NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Asisten Rasa Musuh Dalam Selimut

"Dan kau mengira itu semua jatuh dari langit, Vina?" Ekantika menyela, tidak ada lagi jejak kelembutan di suaranya. Hanya kekecewaan yang pahit. "Kau sudah bekerja denganku selama tiga tahun. Kau melihat bagaimana aku bekerja, bagaimana aku berjuang. Apakah kau pernah melihatku bersantai? Apakah kau pernah melihatku tidak bekerja sampai tengah malam? Apakah kau pernah melihat bagaimana dewan direksi ini menuntutku, bagaimana media ini menghakimiku?"

Vina terisak. "Tapi Ibu... Ibu punya segalanya. Saya... saya merasa tidak dihargai. Saya merasa pekerjaan saya tidak pernah cukup baik."

"Jadi itu sebabnya kau bersekongkol dengan 'dia' untuk mencuri dataku, menyebarkan kebohonganku, dan mencoba menghancurkanku?" Ekantika bertanya, suaranya menipis. "Apakah ini caramu merasa 'dihargai', Vina? Dengan menjadi pengkhianat?"

Vina mendongak, matanya merah dan sembap. "Bukan itu maksud saya, Bu! Saya... saya hanya ingin Ibu tahu bagaimana rasanya! Saya... saya lelah dibandingkan dengan Ibu! Setiap orang di kantor ini selalu memuji Ibu, sementara saya hanya bayangan!" Ia membiarkan semua amarah dan rasa frustrasinya meledak, bercampur dengan ketakutan. "Ibu tahu betapa susahnya menjadi saya, Bu? Gadis desa yang merantau ke kota, bekerja keras, tapi tidak pernah mendapatkan apa pun yang Ibu dapatkan! Ibu... Ibu bahkan menciptakan identitas palsu hanya untuk mendapatkan seorang pria, seolah-olah Ekantika Asna tidak cukup baik untuk dicintai!"

Kata-kata terakhir itu menghantam Ekantika. Vina tidak hanya iri pada kariernya, tapi juga pada 'keberuntungan' Ekantika dalam cinta—keberuntungan yang sebenarnya adalah sebuah kepalsuan. Dia melihatku sebagai 'Janda CEO' yang berbohong untuk dicintai. Sama seperti ketakutanku sendiri. Ironi itu begitu menyengat hingga Ekantika merasa mual. Vina, yang seharusnya menjadi orang terdekatnya, malah menjadi cermin dari ketakutan terbesarnya.

"Dan kau merasa punya hak untuk menghakimi pilihan hidupku, Vina?" Ekantika membalas, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku lalui. Kau tidak tahu betapa susahnya berada di posisiku, Vina. Semua orang di sini melihatku sebagai CEO yang tangguh, tapi tidak ada yang melihatku sebagai seorang wanita. Seorang wanita yang juga punya kerentanan. Seorang wanita yang juga ingin dicintai apa adanya, tanpa label, tanpa stigma 'janda CEO'!"

Vina menatap Ekantika, tatapannya bercampur antara amarah dan kejutan. Ia mungkin tidak menyangka Ekantika akan mengungkapkan sisi rapuh ini.

"Dan kau mengira dengan menghancurkan saya, kau akan menjadi lebih baik?" Ekantika melanjutkan, suaranya kembali mengeras, dipenuhi kemarahan yang membakar. "Tidak, Vina. Kau hanya akan menjadi pecundang yang membiarkan dirinya dimanfaatkan orang lain. Kau pikir 'dia' akan membantumu? Kau pikir 'dia' peduli padamu? 'Dia' hanya akan menggunakanmu dan membuangmu!"

Vina terdiam, bibirnya bergetar. Sebuah kebenaran yang pahit.

"Siapa 'dia', Vina?" Ekantika mendesak lagi, matanya menusuk. "Katakan padaku siapa yang bekerja sama denganmu."

Vina menghela napas, air mata masih mengalir, namun kini ada ekspresi putus asa di wajahnya. "Dia... dia akan menyebarkan semuanya ke Riton, Bu. Video, foto, log chat... semuanya. Kalau Ibu memecat saya, dia akan melakukannya. Dia bilang akan membuat hidup Ibu hancur, tidak hanya di karier, tapi juga di mata Riton. Dia... dia bilang Ibu pantas mendapatkannya."

Video? Log chat?Ekantika merasakan hawa dingin menjalari tulangnya. Jadi Arsa punya bukti yang lebih kuat dari sekadar foto. Bukti yang bisa membuktikan bahwa Ekantika benar-benar memanipulasi Riton. Bukti yang bisa menghancurkan Riton. Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

"Siapa dia, Vina?" Ekantika mengulang, suaranya lebih lembut, namun penuh tekad. Ia tahu ia tidak bisa lagi bermain kasar. Ia harus bermanuver.

