Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6.
Renata pun buru buru memasuki rumahnya, sebuah rumah yang sudah selama 10 tahun dia tinggali bersama dengan suaminya.
Rumah ini adalah saksi kunci pernikahannya dengan suaminya. Karena setelah menyandang status sebagai istri. Suaminya langsung memboyong diri nya untuk tinggal dirumah ini.
Rumah ini juga dibeli secara kredit oleh suaminya. Dan dipastikan akan lunas di bulan ini.
"Sayangnya ibu, sungguh pintar sekali," ucap Renata sembari merebah kan tubuh anaknya diatas kasur.
Anaknya terlihat lelap dalam tidurnya. Lalu Renata berjalan ke arah meja makan yang tersedia didalam rumahnya.
Dia menatap nanar masakannya pagi ini, makan yang terlihat masih utuh, bahkan tidak disentuh sama sekali oleh suaminya.
Air mata pun luruh membasahi ke dua pipi Renata.
"Renata, mungkin mas Ivan itu tahu, kan jatah belanja bulanan yang dia berikan kepadamu itu menurun. Karena penurunan pangkat yang dialami oleh mas Ivan. Dia sangat menyayangimu Renata, plis jangan sedih ataupun menangis. Dia tahu kalau kamu selama ini sangat berhemat. Dia tahu, agar uang belanjamu itu cukup sampai bulan depan. Sampai sampai kamu memilih memakan roti gandum setiap paginya. Dan mas Ivan tidak tega, melihatmu hanya makan roti gandum setiap harinya. Makanya dia mengalah Renata, dengan tidak memakan masakan mu itu. Agar kamu saja yang memakannya." Renata berucap pada dirinya sendiri, guna memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Renata pun memilih untuk segera duduk dikursi makan, sembari mengambil makanan dan lauk yang sudah dingin di atas meja.
Dengan tubuh gemetar, Renata memakan makanan yang ada di depannya dengan sangat rakus.
Renata hanya perempuan kampung, lulusan SMA. Dia benar benar tidak tahu. Berapa gaji yang di dapat kan oleh suaminya. Saat Ivan menikahi dirinya. Ivan bekerja di kantor pusat Bank Indonesia. Sebagai admin, tahun tahun pun berlalu. Karena performa kinerja Ivan sangat bagus. Ivan terus naik pangkat dan sekarang ini. Dia menjabat sebagai kepala cabang. Tapi Renata benar benar tidak tahu. Berapa gaji kepala cabang bank Indonesia.
Karena setiap bulan, Ivan hanya menjatah uang bulanan Renata sebesar 3 juta rupiah. 3 juta untuk kebutuhan rumah, dapur dan Renata sendiri. Dan beberapa bulan ini. Ivan hanya memberi jatah bulanan Renata sebesar 1 juta lima ratus ribu rupiah.
Karena Ivan berkata, kalau gaji nya turun. Bersama dengan jabatannya yang sekarang ikut menurun.
Selesai makan. Renata pun masuk ke dalam kamar mandi. Untuk mandi, karena tubuhnya terasa begitu menggigil.
Saat Renata menggosok giginya didepan wastafel yang ada didalam kamar mandi miliknya. Air mata Renata pun luruh, dia melihat darah yang keluar bersama pasta gigi yang dia muntahkan.
"Tuhan, aku tahu .. semua makhluk yang engkau ciptakan, pasti akan suatu saat akan kau ambil nyawanya kembali. Termasuk aku, tapi jika kau mengambil ku sekarang, bagaimana hidup suami dan juga anak ku ... Hiks hiks," ucap Renata dengan tangisan parau. Di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi nya.
Lalu Renata yang sudah selesai mandi, dia berjalan ke arah sebuah lemari pakaian yang ada didalam kamar miliknya.
Lemari baju yang terlihat usang dan sangat tua. Begitu kontras dengan lemari baju yang ada di dalam kamar utama milik suaminya. Kamar utama yang kata suaminya, digunakan untuk bekerja lembur.
Benar, Ivan dan juga Renata sudah tidur terpisah, sebelum Renata hamil atau pun melahirkan anaknya.
Tepat nya pasangan suami istri ini, tidur terpisah di tahun ke 5 pernikahan mereka.
Di tahun suaminya Renata naik pangkat menjadi kepala cabang.
Awal nya, suami Renata hanya menyuruh Renata datang ke kamar kerjanya dalam 5 kali seminggu. Saat ingin meminta jatah, untuk berhubungan suami istri.
