NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Hari pernikahan pun tiba. Dara awalnya ingin menolak, namun melihat sorot mata memohon ayahnya, dia jadi tidak tega. Apalagi jika nanti harus melihat ayahnya itu mendekam di penjara. Dalam pikirnya, ayahnya mempunyai hutang banyak juga untuk dia selaku putri kandungnya.

Erina selaku ibu kandung Dara pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya seorang ibu rumah tangga biasa setelah dulu pernah berkarir sebagai pekerja kantoran namun memilih untuk berhenti bekerja dan fokus merawat Dara.

Jika Aldi sampai di penjara, lalu siapa yang akan menjamin hidupnya dan Dara?

Erina dan ART yang bekerja di rumahnya sudah sibuk sejak pagi untuk menyambut kedatangan keluarga calon besannya. Meski hanya acara akad nikah saja, tapi Erina tetap ingin menjamu keluarga pihak calon mempelai pria dengan baik. Tujuannya hanya satu, dia ingin Dara nantinya diperlakukan dengan baik oleh keluarga barunya.

Setelah dirasa semuanya siap dan tidak ada kekurangan apapun, Erina gegas pergi ke kamar Dara. Putrinya itu tengah dirias di dalam kamarnya.

“Anda sangat cantik, Nona. Akan lebih baik jika Anda memakai softlens saja,” ucap salah satu MUA yang merias Dara. MUA pun didatangkan langsung oleh Oma Atira.

Dara menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya terlihat sendu, tidak seperti calon pengantin kebanyakan yang akan terlihat senang.

"Tidak perlu. Aku ingin tetap memakai kacamata saja," putus Dara tidak ingin dibantah.

Erina yang mendengarnya pun hanya mampu menghela napas pasrah. Dulu, Dara penampilannya tidak seperti itu. Entah apa yang mendasari putrinya itu untuk merubah penampilannya.

**

Keluarga calon mempelai pria akhirnya tiba. Meski hanya empat orang saja, yakni Rafa, Oma Atira, Suster Tiara dan juga Romi selaku asisten dan sekretaris Oma Atira sendiri.

Aldi menyambut hangat kedatangan mereka. Ini adalah kali pertama dia bertemu dengan calon menantunya. Setelah mengabarkan kalau Dara setuju, Oma Atira ingin pernikahan cucunya dan Dara dilaksanakan dengan segera. Tidak ada kata tunangan atau pertemuan terlebih dahulu, bahkan Oma Atira yang mengatur semuanya.

Rafa melangkah masuk ke dalam rumah calon istrinya dengan langkah yang berat. Tidak ada raut wajah bahagia sebagaimana pasangan calon pengantin pada umumnya. Raut wajahnya datar, dingin bahkan kepada calon ayah mertuanya sekalipun.

Dia sudah mengetahui perihal alasan sang oma yang memintanya untuk menikah dengan gadis yang sama sekali tidak dia kenali. Baginya, gadis itu hanyalah sebuah alat untuk membayar hutang keluarganya. Sedangkan dia menyetujui pernikahan ini demi memenuhi keinginan sang oma.

Selang beberapa saat, Dara terlihat menuruni tangga sambil diapit oleh sang ibu yang berdiri di sampingnya. Oma Atira tersenyum lebar saat melihat kedatangan Dara. Berbeda dengan Rafa yang masih tetap setia menampilkan wajah datarnya.

Rafa yang sudah menunggu di kursi, melihat penampilan gadis yang akan menjadi istrinya dari atas ke bawah. Dia tidak bisa menahan rasa jijik yang melanda hatinya. Meski gadis itu sudah dirias sedemikian rupa, tetap saja di mata Rafa, calon istrinya terlihat biasa-biasa saja.

“Cantik dari mananya?” batin Rafa. “Aku yakin, gadis ini pasti sudah melakukan sesuatu sampai Oma memilih dirinya. Bukan karena perkara hutang semata.” Rafa masih bicara dalam hatinya.

Dara sendiri jelas merasa kaget saat melihat Oma Atira. Dia tentu masih ingat betul dengan wajah wanita paruh baya yang sudah dia tolong di taman waktu itu. Dara jadi bertanya-tanya, mungkinkah ini hanya kebetulan semata?

“Bisa kita langsung mulai saja?” tanya Oma Atira. Kelihatan sekali kalau dia sudah tidak sabar menjadikan Dara sebagai cucu menantunya.

