UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu Krem yang Memudar
“…baik.”
Raka mengangguk puas.
“Bagus.”
Ia berbalik dan mulai berjalan keluar dari taman.
Lampu taman perlahan tertinggal di belakang mereka.
Langkah mereka terdengar pelan di jalur batu yang mulai gelap.
Udara malam terasa sedikit lebih dingin sekarang.
Begitu mereka keluar dari taman, jalan kembali berubah menjadi trotoar sempit di pinggir jalan kota.
Lalu lintas sudah jauh lebih sepi.
Sesekali sebuah mobil tua melintas dengan suara mesin yang berat.
Lampu depannya menyapu aspal sebentar sebelum menghilang di tikungan.
Raka berjalan santai seperti biasa.
Tangannya kembali masuk ke saku jaket.
Gitar masih tergantung di punggungnya.
Nara berjalan di sampingnya sekarang.
Ia berkata pelan,
“Tempatmu jauh?”
Raka menggeleng.
“Tidak.”
Ia menunjuk ke arah depan dengan dagunya.
“Beberapa gang lagi.”
Mereka berjalan melewati deretan toko yang sudah tutup.
Rolling door logam menutup sebagian besar bangunan.
Beberapa lampu toko masih menyala redup dari dalam.
Raka tiba-tiba berbelok ke sebuah jalan kecil di antara dua ruko.
Gang itu jauh lebih sempit.
Lampu jalannya hanya satu.
Cahayanya kuning pucat.
Rumah-rumah kecil berdiri rapat di kedua sisi gang.
Beberapa jendela masih menyala.
Suara televisi terdengar dari salah satu rumah.
Siaran berita malam.
Seorang ibu lewat di depan mereka sambil membawa ember air.
Ia melirik Raka sebentar.
“Belum tidur, Ka?”
Raka mengangkat tangan.
“Belum, Bu.”
Wanita itu memperhatikan Nara sekilas.
Namun tidak bertanya apa-apa.
Ia masuk ke rumahnya.
Nara menoleh sedikit ke arah Raka.
“Kamu kenal semua orang di sini?”
Raka tertawa kecil.
“Kalau sering pulang larut malam… semua orang jadi kenal.”
Mereka berjalan lebih dalam ke gang.
Beberapa sepeda motor tua terparkir di depan rumah.
Seekor kucing tidur di atas kursi plastik.
Ketika mereka lewat, kucing itu membuka satu mata lalu menutupnya lagi.
Raka akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan pintu kayu yang sudah agak pudar.
Ia mengeluarkan kunci dari saku.
“Tempatku tidak besar,” katanya santai.
Nara menatap rumah itu.
Bangunannya sederhana.
Dindingnya dicat warna krem yang mulai memudar.
Sebuah lampu kecil menyala di teras sempit.
Ia berkata pelan,
“Kamu tinggal sendiri?”
Raka memasukkan kunci ke lubang pintu.
“Tidak juga.”
Nara mengerutkan alis sedikit.
“Tidak?”
Raka memutar kunci.
Klik.
Pintu kayu terbuka pelan.
“Tempat ini milik temanku.”
Ia mendorong pintu sedikit lebih lebar.
“Aku cuma menumpang.”
Raka menoleh ke arah Nara.
“Masuk saja.”
Nara berdiri sebentar di ambang pintu.
Ia melihat ke dalam rumah yang remang.
Perasaan aneh muncul lagi di dadanya.
Ia tidak tahu kenapa.
Mungkin karena semuanya terasa terlalu cepat.
Beberapa jam lalu ia masih berada di rumahnya sendiri.
Sekarang…
Ia berdiri di depan rumah seorang pria yang baru saja ia kenal.
Di tahun yang bahkan bukan waktunya.
Raka memperhatikannya dari dalam.
“Kamu akan berdiri di sana terus?”
Nara menggeleng kecil.
“…tidak.”
Ia melangkah masuk.
Begitu Nara masuk, Raka menutup pintu kayu di belakangnya.
Klik.
Rumah itu terasa kecil.
Tidak terlalu sempit, tapi jelas bukan rumah besar.
Lampu kuning menggantung di langit-langit ruang depan, menerangi ruangan dengan cahaya hangat yang agak redup.
