NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMELUK KEGELAPAN DIBALIK CAHAYA

Prediksi Manda tidak meleset sedikit pun. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, nama Dina dan Rama resmi menjadi trending topic di seluruh penjuru kantor. Dari mulai staf gudang sampai jajaran manajerial, semua mendadak punya radar yang tajam setiap kali melihat bayangan Rama melintas di area General Affair.

Rama, yang biasanya dikenal sebagai manajer operasional yang irit bicara dan sangat efisien, kini menunjukkan sisi yang belum pernah dilihat siapa pun. Dia mulai sering muncul di ruangan Dina dengan berbagai alasan yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat e-mail atau telepon.

"Din, ini berkas pengadaan AC untuk ruang rapat, tolong dicek lagi ya," ucap Rama suatu pagi, berdiri di depan meja Dina sambil menyodorkan map yang sebenarnya baru saja ia tanda tangani sendiri.

Dina mendongak, menahan tawa saat melihat Manda yang duduk di seberangnya sedang pura-pura batuk sambil menutup mulut dengan tangan. "Mas, kan tadi sudah saya kirim lewat sistem? Kenapa diantar manual lagi?"

Rama hanya berdehem kecil, sama sekali tidak terlihat canggung meski beberapa rekan kerja lain mulai curi-curi pandang. "Hanya ingin memastikan datanya akurat. Sekalian... ingin tanya, kamu sudah minum air putih yang cukup hari ini? Kamu kelihatan sibuk sekali."

Jawaban itu praktis membuat suasana ruangan seketika senyap, diikuti bisik-bisik halus yang menjalar seperti api di atas rumput kering. Jelas sekali, Rama tidak sedang melakukan audit operasional; dia sedang mencari perhatian.

Sore harinya, saat Dina sedang mengecek stok logistik di gudang belakang yang agak sepi, Rama kembali muncul. Kali ini tidak ada map di tangannya.

"Mas Rama ada perlu dengan bagian gudang?" tanya Dina, mencoba menjaga profesionalisme meski jantungnya berdebar tipis.

"Tidak ada. Aku hanya tahu jam segini kamu biasanya ada di sini," jawab Rama jujur, langkahnya mendekat hingga mereka berdiri di antara rak-rak arsip yang tinggi. "Dina, aku tahu aku jadi bahan pembicaraan satu kantor. Kamu... merasa terganggu?"

Dina terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana biasanya ia merasa ketakutan jika menjadi pusat perhatian, terutama karena masa lalunya yang selalu dianggap aib oleh keluarganya. Namun, berdiri di depan Rama, rasa malu itu tidak ada. Yang ada hanyalah rasa dihargai.

"Awalnya iya, Mas. Tapi sekarang aku sadar, lebih baik jadi bahan gosip karena ada yang peduli, daripada jadi bahan makian di rumah karena dianggap beban," jawab Dina dengan suara yang jauh lebih mantap.

Rama tersenyum, kali ini senyumnya lebar dan lega. "Bagus. Karena aku nggak berencana berhenti mencari perhatianmu sampai kamu benar-benar percaya kalau kamu layak untuk diprioritaskan."

Dina terpaku. Pria ini tidak main-main. Di antara tumpukan kardus dan debu gudang, Dina menyadari satu hal: ia tidak perlu lagi takut pada bayang-bayang masa lalu. Sepuluh kali ia gagal, tapi kali ini, ia merasa sedang membangun sesuatu yang jauh lebih kokoh dari sekadar rasa kasihan.

Ketenangan sore itu pecah seketika saat sebuah keributan terjadi di lobi utama gedung kantor. Arsa—pria yang telah mengkhianati Dina sebanyak sepuluh kali itu—berdiri di sana dengan pakaian kusut dan wajah memelas. Ia tidak peduli pada tatapan sinis resepsionis atau teguran tegas dari satpam yang sudah mulai hilang kesabaran.

"Din! Tolong, kasih aku satu kesempatan lagi! Aku salah, aku khilaf!" teriak Arsa begitu melihat sosok Dina muncul dari arah lift. Suaranya menggema di langit-langit lobi yang tinggi, membuat semua karyawan yang hendak pulang menghentikan langkah mereka.

Dina mematung. Rasa malu menjalar hingga ke ujung jari-jarinya. Inilah yang selalu ia takutkan: masa lalunya yang berantakan menjadi tontonan publik. Arsa bahkan sampai berlutut, mencoba meraih ujung sepatu Dina, sementara satpam sudah bersiap menyeretnya keluar.

"Din, aku nggak mau putus! Aku sayang kamu, cuma kamu yang bisa ngertiin aku!" Arsa terus meracau, menciptakan drama yang memuakkan di tengah kerumunan.

