NovelToon NovelToon
MISTERI DESA GETIH

MISTERI DESA GETIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.

Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?

Ikuti kisah selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi Mangga

Alawiyah mengecup kening suaminya dengan cukup lembut.

Ia mengingat, di halaman depan, pohon mangga mertuanya sedang berbuah.

Rasa ingin makan buah mangga muda begitu kuat, dan ia beranjak meninggalkan suaminya.

"Sudah mau dekat lahiran, tetapi kenapa malah pengen makan mangga muda—ya?" gumamnya. Ia menuju halaman depan, dan mencari kayu sebagai galah.

Menurut bibinya, jangan mengambil buah pakai bambu, nanti mudah busuk dan berulat. Entah mitos atau fakta, hanya Tuhan yang tau

Alawiyah sudah tiba di halaman depan rumah. Disana Ratih menanam berbagai jenis sayuran menggunakan polybek.

Ada sawi, kangkung dan juga brokoli. Sedangkan dibagian bekalang ada sayuran merambat seperti kacang panjang, paria, dan juga mentimun. Dari pertanian ini, Ratih dapat bertahan hidup.

Alawiyah mengambil batang sapu. Sembari memegangi perut bagian buahnya, ia mencoba mengambil buah mangga dengan jarak yang paling rendah.

"Huh, huh!" ia mencoba menggapainya, tetapi tak juga mendapatkan sebiji pun.

"Aduh, susah banget—sih?" keluhnya, sembari terus menjulurkan batang sapu untuk menggapai mangga.

Setiap kali ia mengangkat batang sapu, perutnya terasa ngilu, dan nafasnya cukup berat.

Saat bersamaan, seorang wanita bernama Sarinah yang datang dari arah ujung jalan menghampirinya.

"Wah, mantunya Mbak Ratih mau ambil mangga, ya." sapanya dengan sangat ramah. Ia sangat berbeda dengan tetangga yang lain, sebab memiliki sambutan yang hangat.

Sarinah terlihat sedang mengamati Alawiyah dengan tatapan yang sangat dalam—tepat di bagain perutnya.

Alawiyah hanya mengulas senyum yang sangat tipis, berusaha untuk ramah, meskipun hatinya merasa takut.

Tatapan Sarinah membuat bergidik ngeri.

"Sepertinya warga yang ada disini terlalu memperhatikanku," gumam Alawiyah dalam hati, dengan degupan jantungnya yang berdegup lebih kencang.

"Mbak Ratih kemana?" Sarinah mencoba mencairkan suasana, lalu berjalan menghampirinya.

"Sedang dikamar, Bik. Mungkin sedang istirahat," sahut Alawiyah.

"Sini, saya ambilkan mangganya," wanita itu mengambil batang sapu yang dipegang oleh Alawiyah, lalu dengan cekatan, ia memukul beberapa buah mangga muda.

Tak

Tak

Tak

Lima buah mangga muda jatuh ke tanah. Sarinah memungutnya, dan beberapa saat ia menatap dengan diam, mengamati buah mangga tersebut, lalu memberikannya pada Alawiyah.

"Nah, jangan lupa dimakan, nanti calon bayinya kepunan, susah lahir," pesan Sarinah.

Alawiyah mengambilnya lalu, dan jujur saja, ia sangat tak sabar ingin memakannya.

"Terimakasih, Bik." Alwiyah masih mencoba bersikap ramah, menjaga tutur kat dan sikapnya.

"Ya, sudah, nanti saya balik lagi, soalnya mau beli kacang panjang." ucap Sarinah, sembari berbalik arah.

Akan tetapi, ia berhenti sejenak, lalu kembali memutar tubuhnya. "Si Bayu kemana?" tanyanya dengan rasa penasaran.

Alawiyah tersentak kaget dan merasa gugup untuk menjawabnya.

Hatinya seperti merasa takut. Setiap pertanyaan dari para warga sekitarnya, membuat ia merasa tak nyaman.

"Lagi istirahat, sementara ini ada di kamar," sahut Alawiyah dengan gamblang. Tetapi masih dengan sikap tetap waspada.

"Oh, pantes saja, tidak ada di diruang tengah." wanita itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang sulit ditebak.

"Iya, biar lebih nyaman saja," jawab Alawiyah, singkat.

Sarinah masih berdiri tegak dibawah pohon mangga, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

Menit berikutnya, ia menatap kembali pada Alawiyah.

