NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Sabotase Susu

Jam menunjukkan pukul dua pagi. Dapur utama hanya diterangi lampu dari dalam kulkas raksasa.

Dengungan statis kompresor pendingin membelah kesunyian malam. Hawa beku menguar pelan menembus celah ubin. Kaki telanjang Sabrina berpijak tanpa suara di atas lantai marmer hitam di sudut tergelap pantri.

Ujung jari kakinya memucat, kebas kehilangan pasokan darah hangat. Sayatan di pangkal pahanya berdenyut liar, mengirimkan gelombang api yang membakar sumsum tulang belakangnya setiap kali ia menggeser bobot panggul. Dua puluh jahitan segar itu menuntut istirahat absolut.

Namun, tidur adalah kemewahan bagi mangsa. Jiwa pembunuh Maureen yang bersarang di balik tulang rusuk ringkih ini menolak tunduk pada kelemahan fisik.

Bilah pisau steak bergagang perak curian dari meja makan tadi terselip erat di balik perban telapak tangan kanannya. Dingin logam menempel di kulit, menyalurkan rasa aman yang tidak bisa diberikan oleh jutaan sekuriti bayaran Adrianus Halim.

Langkah kaki berjingkat menginjak lorong luar.

Suara sol karet murahan bergesekan patah-patah dengan marmer. Pelan. Ragu-ragu. Ketakutan.

Siluet perempuan muda berseragam hitam putih muncul dari ambang pintu sayap timur. Marni. Salah satu pelayan junior asuhan Lasmi yang sore tadi terus menundukkan kepala. Mata gadis itu kini bergerak liar menyapu sekeliling dapur raksasa.

Marni melangkah masuk mendekati meja pulau berlapis granit. Tangan gadis itu gemetar hebat saat membuka pintu kabinet sterilisasi UV.

Sabrina membeku di balik bayangan lemari pendingin anggur. Matanya merekam setiap detail gerakan mikro.

Napas Marni memburu pendek. Keringat sebesar biji jagung mengilap di tengkuknya yang tertimpa bias cahaya kuning kulkas. Gadis itu meraih satu botol kaca steril. Menekan tuas dispenser air panas. Asap tipis mengepul ke udara. Sendok takar beradu pelan dengan dinding kaca, melarutkan bubuk susu formula khusus neonatus.

Momen jeda ini mengetuk pintu batin Sabrina.

Ia memejamkan mata sesaat. Bayangan Sebastian tertidur miring di dalam boks kayu sayap barat mengisi penuh rongga dadanya. Udara bersih. Dengkur pelan. Jantung kecil yang berdetak murni tanpa dosa. Anaknya adalah jangkar kewarasan tunggal yang menahannya dari hasrat membantai seisi rumah sakit jiwa berkedok mansion mewah ini. Sabrina rela menukar nyawanya sendiri asalkan napas kecil itu terus berembus.

Klik.

Suara logam bergesekan mengembalikan fokus tajam sang ibu predator.

Marni tidak segera menutup botol susu tersebut. Gadis itu memutar kepalanya ke bahu kanan dan kiri, memastikan sekali lagi lorong dapur benar-benar kosong. Tangan kirinya merogoh dalam-dalam ke saku celemek.

Sebuah bungkusan kertas perkamen kecil seukuran ibu jari ditarik keluar.

Jemari Marni yang basah oleh keringat membuka lipatan kertas itu perlahan. Serbuk putih halus mengintip dari balik celahnya. Bau kimia artifisial yang samar langsung menabrak indra penciuman Sabrina.

Bukan probiotik bayi. Bukan vitamin larut air.

Serbuk padat. Diazepam dosis tinggi. Atau lebih buruk, racikan barbiturat jalanan yang biasa dipakai untuk membungkam anjing liar.

Takaran bubuk putih di kertas itu cukup untuk membuat pria dewasa tertidur pulas selama belasan jam. Bagi organ dalam bayi neonatus yang paru-parunya masih rentan? Serbuk itu adalah tiket instan menuju gagal napas permanen. Otot jantung bayi akan berhenti berdetak perlahan di tengah tidur lelapnya tanpa memicu kecurigaan. Kematian ranjang yang sangat rapi. Dokter keluarga Halim pasti akan langsung menyimpulkannya sebagai sindrom kematian mendadak akibat prematuritas.

Naluri keibuan Sabrina meledak seketika menghancurkan sisa-sisa rasionalitas penahan sakit.

