UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makcomblang yang Paling Tersakiti
Kamar kos Sinta persis seperti dugaan Nara.
Kecil dan sangat rapi.
Aroma melati samar bercampur dengan bau kertas dari buku-buku tebal yang tersusun rapi di rak kayu kecil di sudut ruangan.
Tidak ada poster band yang menempel di dinding dengan selotip menguning seperti di kamar Raka.
Hanya ada sebuah kalender meja yang penuh dengan coretan jadwal ujian, dan sebuah peta dunia kecil yang ditempel di atas meja belajar.
Sinta mengunci pintu dari dalam.
Ceklek.
Suara itu seolah menyegel nasib Nara malam ini.
"Kamu bisa tidur di kasur, aku bisa pakai karpet lipat," kata Sinta sambil membuka lemari kayunya, mencari pakaian ganti.
"Tidak usah," tolak Nara cepat, suaranya terdengar canggung di ruangan sekecil ini. "Aku yang menumpang, aku yang tidur di bawah."
Sinta menoleh, menatap Nara dengan sebelah alis terangkat, tatapan dominan khas ibunya keluar lagi.
"Ini kamarku, ikuti aturanku. Kamu tidur di atas. Titik."
Nara menghela napas, mengalah.
Beberapa hal memang tidak pernah berubah, baik di tahun ini maupun di masa depan, Sinta selalu menjadi pihak yang menentukan aturan.
Sinta melemparkan sebuah kaus katun abu-abu dan celana training panjang ke arah Nara.
"Pakai itu, kamu tidak mungkin tidur dengan celana kotor dan..." Sinta melirik jaket denim kebesaran yang masih membalut tubuh Nara. "...jaket yang bau asap rokok dan jalanan itu."
Nara menunduk menatap jaket Raka.
Tangannya perlahan naik, membuka kancing logamnya satu per satu.
Setiap kali satu kancing terlepas, rasanya ada bagian dari pertahanannya yang ikut luruh.
Ia menarik lengannya keluar dari kain yang tebal dan hangat itu.
Seketika, udara dingin kamar kos menusuk kulitnya.
Kehangatan Raka resmi meninggalkannya.
Nara melipat jaket itu dengan sangat rapi lalu meletakkannya di atas meja belajar Sinta, jauh dari jangkauannya.
Seolah jika ia meletakkannya terlalu dekat, ia akan tergoda untuk memeluknya lagi.
Lampu kamar dimatikan.
Hanya cahaya kekuningan dari tiang listrik di luar jendela yang menembus masuk melalui celah tirai tipis.
Nara berbaring di atas kasur busa yang sempit.
Di bawahnya, Sinta berbaring di atas karpet lipat tebal, membelakangi Nara.
Keheningan malam menguasai ruangan.
Hanya terdengar detak jam weker kecil di atas meja.
Tik. Tik. Tik.
Nara memejamkan mata, otaknya kelelahan, tapi matanya menolak untuk terlelap.
Setiap kali ia menutup mata, bayangan wajah Raka di bawah lampu taman kembali menyerang.
Genggaman tangannya, suara napasnya.
“Aku merasa tidak sendirian.”
Nara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga mengecap rasa amis darah.
Ia harus berhenti memikirkan pemuda itu.
"Nara..."
Suara panggilan pelan memecah kesunyian.
Nara membuka matanya, ia menoleh ke bawah. Siluet Sinta terlihat bergerak sedikit dalam kegelapan.
"Ya?" sahut Nara berbisik.
"Kamu belum tidur?" tanya Sinta, nadanya tidak lagi setegas tadi. Ada keraguan di sana, sebuah kerentanan yang jarang Sinta tunjukkan pada dunia.
"Belum."
Sinta terdiam beberapa detik, terdengar suara selimut yang ditarik.
"Yang kamu bicarakan di warung tadi... tentang Raka." Sinta menjeda kalimatnya. "Apakah itu benar? Atau kamu hanya berusaha membuatku merasa kasihan padanya?"
Jantung Nara berdetak lebih cepat.
Ini dia.
Ujian pertamanya sebagai seorang pembentuk takdir.
Nara menarik napas panjang, menatap langit-langit kamar yang gelap.
"Itu beneran kok, Sinta."