Udara di dalam terasa sedikit pengap, bercampur aroma kayu tua dan sesuatu yang familiar, aroma senar gitar dan kertas kaset.
Raka berjalan beberapa langkah ke dalam.
“Sepi,” katanya santai.
Nara menatap sekeliling.
Ruang itu lebih mirip kamar besar yang difungsikan untuk banyak hal sekaligus.
Di sisi kiri ada kasur tipis di atas lantai.
Tidak ada ranjang.
Hanya kasur, bantal, dan selimut yang dilipat rapi.
Di dekat jendela kecil ada meja kayu yang sudah agak tua.
Di atasnya:
tumpukan kaset musik beberapa majalah sebuah radio kecil, di dinding ada poster band yang sudah mulai pudar di sudut-sudutnya.
Beberapa gitar bersandar di dinding.
Satu gitar akustik.
Satu lagi terlihat lebih tua dengan warna kayu yang gelap.
Nara berjalan beberapa langkah masuk.
Matanya terus melihat ke sekeliling.
“Ini tempatmu?”
Raka mengangguk sambil melepas gitar dari punggungnya.
“Kurang lebih.”
Ia menyandarkan gitar itu di dinding bersama yang lain.
“Kamar kontrakan teman.”
Ia menunjuk ke arah pintu kecil di samping.
“Dia kerja malam.”
“Jarang pulang.”
Nara mengangguk pelan.
Ia berhenti di dekat meja kayu.
Tangannya menyentuh salah satu kaset di atas meja.
Kotak plastik transparan.
Judul album tertulis dengan huruf besar.
Ia membalik kaset itu pelan.
“Banyak sekali,” katanya.
Raka melirik.
“Kaset?”
Nara mengangguk.
“Kamu koleksi semuanya?”
Raka tertawa kecil.
“Sebagian.”
Ia menunjuk ke arah kaset lain yang bertumpuk.
“Sebagian lagi pinjam.”
“Dari mana?”
“Teman.”
“Radio.”
“Toko kaset.”
Ia mengangkat bahu.
“Musik gampang ditemukan kalau kamu cukup keras kepala.”
Nara tersenyum kecil.
Ia melihat ke arah dinding lagi.
Poster band yang menempel tidak semuanya rapi.
Beberapa ditempel dengan selotip yang sudah menguning.
“Temanmu tidak keberatan kamarnya jadi seperti ini?”
Raka tertawa.
“Dia juga musisi.”
“Jadi dia tidak peduli.”
Raka berjalan ke arah jendela kecil.
Ia membuka sedikit agar udara malam masuk.
Angin dingin segera menyelinap ke dalam kamar.
Daun jendela kayu berderit pelan.
Nara masih melihat sekeliling.
Kamar itu sederhana.
Namun ada sesuatu yang terasa hidup di dalamnya.
Semua benda di ruangan ini terlihat seperti benar-benar dipakai.
Benar-benar hidup bersama pemiliknya.
Tidak seperti rumah modern yang rapi tapi dingin.
Raka berkata dari dekat jendela,
“Tidak terlalu mengecewakan, kan?”
Nara menoleh.
“Apa?”
“Tempatnya.”
Ia menyandarkan bahunya ke dinding.
“Biasanya orang berharap sesuatu yang lebih bagus.”
Nara menggeleng.
“Tidak.”
Ia melihat sekeliling sekali lagi.
“Tempat ini terasa… nyaman.”
Raka mengangkat alis.
“Itu pujian?”
“Mungkin.”
Raka tersenyum kecil.
Ia berjalan kembali ke meja.
Tangannya mengambil radio kecil.
Ia memutar tombol.
Radio itu mengeluarkan suara statis sebentar.
Krrrshh.
Lalu sebuah lagu lama mulai terdengar pelan dari speaker kecil.
Suara gitar akustik mengalun lembut.
Raka meletakkan radio itu kembali di meja.
“Musik membuat tempat kecil terasa lebih besar.”
Nara duduk di tepi kasur.
Kasurnya tipis, tapi cukup nyaman.
Ia melihat ke arah gitar-gitar di dinding.
“Kamu punya banyak gitar.”
