NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Pengembara

Pendekar Naga Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.

Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.

Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.

Mampukah sang legenda menggapai impiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Seruling

Malam di hamparan rumput luas itu tidak lagi mencekam setelah badai energi kultivasi Tian Shan mereda.

Sebaliknya, sisa-sisa esensi Kristal Inti Bumi Purba yang meluap ke tanah justru menjadi katalis bagi kehidupan spiritual di sekitarnya.

Rumput-rumput yang sempat rata kini berdiri tegak kembali, memancarkan pendar hijau redup, sementara bunga-bunga liar mekar secara instan, menebarkan aroma harum yang menenangkan jiwa.

​Tian Shan tetap duduk bersila di puncak bukit kecil itu. Namun, ia tidak lagi bermeditasi dalam diam yang kaku.

Matanya yang kini memiliki lingkaran emas tipis menatap lembut ke arah lembah di bawahnya.

​Satu per satu, Roh Alam mulai muncul. Mereka menyerupai bola-bola cahaya kecil yang melayang rendah, menari-nari di atas pucuk rumput.

Di kejauhan, seekor Rusa Tanduk Kristal melangkah keluar dari bayang-bayang pohon, diikuti oleh sekawanan burung dengan bulu berwarna pelangi yang memancarkan cahaya redup saat mengepakkan sayap.

Hewan-hewan spiritual ini, yang biasanya sangat waspada terhadap manusia, kini justru mendekat.

Mereka merasakan keseimbangan yang luar biasa dari diri Tian Shan—seolah-olah pemuda berambut putih itu adalah bagian dari bumi itu sendiri.

​Tian Shan mengulurkan tangannya ke samping. Di sela-sela retakan batu yang tercipta akibat ledakan energinya tadi, tumbuh sebatang bambu hijau giok yang kecil namun sangat kokoh.

Bambu itu telah menyerap sisa-sisi energi murni dari kristal purba, menjadikannya bahan spiritual yang luar biasa.

​Dengan gerakan jari yang halus, Tian Shan mematahkan batang bambu tersebut.

Ia tidak menggunakan belati; ujung jarinya yang kini sekeras logam perak bergerak dengan presisi yang menakutkan.

Ia melubangi bambu itu satu per satu, membentuk tujuh lubang nada yang sempurna.

Setiap gesekan jarinya pada bambu menghasilkan percikan cahaya kecil, menyegel sedikit dari energi buminya ke dalam instrumen baru tersebut.

​Setelah beberapa saat, sebuah seruling sederhana namun elegan telah berada di tangannya. Warnanya hijau tua transparan, berkilau di bawah cahaya rembulan.

​Tian Shan mengangkat seruling itu ke bibirnya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang sejuk memenuhi paru-parunya yang kini jauh lebih kuat. Saat nada pertama keluar, waktu seolah-olah berhenti berputar.

​Suara seruling itu jernih, mengalir seperti air sungai yang melintasi bebatuan pegunungan.

​Melodi yang ia mainkan tidak mengandung niat membunuh atau teknik bela diri.

Itu adalah lagu tanpa nama—sebuah ekspresi dari rasa syukur atas kedamaian yang ia temukan sejenak, namun juga membawa beban kesendirian yang mendalam.

Nada-nadanya naik dan turun dengan lembut, menggema ke seluruh hamparan rumput, membelai setiap helai daun dan menyentuh hati setiap makhluk yang mendengarnya.

​Roh-roh alam berbentuk bola cahaya itu mulai berkumpul di sekeliling Tian Shan, berputar-putar mengikuti irama musiknya.

Rusa Tanduk Kristal itu mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah, lalu merebahkan tubuhnya di atas rumput, seolah-olah terhipnotis oleh kedamaian yang ditawarkan.

Burung-burung pelangi hinggap di bahu dan di atas kepala Tian Shan, menutup mata mereka dan ikut menikmati harmoni tersebut.

​Tian Shan terus meniup serulingnya. Dalam alunan musik itu, ia seolah-olah sedang berbicara dengan alam.

Ia menceritakan tentang langit yang tinggi, tentang tanah yang sabar menanggung segala beban, dan tentang perjalanan panjang yang masih harus ia tempuh.

​Malam semakin larut, namun suasana di bukit itu justru semakin hidup oleh cahaya spiritual. Tian Shan menutup matanya, membiarkan tubuhnya menjadi saluran bagi musik tersebut.

Ia tidak lagi merasa sebagai orang asing di dunia ini. Untuk beberapa jam yang berharga, ia merasa benar-benar menyatu dengan harmoni semesta.

​Setiap nada yang ia tiupkan membawa pergi sedikit rasa lelah di jiwanya.

Meskipun ia tahu bahwa esok ia harus kembali memanggul pedang dan menghadapi kekacauan dunia, malam ini ia hanya ingin menjadi seorang pemusik di tengah hamparan rumput yang indah.

​Angin malam bertiup lebih kencang, membawa melodi seruling itu jauh ke luar lembah, melintasi hutan dan sungai, seolah-olah memberi tahu dunia bahwa di puncak bukit ini, seorang pendekar telah menemukan keseimbangan sejatinya.

