Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
“Anak-anak itu darah daging Dedi! Tes DNA yang Bapak pegang itu palsu, dia yang mengatur semuanya!”
“Wanita ini menipumu sejak awal, Pak Hadi.”
“Dia bersekongkol dengan sopirmu untuk menguasai hartamu. Bahkan nyawamu terancam!”
Itulah isi bisikan Arga. Hadi terdiam, napasnya berat. Sebenarnya, di dalam hati kecilnya, Hadi sering merasa curiga. Anak kembar itu lebih mirip Dedi daripada dirinya, dan mereka tampak jauh lebih akrab dengan sang sopir.
“Mengapa aku harus mempercayaimu?” bisik Hadi dengan suara parau.
“Saya tidak meminta Bapak percaya begitu saja,” jawab Arga tenang. “Gunakan sains. Bapak bisa melakukan tes DNA ulang secara diam-diam di laboratorium yang berbeda, tanpa sepengetahuan siapa pun. Lagipula, Bapak sendiri sudah lama merasa ada yang janggal, bukan?”
Hadi terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. Sorot matanya kini penuh dengan tekad yang dingin. “Jika semua yang kau katakan benar, maka aku, Hadi Setiawan, berutang budi besar kepadamu.”
Di sudut lain, Sherly menatap adegan itu dengan rasa tidak percaya. Siapakah sebenarnya pemuda ini? Mengapa ia tiba-tiba menolongnya? Dan apa yang ia bicarakan dengan direktur bank tersebut?
Akhirnya, Arga menyelesaikan ucapannya. Ia menepuk bahu Hadi dan berkata dengan nada serius, “Rahasia ini cukup di antara kita. Saya harap Pak Hadi bisa menyelesaikannya dengan bijak.”
Tentu saja, Arga sengaja membuat kesan misterius agar Hadi lebih waspada. Hadi mengangguk dengan wajah sungguh-sungguh. “Jangan khawatir. Saya tahu apa yang harus saya lakukan.”
Setelah itu, Hadi perlahan berbalik. Ia berjalan menghampiri Ratna yang masih menunggu dengan wajah penuh kemenangan, namun kini Hadi menatap istrinya itu dengan tatapan yang sangat asing dan tanpa ekspresi.
Setelah hidup bersama dalam waktu yang lama, Ratna mengenal Hadi Setiawan dengan sangat baik.
Setiap kali amarah Hadi mencapai puncaknya, raut wajahnya justru akan menjadi dingin dan tanpa ekspresi—seperti saat ini.
“Pa… Papa… ada apa?” tanya Ratna dengan suara gemetar, terselip rasa takut yang sulit disembunyikan.
Pemuda bernama Arga itu benar-benar aneh. Di hadapannya, seolah-olah ia tak lagi memiliki rahasia apa pun.
“Pulang,” kata Hadi dengan nada memerintah yang mutlak.
“Pulang?” Ratna tertegun. Sesaat kemudian, ia meninggikan suara dan menunjuk Arga dengan penuh ketidakrelaan. “Papa, dia memukulku! Papa melihatnya dengan mata kepala sendiri! Apakah masalah ini akan berakhir begitu saja?”
“Tidak! Kamu harus menyelesaikannya hari ini! Dia harus berlutut dan meminta maaf kepadaku sebelum aku—”
Plak!
Tamparan yang nyaring dan keras mendarat di wajah Ratna, membuat banyak orang refleks berkedip kaget. Ratna menyentuh sudut bibirnya dan mendapati ada darah. Separuh wajah kanannya langsung membengkak. Ia berdiri terpaku di tempat.
Semua orang yang hadir pun diliputi kebingungan. Hadi Setiawan dikenal sangat memanjakan istrinya—lalu mengapa ia justru menamparnya di depan umum? Mengingat kembali sikap Hadi saat berbicara dengan Arga barusan, tampak jelas bahwa ia bersikap sangat hormat. Mungkinkah pemuda bernama Arga itu memiliki latar belakang yang luar biasa?
“Pergi!” Hadi membawa Ratna pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Orang-orang di sekeliling hanya mengira bahwa koneksi Arga-lah yang berperan dalam kejadian ini. Tak seorang pun terpikir soal perselingkuhan Ratna. Terlebih lagi, mustahil bagi mereka membayangkan bahwa Hadi menampar istrinya karena anak-anak itu bukan darah dagingnya sendiri!
Inilah pula alasan mengapa Arga dan Hadi berbicara dengan suara pelan sebelumnya. Jika Arga secara terang-terangan membongkar seluruh konspirasi Ratna di depan umum, memang masalah itu akan langsung selesai—namun Hadi pasti akan sepenuhnya memusuhinya karena merasa dipermalukan. Sebagai pemimpin Bank Semarang, bila skandal sebesar ini terungkap, ia pasti akan menjadi tajuk utama nasional. Dan pada akhirnya, Hadi akan melimpahkan seluruh kekesalannya kepada Arga.
