NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan Palsu

Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca perpustakaan kampus Universitas Nusantara tampak lebih cerah di mata Seraphina Aeru. Ia duduk di meja sudut, namun bukannya membaca buku teori ekonomi makro yang terbuka di hadapannya, jemarinya sibuk memutar-mutar sebuah gantungan kunci kecil berbentuk jangkar—hadiah sederhana yang diberikan Denzel kemarin saat mereka melewati toko suvenir di museum.

Bagi Seraphina, jangkar itu bukan sekadar benda logam murah. Itu adalah simbol. Simbol bahwa Denzel, pria yang selama ini tampak tak terjangkau, akhirnya mulai berlabuh di hatinya.

"Kau melamun lagi, Sera," suara Leah memecah keheningan. Leah duduk di hadapannya, wajahnya tampak sedikit pucat, dengan lingkaran hitam samar di bawah mata yang menunjukkan bahwa ia kurang tidur.

Seraphina mendongak, matanya berbinar. "Oh, Leah! Aku hanya sedang memikirkan kencan kami kemarin. Kau tahu, Denzel... dia benar-benar pria yang luar biasa. Dia mungkin tidak banyak bicara, tapi caranya menarikkan kursi untukku, atau bagaimana dia memastikan aku berjalan di sisi dalam trotoar agar tidak tersenggol kendaraan... itu sangat manis."

Leah memaksakan sebuah senyuman yang terasa kaku di bibirnya. Setiap kata pujian yang keluar dari mulut Seraphina terasa seperti jarum halus yang menusuk ulu hatinya. "Aku sudah bilang, kan? Dia pria yang sangat sopan. Dia dididik dengan disiplin tinggi oleh Kak Zefan."

"Bukan hanya itu, Leah," Seraphina mencondongkan tubuh, suaranya merendah menjadi bisikan rahasia. "Kemarin, saat kami di museum, dia menatapku lama sekali. Ada kesedihan di matanya, tapi aku yakin itu karena dia punya masa lalu yang berat. Dan saat dia mencium punggung tanganku sore tadi... aku merasa dia benar-benar mencoba membuka diri. Aku yakin, Leah, sedikit lagi saja, aku bisa memenangkan hatinya sepenuhnya. Aku bisa membuatnya melupakan tugas-tugas kaku itu dan mulai menikmati hidup."

Leah mengangguk pelan, jemarinya mencengkeram pulpen hingga buku jarinya memutih. "Baguslah kalau begitu, Sera. Aku senang rencanaku berhasil."

Berhasil? batin Leah merintih. Jika berhasil berarti aku merasa ingin menangis setiap kali melihat mobil Denzel menjemputmu, maka ya, ini keberhasilan yang luar biasa.

Sementara itu, di lantai bawah, di area parkir yang teduh, Denzel sedang bersandar pada badan mobil. Ia menatap lurus ke arah pintu keluar perpustakaan, namun pikirannya berada di tempat lain. Ia baru saja selesai membalas pesan teks dari Seraphina yang mengucapkan selamat pagi dengan emotikon hati. Denzel membalasnya dengan kalimat singkat: "Selamat pagi juga, Sera. Semoga harimu menyenangkan."

Denzel menatap layar ponselnya sejenak sebelum memasukkannya kembali ke saku jas. Ia merasa seperti seorang aktor yang baru saja menyelesaikan satu babak pementasan yang melelahkan. Ia tahu ia sedang memberikan harapan palsu. Ia tahu setiap perhatian kecil yang ia berikan pada Seraphina adalah racun yang dibalut gula.

Namun, ia tidak punya pilihan lain.

Beberapa menit kemudian, ia melihat Jeff Chevalier turun dari mobil sport-nya yang mencolok di ujung jalan. Jeff berjalan mendekati Denzel dengan seringai kemenangan yang merendahkan.

"Kudengar kau sedang sibuk berkencan dengan teman Leah, ya?" Jeff berhenti di depan Denzel, menyesuaikan letak kacamata hitamnya. "Baguslah. Akhirnya kau tahu tempatmu, Denzel. Seorang pelayan memang harus mencari pasangan yang sesuai dengan kelasnya, bukan malah terus-menerus menempel pada majikannya seperti benalu."

Denzel tidak membalas hinaan itu. Ia hanya membungkuk sedikit, sebuah gestur formal yang membuat Jeff tertawa. "Saya hanya mencoba mengikuti saran Nona Leah untuk memiliki kehidupan sosial, Tuan Chevalier."

"Bagus. Pertahankan itu," Jeff menepuk bahu Denzel dengan kasar. "Jika kau terus bersikap manis pada gadis itu dan menjauhkan hidungmu dari urusan pribadiku dengan Leah, mungkin aku akan memberimu bonus besar saat aku dan Leah bertunangan nanti."

Jeff berjalan pergi menuju gedung kampus, meninggalkan Denzel dalam keheningan yang membara. Denzel mengepalkan tangannya di balik punggung. Ucapan Jeff barusan adalah konfirmasi yang ia butuhkan. Sandiwara ini berhasil. Jeff merasa tenang. Zefan akan aman. Leah akan aman.

Harganya hanyalah integritas Denzel dan hati Seraphina.

Siang harinya, Denzel mengajak Seraphina makan siang di kantin universitas. Ia melakukannya secara publik, di meja tengah yang bisa dilihat oleh semua orang, termasuk Leah yang duduk di sudut ruangan bersama teman-teman sekelasnya.