Raka menoleh.
“Tidak juga.”
Ia menunjuk gitar yang paling tua.
“Itu punya temanku.”
Ia menunjuk gitar lain.
“Itu yang kupakai di terminal.”
Nara menatap gitar itu beberapa detik.
Ia berkata pelan,
“Kamu benar-benar hidup untuk musik.”
Raka menyeringai.
“Belum tentu.”
“Kenapa?”
“Kadang musik yang hidup untukku.”
Nara hampir tertawa.
Namun matanya tiba-tiba tertarik pada sesuatu di meja.
Sebuah bingkai foto kecil.
Bingkai kayu sederhana.
Lampu kamar yang redup membuat gambar di dalamnya tidak terlalu jelas.
Nara berdiri sedikit dari kasur.
Ia mendekat ke meja.
Matanya memperhatikan foto itu.
Di dalam foto terlihat dua orang.
Seorang pria dewasa.
Dan seorang anak kecil.
Gambar itu sedikit buram karena cahaya lampu yang redup.
Namun ada sesuatu yang membuat Nara berhenti lebih lama dari seharusnya.
Perasaan yang sama muncul lagi.
Perasaan aneh.
Seperti melihat sesuatu yang seharusnya ia kenal.
Raka memperhatikan dari belakang.
“Kamu melihat apa?”
Nara sedikit tersentak.
Ia menunjuk foto itu.
“Foto itu.”
Raka mendekat beberapa langkah.
“Oh.”
Ia melirik sebentar.
“Itu foto lama.”
“Siapa?”
Raka mengangkat bahu.
“Ayahku.”
Ia menunjuk anak kecil di foto itu.
“Dan aku.”
Nara menatap foto itu lagi.
Sekarang lebih lama.
Namun lampu yang redup membuat wajah di foto itu tetap sulit terlihat jelas.
Ia berkata pelan,
“Foto lama sekali.”
Raka mengangguk.
“Lumayan.”
Ia mengambil gelas kosong dari meja.
“Aku akan buat teh lagi.”
Ia menunjuk pintu kecil di belakang.
Raka berjalan ke arah dapur.
Sementara Nara tetap berdiri di dekat meja.
Matanya masih tertuju pada foto kecil itu.
Perasaan aneh itu kembali muncul.
Namun kali ini lebih kuat.
Seolah foto itu menyimpan sesuatu yang penting.
Sesuatu yang belum ia pahami.
Langkah Raka menghilang ke balik pintu dapur kecil.
Suara lemari dibuka terdengar pelan.
Logam gelas saling bersentuhan.
Ting.
Radio kecil di meja masih memutar lagu pelan.
Suara gitar akustik mengalun lembut, bercampur dengan suara air yang mulai mengalir dari dapur.
Nara masih berdiri di dekat meja.
Matanya tertuju pada bingkai foto kecil itu.
Lampu kamar yang redup membuat gambar di dalamnya terlihat buram.
Ia menggeser sedikit posisi bingkai itu agar lebih dekat dengan cahaya lampu.
Foto itu tampak lebih jelas sekarang.
Seorang pria dewasa berdiri di belakang seorang anak kecil.
Tangan pria itu diletakkan di bahu anak tersebut.
Foto itu diambil di luar ruangan.
Di belakang mereka terlihat pohon besar dan pagar kayu.
Nara memperhatikan wajah anak kecil itu.
Rambutnya agak berantakan.
Senyumnya lebar.
Matanya terlihat sangat hidup.
Ia terlihat berumur sekitar delapan atau sembilan tahun.
Nara menatap wajah anak itu lebih lama.
Lalu ia melirik wajah pria di belakangnya.
Pria itu terlihat lebih tua.
Mungkin sekitar empat puluh tahun.
Wajahnya tegas.
Namun ada senyum kecil di sudut bibirnya.
Nara mencoba melihat lebih dekat.
Ada sesuatu tentang foto itu yang membuat dadanya terasa aneh.
Bukan karena ia mengenal orang-orang di dalamnya.
Tapi karena ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Seolah ia sedang melihat sesuatu yang penting.
Namun belum tahu kenapa.
Ia mendengar langkah Raka kembali dari dapur.