“Maafkan aku, Khay. Aku terpaksa melakukan semua ini,” batin Rafa saat sudah berjabat tangan dengan Pak Ustadz. Dia merasa seperti sudah mengkhianati Khaylila, kekasihnya yang sudah meninggal lima tahun yang lalu.

Sedangkan Dara sejak tadi hanya menunduk. Dia sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak pecah. Dalam beberapa menit ke depan, statusnya sudah berubah menjadi istri dari pria yang sama sekali tidak dia kenali. Sejak tadi, Dara bahkan tidak berniat untuk melihat wajah pria yang akan menjadi suaminya itu seperti apa.

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“Sah!”

Luruh juga air mata yang sejak tadi Dara tahan. Mulai detik ini, kehidupannya akan berubah, begitu juga dengan statusnya.

Dara menurut saat Pak Ustadz menyuruhnya untuk mencium punggung tangan pria yang sudah sah menjadi suaminya. Sejak tadi dia hanya menunduk, masih tidak ingin melihat wajah suaminya.

“Apa-apaan ini? Mengapa dia seolah tidak ingin melihat wajahku? Yang benar saja,” batin Rafa agak kesal.

Rafa pikir, harusnya dia yang tidak sudi melihat wajah Dara. Gadis itu tidak ada cantik-cantiknya sama sekali. Sedangkan dia? Wajahnya tentu tampan. Banyak wanita yang ingin mendekatinya. Kalau Dara, pasti tidak ada pria yang mencoba mendekati gadis itu.

“Lihatlah wajah itu. Dia seolah-olah ingin menunjukkan kalau dia adalah orang yang paling menderita atas pernikahan ini. Cih, playing victim sekali. Paling juga dia dan orang tuanya sudah ikut merencanakan semua ini.” Rafa terus saja berpikiran negatif tentang sosok istri kecilnya itu.

Erina dan Aldi sama-sama mengucapkan kata maaf kepada Dara saat putrinya itu tengah sungkem pada mereka. Orang tua mana yang tidak sakit hatinya kala harus menyerahkan putri mereka demi melunasi hutang.

Tapi, baik Aldi atau pun Erina yakin. Dara akan diperlakukan dengan baik oleh keluarga suaminya kelak. Bisa dilihat dari tatapan Oma Atira yang terus memperhatikan Dara dengan lekat.

Bahkan wajah Oma Atira terlihat bahagia sekali saat melihat Dara.

Meski mereka tidak menemukan tatapan bahagia itu dari Rafa yang menjadi menantunya, tapi lambat laun pasti akan berubah. Keduanya hanya membutuhkan waktu, karena memang keduanya sama-sama menikah karena terpaksa.

“Selamat datang di keluarga Widiantoro, Sayang.” Oma Atira memeluk tubuh Dara dengan erat dan penuh sayang. Bahkan mengusap punggung cucu menantunya itu dengan lembut.

Oma Atira mengurai pelukannya. Membingkai wajah cantik Dara yang terlihat sembab karena terus menangis. Tahu betul kalau itu bukan tangis bahagia. Tapi biarlah, Oma Atira ingin egois sekarang. Menjadikan Dara sebagai anggota keluarganya.

“Dia mirip sekali denganmu,” batin Oma Atira.

Saat semuanya sudah selesai menikmati jamuan yang disediakan, Rafa pun akhirnya mengutarakan keinginannya.

“Saya ingin membawa Dara untuk tinggal di rumah kami mulai hari ini juga,” ucap Rafa yang tentunya sangat mengejutkan Erina, Aldi dan juga Dara. Pasalnya tidak ada pembicaraan mengenai hal ini sebelumnya.

Orang tua Dara pikir, mereka masih mempunyai waktu untuk menghabiskan waktu bersama Dara.

Baik Aldi maupun Erina hanya mampu mengangguk setuju. Dara, putri mereka satu-satunya kini sudah menikah dan sudah menjadi hak serta tanggung jawab Rafa.

“Tapi, Bu….”

“Ikutlah kemana pun suamimu pergi, Sayang. Kamu sudah menjadi tanggung jawabnya sekarang,” ucap Erina dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca.

Dara menggeleng, dia sungguh tidak ingin ikut dengan suaminya. Rafa memang tampan, tapi bisa Dara lihat kalau pria itu begitu jutek dan dingin. Hingga sebuah rangkulan di bahunya membuat dia terkesiap.

