"Ayah, katakan sekali lagi bahwa ini hanya lelucon April Mop yang terlambat," suara Aletta rendah, namun penuh penekanan.
Di belakangnya, Surya Maheswari, pria yang telah membangun dinasti ini dari nol, tampak hancur. Pria itu duduk di sofa kulit dengan bahu yang merosot dalam. Laporan audit yang tersebar di atas meja menunjukkan angka-angka merah yang mengerikan. Defisit yang diciptakan oleh pengkhianatan direktur keuangan mereka telah membawa Maheswari Group ke jurang kebangkrutan dalam waktu satu malam.
"Dia satu-satunya yang memiliki likuiditas sebesar itu, Al," bisik Surya parau. "Bank sudah menutup pintu. Investor lain melarikan diri seperti tikus dari kapal yang tenggelam. Hanya Dirgantara Corp yang menawarkan bantuan."
Aletta berbalik dengan gerakan anggun namun tajam. "Dirgantara? Arkananta Dirgantara? Pria yang menghancurkan tender kita di Singapura? Pria yang selama lima tahun terakhir ini menjadi mimpi buruk bagi setiap ekspansi bisnis kita? Ayah, dia bukan penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NEGOSIASI DI BALIK SELIMUT SUTRA
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden sutra kelabu di kamar utama kediaman Dirgantara biasanya disambut dengan kesunyian yang aristokratis. Arkananta Dirgantara adalah pria yang hidup dengan jam biologis yang presisi. Pukul enam pagi, matanya akan terbuka, ia akan melakukan meditasi singkat, lalu bersiap menghadapi dunia bisnis yang kejam. Namun, pagi ini, jam biologisnya seolah mengalami malfungsi total.
Arkan merasakan beban yang tidak biasa di atas tubuhnya. Sesuatu yang hangat, sedikit bergerak-gerak, dan memiliki aroma campuran antara sampo stroberi bayi dan... bau buku lama?
Ia membuka mata perlahan. Hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit kamar yang tinggi, melainkan wajah Aletta Maheswari yang hanya berjarak beberapa inci dari hidungnya. Aletta sedang duduk bersila tepat di atas perutnya—posisi yang sangat tidak sopan bagi siapa pun yang berhadapan dengan CEO Dirgantara Corp. Gadis itu mengenakan piyama flanel bergambar dinosaurus yang ekornya menjuntai ke samping, rambutnya acak-acakan seperti sarang burung yang terkena badai, dan kacamata anti-radiasinya bertengger miring di ujung hidungnya.
"Selamat pagi, Tuan Tanah," sapa Aletta dengan suara serak khas bangun tidur, namun nadanya sedingin es yang dibuat-buat.
Arkan menarik napas panjang, merasakan diafragmanya tertekan oleh berat badan Aletta. Suara baritonnya keluar dengan rungu yang berat dan sangat maskulin. "Aletta... kau tahu berat badanmu itu nyata, bukan? Dan ini masih jam enam pagi. Kenapa kau sudah melakukan demonstrasi di atas perutku?"
Aletta tidak bergeming. Ia justru mengeluarkan sebuah penggaris kayu panjang dari balik punggungnya. "Aku tidak sedang demonstrasi. Aku sedang melakukan audit wilayah kedaulatan. Berdasarkan observasiku selama enam jam terakhir, kau telah melakukan ekspansi ilegal secara masif."
Arkan menaikkan sebelah alisnya, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. "Ekspansi apa?"
"Ekspansi selimut!" Aletta mengetukkan penggarisnya ke dada bidang Arkan yang tidak tertutup kaus. "Tadi malam, saat aku sedang bermimpi menyelamatkan kaktus dari serangan rayap, kau menarik 75% bagian selimut ke sisimu. Aku terbangun dengan kaki yang kedinginan, sementara kau terbungkus rapi seperti lumpia mahal. Ini adalah pelanggaran serius terhadap Pasal Kebahagiaan Domestik yang baru saja kubuat di kepalaku lima menit lalu."
Arkan menahan senyum yang hampir meledak. Ia menatap wajah istrinya yang tampak sangat serius. Mata bulat Aletta yang biasanya berkilat cerdas, kini tampak menggemaskan dengan sedikit bengkak khas bangun tidur.