Vina akhirnya mendongak, matanya menatap Ekantika, dipenuhi ketakutan. "Dia... dia adalah mantan suami Ibu, Bu. Arsa. Dia... dia yang menyuruh saya. Dia yang mengancam saya. Dia bilang kalau saya tidak ikut, dia akan menghancurkan keluarga saya."

Sebuah hantaman keras menerpa Ekantika. Arsa. Jadi benar. Mantan suaminya. Orang yang seharusnya paling mengenalnya, kini menjadi dalang di balik kehancurannya. Rasa dikhianati itu melampaui Vina. Itu adalah tusukan dari masa lalu yang paling menyakitkan.

Ekantika memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Arsa. Dia kembali. Dendamnya, keserakahannya, kini terarah padanya. Dan Vina hanyalah pionnya.

"Apa yang Arsa inginkan?" Ekantika bertanya, suaranya sekarang begitu datar, hampir tanpa emosi.

"Dia... dia ingin Ibu menyerahkan saham Proyek Garuda. Dia bilang Ibu terlalu berkuasa. Dan dia juga ingin mengambil uang Ibu. Dia bilang Ibu tidak layak punya segalanya," Vina menjelaskan, suaranya terdengar seperti bisikan di tengah isakannya. "Dia bilang dia punya semua bukti tentang Nana dan Riton. Dia bahkan punya video Ibu saat Ibu berbohong di video call dengan Riton, Bu. Video saat Ibu mengaku lagi di luar kota, padahal di kantor. Video itu dia dapat dari saya, Bu. Dia akan kirimkan semuanya ke Riton jika Ibu tidak menuruti keinginannya."

Ekantika merasakan seluruh dunia berputar. Video video call. Itu berarti Arsa bahkan sudah memantau komunikasinya dengan Riton sejak awal. Pria itu... sungguh iblis.

"Jadi, kau mencuri itu untuknya," Ekantika berkata, lebih kepada dirinya sendiri.

Vina mengangguk, terisak. "Dia mengancam saya, Bu. Dia bilang dia punya data pribadi keluarga saya. Saya... saya takut."

Ekantika menatap Vina. Ada kebenaran dalam ketakutan Vina. Arsa memang pria yang kejam, pria yang tidak akan ragu menggunakan cara kotor untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan sekarang, dia mengincar segalanya: Ekantika, Riton, dan bahkan Garuda.

Aku tidak bisa memecat Vina sekarang.Jika ia memecat Vina, semua bukti itu akan bocor ke Riton, bahkan mungkin ke media. Kariernya akan hancur, reputasi Garuda akan tercoreong, dan yang paling parah, Riton akan terluka lebih dalam lagi. Arsa akan menang.

Sebuah keputusan sulit, pahit, dan menjijikkan harus ia buat.

"Baik, Vina," Ekantika berkata, suaranya mengeras, mengambil kembali kendali. "Aku tidak akan memecatmu. Untuk saat ini."

Mata Vina melebar. "Benar, Bu?" Ada secercah harapan di sana, bercampur dengan kebingungan.

"Tapi kau akan bekerja di bawah pengawasanku secara ketat," Ekantika melanjutkan, suaranya tanpa kompromi. "Setiap gerakanmu, setiap emailmu, setiap percakapanmu akan diawasi. Jika kau mencoba mengkhianatiku lagi, atau berani menghubungi Arsa, aku bersumpah aku akan menghancurkanmu. Dengan semua bukti yang sudah ada padaku." Ekantika menunjuk laptopnya. "Dimas sudah melacak semuanya, Vina. Semua jejak digitalmu ada padaku. Kau adalah sanderaku sekarang."

Vina menunduk, bahunya kembali bergetar, kini bukan karena isakan, melainkan karena rasa kalah. "Baik, Bu," bisiknya.

"Dan satu lagi," Ekantika menambahkan, matanya menyala. "Kau akan membantuku. Kau akan menjadi mata-mataku di jaringan Arsa. Kau akan memberitahuku semua yang dia rencanakan. Semua yang dia punya. Jika kau mau selamat, kau harus bekerja untukku sekarang."

Vina mendongak, tatapannya dipenuhi keputusasaan. "Tapi Bu... kalau dia tahu..."

"Dia tidak akan tahu, selama kau bermain pintar," Ekantika memotong, nadanya dingin dan meyakinkan. "Atau kau lebih suka melihat video-video itu tersebar, Vina? Bukan hanya video Ekantika Asna yang berbohong, tapi juga video Vina, asisten yang diam-diam merekam bosnya sendiri, dan bersekongkol dengan mantan suami bosnya untuk menghancurkan kariernya?"

Vina terdiam, menatap Ekantika dengan mata nanar. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Ia telah terperangkap dalam jaring yang ia sendiri ikut rajut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!