Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
London selalu punya caranya sendiri menampilkan kemewahan. Gedung-gedung menjulang di pusat kota dihiasi lampu berkilau, dan malam itu sebuah hotel bintang lima di kawasan Mayfair berdiri paling mencolok. Hotel itu dipenuhi tamu-tamu berpakaian formal. Ballroom utamanya malam itu menjadi saksi sebuah pesta besar—perayaan kemenangan proyek internasional yang ditangani oleh sebuah firma konsultan ternama.
Musik orkestra berpadu dengan dentingan gelas sampanye. Para pria bersetelan jas elegan dan wanita bergaun malam tampak berseliweran, berbincang, menertawakan lelucon, atau sekadar bersulang. Aroma parfum mahal bercampur dengan harum wine yang memenuhi udara.
Di tengah keramaian itu, seorang pria tampak begitu menonjol. Pramana Adiyaksa, pria berusia tiga puluh dua tahun, berdiri di dekat meja minuman dengan jas navy yang tak sepurna melekat di tubuh tegapnya. Wajah Asia-nya membuatnya berbeda di antara dominasi tamu berkulit pucat, dan sorot matanya yang tajam menambah karisma.
Sebagai konsultan finansial yang sudah lebih dari sepuluh tahun menetap di London, Pramana dikenal kompeten, cerdas, dan berkarier cemerlang. Namun, di balik semua itu, ia menyimpan sisi yang jarang diketahui publik: ia sorang pria yang memiliki kelainan seksual, alias gay. Rekan kerja serta keluarga, terutama kedua orang tuanya tidak mengetahui kalo Pramana seorang penyuka sesama jenis.
Gaya hidup bebas di luar negeri selama belasan tahun membuat Pramana lupa akan dosa, yang sudah ia lakukan selama ini.
Malam ini, semua hal tampak berjalan sempurna. Rekan-rekan kerja menepuk punggungnya, memuji pencapaiannya, dan mengajaknya bersulang berkali-kali.
“Pramana, kau bintang malam ini, selamat atas kerja keras mu, bro! ” seru salah satu koleganya, seorang pria Inggris berambut pirang.
“Cheers!” sahut yang lain sambil mengangkat gelas.
Pramana tersenyum samar, lalu menenggak sampanye. Gelas pertama terasa ringan, gelas kedua mulai menghangatkan tubuh, gelas ketiga membuat kepalanya melayang. Ia jarang mabuk, tapi euforia malam itu membuatnya kehilangan kendali.
---
Di sisi lain ballroom, seorang wanita muda berdiri sambil mengamati ruangan dengan tatapan tenang. Aaliyah Johnson, berusia dua puluh tujuh tahun, malam itu tampil anggun dengan gaun hitam sederhana di tambah dengan kalung berlian mengkilap melingkar di leher jenjangnya. Rambut cokelat gelapnya digerai, membuat wajah blasterannya terlihat semakin menawan.
Aaliyah adalah seorang desainer interior.
Pekerjaannya beberapa bulan lalu pernah terhubung dengan salah satu cabang firma yang kini menggelar pesta. Karena kontribusinya dalam proyek desain ruang kantor baru mereka, Aaliyah mendapat undangan untuk hadir malam itu.
Meski awalnya enggan, rekan kerjanyanya mendorong untuk datang ke pesta tersebut. “Kau perlu memperluas relasi, Aaliyah, supaya banyak perusahaan yang memakai jasa kantor kita. ” begitu kata rekan kerjanya, bernama Veronica.
Dan malam itu, di tengah gemerlap pesta, Aaliyah merasa asing. Dunia orang-orang korporat, dengan jargon bisnis dan gelas sampanye di tangan, jauh dari zona nyamannya sebagai desainer yang terbiasa dengan Layar komputer, serta kertas sketsa yang berserakan di lantai ruang kerjanya.
Ia memilih berdiri agak jauh, menikmati musik, sambil sesekali menyesap minuman ringan yang dibawakan pelayan. Hingga matanya menangkap sosok familiar.
Pria itu.
Aaliyah langsung mengenali pria tersebut. Bukan karena mereka pernah bertegur sapa, melainkan karena mereka tinggal di komplek perumahan yang sama. Ia sering melihat Pramana yang tinggal beberapa blok dari rumahnya. Beberapa kali, tanpa sengaja, Aaliyah melihat pria itu pulang larut malam dengan ditemani seorang laki - laki. Bahkan Aaliyah pernah menyaksikan dari kejauhan, Pramana berpelukan mesra dengan seorang pria di area parkir sebuah restoran.