“Ayo, Sayang.” Oma Atira mengajak Dara dengan suara lembutnya.

**

Dara memandang rumah yang baru dia tinggali beberapa hari itu sambil terisak pelan. Dia sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan sendiri oleh Rafa.

Rafa yang melihat Dara menangis pun tentu saja sebal. Dia tidak suka gadis cengeng. Dan mendengar tangisan Dara, sungguh membuatnya merasa terganggu.

“Bisakah kamu berhenti menangis?” ucap Rafa dengan nada dinginnya.

“Maaf,” sahut Dara dengan suara lirih.

Mobil yang dikemudikan oleh Rafa mulai memasuki halaman rumah yang luas. Rafa langsung keluar tanpa mengatakan apa pun kepada Dara.

Ragu, Dara pun akhirnya membuka pintu mobil dan saat keluar, Oma Atira langsung menyambutnya dengan hangat.

“Maafkan Rafa kalau sifatnya seperti itu. Dia sebenarnya baik,” ucap Oma Atira.

“Emm… boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Dara agak ragu.

“Tentu saja boleh. Kamu ingin bertanya apa?”

“Berapa jumlah hutang ayahku?”

Oma Atira menghela napas pelan. Dia lalu mengajak Dara untuk masuk terlebih dahulu.

Dara menurut, dia memindai isi rumah yang tentunya jauh lebih mewah dari pada rumahnya. Tidak ada Rafa di sana, Dara tidak tahu suaminya itu kemana. Dara juga tidak peduli.

Dara duduk di sofa bersama Oma Atira. Suster Tiara dan Riko yang sejak tadi setia mengikuti pun langsung undur diri. Paham kalau Nyonya mereka membutuhkan privasi.

“Mengapa kamu ingin tahu jumlah hutang ayahmu?” tanya Oma Atira.

Dara menunduk sambil meremas jari tangannya sendiri. “Setelah lulus sekolah nanti, aku akan bekerja dan akan membayar semua hutang ayah,” jawab Dara.

Oma Atira menghembuskan napas berat seketika. “Dengar, Sayang. Sejak bertemu denganmu di taman waktu itu, Oma sudah sangat menyukaimu. Kebetulan saja ternyata kamu adalah putri dari Aldi. Orang yang selama ini Oma cari karena hutangnya yang banyak kepada Oma.”

“Tapi… mengapa harus aku yang Oma pilih untuk menjadi istri cucu Oma?”

Pertanyaan paling penting yang sejak beberapa hari ini Dara pendam akhirnya dia utarakan juga. Mengapa harus dia? Apalagi Dara lihat, Rafa wajahnya tampan. Tentu tidak akan sulit untuk mendapatkan wanita mana pun.

Dan lagi, sepertinya Rafa pun terpaksa menikah dengannya. Lalu, apa alasan pria itu setuju dijodohkan dengannya? Dara terus menduga-duga. Jangan-jangan disini dia hanya dijadikan alat untuk menutupi cacat yang dimiliki Rafa.

“Karena Oma yakin, kamu bisa membantu Rafa berubah menjadi pribadinya yang dulu,” jawab Oma Atira.

“Maksudnya?” tanya Dara bingung.

Oma Atira mengulas senyum hangat. “Nanti kamu juga akan tahu sendiri.”

Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin Dara ajukan. Tapi rasanya dia terlalu lelah untuk sekedar mengeluarkan sepatah kata saja. Bukan lelah fisiknya, tapi hatinya. Mau bagaimana pun, dia sudah dijual untuk membayar hutang ayahnya. Dara seakan tidak memiliki hak untuk mencari tahu lebih banyak. Untuk apa? bukankah semua itu hanya akan sia-sia belaka?

**

Dara diantar oleh salah satu ART di sana untuk menuju kamarnya. Tadi dia sudah merasa takut, takut kalau dia akan tidur satu kamar dengan Rafa. Tapi ternyata tidak. Oma Atira memberitahunya kalau dia dan Rafa akan pisah kamar, setidaknya sampai Dara lulus sekolah nanti.

“Ini kamarnya, Nona. Kalau kamar Tuan Rafa ada di depan.” Bi Inem menunjuk ke pintu kamar yang berada tepat di depan kamar Dara.

