Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Mangga
Alawiyah mengecup kening suaminya dengan cukup lembut.
Ia mengingat, di halaman depan, pohon mangga mertuanya sedang berbuah.
Rasa ingin makan buah mangga muda begitu kuat, dan ia beranjak meninggalkan suaminya.
"Sudah mau dekat lahiran, tetapi kenapa malah pengen makan mangga muda—ya?" gumamnya. Ia menuju halaman depan, dan mencari kayu sebagai galah.
Menurut bibinya, jangan mengambil buah pakai bambu, nanti mudah busuk dan berulat. Entah mitos atau fakta, hanya Tuhan yang tau
Alawiyah sudah tiba di halaman depan rumah. Disana Ratih menanam berbagai jenis sayuran menggunakan polybek.
Ada sawi, kangkung dan juga brokoli. Sedangkan dibagian bekalang ada sayuran merambat seperti kacang panjang, paria, dan juga mentimun. Dari pertanian ini, Ratih dapat bertahan hidup.
Alawiyah mengambil batang sapu. Sembari memegangi perut bagian buahnya, ia mencoba mengambil buah mangga dengan jarak yang paling rendah.
"Huh, huh!" ia mencoba menggapainya, tetapi tak juga mendapatkan sebiji pun.
"Aduh, susah banget—sih?" keluhnya, sembari terus menjulurkan batang sapu untuk menggapai mangga.
Setiap kali ia mengangkat batang sapu, perutnya terasa ngilu, dan nafasnya cukup berat.
Saat bersamaan, seorang wanita bernama Sarinah yang datang dari arah ujung jalan menghampirinya.
"Wah, mantunya Mbak Ratih mau ambil mangga, ya." sapanya dengan sangat ramah. Ia sangat berbeda dengan tetangga yang lain, sebab memiliki sambutan yang hangat.
Sarinah terlihat sedang mengamati Alawiyah dengan tatapan yang sangat dalam—tepat di bagain perutnya.
Alawiyah hanya mengulas senyum yang sangat tipis, berusaha untuk ramah, meskipun hatinya merasa takut.
Tatapan Sarinah membuat bergidik ngeri.
"Sepertinya warga yang ada disini terlalu memperhatikanku," gumam Alawiyah dalam hati, dengan degupan jantungnya yang berdegup lebih kencang.
"Mbak Ratih kemana?" Sarinah mencoba mencairkan suasana, lalu berjalan menghampirinya.
"Sedang dikamar, Bik. Mungkin sedang istirahat," sahut Alawiyah.
"Sini, saya ambilkan mangganya," wanita itu mengambil batang sapu yang dipegang oleh Alawiyah, lalu dengan cekatan, ia memukul beberapa buah mangga muda.
Tak
Tak
Tak
Lima buah mangga muda jatuh ke tanah. Sarinah memungutnya, dan beberapa saat ia menatap dengan diam, mengamati buah mangga tersebut, lalu memberikannya pada Alawiyah.
"Nah, jangan lupa dimakan, nanti calon bayinya kepunan, susah lahir," pesan Sarinah.
Alawiyah mengambilnya lalu, dan jujur saja, ia sangat tak sabar ingin memakannya.
"Terimakasih, Bik." Alwiyah masih mencoba bersikap ramah, menjaga tutur kat dan sikapnya.
"Ya, sudah, nanti saya balik lagi, soalnya mau beli kacang panjang." ucap Sarinah, sembari berbalik arah.
Akan tetapi, ia berhenti sejenak, lalu kembali memutar tubuhnya. "Si Bayu kemana?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Alawiyah tersentak kaget dan merasa gugup untuk menjawabnya.
Hatinya seperti merasa takut. Setiap pertanyaan dari para warga sekitarnya, membuat ia merasa tak nyaman.
"Lagi istirahat, sementara ini ada di kamar," sahut Alawiyah dengan gamblang. Tetapi masih dengan sikap tetap waspada.
"Oh, pantes saja, tidak ada di diruang tengah." wanita itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang sulit ditebak.
"Iya, biar lebih nyaman saja," jawab Alawiyah, singkat.
Sarinah masih berdiri tegak dibawah pohon mangga, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.
Menit berikutnya, ia menatap kembali pada Alawiyah.
"Kalau namamu siapa?" pertanyaan itu muncul dari mulutnya, seolah tak dapat di cegah.
Alawiyah masih mengingat dengan pesan ibu mertuanya. Ia harus berbohong dengan namanya.
"Rohana,"
"Nama ayahmu?" wanita tampak tak sabar, menanti jawaban.
Alawiyah berfikir, mencari nama yang tepat untuk menutupi kebohongan berikutnya.
"Tresno, nama bapak saya Tresno," ia mengingat nama tetangga depan yang rumahnya kebakaran.
"Oh, jadi kamu itu bintinya Tresno, ya." Sarinah manggut-manggut.
"Iya, Bik." Alawiyah tersenyum datar sembari menggembol mangga mudanya.
Sarinah berbalik arah, lalu melangkah pergi.
Setelah kepergian wanita, Alawiyah menatap mangga tersebut dengan air liur yang berkumpul dimulutnya.
Ia mengambil pisau cutter yang diletakkannya diteras, lalu mulai mengupasnya, tak lupa ia membaca doa, seperti ada bisikan yang terdengar jelas ditelinganya.
