NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi di Atas Ranjang Paviliun

Cahaya fajar menyelinap malu-malu melalui celah gorden, menyinari kamar yang penuh dengan aroma obat-obatan dan sisa ketegangan semalam. Geneviève membuka matanya. Tidak ada lagi kabur atau kebingungan. Sorot matanya kini tajam, jernih, dan penuh otoritas—sorot mata seorang calon Ratu.

Ia merasakan berat di tangan kanannya. Saat ia menoleh, ia melihat Eisérre. Jenderal agung itu tertidur dalam posisi yang sangat tidak nyaman; duduk di lantai yang dingin dengan punggung bersandar pada pinggiran ranjang, namun tangannya tetap menggenggam erat tangan Geneviève seolah-olah jika ia melepasnya sedetik saja, dunia akan hancur.

Geneviève menatap wajah itu. Dalam tidurnya, garis kaku di wajah Eisérre sedikit mengendur, memperlihatkan gurat kelelahan yang luar biasa. Geneviève menghela napas pelan. Ia tahu pria ini berbohong. Ia tahu pria ini telah mencurinya dari dunianya selama sebulan.

Namun, saat ia memperhatikan sekeliling paviliun yang sepi dan kaku ini, Geneviève menyadari satu hal: Eisérre hanyalah seorang pria yang sangat kesepian. Pria yang dipaksa menjadi robot sempurna oleh neneknya, dan mungkin, Geneviève adalah satu-satunya "warna" yang pernah ia miliki.

Dengan gerakan lembut, Geneviève mengangkat tangan kirinya dan mulai mengelus rambut gelap Eisérre. Jemarinya bergerak perlahan, seolah sedang menenangkan seorang pasien yang sedang kritis.

Sentuhan halus itu membuat Eisérre tersentak bangun. Ia segera menegakkan tubuhnya, matanya yang merah karena kurang tidur langsung mencari wajah Geneviève.

"Ève? Kau sudah bangun? Syukurlah..." Suaranya serak, penuh dengan kelegaan yang murni.

Geneviève tertegun sejenak mendengar nama itu. Ève. Nama panggilan masa kecilnya yang hanya diketahui oleh keluarga inti kerajaan. Bagaimana bisa Eisérre tahu? Apakah dia hanya menebak, atau dia memang sudah tahu sejak awal?

Namun, Geneviève tidak membiarkan emosinya menguasai diri. Ia menarik tangannya dari elusan tadi, lalu duduk bersandar pada bantal dengan martabat yang kembali utuh. Suaranya tidak lagi manja seperti anak kecil, melainkan tenang dan berwibawa—suara yang biasa ia gunakan di ruang operasi saat menangani keadaan darurat.

"Tentu saja aku bangun. Kau lihat aku ini kenapa, Tuan Jenderal?" Ucap Geneviève tenang. Nada suaranya dingin, membuat jarak yang sangat lebar di antara mereka.

Eisérre membeku. Perubahan nada suara itu seperti tamparan baginya. Ia tahu, saat ini juga, Ève-nya yang polos telah pergi, dan Putri Mahkota Geneviève telah kembali.

"Ève, maksudku..." Eisérre mencoba bicara, namun lidahnya terasa kelu.

"Apakah ada sesuatu yang ingin Anda katakan kepada saya, Tuan Jenderal Eisérre Valois?" Potong Geneviève, menekankan setiap kata pada gelar dan nama lengkap Eisérre. "Atau Anda ingin saya yang menjelaskan kronologi bagaimana saya bisa berakhir di tempat tidur Anda selama sebulan lebih?"

Eisérre menatap mata cokelat itu. Tidak ada ketakutan di sana, hanya tuntutan akan sebuah kejujuran. Sang Jenderal Agung yang ditakuti di medan perang itu kini merasa kecil di bawah tatapan seorang wanita yang sedang menanti pengakuan dosanya.

"Aku..." Eisérre menunduk, tangannya mengepal di atas lantai kayu. "Aku hanya tidak ingin kehilanganmu, Geneviève."

Geneviève tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Mencintai itu satu hal, Jenderal. Tapi menculik seorang Putri Mahkota dan menyembunyikannya dari negaranya yang sedang berduka... itu adalah pengkhianatan tingkat tinggi. Jadi, berikan aku satu alasan yang masuk akal kenapa aku tidak harus memerintahkan kakakku untuk menghukum mati Anda sekarang juga?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!