia berdiri di depanmu, kau mungkin akan mengira sedang melihat pohon ek raksasa."
Faelynn membayangkan ruangan penuh dengan pria-pria raksasa bersenjata dan bergidik ngeri sekaligus kagum. "Luar biasa. Pantas saja kau menganggap ku sangat pendek."
"Kau tidak pendek, Lyn," Kingsley meliriknya dengan tatapan lembut. "Kau hanya portable. Ukuran yang sempurna untuk kupeluk dan ku gendong jika kau kelelahan lari seperti sekarang."
"Aku tidak lelah!" protes Faelynn, meskipun keringat mulai membasahi dahinya.
"Benarkah? Padahal aku sudah bersiap untuk mempraktikkan adegan 'hero carry' seperti di bab penutup novel mu itu," goda Kingsley.
Faelynn hanya bisa mendengus kesal sambil terus berlari, namun di dalam hatinya, ia merasa sangat bangga. Pagi ini, di bawah tatapan bertanya-tanya para tetangganya, ia tidak lagi merasa seperti "si perawan tua yang malang". Ia adalah wanita yang sedang berlari menuju masa depan bersama seorang pria yang mencintainya cukup besar untuk menembus maut, dan cukup konyol untuk menghafal dialog-dialog mesum di novelnya.
"Ay, setelah ini... kau benar-benar harus pergi?" tanya Faelynn, suaranya sedikit mengecil.
Kingsley melambatkan larinya, lalu berhenti di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Ia memutar tubuh Faelynn untuk menghadapnya, menyeka keringat di dahi gadis itu dengan ibu jarinya.
"Hanya ke kantor pusat untuk laporan, Sayang. Tidak ada misi lapangan dalam waktu dekat. Aku akan kembali setiap akhir pekan, atau mungkin... aku akan mulai mencari apartemen yang lebih besar agar kau bisa menulis novel mu di ruang kerja yang lebih layak," ujar Kingsley serius.
Faelynn tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Kingsley yang masih hangat oleh keringat. Olahraga pagi yang awalnya ia benci, kini menjadi momen favoritnya. Karena di setiap detak jantung yang memburu, ia tahu bahwa Kingsley Emerson—sang agen rahasia—telah menemukan tempat persembunyian permanennya: di dalam hatinya.