Hewan-hewan spiritual itu tetap diam, tidak ada satu pun yang beranjak, seolah-olah mereka takut jika mereka bergerak, momen keajaiban ini akan pecah dan menghilang.

​Tian Shan mengakhiri melodinya dengan satu nada panjang yang perlahan menghilang ditelan angin.

Ia menurunkan serulingnya, menatap hewan-hewan dan roh alam di sekelilingnya dengan senyum tipis yang tulus.

​"Terima kasih telah menemaniku malam ini," bisiknya pelan.

​Dunia tetap sunyi, namun di hati Tian Shan, kekuatan baru telah tumbuh—bukan kekuatan dari kultivasi fisik, melainkan ketenangan batin yang akan menjadi senjatanya yang paling mematikan di masa depan.

​Fajar menyingsing dengan warna keemasan yang menyapu sisa-sama embun di hamparan rumput.

Tian Shan berdiri, merapikan jubahnya yang kini tampak lebih bersih berkat pemurnian energi semalam.

Hewan-hewan spiritual yang menemaninya telah kembali ke habitat mereka, meninggalkan jejak-jejak cahaya yang perlahan memudar.

Seruling bambu giok yang ia buat terselip rapi di pinggangnya, berdampingan dengan kecapi perunggu di punggungnya.

​Ia mulai melangkah meninggalkan bukit tersebut. Setiap pijakannya kini terasa lebih menyatu dengan bumi, ia tidak lagi sekadar berjalan di atas tanah, melainkan seolah-olah tanah itu sendiri yang mendorongnya maju. Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama.

​Saat ia mencapai sebuah persimpangan jalan setapak yang diapit oleh tebing batu kapur, indera tajamnya menangkap bau amis darah yang bercampur dengan hawa dingin yang menusuk tulang.

​Di balik belokan tebing, seorang pria muda—mungkin beberapa tahun lebih muda dari fisik Tian Shan saat ini—tergeletak bersandar pada dinding batu.

Pakaian birunya yang semula mewah kini koyak-koyak, menampakkan luka sayatan yang dalam di bahu dan dadanya.

Wajahnya pucat pasi, namun yang paling mengerikan adalah uap dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya, membekukan rumput di sekitarnya.

​"Jangan ... jangan mendekat ..." bisik pemuda itu, suaranya parau dan bergetar hebat. Tangannya mencengkeram sebuah kotak kayu kecil dengan sangat erat, seolah kotak itu lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

​Tian Shan berhenti beberapa langkah di depannya. Matanya menyipit, memperhatikan aliran Qi yang kacau di dalam tubuh pemuda itu.

​"Racun Es Seribu Tahun," gumam Tian Shan datar. "Jika kau terus mengerahkan tenaga dalammu untuk menahannya, jantungmu akan membeku dalam waktu kurang dari satu jam."

​Pemuda itu terkesiap, matanya yang mulai meredup menatap Tian Shan dengan sisa-sisa kewaspadaan. "Siapa ... kau? Bagaimana kau tahu ..."

​Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara tawa yang kasar menggema dari arah jalan yang baru saja dilalui Tian Shan.

Lima orang pria dengan seragam zirah hitam muncul, masing-masing membawa pedang lebar yang memancarkan aura haus darah.

Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka di mata kirinya, melangkah maju dengan angkuh.

​"Akhirnya kau berhenti lari, Han Shao," ucap pria kekar itu, mengabaikan kehadiran Tian Shan. "Serahkan Inti Es Surgawi itu, dan aku berjanji akan memberikanmu kematian yang cepat. Jika tidak, aku akan memastikan racun itu menyiksa setiap inci jiwamu sebelum kau mati."

​Han Shao, pemuda yang terluka itu, mencoba berdiri namun terjatuh kembali. "Sekte Pedang Hitam ... kalian tidak akan pernah mendapatkan harta leluhur keluargaku. Lebih baik aku mati daripada memberikannya pada bajingan seperti kalian!"

​Pria kekar itu mendengus sinis, lalu pandangannya beralih ke arah Tian Shan yang berdiri tenang di tengah jalan. "Dan kau, pemuda berambut putih ... ini bukan urusanmu. Pergi sekarang jika kau masih ingin melihat matahari besok, atau kau akan ikut terkubur bersama sampah ini."

​Tian Shan tidak bergeming. Ia mengeluarkan seruling bambu gioknya, memutarnya pelan di antara jari-jarinya. "Aku sedang menikmati pagi yang tenang sampai kalian datang membawa kebisingan dan bau darah yang mengganggu."

​"Cari mati!" teriak salah satu anak buah pria kekar itu. Ia melesat maju, mengayunkan pedang lebarnya dengan kekuatan yang mampu membelah batu.

​KLANG!

​Tanpa menghunus pedang atau menggerakkan tangannya secara drastis, Tian Shan hanya menghentakkan kaki kanannya ke tanah.

​BUM!