"Tapi dia selalu menggangguku," bantah Sinta pelan. "Dia memanggilku Nona Kalkulator, dia sengaja memetik gitarnya kencang-kencang kalau aku sedang membaca di teras kampus. Orang yang kagum tidak bertingkah menyebalkan seperti itu."
Nara tersenyum pahit di dalam kegelapan.
Senyum yang sayangnya tidak bisa dilihat oleh Sinta.
"Itu cara laki-laki bodoh mencari perhatian," jawab Nara, suaranya terdengar lembut, mengayomi, nyaris seperti suara seorang kakak. "Dia tahu dia tidak bisa mengajakmu mengobrol tentang ekonomi atau teori politik, dunianya adalah jalanan dan senar gitar. Jadi, dia menggunakan satu-satunya cara yang dia tahu agar kamu menatapnya."
Hening.
Sinta sedang mencerna kata-kata itu.
"Dia pria yang rumit, Sinta," lanjut Nara, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau silet yang mengiris tenggorokannya sendiri. "Ayahnya selalu merendahkannya, dia butuh seseorang yang bisa melihat lebih dari sekadar jaket usang dan gitarnya, seseorang yang bisa menahannya agar tidak terbang terlalu jauh."
"Dan dia pikir... orang itu aku?" bisik Sinta, ada nada takjub yang samar di sana.
"Ya." Nara menelan ludah. "Dia melihatmu sebagai jangkarnya."
Sinta mengubah posisi tidurnya menjadi telentang.
Dalam keremangan, Nara bisa melihat ibunya itu menatap langit-langit, sama sepertinya.
"Dia sebenarnya... tidak seburuk itu," ucap Sinta tiba-tiba. Suaranya sangat pelan, seolah takut terdengar oleh dinding. "Tiga minggu lalu saat hujan deras, payungku patah. Dia kebetulan lewat, memberikan jaketnya untuk menutupi buku-buku kuliahku agar tidak basah, lalu dia sendiri lari menembus hujan sambil tertawa."
Nara memejamkan mata, air matanya mengalir ke samping membasahi bantal.
"Dia memberikan jaketnya padamu?"
"Iya," jawab Sinta. "Sama sepertimu malam ini, dia memang bodoh."
Sinta tertawa kecil, tawa yang sangat ringan, polos, dan... manis.
Tawa seorang perempuan muda yang sedang menyadari bahwa dirinya mungkin, hanya mungkin, mulai jatuh cinta.
Mendengar tawa itu, dada Nara hancur lebur.
Ia seharusnya bahagia, misinya berhasil, benih cinta itu mulai tumbuh di hati ibunya.
Tapi sebagai seorang wanita yang baru saja merasakan getaran luar biasa di bawah lampu taman beberapa jam lalu, tawa Sinta adalah vonis mati bagi perasaan Nara.
"Ya," bisik Nara dengan suara bergetar yang berhasil ia tutupi. "Dia pria yang bodoh."
Malam itu, Nara tidak tidur sedetik pun.
Ia terjaga, menjaga ibunya yang terlelap dengan senyum tipis di wajahnya, sambil membiarkan hatinya sendiri mati perlahan-lahan.
Sinar matahari pagi menembus tanpa ampun melalui celah tirai, memaksa Nara untuk menyipitkan mata.
Burung-burung pipit berkicau di kabel listrik depan kosan.
Suara sapu lidi yang menyapu halaman terdengar dari kejauhan.
Hari sudah pagi.
Hari yang baru.
Hari di mana Nara harus memakai topengnya secara permanen.
Sinta sedang menyisir rambut di depan cermin kecil, bersiap untuk pergi ke kampus.
"Kamu bisa tinggal di sini hari ini kalau kamu mau," tawar Sinta sambil memakai jepit rambutnya. "Aku hanya ada kelas sampai siang."
"Terima kasih, tapi aku..."
Tok. Tok. Tok.
Kalimat Nara terpotong oleh suara ketukan pintu yang terburu-buru. Bukan ketukan biasa, melainkan ketukan yang sarat akan kepanikan.
Tok! Tok! Tok!
"Sinta! Sinta, kamu di dalam?"
Itu suara Raka.
Napasnya terdengar terengah-engah dari balik pintu kayu yang tipis.
Sinta mengerutkan kening, ia menoleh menatap Nara yang kini mematung di atas kasur.
Sinta merapikan kemejanya, lalu berjalan ke arah pintu dan memutar kuncinya.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Raka berdiri di ambang pintu.