Fakta itu membuat Aaliyah yakin siapa Pramana sebenarnya. Ia tak pernah berniat membicarakan atau menilainya, hanya menyimpan pengamatan itu dalam hati.
Namun, melihat Pramana, larut dalam gelas demi gelas sebuah minuman, membuat Aaliyah mengerutkan kening. Ada sesuatu yang berbeda di matanya: kosong, jauh, seolah mabuk bukan sekadar karena euforia, tapi juga upaya melarikan diri.
^_° °_^
Waktu berlalu, pesta makin larut. Beberapa tamu mulai pulang, sebagian tetap bertahan. Pramana, yang sudah terlalu banyak menenggak alkohol, akhirnya keluar dari ballroom. Kepalanya terasa
berat, langkahnya goyah, napasnya berat. Ia hanya ingin mencari udara segar untuk menghilangkan rasa mabuknya, tapi dunia terasa berputar.
Di lorong hotel yang lengang, ia berpapasan dengan seorang wanita.
“Kau oke?” tanya Aaliyah, reflek. Ia tidak ingin terlibat jauh, namun melihat seseorang yang hampir terjatuh di koridor hotel membuat tangannya meraih lengan pria itu untuk menopang.
Pramana menatapnya dengan tatapan kosong. "Maaf," suaranya bergumam, tak jelas pada orang yang sudah membantu dirinya.
Ia menyangka ini mungkin seseorang dari kantornya, seseorang yang ia kenal—tapi
wajah yang menatapnya bukanlah wajah yang dikenalnya. Ia tidak tahu siapa perempuan yang sudah membantunya. Ia menatapnya lagi, lalu mulai menggumam sesuatu yang tak jelas.
Dari dalam tubuhnya mendapat reaksi yang entah lah. Pramana bingung, ada dorongan ingin dekat pada wanita di depannya itu—sebuah kebutuhan nafsu yang tak pernah ia rasakan pada perempuan—yang kini muncul tiba - tiba di dekatnya. Karena alkohol menenggelamkan semua logika dalam dirinya.
Aaliyah, yang melihat wajah Pramana berubah penuh nafsu membuat ia, merasakan sesuatu yang tak benar dari tetapan itu. Ia menarik lengan Pramana dengan kasar. “Kau mabuk. Kau harus
kembali ke kamarmu atau aku panggilkan staf hotel, supaya membantu mencari kamar mu berada ?” katanya, suaranya dingin namun terkendali.
Pramana tersenyum simrik. Dia mengangkat satu tangan mencengkram lengan Aaliyah, matanya setengah terpejam.
“Jangan… jangan pergi. Hanya tunggu…” Kata-katanya terhenti begitu saja, bukan karena ia tak mau, tapi karena dunia di sekelilingnya berputar terlalu cepat. Ada kebingungan besar di dadanya — bukan soal siapa yang berdiri di hadapannya, tetapi tentang dorongan-dorongan yang tak pernah ia rasa selama ini. Aaliyah merasakan genggaman di lengannya menjadi lebih kuat. Ia menepisnya, hendak menjauh, tetapi tangan Pramana semakin
kencang mencengkramnya.
Kekuatan fisik yang tampak biasa saja berubah jadi kasar, karena alkohol memberi keberanian tanpa kontrol. Ia menarik Aaliyah, bukan dengan sopan santun, tetapi seperti menarik mendaratkan diri dalam jurang. Mereka bergerak ke sebuah kamar hotel di pojok lorong—pintu terbuka yang belum sempat di tutup oleh pegawai yang sedang memindahkan barang di ruangan lain. Pramana berhasil menyeret Aaliyah masuk ke dalam ruang yang berisikan tirai tebal, lampu yang meredup, dan ranjang besar.
“Lepaskan aku!” suara Aaliyah meninggi; tapak kakinya terhenti di depan pintu.. Ia menendang, mendorong, memanggil nama siapa pun yang bisa membantunya.
Mendapatkan perlawanan dari wanita tersebut membuat Pramana semakin berani menarik lengan Aaliyah. Hasrat dalam dirinya bergejolak ketika bersentuhan langsung dengan kulit mulus Aaliyah. Ini pertama kalinya Pramana merasakan hal seperti ini ketika bersentuhan dengan seorang wanita. Hasrat dan gelombang hawa nafsu membuat dirinya ingin menyentuh lebih pada wanita di genggamannya ini.
Aaliyah terus memukul, menendang, membentak, berusaha meraih gagang pintu—segala cara untuk membebaskan dirinya. Wajahnya memerah karena marah, napasnya memburu. Pramana, di balik kabut minuman, hanya menggenggam lebih kuat. Ada momen di mana dunia melambat di sekitar mereka.