"Lalu, apa tuntutanmu, Nona Auditor?" tanya Arkan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Aletta agar gadis itu tidak jatuh saat ia sedikit mengubah posisi duduknya.
Aletta berdehem, lalu membentangkan sebuah peta yang digambar tangan di atas kertas coret-coret. "Aku menuntut Addendum Pasal 1: Kedaulatan Selimut. Mengingat bahumu yang lebar itu mengambil ruang terlalu banyak, dan gaya tidurku yang 'eksploratif', kita harus membagi selimut ini dengan rasio 60:40. Enam puluh persen untukku, empat puluh untukmu. Dan aku akan memasang pembatas."
"Pembatas?"
Aletta merogoh saku piyamanya dan mengeluarkan sebuah spidol permanen berwarna biru neon. Dengan gerakan cepat, ia mulai menarik garis lurus di tengah-tengah selimut bulu angsa yang harganya setara dengan satu unit motor matic itu.
Sret! Sret! Sret!
Arkan membelalak. "Aletta! Itu selimut impor dari Italia! Kau mencoretnya dengan spidol?!"
"Italia tidak akan peduli dengan kedinginanku, Arkan!" balas Aletta tanpa dosa. Ia terus menarik garis hingga ke ujung kaki. "Nah, selesai. Ini adalah Garis Khatulistiwa Dirgantara-Maheswari. Siapa pun yang bagian tubuhnya—baik itu jempol kaki, siku, apalagi pelukan—melewati garis ini tanpa izin tertulis, wajib membayar denda."
Arkan menatap garis biru mencolok di atas selimut putih bersihnya. Ia merasa wibawanya sebagai pria paling disegani di dunia bisnis sedang diinjak-injak oleh seorang gadis berpiyama dinosaurus. Namun, ada sesuatu dalam diri Arkan yang justru menikmati kegilaan ini. Kehidupan yang dulunya hitam-putih dan sangat teratur, kini dipenuhi warna biru neon yang kacau.
Arkan menarik pinggang Aletta secara mendadak, membuat gadis itu memekik dan jatuh telentang di sampingnya—tepat di atas garis biru tersebut. Arkan segera mengurung tubuh Aletta dengan kedua lengannya, menatapnya dengan pandangan yang dalam dan penuh dominasi maskulin.
"Bagaimana dengan denda 'kontak fisik secara tidak sengaja'?" bisik Arkan. Napas hangatnya menerpa wajah Aletta, membuat keberanian gadis itu menciut seketika.
"Itu... itu denda dua kali lipat!" jawab Aletta gagap, jantungnya mulai melakukan maraton di dalam dadanya. "Kau baru saja melanggar garis dengan seluruh tubuhmu, Mas Arkan! Kau harus membayar denda satu juta rupiah!"
"Aku tidak punya uang receh," jawab Arkan pelan. Ia mendekatkan wajahnya, ujung hidung mereka bersentuhan. "Bagaimana kalau dendanya diganti dengan sesuatu yang lebih produktif?"
Aletta menelan ludah, matanya terpaku pada bibir Arkan yang tampak sangat menggoda di bawah cahaya pagi. "Apa?"
"Setiap kali aku melanggar garis ini, kau harus memanggilku 'Mas Arkan' dengan nada yang paling manis yang kau punya. Dan setiap kali kau yang melanggar... kau harus membiarkanku mencium keningmu selama sepuluh detik. Adil?"
Aletta berpikir keras. Logika IT-nya mencoba menghitung risiko dan keuntungan. "Itu tidak adil! Mencium kening sepuluh detik itu terlalu lama! Bisa-bisa otakku korsleting!"
"Lima detik kalau begitu," tawar Arkan dengan senyum tipis yang mematikan.
"Tiga detik! Dan kau harus membelikanku pupuk organik terbaik untuk kaktusku bulan ini!" Aletta mencoba bernegosiasi.
Arkan tertawa rendah—suara yang selalu membuat Aletta merasa aman sekaligus terintimidasi. "Sepakat. Tiga detik."
Arkan segera bangkit, memperlihatkan otot punggungnya yang kokoh saat ia meregangkan tubuh. Ia berjalan menuju kamar mandi tanpa mengenakan atasan, meninggalkan Aletta yang masih terpaku di atas kasur, menatap garis biru neon di selimutnya dengan perasaan campur aduk.