Nara cepat-cepat menggeser bingkai foto itu kembali ke tempat semula.
Raka keluar dari dapur dengan dua gelas teh.
Uap tipis naik dari permukaannya.
Ia melihat Nara masih berdiri di dekat meja.
“Masih melihat foto itu?”
Nara menoleh.
“Sedikit.”
Raka meletakkan gelas di meja.
“Foto lama.”
Nara menunjuk foto itu.
“Kamu berapa tahun di situ?”
Raka melirik sebentar.
“Mungkin delapan.”
Ia mengambil salah satu gelas teh dan menyerahkannya ke Nara.
“Nih.”
Nara menerimanya.
Panas gelas itu langsung terasa di telapak tangannya.
Raka duduk di kursi dekat meja.
“Foto itu diambil di rumah lama.”
“Rumah lama?”
Raka mengangguk.
“Dulu kami tinggal agak jauh dari kota.”
Ia menyesap teh pelan.
“Sekarang sudah dijual.”
Nara menatap foto itu lagi.
“Kamu dekat dengan ayahmu waktu kecil?”
Raka memikirkan pertanyaan itu sebentar.
Kemudian mengangkat bahu kecil.
“Lumayan.”
Ia tersenyum tipis.
“Waktu kecil semuanya terasa lebih mudah.”
Nara menatap wajah anak kecil di foto itu lagi.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Cara anak itu tersenyum.
Cara matanya menyipit sedikit.
Entah kenapa, ekspresi itu terasa… familiar.
Raka memperhatikan wajah Nara.
“Kamu melihat foto itu seperti sedang memecahkan teka-teki.”
Nara tersadar.
Ia cepat menggeleng.
“Tidak.”
Raka menyeringai kecil.
“Tenang saja.”
Ia menunjuk foto itu dengan dagunya.
“Bukan rahasia besar.”
Nara mengangguk pelan.
Namun ketika ia menatap foto itu sekali lagi…
perasaan aneh itu belum hilang.
Bahkan terasa sedikit lebih kuat.
Seolah ada sesuatu di foto itu yang ingin ia ingat.
Namun pikirannya belum bisa menemukannya.
Raka menarik kursi kayu sedikit lebih dekat ke meja.
Bunyi gesekan kayu dengan lantai terdengar pelan.
Nara masih berdiri sebentar di dekat meja sebelum akhirnya duduk kembali di tepi kasur.
Radio kecil di meja masih memutar lagu lama.
Suara gitar dari lagu itu bercampur dengan suara malam dari luar jendela.
Sesekali terdengar motor lewat di gang.
Raka menyesap teh pelan.
Kemudian berkata,
“Kamu melihat foto itu seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.”
Nara mengangkat bahu kecil.
“Mungkin hanya penasaran.”
Raka menatapnya beberapa detik.
Tatapannya tidak menekan, tapi jelas memperhatikan.
“Orang biasanya tidak terlalu lama melihat foto orang asing.”
Nara mengalihkan pandangannya ke gelas teh.
“Semua orang punya cerita.”
Raka tersenyum tipis.
“Benar juga.”
Ia memutar gelas teh di tangannya.
“Masalahnya… kamu belum cerita apa-apa.”
Nara tidak langsung menjawab.
Ia menatap uap tipis yang naik dari gelasnya.
Raka melanjutkan dengan santai,
“Nama aku sudah kamu tahu.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku bahkan sudah cerita sedikit tentang ayahku.”
Ia memiringkan kepala sedikit.
“Tapi kamu…”
Ia menunjuk Nara dengan dagunya.
“…masih misterius.”
Nara menatapnya lagi.
“Kamu selalu ingin tahu semua tentang orang?”
“Tidak.”
Raka mengangkat bahu.
“Tapi aku ingin tahu tentang orang yang tiba-tiba muncul di terminal tengah malam.”
Nara tersenyum kecil.
“Itu masuk akal.”
Raka bersandar di kursinya.
“Kamu bahkan belum cerita tentang keluargamu.”
Nara terdiam.
Beberapa detik ruangan terasa lebih sunyi.
Radio berpindah lagu.
Suara penyanyi pria terdengar pelan dari speaker kecil.