Pintu tertutup rapat. Di saat itu juga Pramana menghempaskan tubuh sintal Aaliyah ke atas ranjang hotel.
Ia mulai mencumbu bibir ranum Aaliyah dengan paksa, lalu berpindah mencium leher Aaliyah lalu menggitnya. Bekas tanda kemerahan terlihat jelas di leher Aaliyah saat ini.
Aaliyah tidak hanya diam. Ia terus memukul dan meraung - raung menghentikan Pramana yang mulai menyentuh anggota tubuh lainnya.
" Lepaskan saya sialan!... Jangan sentuh tubuh ku !!..." jerit Aaliyah sambil mencakar punggung Pramana dengan brutal.
Sayang seribu sayang....
Malam itu juga harta berharga yang sudah Aaliyah jaga dua puluh tujuh tahun di renggut paksa oleh Pramana dalam keadaan mabuk berat.
Air mata Aaliyah terus menetes membasahi wajah cantiknya. Pompa demi pompa Pramana berikan di bagian intim milik Aaliyah. Ia tidak peduli dengan suara tangisan Aaliyah yang sangat memilukan itu. Yang terpenting hasrat yang bergejolak di dalam tubuhnya harus segera di tuntaskan.
" Ouhhh... ini sangat nikmati sekali.. ahh.., " Pramana tersenyum senang mendapatkan kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan.
Pramana tidak hanya sekali melakukan hal tersebut pada tubuh Aaliyah melainkan berulang kali. Ia merasakan sebuah kenikmatan surga dunia yang di sukai oleh orang normal. Ia sangat menikmati permainan yang ia kendalikan di atas tubuh Aaliyah.
Kalo Pramana dalam ke adaan sadar, sudah di pastikan ia tidak akan mau merudal paksa seorang wanita sampai berulang kali seperti ini.
°_^ ^_°
Pagi hari. Cahaya matahari menembus tirai kamar hotel. Aaliyah membuka mata dengan kepala berat, tubuh gemetar, dan hati berantakan. Malam tadi terus terbayang di kepalanya, bagaimana Pramana menyentuh tubuhnya.
Di sisi lain ranjang, Pramana terbaring
dengan mata perlahan terbuka. Saat menyadari ada seorang wanita di sisi ranjangnya, ia langsung terlonjak, tubuhnya menegang.
“Maaf…” suaranya parau.
Wanita itu bangkit dengan cepat, meraih gaunnya yang tergeletak di lantai, lalu memakainya. Ia berdiri menghadapi Pramana. Sorot matanya tajam, penuh marah bercampur jijik.
“Jangan berani bicara padaku setelah ini,” ucapnya dingin.
“Maaf, aku—”
“Diam!” bentaknya. Air mata menetes, tapi suaranya tegas. “Aku tahu siapa kau, Tuan. Aku tahu kau seorang pria yang tak menyukai wanita. Aku melihatmu… berkali-kali bersama pria, berpelukan dan berciuman mesrah di tempat umum. Kau bahkan tidak menginginkan perempuan, kan? Lalu kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku?!”
Pramana membeku. Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada pukulan apa pun.
Aaliyah merapikan rambutnya dengan tangan bergetar. “ Kalau kau ingin bertang jawab pada ku, maka jawaban ku. "
"Aku tidak butuh pertanggung jawaban mu! Lebih baik segera lah kau bertobat dan mendekati diri pada tuhan, ingat kedua orang tua mu. Bagaimana meraka sampai tahu kalo anak lelakinya seorang gay. "
Tanpa memberi kesempatan Pramana
bicara, Aaliyah melangkah ke pintu dan meninggalkan kamar itu dengan langkah tegas.
Pintu tertutup. Hening.
Dan Pramana terduduk, menatap kosong ke dinding kamar hotel. Dadanya terasa sesak, kepalanya dipenuhi penyesalan. Malam itu, satu kesalahan telah merenggut segalanya—dan mengubah arah hidupnya selamanya.
Perkataan Aaliyah barusan membuat dirinya tertampar tangan tak kasat mata. Sakit tapi tak berdarah. Ia menatap ke arah ranjang yang terdapat bercak darah membuat Pramana semakin bersalah pada wanita yang sudah ia lecehkan.
" Brengsek!! Kamu pria brengsek, Pramana!! " jerit Pramana sambil menjambak rambut dan memukul wajahnya dengan kasar.
Bersambung....
***
Assalamualaikum, Hallo. Sayang - sayang ku semuanya. Aku balik lagi dengan cerita baru nih. Semoga yang membaca cerita aku ini suka dan terhibur, ya. Kalo ada salah penulisan mohon maaf 🙏🙏