"Kalau namamu siapa?" pertanyaan itu muncul dari mulutnya, seolah tak dapat di cegah.

Alawiyah masih mengingat dengan pesan ibu mertuanya. Ia harus berbohong dengan namanya.

"Rohana,"

"Nama ayahmu?" wanita tampak tak sabar, menanti jawaban.

Alawiyah berfikir, mencari nama yang tepat untuk menutupi kebohongan berikutnya.

"Tresno, nama bapak saya Tresno," ia mengingat nama tetangga depan yang rumahnya kebakaran.

"Oh, jadi kamu itu bintinya Tresno, ya." Sarinah manggut-manggut.

"Iya, Bik." Alawiyah tersenyum datar sembari menggembol mangga mudanya.

Sarinah berbalik arah, lalu melangkah pergi.

Setelah kepergian wanita, Alawiyah menatap mangga tersebut dengan air liur yang berkumpul dimulutnya.

Ia mengambil pisau cutter yang diletakkannya diteras, lalu mulai mengupasnya, tak lupa ia membaca doa, seperti ada bisikan yang terdengar jelas ditelinganya.

"Na'udzubillahiminnasyaithannirraziim ..." ia mengupas kulit mangga dengan penuh semangat.

Setiap sayatan, daging buahnya dipenuhi ulat, dan tidak ada satupun yang dapat dimakan.

Sedangkan Sarinah sendiri mengintainya dari kejauhan, dengan tatapan yang begitu tajam, seolah memastikan, apakah Alawiyah benar menyantapnya.

"Semoga saja dimakannya," ia berkata penuh harap.

Hingga dimenit berikutnya, Alawiyah sudah mengupas semua mangganya, dan tak ada yang dapat dimakan, semuanya penuh ulat

Alawiyah membuangnya ke tong sampah, dan membuat Sarinah ngedumel kesal dari arah seberang.

"Sialan! Kenapa semuanya dibuang?" ia mengepalkan tinjunya, dan merasa jika rencananya gagal untuk hari ini.

Saat bersamaan, Ratih baru saja keluar dari kamarnya, dan menuju teras rumah.

"Kamu lagi ngapain?" tanyanya pada sang menantu, saat melihat ada banyak kulit mangga di tong sampah.

"Kepingin makan mangga, Mbok. Tapi semuanya busuk," tunjuknya ke arah tong sampah, wajahnya cukup lesu.

"Kok bisa? Mangga ini gak pernah busuk. Kamu ngambilnya pakai apa?"

"Tadi diamblin sama bibi yang rumahnya disana." tunjuk Alawiyah, pada rumah Sarinah yang berada di deretan rumah Ratna, hanya saja dibagian ujung.

Ratih mengikuti arah telunjuk menantunya, dan tanpa sengaja, ia melihat Sarinah yang berdiri disamping pagar, dan sedang memantaunya.

Ia merasakan sesak didadanya. "Dasar gak da otaknya. Bahkan calon cucuku pun tak luput dari target mereka," gumamnya dalm hati.

Dengan hati yang kesal, ia menghampiri pohon mangga, lalu mengambilkannya untuk sang menantu.

"Ini, makan di dalam rumah!" titah Ratih pada anak menantunya.

"Baik, Mbok. Terimakasih." Alawiyah berusaha patuh, lalu membawa tiga buah mangga itu ke dalam rumah.

Saat ia tiba di dapur, dan mengupasnya, semua daging mangga itu sangat bagus, tidak ada busuk sedikitpun.

Wajahnya tampak sumringah, dan merasa senang.

Ditempat lain, Ratna yang bersama dengan Gina dan juga Juminten—sedang terlibat cekcok.

Ratna memasang wajah masam, menatap kedua bestienya. "Aku lebih dulu menargetkan Bayu dan mengikat perjanjian dengan Genderuwo sebagai tumbal." ia mengangkat dagunya, menggambarkan jika ia sangat marah.

Rahangnya tampak mengetat, dan sejatinya ia tak dapat mentolerir tindakan kedua rekannya.

"Mengapa kau marah? Aku juga mengikat perjanjian—jika jiwa kali ini aku menyebut nama Bayu, dan itu tidak dapat lagi diubah," Juminten tak mau kalah.

Dalam hal ini, mereka tidak ada mau yang ditindas, sebab merasa, kasta kekayaan mereka sama.