Raka memperhatikan wajah Nara.
“Kamu tidak dekat dengan keluargamu?”
Nara menatap lantai sebentar.
Kemudian berkata pelan,
“Aku dekat.”
“Lalu?”
Nara mengangkat bahu kecil.
“Aku hanya… tidak tahu bagaimana menjelaskannya.”
Raka memiringkan kepalanya.
“Menjelaskan apa?”
Nara membuka mulutnya.
Lalu menutupnya lagi.
Karena bagaimana ia menjelaskan bahwa keluarganya belum ada di waktu ini?
Ia berkata akhirnya,
“Aku hanya… sedang jauh dari mereka.”
Raka mengangguk pelan.
Seolah itu cukup baginya.
“Kadang itu terjadi.”
Ia menatap jendela kecil di sisi kamar.
“Kadang orang perlu menjauh sebentar.”
Nara berkata pelan,
“Kadang orang tidak punya pilihan.”
Raka menoleh lagi ke arahnya.
“Masalah?”
Nara menggeleng.
“Bukan seperti itu.”
Raka mempelajari wajahnya sebentar.
Kemudian tersenyum kecil.
“Baik.”
Ia mengangkat kedua tangannya sedikit.
“Aku tidak akan menginterogasi kamu lagi malam ini.”
Nara hampir tertawa.
“Terima kasih.”
Raka berdiri dari kursinya.
Ia mengambil gitar yang bersandar di dinding.
Kemudian duduk kembali di kursi.
Gitar itu ia letakkan di pangkuannya.
Ia memetik satu senar pelan.
Ting.
Suara gitar itu memenuhi kamar kecil itu dengan lembut.
Raka berkata sambil menyesuaikan senar,
“Aku biasanya tidak punya tamu tengah malam.”
Nara menatapnya.
“Maaf.”
Raka menggeleng cepat.
“Bukan keluhan.”
Ia menyeringai kecil.
“Hanya ungkapan.”
Ia memetik beberapa nada pendek.
Melodi sederhana mengalir di ruangan.
Nara bersandar sedikit di kasur.
Suara gitar itu membuat ruangan terasa lebih tenang.
Raka memainkan beberapa chord lagi.
Kemudian berkata tanpa berhenti bermain,
“Kamu boleh tidur kalau mau.”
Nara menggeleng.
“Aku belum mengantuk.”
Raka tertawa kecil.
“Biasanya orang yang bilang begitu akan tertidur lima menit lagi.”
Nara menatap langit-langit kamar.
Catnya sedikit retak di beberapa tempat.
“Aku tidak terbiasa tidur di tempat baru.”
Raka memetik senar lagi.
Ting.
“Kalau begitu dengarkan musik.”
Ia memainkan melodi yang lebih pelan sekarang.
Nada-nadanya lembut.
Hampir seperti lagu pengantar tidur.
Nara memejamkan mata sebentar.
Namun pikirannya masih berputar.
Tentang rumah.
Tentang ayahnya.
Tentang jam tua itu.
Tentang tahun 1995.
Dan tentang pria yang sekarang duduk di kursi kecil memainkan gitar di ruangan sempit ini.
Semua terasa terlalu aneh.
Ia membuka matanya lagi.
Menatap Raka.
Dan sekali lagi perasaan itu muncul.
Perasaan bahwa ada sesuatu tentang pria ini yang terasa terlalu akrab.
Namun ia masih belum tahu apa.
Raka masih duduk di kursi dekat meja.
Gitar di pangkuannya.
Jari-jarinya bergerak pelan di atas senar.
Melodi yang ia mainkan sederhana.
Lembut.
Nada-nadanya mengalir perlahan memenuhi kamar kecil itu.
Nara bersandar di kasur tipis.
Selimut masih terlipat di sampingnya.
Ia belum benar-benar berbaring.
Matanya menatap langit-langit.
Lampu kamar masih menyala redup.
Cahaya kuningnya membuat bayangan gitar Raka bergerak di dinding.
Radio di meja sudah dimatikan.
Sekarang hanya ada dua suara di kamar itu.
Gitar.
Dan malam di luar jendela.
Sesekali angin masuk dari jendela kecil.