Tepat saat Dina merasa dunianya akan runtuh karena rasa malu, sebuah bayangan jangkung melangkah maju menembus kerumunan. Rama muncul dengan ekspresi paling dingin yang pernah Dina lihat. Tanpa ragu, Rama berdiri tepat di antara Dina dan Arsa, memutus akses pria itu untuk menyentuh Dina.

"Cukup," suara Rama rendah namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. "Kamu sudah membuat keributan di properti kantor. Lepaskan tanganmu atau saya sendiri yang akan memastikan kamu diproses secara hukum."

Arsa mendongak, wajahnya yang penuh air mata buaya menatap Rama dengan benci. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan kami!"

"Saya orang yang tidak akan membiarkan kamu menyentuh atau menghina dia lagi," jawab Rama tajam. Ia menoleh ke arah satpam dan memberikan isyarat singkat. "Bawa dia keluar. Jika dia kembali lagi, jangan ragu untuk lapor polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan."

Dina hanya bisa diam, napasnya tersengal. Namun, ia merasakan sebuah tangan hangat hinggap di bahunya—bukan untuk menariknya, tapi untuk menguatkannya. Rama tidak membiarkan Dina menghadapi badai itu sendirian.

Maulana dan Manda yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan saling berpandangan. Manda menghela napas lega sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Maulana.

"Lihat itu, Lan. Mas Rama beneran 'pasang badan'. Dia nggak cuma cari perhatian, dia beneran menjaga harga diri Dina," bisik Manda tulus.

Maulana mengangguk setuju. "Iya, Man. Jarang ada atasan yang mau ikut campur urusan pribadi sampai sedalam itu kalau nggak ada perasaan tulus. Dina akhirnya ketemu pelindung yang beneran, bukan yang cuma kasih janji palsu."

Setelah Arsa diseret keluar oleh petugas keamanan, lobi kembali perlahan tenang, meski bisik-bisik masih terdengar. Rama berbalik menatap Dina, matanya yang tadi tajam kini berubah menjadi sangat lembut.

"Kamu nggak apa-apa? Jangan dengerin dia. Dia bukan siapa-siapa lagi," ucap Rama pelan.

Dina menatap sapu tangan biru di sakunya, lalu beralih menatap wajah Rama. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu lagi merasa malu akan masa lalunya. Karena sekarang, ia punya seseorang yang melihat luka-lukanya sebagai alasan untuk melindunginya, bukan untuk mengasihaninya.

Malam itu, Jakarta baru saja dibilas hujan. Aroma aspal basah menguap di antara gemerlap lampu kota yang terpantul di permukaan jalanan yang licin. Rama membawa Dina ke sebuah restoran kecil di sudut kota yang tenang—jauh dari kebisingan kantor dan hiruk-pikuk lobi yang sore tadi sempat menjadi saksi bisu drama Arsa.

Restoran itu memiliki pencahayaan temaram yang hangat. Alunan musik jazz instrumen mengalun rendah, seolah sengaja memberi ruang bagi dua jiwa yang sedang mencari ketenangan. Rama memesankan menu favorit Dina yang pernah ia dengar dari selentingan obrolan Manda: sepiring pasta hangat dan jus jeruk segar.

Setelah pesanan tiba, suasana sempat hening sejenak. Rama meletakkan sendoknya, menatap Dina dengan tatapan yang tidak lagi sekadar tatapan atasan kepada bawahan. Tatapan itu penuh dengan kejujuran yang telanjang.

"Dina," panggil Rama lembut. "Kejadian sore tadi... aku harap kamu nggak perlu merasa malu. Orang seperti itu memang perlu dikasih batasan yang tegas."

Dina hanya mengangguk kecil, jemarinya memainkan ujung taplak meja.

"Aku nggak mau main-main lagi, Din," lanjut Rama. Suaranya rendah tapi berwibawa, membuat Dina mendongak. "Aku sayang sama kamu. Bukan karena aku kasihan melihatmu sendirian, bukan karena aku ingin jadi pahlawanmu. Aku sayang kamu karena ketangguhanmu. Karena caramu tetap berdiri tegak meski dunia seolah nggak adil sama kamu. Aku mau kita mulai sesuatu yang serius. Aku mau jadi orang yang kamu cari saat kamu merasa lelah."

Dina tertegun. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang sudah lama sekali tidak ia rasakan—sensasi dicintai tanpa embel-embel manipulasi. Namun, sebelum ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kebahagiaan itu, ada sebuah benteng pertahanan yang harus ia runtuhkan lebih dulu. Sebuah kebenaran yang ia simpan rapat-rapat, yang selama ini menjadi alasan mengapa sepuluh hubungannya selalu gagal.

Dina menarik napas panjang, menatap lurus ke manik mata Rama. "Mas Rama, terima kasih. Tapi sebelum kita melangkah lebih jauh... aku nggak mau Mas Rama kaget soal hidupku nanti. Aku mau ceritain semuanya sekarang. Setelah ini, Mas Rama punya pilihan: tetap tinggal di sini bareng aku, atau pergi dan anggap pembicaraan ini nggak pernah ada. Aku nggak akan marah kalau Mas pilih pergi."