Namun berbicara secara diam-diam adalah hal yang berbeda. Hadi justru akan berterima kasih kepadanya, bahkan menganggapnya sebagai penolong besar. Sebagai manusia yang telah mencicipi pahit manis kehidupan, Arga tentu memilih cara paling aman dan paling menguntungkan.
“Sherly, kamu tidak apa-apa?” Arga berjalan menghampiri Sherly dan bertanya dengan penuh perhatian, suaranya mengandung sedikit harapan yang sulit disembunyikan.
Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu—bahkan setelah melintasi dua kehidupan—Arga tetap merasa jantungnya berdebar ketika kembali melihat “cahaya bulan putih” di dalam hatinya.
“Kamu… mengenal saya?” tanya Sherly dengan terkejut.
“Bukankah kita teman sekelas selama tiga tahun di SMA dulu?” jawab Arga agak tak berdaya.
“Kamu… Arga? Arga Bimantara? Benarkah itu kamu?” Sherly menepuk dahinya dan berseru, mata beningnya dipenuhi ketidakpercayaan. Ia sempat mengira Arga ini hanya memiliki nama yang sama dengan mantan teman sekelasnya yang dulu sangat pendiam.
“Haha, sudah lama tidak bertemu,” ujar Arga sambil tersenyum.
“Benar-benar tidak terduga. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Tadi… aku bahkan mengira kamu seorang berandal yang mau menggodaku,” kata Sherly sambil tersenyum malu. Senyum itu begitu manis hingga membuat jantung Arga berdegup tak beraturan.
“Kamu banyak berubah,” kata Sherly setelah menatapnya dengan saksama.
“Benarkah?”
“Tentu saja! Saat SMA dulu, kamu seperti labu bisu—hanya tahu belajar dan jarang bicara. Bahkan ketika dirundung, kamu tidak tahu cara melawan. Sekarang berbeda. Kamu terlihat sangat dominan dan percaya diri. Setiap ucapan dan tindakanmu matang dan tenang. Kamu tampak seperti seseorang yang telah melalui banyak pasang surut kehidupan… hm… agak mirip Ayahku.”
Usai berkata demikian, Sherly tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Kalau begitu, mari berkenalan kembali. Halo, Tuan Arga. Nama saya Sherly Gunawan, analis sekuritas di Gedung Semarang Sekuritas.”
Arga menggenggam tangan kecil dan lembut itu, lalu berkata dengan nada penuh perasaan, “Halo, Sherly. Aku Arga Bimantara. Mulai sekarang, panggil saja aku Kak Arga.”
Entah mengapa, saat menggenggam tangan Arga, Sherly merasakan rasa aman yang tak dapat dijelaskan. Pipinya perlahan memerah dengan rona merah muda yang indah. Padahal wajah Arga cukup tampan—tapi bukan tipe favoritnya yang biasanya. Namun mengapa… ia justru sedikit tergoda?
Setelah lama berpisah, keduanya berbincang cukup lama dan suasananya terasa sangat menyenangkan.
“Terima kasih atas kejadian hari ini, Kak Arga,” ujar Sherly.
“Kamu tinggal minta Pak Rendra Gunawan yang mengurusnya kelak. Aku hanya kebetulan membantu,” jawab Arga sambil tersenyum.
“Aku tidak ingin orang lain tahu bahwa Ayahku adalah Rendra Gunawan. Aku ingin mengandalkan kemampuanku sendiri untuk hidup.”
“Ngomong-ngomong, Sherly, aku butuh bantuanmu untuk satu hal…” Arga kemudian menyampaikan niatnya untuk membuka akun futures internasional.
“Itu urusan kecil! Serahkan padaku!” kata Sherly sambil tersenyum. Setelah jeda sejenak, ia bertanya lagi, “Kak Arga, sebenarnya apa yang kamu katakan kepada Pak Hadi tadi? Mengapa akhirnya ia begitu menghormatimu?”
“Kalau kukatakan bahwa aku memahami ilmu primbon dan bisa meramal masa depan, apakah kamu akan percaya?” jawab Arga sambil tersenyum misterius.
“Jangan-jangan kamu meramal nasib Pak Hadi dan mengatakan masa depannya, lalu itulah sebabnya ia bersikap begitu?” Sherly mencebik.
“Hampir begitu,” jawab Arga sambil tersenyum.
“Hmph! Kalau tidak mau bilang, lupakan saja. Aku juga tidak penasaran!”