Membawa suara jauh dari gang.
Motor lewat.
Seseorang menutup pintu.
Seekor anjing menggonggong sebentar lalu diam lagi.
Raka memainkan nada terakhir.
Ting.
Lalu berhenti.
Ia menatap senar gitar sebentar.
Kemudian berkata tanpa menoleh,
“Kamu masih bangun?”
Nara menjawab pelan,
“Ya.”
Raka menoleh sedikit.
“Kamu benar-benar tidak mengantuk?”
Nara menggeleng.
“Tidak.”
Raka tersenyum kecil.
“Aku sudah bilang.”
Ia menyandarkan gitar ke kursi.
“Tempat baru.”
“Pikiran baru.”
“Sulit tidur.”
Nara menatapnya.
“Kamu sering mengalami itu?”
Raka mengangkat bahu.
“Kadang.”
Ia berdiri lalu mematikan lampu kamar.
Klik.
Ruangan langsung berubah lebih gelap.
Hanya cahaya lampu jalan yang masuk dari jendela.
Cahaya itu membentuk garis panjang di lantai.
Raka duduk lagi di kursi.
Ia bersandar ke belakang.
“Coba tidur saja.”
katanya pelan.
Nara akhirnya berbaring di kasur.
Kasurnya tipis tapi cukup hangat.
Ia menarik selimut sampai ke dada.
Matanya masih terbuka.
Ia menatap langit-langit yang sekarang hampir tidak terlihat.
Beberapa detik berlalu.
Lalu beberapa menit.
Namun pikirannya tidak berhenti bergerak.
Ia memikirkan rumahnya.
Ia memikirkan gudang.
Jam tua itu.
Cahaya putih yang muncul tiba-tiba.
Dan sekarang…
tahun 1995.
Ia menarik napas pelan.
Kalau semua ini benar…
berarti ia benar-benar berada di masa lalu.
Bukan mimpi.
Bukan khayalan.
Masa lalu.
Ia menoleh sedikit ke arah kursi.
Raka masih duduk di sana.
Siluetnya terlihat samar di dekat jendela.
Ia terlihat santai.
Seolah malam ini hanyalah malam biasa.
Namun bagi Nara…
tidak ada yang biasa.
Sebuah pikiran muncul perlahan di kepalanya.
Pikiran yang sejak tadi ia hindari.
Jika ia benar-benar berada di masa lalu…
maka masa depan belum terjadi.
Ia menatap langit-langit lagi.
Jika masa depan belum terjadi…
berarti masa depan bisa berubah.
Pikirannya berhenti sebentar di situ.
Lalu muncul pertanyaan lain.
Kalau ia mengubah sesuatu…
apa yang akan terjadi?
Apakah semuanya akan tetap sama?
Atau justru berubah?
Ia memikirkan rumahnya.
Ayahnya.
Kehidupan yang ia tinggalkan.
Semua itu masih ada di masa depan.
Namun masa depan itu sekarang terasa sangat jauh.
Nara memejamkan mata sebentar.
Namun bahkan dalam gelap…
pikirannya tetap berputar.
Bagaimana jika kehadirannya di masa ini sudah mengubah sesuatu?
Bagaimana jika setiap langkah yang ia ambil sekarang…
membuat masa depan yang ia kenal perlahan berubah?
Ia membuka matanya lagi.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di tahun ini…
ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa berat.
Ia mungkin bukan hanya pengunjung di masa lalu.
Ia mungkin juga masalah bagi masa depan.
Di kursi dekat jendela, Raka berkata pelan dalam gelap,
“Kamu masih belum tidur.”
Nara menoleh sedikit.
“Kamu juga belum.”
Raka tertawa pelan.
“Musisi jarang tidur cepat.”
Beberapa detik mereka hanya mendengar suara malam.
Kemudian Raka berkata santai,
“Tenang saja.”
Nara menatap siluetnya.
“Apa?”
Raka menyandarkan kepalanya ke dinding.
“Besok biasanya semuanya terasa lebih jelas.”
Nara menatap langit-langit lagi.
Namun kali ini ia tidak yakin.
Karena satu hal sekarang terasa sangat jelas baginya.
Malam ini mungkin hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.