Denzel memotongkan steak di piring Seraphina dengan gerakan yang sangat telaten. "Makanlah, Sera. Kau bilang kau kurang nafsu makan karena banyak tugas."

"Terima kasih, Denzel," Seraphina tersenyum lebar. Ia merasa seperti ratu di kampus itu. Pria paling misterius dan tampan di fakultas sedang melayaninya dengan begitu lembut. "Kau sangat perhatian. Kadang aku merasa ini seperti mimpi."

Ini memang mimpi, Sera, batin Denzel pahit. Dan aku berdoa kau tidak pernah terbangun sampai segalanya selesai.

Denzel memaksakan dirinya untuk tersenyum tipis. Ia menatap mata Seraphina, mencoba mencari setitik percikan emosi di dalam dirinya sendiri, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan. Setiap kali ia melihat bibir Seraphina bergerak, ia justru teringat bagaimana Leah menggigit bibir bawahnya saat sedang cemas. Setiap kali ia mencium wangi parfum mawar Seraphina, ingatannya justru memutar kembali aroma sabun mandi Leah yang lembut.

Ia sedang memerankan kekasih yang ideal. Ia mendengarkan keluh kesah Seraphina tentang dosennya, ia memberikan saran-saran bijak, dan ia bahkan memuji tatanan rambut gadis itu. Denzel melakukan semua itu dengan presisi seorang profesional. Ia sedang memadamkan api cemburu dalam hatinya sendiri dengan cara menumpuk kebohongan demi kebohongan di atasnya.

Namun, pengawasan instingnya tidak pernah mati.

Saat Leah bangkit dari mejanya dan berjalan menuju pintu keluar, mata Denzel secara otomatis mengikuti pergerakan gadis itu. Ia menyadari Leah berjalan sedikit limbung. Denzel segera berdiri dari kursinya.

"Denzel? Ada apa?" tanya Seraphina bingung.

Denzel tersadar. Ia kembali duduk dengan gerakan yang sedikit terlalu cepat. "Maaf, aku hanya... aku merasa ada angin kencang masuk. Aku ingin memastikan jendela di belakangmu tertutup rapat."

Seraphina menoleh ke belakang, lalu kembali menatap Denzel dengan tatapan curiga yang halus. "Jendelanya sudah tertutup, Denzel."

"Ah, maaf. Pikiranku sedang sedikit kacau karena laporan kantor," Denzel mencoba beralasan.

Seraphina menggenggam tangan Denzel di atas meja. "Jangan terlalu banyak bekerja, ya? Kau punya aku sekarang untuk berbagi beban."

Denzel merasakan tangan Seraphina yang hangat, namun ia merasa ingin menarik tangannya kembali. Ia merasa seperti pengkhianat yang sedang mencuri kasih sayang yang bukan miliknya. Harapan yang terpancar dari mata Seraphina begitu terang hingga menyilaukan nurani Denzel.

Di sisi lain kampus, Leah berdiri di balkon lantai dua, melihat ke bawah ke arah kantin. Ia melihat pemandangan tangan yang bertautan itu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia merasa rencananya telah berhasil dengan terlalu sempurna. Denzel telah menjadi pacar yang baik, persis seperti yang ia minta.

"Kenapa rasanya sakit sekali, Denzel?" bisik Leah pada angin. "Kenapa aku merasa seperti baru saja menyerahkan nyawaku pada orang lain?"

Malam harinya, saat mengantar Seraphina pulang, Denzel menghentikan mobil di depan pagar rumah gadis itu. Seraphina tidak langsung turun. Ia mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Denzel.

"Aku sangat bahagia hari ini, Denzel," bisiknya. "Aku merasa kita benar-benar punya masa depan. Terima kasih sudah memberiku kesempatan."

Denzel mematung. Ia merasakan beban dari kepala Seraphina di bahunya, sebuah beban yang terasa seberat gunung. Ia mengangkat tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya mengelus rambut Seraphina dengan gerakan mekanis.

"Sama-sama, Sera. Istirahatlah."

Setelah Seraphina turun dengan senyum kemenangan, Denzel segera memacu mobilnya menjauh. Ia berhenti di pinggir jalan yang sepi, memukul kemudi mobil dengan keras. Napasnya memburu. Ia merasa sesak. Ia benci dirinya sendiri karena memberikan harapan palsu pada gadis sebaik Seraphina. Ia benci dirinya sendiri karena harus membohongi dunia demi melindungi satu orang yang justru mengusirnya.

Harapan palsu itu kini telah tumbuh menjadi monster yang akan melahap mereka semua. Seraphina sedang membangun istana di atas pasir, sementara Denzel sedang menggali kuburnya sendiri di tengah istana itu. Dan Leah? Leah berdiri di kejauhan, menyaksikan istana itu berdiri sambil perlahan-lahan hancur di dalam kesunyiannya.

Denzel menyalakan mesin mobil kembali. Ia harus pulang. Ia harus kembali menjadi asisten yang kaku saat di depan Zefan, kekasih yang manis saat di depan Seraphina, dan pria asing yang dingin saat di depan Leah.

Peran itu telah dimulai, dan Denzel Shaquille akan memainkannya sampai tirai panggung benar-benar tertutup, meski itu berarti ia tidak akan pernah lagi menemukan jalan pulang menuju hatinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!