"Tunggu dulu!" teriak Aletta tiba-tiba. "Tadi malam kau memelukku sampai pagi! Itu artinya kau berhutang denda panggilan manis selama delapan jam!"
Arkan berhenti di ambang pintu kamar mandi, ia menoleh sedikit dan mengedipkan sebelah matanya. "Aku tidak merasa memelukmu. Seingatku, kau yang merangkak ke arahku karena bermimpi dikejar alpaka raksasa. Jadi, siapkan keningmu setelah aku mandi, Sayang."
Brak!
Pintu kamar mandi tertutup, meninggalkan Aletta yang melemparkan bantal ke arah pintu dengan wajah semerah kepiting rebus. "Menyebalkan! Benar-benar menyebalkan! Arkananta Dirgantara, aku akan memastikan kuku kelingkingmu berwarna pink hari ini!"
Aletta duduk di tepi tempat tidur, mencoba menenangkan jantungnya. Ia menatap garis biru itu lagi. Ia tahu, dalam hubungan ini, garis tidak akan pernah cukup untuk membendung apa yang mulai tumbuh di antara mereka. Arkan bukan lagi sekadar kontrak atau pelindung. Pria itu mulai menjadi oksigen yang ia hirup setiap pagi—oksigen yang terkadang membuatnya sesak napas karena terlalu banyak mengandung karbon dioksida "maskulinitas".
Ia mulai membayangkan hari-hari ke depan. Tidak ada lagi ancaman bom (semoga), tidak ada pengkhianat di balik bayangan. Hanya ada dia, Arkan, garis selimut, dan sejuta rencana jahil yang sudah tersusun di kepalanya untuk meruntuhkan tembok dingin suaminya.
"Misi pertama," gumam Aletta sambil tersenyum licik. "Membuat Tuan Unicorn memakan sarapan yang akan membuatnya menyesal pernah lahir sebagai manusia tanpa rasa humor."
Aletta melompat dari tempat tidur, ekor piyama dinosaurusnya bergoyang-goyang saat ia berlari menuju dapur, siap menciptakan kekacauan kuliner yang akan dicatat dalam sejarah kediaman Dirgantara. Ia tidak tahu bahwa di dalam kamar mandi, Arkan berdiri di bawah pancuran air dingin sambil tersenyum lebar, menyadari bahwa hidupnya baru saja dimulai kembali di tangan seorang gadis "ajaib" yang mencoret selimut mahalnya dengan spidol biru.
Inilah awal dari babak baru. Tanpa senjata, tanpa kode rahasia, hanya dua orang manusia yang sedang belajar bagaimana caranya berbagi ruang, berbagi selimut, dan perlahan-lahan... berbagi seluruh sisa hidup mereka.
Apakah strategi "sarapan unicorn" Aletta akan berhasil menggoyahkan wibawa Arkan di depan para stafnya nanti? Dan bagaimanakah Arkan menagih denda "ciuman kening tiga detik" yang sudah menumpuk?
nnti tu kapal tanker klakson ny jd gntii klaksoon motor ,,
badan gede tp klakson ny ' tiiin ,, tiin ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
pengganggu bisa gx marahan dluu ,,
jgn deket2 sama pasangan ini truus ,,
sana cari serigala dn gadis kaktus yg lain ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruu niih ,,
gx kebayang siih seorang arkan tidur sambil meluk boneka bebek🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
lanjuuut kak ,,
makiin seruu nih tiap bab ny ,,
kasus baruu udh muncuul ,,
Selamat menikmatiii,,,👏👏👏👏
lanjuuut kak
semua masalah pasti bisa di selesaikan dg taktik ajaib Aletta,,
lanjuuut kak
gx mungkin kn Aletta punya sekte kaktus ajaib 🤭🤭🤭🤭 ,,
lanjuuut kak ,,
😁😁😁
lanjut kak ,,
tumbuhan ny emnk di setting bgtu Pak arkan ,,
😁😁😁
bsok2 bikin Tempe Amazon yx Al ,,
sxan pake sup palung Mariana biar makin joosssss ,,
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
makiin seruuu ,,
pengkhianatan paling menyakitkan yg dtg dr org paling dekat dg qta ,,
penasaran ma kelanjutan ny yx