Walaupun setelah selesai ber hubungan. Suami Renata mengusirnya, lalu menyuruh Renata untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Tapi Renata selalu ikhlas dan memasang senyuman tulus, untuk suami nya. Yang selama ini selalu mengacuhkan dan tidak menganggap dirinya.
Renata membuka lemari pakaian miliknya. Nampak baju baju yang sudah berlubang dan terlihat sudah usang. Karena baju baju itu, memang berumur lebih dari 10 tahun. Renata membeli baju baju itu, jauh sebelum menikah dengan Ivan.
Setelah menikah pun, Ivan belum pernah sekalipun membelikan baju untuk istrinya.
Renata memilih daster yang awal nya ber warna merah maron, tapi sekarang warna merah maron itu sudah pudar menjadi warna merah muda. Dengan bagian ketiak yang terlihat sudah bolong.
Renata melirik ke arah anaknya yang masih tertidur dengan pulas. Lalu Renata memilih untuk menyapu, dan mengepel lantai rumah nya.
Baru menyapu area ruang tamu. Renata merasakan sakit yang amat sangat dibagian perutnya.
Tubuh Renata pun limbung. Tangan Renata tak sengaja mengenai vase bunga yang ada diatas meja.
Pyar..suara vase bunga yang pecah, dan vase bunga itu terlihat hancur berkeping keping.
Melihat pecahan vase bunga, wajah Renata berubah menjadi takut.
Renata teringat kala dirinya yang tak sengaja memecahkan piring, saat mencuci piring itu di wastafel.
Padahal hanya sebuah piring, dan Renata benar benar tidak sengaja. Akhirnya suaminya itu marah besar, dan berakhir dirinya harus tidur meringkuk di dalam kamar mandi.
Karena hanya memecahkan sebuah piring keramik biasa, suaminya dengan tega menghukumnya, untuk tidur didalam kamar mandi semalaman.
Renata berusaha berdiri, tak sengaja kaki nya menginjak pecahan beling, pecahan vase bunga kecil itu.
Dengan darah dengar menetes dari kaki nya. Renata berusaha menahan sakit di perut nya, akibat kanker lambung yang dia derita. Dia berjalan tatih tatih ke arah tas, yang berisi obat obatan yang di berikan dokter Marcell, saat tadi periksa ke rumah sakit.
Obat ber jumlah 8 macam, Renata berusaha meminum semua obat itu. Walaupun sekarang ini. Dia merasa tenggorokannya sangat panas dan juga seperti terbakar.
Renata pikir dengan tubuh yang gemetar. Tidak akan memungkin kan dirinya untuk bersih bersih rumah dengan benar.
Malah akan membuat barang barang yang ada di rumah nya menajdi berantakan dan juga rusak. Makanya Renata memilih untuk meminum obatnya terlebih dahulu. Tapi sepertinya Renata lupa, atau tepat nya dia tidak menyadari nya.
Bahwa obat yang dia minum menyebab kan rasa kantuk dan membuatnya tertidur.
Renata yang duduk di kursi didalam rumahnya. Lama lama merasa tubuhnya itu terasa berat. Semakin lama matanya juga sulit untuk tetap terjaga. Akhirnya Renata pun benar benar pulas dalam tidurnya.
***
**
Di sebuah cafe yang lumayan mewah. Seorang pria tampak sedang mentraktir semua bawahannya. Nampak seorang wanita yang berpakaian sangat sexy, terus menempel padanya.
"Makasih banyak boss, boss emang pimpinan cabang terbaik," ucap salah satu pegawai pria itu.
"Makasih pujian nya, tapi ini juga berkat kalian semua. Bulan ini saya bisa mendapatkan 2 kali gaji," ucap pria itu.
"Kalian lanjutkan saja pestanya, saya mau berduaan dengan Ivan suami saya," ucap Esther dengan nada yang terdengar begitu angkuh.
"Ba - baik Bu," ucap beberapa pegawai dan staf yang bekerja di bank, dengan pangkat yang lebih rendah. Jika dibandingkan dengan Ivan dan juga Esther.
Esther pun menggandeng tangan Ivan, menuju ke sebuah room. Yang emang sengaja Esther pesan.
Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam room itu, lalu Esther yang terbiasa lebih agresif dari pada Ivan. Memilih mengunci pintu
"Ivan, kapan kamu akan mencerai kan Renata?" Tanya esther.
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
dasar suami lucknut 😡😡