"Na'udzubillahiminnasyaithannirraziim ..." ia mengupas kulit mangga dengan penuh semangat.
Setiap sayatan, daging buahnya dipenuhi ulat, dan tidak ada satupun yang dapat dimakan.
Sedangkan Sarinah sendiri mengintainya dari kejauhan, dengan tatapan yang begitu tajam, seolah memastikan, apakah Alawiyah benar menyantapnya.
"Semoga saja dimakannya," ia berkata penuh harap.
Hingga dimenit berikutnya, Alawiyah sudah mengupas semua mangganya, dan tak ada yang dapat dimakan, semuanya penuh ulat
Alawiyah membuangnya ke tong sampah, dan membuat Sarinah ngedumel kesal dari arah seberang.
"Sialan! Kenapa semuanya dibuang?" ia mengepalkan tinjunya, dan merasa jika rencananya gagal untuk hari ini.
Saat bersamaan, Ratih baru saja keluar dari kamarnya, dan menuju teras rumah.
"Kamu lagi ngapain?" tanyanya pada sang menantu, saat melihat ada banyak kulit mangga di tong sampah.
"Kepingin makan mangga, Mbok. Tapi semuanya busuk," tunjuknya ke arah tong sampah, wajahnya cukup lesu.
"Kok bisa? Mangga ini gak pernah busuk. Kamu ngambilnya pakai apa?"
"Tadi diamblin sama bibi yang rumahnya disana." tunjuk Alawiyah, pada rumah Sarinah yang berada di deretan rumah Ratna, hanya saja dibagian ujung.
Ratih mengikuti arah telunjuk menantunya, dan tanpa sengaja, ia melihat Sarinah yang berdiri disamping pagar, dan sedang memantaunya.
Ia merasakan sesak didadanya. "Dasar gak da otaknya. Bahkan calon cucuku pun tak luput dari target mereka," gumamnya dalm hati.
Dengan hati yang kesal, ia menghampiri pohon mangga, lalu mengambilkannya untuk sang menantu.
"Ini, makan di dalam rumah!" titah Ratih pada anak menantunya.
"Baik, Mbok. Terimakasih." Alawiyah berusaha patuh, lalu membawa tiga buah mangga itu ke dalam rumah.
Saat ia tiba di dapur, dan mengupasnya, semua daging mangga itu sangat bagus, tidak ada busuk sedikitpun.
Wajahnya tampak sumringah, dan merasa senang.
Ditempat lain, Ratna yang bersama dengan Gina dan juga Juminten—sedang terlibat cekcok.
Ratna memasang wajah masam, menatap kedua bestienya. "Aku lebih dulu menargetkan Bayu dan mengikat perjanjian dengan Genderuwo sebagai tumbal." ia mengangkat dagunya, menggambarkan jika ia sangat marah.
Rahangnya tampak mengetat, dan sejatinya ia tak dapat mentolerir tindakan kedua rekannya.
"Mengapa kau marah? Aku juga mengikat perjanjian—jika jiwa kali ini aku menyebut nama Bayu, dan itu tidak dapat lagi diubah," Juminten tak mau kalah.
Dalam hal ini, mereka tidak ada mau yang ditindas, sebab merasa, kasta kekayaan mereka sama.
"Ini tidak bisa! Jika kita terus bersaing dalam mendapatkan jiwa Bayu, itu tandanya kita sedang mempertaruhkan nyawa kita sendiri!" Ratna mengingatkan.
"Apa?!" pekik Juminten dan Gina bersamaan.
"Tentu saja! Karena iblis yang kita puja juga saling memperebutkan, dan pastinya mereka juga saling sikut, lalu jika batas waktu yang ditentukan tak juga berhasil, maka jiwa kita yang akan menjadi gantinya." Ratna menatap satu persatu wajah rekannya, sembari menyebarkan aura ketakutan dan melemahkan mental keduanya.
Juminten dan Gina memucat. Mereka belum siap mati, kekayaan yang mereka nikmati belum cukup puas untuk dinikmati.
"Jadi bagaimana?" Gina akhirnya menyerah. Ia berharap ada jalan yang dapat memyelesaikan permasalahan mereka.
"Sebaiknya, kalian berdua pergi ke pesarean, minta kuncen yang dulu pernah kalian temui, untuk melakukan komunikasi pada iblis yang kalian puja, jika ada pertukaran jiwa," Ratna mulai memprovokasi.
Gina mulai menimbang-nimbang saran dari Ratna, sepertinya ada benarnya, jika ia harus pergi ke pesaraean, untuk melakukan ritual ulang, dan menukar jiwa yang sudah mereka janjikan.
"Siapa yang harus ditargetkan? Agar kita gak sama lagi?" Juminten buka suara. Akhirnya ia mengalah, dan memilih untuk ritual ulang.
Lagipula, siapa yang mau mati dalam usia yanh masih empat puluh lima tahun, terlalu muda baginya.
"Sebaiknya kalian saling terbuka saja. "Gina memilih jiwa Ratih, dan Juminten memilih jiwa Bagas, jadi kalian tidak saling saing," Ratih memberikan solusi.
"Kalau menantunya?" Gina menyela.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