"Ini tidak bisa! Jika kita terus bersaing dalam mendapatkan jiwa Bayu, itu tandanya kita sedang mempertaruhkan nyawa kita sendiri!" Ratna mengingatkan.

"Apa?!" pekik Juminten dan Gina bersamaan.

"Tentu saja! Karena iblis yang kita puja juga saling memperebutkan, dan pastinya mereka juga saling sikut, lalu jika batas waktu yang ditentukan tak juga berhasil, maka jiwa kita yang akan menjadi gantinya." Ratna menatap satu persatu wajah rekannya, sembari menyebarkan aura ketakutan dan melemahkan mental keduanya.

Juminten dan Gina memucat. Mereka belum siap mati, kekayaan yang mereka nikmati belum cukup puas untuk dinikmati.

"Jadi bagaimana?" Gina akhirnya menyerah. Ia berharap ada jalan yang dapat memyelesaikan permasalahan mereka.

"Sebaiknya, kalian berdua pergi ke pesarean, minta kuncen yang dulu pernah kalian temui, untuk melakukan komunikasi pada iblis yang kalian puja, jika ada pertukaran jiwa," Ratna mulai memprovokasi.

Gina mulai menimbang-nimbang saran dari Ratna, sepertinya ada benarnya, jika ia harus pergi ke pesaraean, untuk melakukan ritual ulang, dan menukar jiwa yang sudah mereka janjikan.

"Siapa yang harus ditargetkan? Agar kita gak sama lagi?" Juminten buka suara. Akhirnya ia mengalah, dan memilih untuk ritual ulang.

Lagipula, siapa yang mau mati dalam usia yanh masih empat puluh lima tahun, terlalu muda baginya.

"Sebaiknya kalian saling terbuka saja. "Gina memilih jiwa Ratih, dan Juminten memilih jiwa Bagas, jadi kalian tidak saling saing," Ratih memberikan solusi.

"Kalau menantunya?" Gina menyela.

1
V3
si Tejo knp nama istri nya gak Surti ja , kak ... knp hrs Intan ❓
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
V3
kasihan bgt si Kunti putih ,, mmg Dia pengangguran toh mpe di bully bgtu sama si Wewe 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
V3
kasihan tuh bocah 2 tahun lg menyusu mbok nya tp mbok nya dh meninggal 🥺🥺
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
V3
aje gile si Tejo ngedemenin si Novita ,, benar apa kata si Wewe .... apa gak takut tuh di buat rendang daging nya 🤣🤣
V3
setan nya knp demen bgt PD ngedumel sndri ,, PD marah-marah ja ,,, mmg tuh setan semuanya PD punya penyakit Darah Tinggi x yaaa 🤣🤣🤣
V3
Menantu dan Mertua sama-sama punya Indera keenam ,, mknya bisa melihat makhluk ghaib
V3
judul nya Besti saling bunuh membunuh 🤣🤣
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏
mifta
setannya gaul tau MBG juga🤣🤣🤣🤣
Mamake Nayla
sma2 hilang arah...apa ga nyasar mereka ber 2🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mifta
bisa jga setan gaul🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
sekarang kau tersenyum2 Jo.. Tejo.. sebentar lagi kau berenang dlm kuah soto pojok kesukaanmu itu 😋😋👻👻👻
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
ati2 sama adikmu mbok Ratih, istrinya aja tega dia tumbalkan, nanti keluargamu selanjutnya 🙈🙈👻👻👻
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ: kalau bisa kirim stiker disini, bisa penuh kolom komen dgn stiker2 aneh😋😋🤣🤣🤣
total 6 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
elaah galak amat we! padahal baru dtp tumbal, kok esmosian 😋😋😋
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ: kebanyakan ngemilin garem dia 😋
total 2 replies
SENJA
hadeeeh mbok ratih, tejo jauh tersesat mbok 😤
SENJA
astaga lakik macam apa 😭
SENJA
wakakaak ibunya sendiri aja jadi kulineran 🤭
SENJA
buseh 😅😅😅
SENJA
wakakaak ga manusia ga setan kalau nganggur di bully 😅
FiaNasa
ntar klau jadian samanobita bisa direndang si Tejo ini
FiaNasa: bukan mesin ketiknya yg udah uzur tp yg ngetik😀
total 5 replies
Ayani Lombokutara
tumben dibab ini gk ada dialog setan laknat 🤣🤣
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: khusus Mellow🤧
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!