​Sebuah pilar tanah setebal lengan manusia mencuat dari bawah kaki penyerang tersebut, menghantam perutnya dengan kecepatan kilat. Pria itu terpental ke belakang, menabrak dinding tebing hingga pingsan seketika.

​Suasana mendadak menjadi sangat dingin, namun kali ini bukan karena racun es Han Shao, melainkan karena aura yang memancar dari tubuh Tian Shan.

​"Ranah Pendekar Bumi?" Pria kekar itu membelalakkan mata, menyadari bahwa ia baru saja memprovokasi seseorang yang jauh di atas levelnya. "Tunggu, Tuan! Kami dari Sekte Pedang Hitam, kami hanya menjalankan tugas—"

​"Aku tidak peduli dengan namamu atau sektemu," potong Tian Shan dingin. "Pemuda ini memiliki masalah yang menarik perhatianku. Dan kalian ... kalian hanyalah debu yang menghalangi pandanganku."

​Tian Shan mengangkat serulingnya ke bibir. Ia tidak memainkan lagu kedamaian kali ini. Ia meniupkan satu nada yang tajam dan pendek.

​WUUUUUUSH!

​Gelombang suara yang diperkuat oleh elemen tanah meledak keluar.

Tanah di bawah kaki keempat pengepung lainnya mendadak berubah menjadi cair, menghisap kaki mereka hingga ke lutut dalam sekejap.

Sebelum mereka sempat bereaksi, tanah itu kembali mengeras menjadi sekeras baja, mengunci mereka di tempat.

​"A-apa ini?!" teriak sang pemimpin, mencoba menarik kakinya dengan sia-sia.

​Tian Shan berjalan melewati mereka menuju Han Shao yang menatapnya dengan mulut ternganga.

Ia berjongkok di depan pemuda yang sekarat itu, lalu meletakkan telapak tangannya di atas dahi Han Shao.

​"Masalahmu besar, Han Shao. Bukan hanya karena mereka," ucap Tian Shan sembari mulai mengalirkan energi buminya yang hangat dan padat ke dalam tubuh pemuda itu untuk menekan racun es. "Tapi karena kau menyimpan sesuatu yang kau sendiri tidak cukup kuat untuk menjaganya."

​Wajah Han Shao perlahan mulai mendapatkan warnanya kembali saat hawa hangat dari Tian Shan mencairkan es di dalam meridiannya. Air mata menetes di pipinya yang kotor.

​"Tolong ... Tuan ... bantu aku membawa ini ke Kota Awan Biru," bisik Han Shao dengan nada memohon yang menyayat hati. "Ibuku ... dia membutuhkannya untuk bertahan hidup. Aku tidak peduli dengan nyawaku, tapi tolong selamatkan dia."

​Tian Shan menatap mata pemuda itu. Ia melihat bayangan ketulusan yang murni, sesuatu yang jarang ia temukan di dunia yang penuh dengan tipu daya ini.

Pikirannya melayang sejenak pada gurunya, Xinjiang—seorang pria yang juga rela mengorbankan segalanya demi orang lain.

​"Aku tidak akan membawakan barang itu untukmu," jawab Tian Shan, membuat harapan Han Shao sempat anjlok. "Tapi aku akan membantumu berdiri dan memastikan kau sendiri yang menyerahkannya pada ibumu. Itu jauh lebih bermakna, bukan?"

​Tian Shan berdiri, lalu menoleh ke arah para pengepung yang masih terjebak di tanah. Dengan satu jentikan jari, tekanan gravitasi di sekitar mereka meningkat, membuat mereka pingsan karena tekanan mental yang luar biasa.

​"Bangunlah," perintah Tian Shan pada Han Shao. "Perjalanan kita masih jauh, dan aku ingin melihat apakah kau layak mendapatkan bantuan dari seseorang sepertiku."

1
Aisyah Suyuti
bagus
Nanik S
NEXT 💪💪💪
Nanik S
Shiiiiip
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Mengenang mas lalu Lewat Kua
✞👁️👁️✞
lanjit thor💪
Nanik S
Satu satunya orang yang tidak dibunuh oleh Tian Shan di Alam Abadi
✞👁️👁️✞
/Pray/
✞👁️👁️✞
pecahan jiwa
✞👁️👁️✞
lanjut💪
Nanik S
cuuuuuuust👍👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor🙏🙏
Nanik S
Bai Yaoju bukankah dulu kekasih Tian Shan dimasa lalu sebelum rekarnasi
Kenaya: Iya/Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
pendekar tersantuy tian shen🔥
Kenaya: /Ok//Pray//Pray//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
apa trio Tian akan berkelana bersama?
✞👁️👁️✞
🔥🔥
✞👁️👁️✞
mantap
lanjut thor💪
✞👁️👁️✞
🐬🐬semangat
✞👁️👁️✞
tian shan!! kau pergi tanpa berpamitan😁
Kenaya: ketemu lagi kok nanti/Grievance//Pray/
total 1 replies
✞👁️👁️✞
kontrak darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!