Rama mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sikap tenang. "Aku dengar, Din. Dan percayalah, sepertinya nggak akan ada alasan yang cukup kuat untuk buat aku tiba-tiba pergi."

Dina menunduk sebentar, mengumpulkan kepingan memori yang selama ini ia kunci di laci paling gelap dalam ingatannya.

"Ibuku kabur saat aku masih bayi," mulai Dina, suaranya sedikit bergetar. "Dia pergi begitu saja tanpa pamit, meninggalkan aku yang bahkan belum bisa memanggil namanya. Ayahku terpaksa jadi orang tua tunggal, membesarkanku sendiri sampai aku kelas 4 SD. Dulu, aku pikir Ayah adalah segalanya untukku."

Dina menjeda, meneguk sedikit minumannya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

"Tapi semuanya berubah saat Ayah menikah lagi. Sejak hari itu, kasih sayangnya seperti keran yang tiba-tiba ditutup rapat. Dia lebih peduli kepada istri barunya dan anak-anak dari istri barunya. Di rumah itu, aku seakan-akan cuma orang yang menumpang. Bahkan, terkadang aku merasa dia sudah nggak menganggap aku sebagai anaknya lagi. Aku hanyalah pengingat akan kegagalannya di masa lalu, sebuah beban yang harus dia beri makan karena kewajiban, bukan karena cinta."

Rama mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Sorot matanya menunjukkan empati yang dalam, bukan rasa kasihan yang merendahkan.

"Hidupku hancur berantakan, Mas," lanjut Dina, kali ini air matanya mulai menggenang di sudut mata. "Banyak orang di sekitarku—bahkan keluargaku sendiri—bilang kalau nasib ini bisa saja menurun ke anak-anakku nanti. Mereka bilang, 'buah jatuh nggak jauh dari pohonnya'. Mereka bilang mungkin nanti suamiku yang bakal kabur meninggalkanku, atau malah aku yang bakal melakukan hal yang sama seperti ibuku karena itu sudah ada di darahku."

Dina menyeka air matanya dengan tisu, mencoba tetap tegar. "Aku cuma mau ngomong kalau masa laluku sekotor itu. Tapi satu hal yang perlu Mas tahu... kalaupun nanti aku jadi orang tua, aku nggak akan pernah menjadi pelaku yang sama. Aku tahu rasanya tumbuh di rumah yang bising dengan makian tapi sunyi dari kasih sayang. Aku nggak mau anak-anakku merasakan itu. Aku mau mereka punya rumah yang nyaman, tenang, dan benar-benar terasa seperti 'pulang'."

Dina mengakhiri ceritanya dengan bahu yang sedikit gemetar. Ia sudah siap untuk penolakan. Ia sudah siap melihat Rama berdalih ada urusan mendadak dan pergi meninggalkannya.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Rama bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, lalu duduk di kursi kosong tepat di samping Dina. Ia meraih tangan Dina yang dingin dan menggenggamnya dengan sangat erat—sebuah genggaman yang memberikan kehangatan hingga ke ulu hati.

"Dina, lihat aku," ucap Rama lembut.

Dina mendongak perlahan.

"Masa lalu itu bukan kutukan, Din. Itu adalah guru yang kejam, tapi dia sudah berhasil membentukmu jadi wanita sekuat ini. Kamu bukan ibumu, dan kamu bukan ayahmu. Kamu adalah kamu. Fakta bahwa kamu punya keinginan kuat untuk memberikan 'rumah' yang nyaman buat anak-anakmu kelak, itu adalah bukti kalau kamu sudah memutus rantai kebencian itu."

Rama mengusap punggung tangan Dina dengan ibu jarinya. "Aku nggak peduli siapa yang pergi dari hidupmu dulu. Yang aku peduli adalah siapa yang berdiri di depan aku sekarang. Dan wanita di depan aku ini adalah wanita paling jujur dan paling hebat yang pernah aku temui. Jadi, jawaban aku tetap sama. Aku tetap di sini. Aku tetap sayang kamu. Dan kalau kamu mengizinkan, aku mau kita bangun 'rumah' yang tenang itu bersama-sama."

Malam itu, di bawah temaram lampu restoran, Dina akhirnya merasakan beban yang selama dua puluh tahun ini ia panggul sendirian, perlahan-lahan luruh. Ia menyadari bahwa ia tidak perlu lagi takut pada bayang-bayang masa lalu. Karena di sampingnya, ada seseorang yang tidak hanya mencintai cahayanya, tapi juga memeluk kegelapannya.

Dina tersenyum, kali ini senyum yang paling lepas yang pernah ia miliki. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa layak untuk dicintai.

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!