Rasa ngilu di selangkangannya lenyap. Terbakar habis oleh api amarah murni yang menyambar ganas ke otak. Kania Tanjung rupanya tidak puas hanya bermain teror psikologis. Saudari angkat suaminya itu mempercepat jadwal eksekusi menggunakan tangan pelayan rendahan.

Marni memiringkan kertas perkamen itu tepat di atas mulut botol susu.

Tangan kanan Sabrina melesat.

Logam dingin pisau steak membelah udara. Tanpa suara derap langkah kaki, tanpa peringatan verbal murahan. Sabrina muncul menerjang dari kegelapan layaknya hantu pencabut nyawa.

Tangan kirinya menepis kasar pergelangan tangan Marni dari arah bawah dengan tenaga penuh.

Brak!

Bungkusan kertas perkamen itu terlempar ke udara. Bubuk putih racun berhamburan turun seperti hujan debu asbes, menodai granit hitam meja pulau.

"Ahhh!" Marni menjerit tertahan. Matanya melotot lebar nyaris keluar dari rongganya menatap wajah pucat Sabrina yang mendadak berdiri sejengkal dari hidungnya.

Sabrina tidak memberikan jeda satu milidetik pun bagi lawannya untuk memproses kepanikan.

Pisau daging bergagang perak di tangan kanannya langsung menempel telak di titik rawan leher pelayan muda itu. Ujung bilah menekan lapisan kulit luar hingga memunculkan setetes darah segar. Sengaja tidak merobek urat nadi jugularis. Belum saatnya.

"Satu desibel suara keluar dari tenggorokanmu, bilah ini memotong lurus pita suaramu." Uap napas dingin Sabrina menerpa dahi Marni. Hitungan maut pembunuh bayaran aktif seutuhnya.

Marni mengunci mulutnya rapat-rapat. Rahangnya bergetar brutal. Air mata teror membanjiri sudut matanya seketika. Gadis itu tidak berani menarik oksigen. Pisau di lehernya terasa sangat nyata, namun tatapan mata Sabrina seribu kali lebih membekukan. Bola mata hitam itu kosong, murni menjanjikan kematian lambat.

Tangan kiri Sabrina turun mengusap tumpahan bubuk putih di atas meja granit. Jari telunjuknya menyapu sedikit serbuk mematikan itu, lalu mendekatkannya ke ujung hidung.

"Lorazepam." Sabrina mengeja nama senyawa kimia itu pelan, mencicipi kepahitan udara di sekitarnya. "Dosis jalanan murahan kelas bawah. Kania Tanjung membayarmu berapa untuk meracuni anakku malam ini, hm?"

"Nyo... Nyonya... ampun..." Marni merintih tertahan. Getar tubuhnya membuat pisau di lehernya menggores semakin dalam. Bau pesing mendadak menguar dari rok seragam pelayan itu. Ia mengompol saking takutnya. "Saya cuma disuruh, Nyonya... beneran deh. Saya butuh uang cepat buat nebus utang judi bapak saya di kampung..."

Alasan klise. Teks template drama kacung bayaran. Maureen sangat muak mendengarnya.

Di dunia bawah tanah pembunuh bayaran, air mata tidak pernah membatalkan kontrak eksekusi. Dan bagi seorang ibu yang darah dagingnya baru saja diancam racun mematikan, belas kasihan adalah konsep asing yang sudah punah digerus zaman.

Ancaman racun di dalam botol susu ini adalah pelanggaran teritori paling fatal. Sangkar emas Adrianus Halim rupanya sama sekali tidak memiliki lapisan keamanan yang layak untuk dibanggakan.

Tangan kiri Sabrina turun kasar menyapu permukaan meja granit. Memutus semua negosiasi picisan.

Napas pelayan itu terengah, matanya membelalak ngeri menatap wajah tanpa ekspresi di depannya.

Cengkeraman lima jari Sabrina di rahang bawah Marni mengunci layaknya tang baja. Ujung kuku-kukunya yang pucat menembus lapisan kulit pipi gadis itu.

Genangan susu bercampur bubuk Lorazepam mendesis pelan di atas ubin marmer hitam, menciptakan bau kimia menyengat yang mengotori udara dapur.

Bilah pisau steak bergagang perak menempel presisi di atas urat nadi leher Marni. Logam dingin itu membelah lapisan epidermis. Setitik darah merah sebesar biji jagung merembes keluar.

"Berapa?" desis Sabrina. Suaranya serendah dengungan kompresor kulkas, namun auranya mematikan. "Berapa Kania menghargai nyawa anakku?"

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!