Penampilannya kacau balau.
Rambutnya berantakan seperti tidak disisir, kantung matanya menghitam tanda jelas bahwa ia tidak tidur semalaman.
Ia hanya mengenakan kaus hitam lengan pendek yang sama seperti semalam, tubuhnya sedikit menggigil karena udara pagi Bandung masih membeku.
Di tangannya, ia memegang sebuah kantong plastik kresek berisi dua bungkus roti dan sebotol teh hangat.
"Raka? Ada apa pagi-pagi begi..."
"Sinta, maaf," potong Raka cepat, napasnya memburu. Matanya liar mencari ke dalam ruangan melewati bahu Sinta. "Kamu lihat perempuan yang sama aku di kafe kemarin nggak? Dia lari semalam, aku udah nyari ke terminal, ke taman, sampai hampir digigit anjing gila di gang depan, tapi dia nggak ada."
Sinta melipat kedua tangannya di dada, ia bahkan belum sempat menjawab ketika pandangan Raka tidak sengaja melewati bahunya, menembus ke dalam kamar.
Tatapan Raka terkunci pada sosok yang sedang duduk di atas kasur.
Nara.
Mengenakan kaus abu-abu milik Sinta, terlihat aman dan baik-baik saja.
Suasana hening selama tiga detik penuh.
Otak Raka sepertinya butuh waktu untuk memproses pemandangan yang sama sekali tidak masuk akal ini.
Ia menatap Nara, lalu menatap Sinta, lalu kembali menatap Nara.
"Tunggu," kata Raka lambat-lambat, kepanikannya menguap seketika digantikan oleh kebingungan level maksimal. "Kalian... saling kenal? Atau Sinta, kamu buka jasa penampungan anak hilang sekarang?"
Mendengar celetukan Raka, Nara menggigit dinding pipi bagian dalamnya kuat-kuat.
Ini saatnya, batin Nara.
Nara memaksakan sebuah senyum lebar di wajahnya. Senyum paling cerah, paling tidak berdosa, dan paling palsu yang pernah ia buat seumur hidupnya.
Ia melompat turun dari kasur, meraih jaket denim Raka dari atas meja belajar, dan berjalan menghampiri pintu dengan lagak kelewat santai.
"Panjang umur! Pas banget kamu ke sini, Rak," sapa Nara riang, ia menyodorkan jaket denim itu tepat ke dada Raka. "Nih, makasih ya pinjaman jaketnya. Gara-gara jaket ini, Sinta ngenalin aku di warung tenda semalam."
Raka menerima jaketnya secara otomatis, ia masih terlihat seperti orang bodoh.
"Kamu kabur dariku semalam... cuma buat numpang tidur di kosan Nona Kalkulator ini?"
"Heh! Mulutmu dijaga ya, Pengamen," sembur Sinta galak, matanya melotot tajam pada Raka. "Kalau aku nggak bawa dia ke sini, temanmu ini sudah beku di pinggir jalan."
Bukannya marah, bibir Raka malah membentuk cengiran khasnya yang usil.
Sifat santainya kembali mengambil alih, ia bersandar di kusen pintu, menatap dua perempuan di depannya dengan tatapan geli.
"Wah, wah, dunia emang sempit," kekeh Raka, ia lalu menatap Nara dengan sebelah alis terangkat, tatapan yang mengisyaratkan sedikit kelegaan.
"Dunia memang sempit Rak, dan kamu tahu apa yang lebih gila?" Nara memutar tubuhnya, merangkul bahu Sinta dengan akrab, membuat ibunya itu tersentak kaget.
"N-Nara, apa yang kamu lakukan?" desis Sinta panik, mencoba melepaskan diri.
Nara mengabaikannya dan menatap Raka dengan tatapan jahil. "Semalaman, Sinta cerita soal kamu."
Mata Sinta membelalak, wajahnya langsung memerah padam dari leher hingga ke telinga. "NARA! FITNAH! Aku nggak ada ngomong begitu!"
Raka yang tadinya bersandar santai, kini menegakkan tubuhnya. Cengirannya semakin lebar, terlihat sangat menikmati kepanikan musuh bebuyutannya itu.
"Oh ya? Sinta yang super sibuk ini nyari waktu buat ngomongin aku? Ngomongin apa? Kunci nada gitarku yang fals?"