Di kamarnya, Rafa tengah duduk di tepi ranjang sambil menatap sebuah foto yang dia pegang. Foto dirinya dengan seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Khaylila.

Ada kesedihan serta amarah yang mengkilat dari sorot matanya. Dia sedih karena merasa sudah mengkhianati Khaylila. Tapi dia juga marah, marah yang tentunya dia tujukan untuk Dara, istri kecilnya.

Rafa menghembuskan napas berat dan menyimpan foto tersebut di atas ranjang. Dia menyugarkan rambutnya dengan kasar lalu memutuskan untuk keluar dari kamarnya.

Sudah diberitahu sebelumnya kalau kamar Dara akan berada tepat di depan kamarnya. Rafa langsung mengetuk pintu kamar Dara. Ada sesuatu yang harus dia bicarakan dengan istrinya itu.

Dara yang tengah membereskan pakaiannya pun menoleh ke arah pintu yang diketuk dari luar. Dia menutup lemari dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Kaget karena yang berdiri di depannya ternyata Rafa, suaminya.

“Saya ingin bicara sama kamu. Ikut saya!” titah Rafa lalu berjalan lebih dulu.

Dara menghembuskan napas lega seketika. Tadi dia sempat mengira hal yang iya-iya. Sambil mengikuti Rafa, dia memukuli kepalanya dengan pelan, merutuki pikirannya sendiri.

Terlalu larut dalam lamunannya sendiri, Dara sampai tidak tahu kalau Rafa sudah berhenti. “Aww!” Dara memekik pelan dan mengusap hidungnya yang membentur punggung Rafa.

“Maaf,” ucap Dara. Dalam hati, Dara heran. Suaminya manusia atau robot? Mengapa punggungnya keras sekali?

“Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui dari pernikahan kita,” ucap Rafa memulai pembicaraan mereka.

“Yang pertama, jangan berharap lebih mengenai pernikahan ini. Saya terpaksa menikah dengan kamu, begitu pun kamu,”

“Yang kedua, jangan pernah saling mengusik kehidupan pribadi masing-masing. Meski di sini status kamu adalah istri saya, tapi kamu tidak memiliki hak apapun terhadap saya. Begitu juga dengan saya, tidak akan peduli dan ikut campur terhadap hal-hal pribadi yang menyangkut kamu,”

“Yang ketiga, jangan sampai berita pernikahan kita tersebar. Cukup keluarga saya dan keluarga kamu yang tahu. Itu pun hanya ayah dan ibu kamu,”

“Yang keempat, jangan pernah mengharap nafkah dari saya. Anggap saja itu sebagai bayaran atas hutang ayah kamu. Masa depan saya hancur gara-gara harus menikah dengan kamu. Dan status pernikahan ini, rasanya tidak cukup untuk membayar semua hutang ayah kamu itu.”

Dara yang sejak tadi diam sontak kesal mendengar ucapan terakhir Rafa. Kedua tangannya mengepal, dia mendongakkan kepalanya, menatap penuh berani pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu.

“Dengar ya, Om.”

“A-apa? Om?” Rafa kaget mendengar panggilan Dara untuknya.

“Dari point pertama sampai ketiga, saya setuju. Namun, saat Om ngucapin poin keempat, saya kurang setuju. Bukan karena ingin mengharapkan nafkah dari Om. Tapi karena ucapan Om yang bilang kalau masa depan Om hancur gara-gara pernikahan ini,” ucap Dara dengan dada terlihat bergerak naik turun. Menahan emosi yang rasanya sudah ingin meluap-luap.

“Om pikir, saya setuju dengan pernikahan ini karena saya ingin? Saya bahagia? Tentu saja tidak. Masa depan saya juga hancur! Om sudah tua, sudah cocok untuk menikah. Berbeda dengan saya yang usianya masih belasan tahun!”

“Kamu—”

“Om jangan jadi orang yang paling merasa tersiksa dari pernikahan ini. Saya pun sama!” sentak Dara tidak memberikan kesempatan untuk Rafa menyela ucapannya. Gadis itu berbalik dan pergi sambil menghentakkan kakinya kesal.

Rafa yang masih shock dengan perilaku Dara masih diam mematung di tempatnya. Sesaat kemudian dia terkekeh pelan. “Bocah itu,” geram Rafa. Sudah berani memanggilnya dengan sebutan Om, Dara juga menyebutnya tua tadi.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!