"Bukan!" sergah Nara semangat, benar-benar mendalami peran makcomblangnya. "Dia bilang, lagu yang kamu nyanyiin di kafe itu lumayan enak. Katanya, cowok urakan kayak kamu ternyata punya sisi manis juga."
"NARA! KAMU GILA YA?!" Sinta menjerit tertahan, kedua tangannya menutupi wajahnya yang kini sudah semerah tomat rebus, ia benar-benar ingin bumi membelahnya detik ini juga.
Raka tertawa lepas, tawa yang renyah dan menggelegar di lorong kosan pagi itu.
Ia menatap Sinta dengan tatapan menggoda yang luar biasa menyebalkan.
"Wah Sinta, kalau mau request lagu bilang aja dong. Nggak usah nunggu aku nyari anak hilang dulu buat ngaku," goda Raka sambil menunjuk-nunjuk Sinta dengan ujung kresek roti. "Ternyata diam-diam kamu fans rahasiaku, ya?"
"Aku, bukan fansmu!" desis Sinta dari balik tangannya, ia menatap Raka dengan tatapan membunuh. "Pergi sana! Bikin rusuh aja pagi-pagi!"
Melihat interaksi itu, dada Nara berdesir hebat.
Mereka terlihat sangat natural.
Sangat serasi.
Raka yang usil dan humoris adalah penyeimbang yang sempurna untuk Sinta yang kaku dan serius.
Raka berhenti tertawa, ia menatap Nara sekilas.
Di balik tawa santainya, Raka bukan orang bodoh. Ia bisa melihat perubahan drastis pada sikap Nara, semalam gadis ini menangis tersedu-sedu menolak diantar pulang, pagi ini gadis ini bertingkah seperti makcomblang yang kelebihan energi.
Ia menyodorkan kantong kresek di tangannya ke arah Sinta.
"Nih," kata Raka santai.
Sinta menurunkan tangannya dari wajahnya, mengerutkan kening menatap plastik itu. "Apa ini?"
"Sarapan, roti bakar sama teh manis. Aku tadi beli dua, rencananya mau makan bareng Nara kalau ketemu. Tapi berhubung Nara udah aman sama kamu dan kamu kayaknya belum makan..." Raka menyeringai. "...buat kamu aja deh."
Sinta terdiam, ia menatap kantong kresek itu, lalu menatap wajah Raka.
Pria ini... baru saja begadang semalaman mencari orang hilang, tapi masih kepikiran membelikan sarapan?
Sinta mengambil kresek itu dengan gerakan kaku. "T-terima kasih, uangnya nanti kuganti."
"Nggak usah, bayar pakai pujian aja nanti kalau aku ngamen di kampus," balas Raka sambil mengedipkan sebelah mata, membuat Sinta mendengus kesal meski rona merah di pipinya belum hilang.
Raka mundur selangkah dari pintu, ia lalu menatap Nara.
Kali ini, tatapannya sedikit lebih lembut, kehilangan nada usilnya.
"Nara," panggilnya pelan. "Kalau kamu butuh sesuatu atau mau keliling kota lagi, cari aja aku di taman. Pintu selalu terbuka buat kamu."
Nara memaksakan senyumnya tetap bertahan, ia mengangguk ceria.
"Siap, Bos!"
Raka mengacak rambutnya yang sudah berantakan, memakai kembali jaket denimnya, lalu berbalik menyusuri lorong kos-kosan sambil bersiul santai, seolah malam penuh emosi di taman itu tidak pernah terjadi.
Sinta masih berdiri di ambang pintu, memeluk kantong kresek berisi roti hangat itu di dadanya. Matanya terus mengikuti punggung Raka hingga pemuda itu berbelok di ujung lorong.
"Dia menyebalkan sekali," gumam Sinta pelan, tapi Nara bisa melihat ada sedikit senyum tipis yang berusaha ditahan di sudut bibir ibunya itu.
"Ya," jawab Nara. "Dia memang menyebalkan."
Nara merasa lega, misinya berhasil.
Sangat berhasil.
Ia telah menyatukan mereka, Ia telah menjadi teman yang baik.
Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, Nara merasakan sesuatu yang membuat dadanya sakit.
Menyelamatkan takdir ternyata jauh, jauh lebih menyakitkan daripada menghancurkannya.