NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Insiden dalam Pesta

"Cantik sekali anak mama. Baju ini cocok sekali sama kamu, sayang..."

Seorang perempuan tampak sedang mengagumi putrinya yang sedang berlenggak lenggok di depan cermin, dengan dress pesta warna pink yang indah.

"Mama pasti hanya ingin menghiburku." balas gadis itu kemudian. Dia memasang wajah yang cemberut.

"Karena semua orang bilang, kak Yumna itu yang paling cantik." ujarnya.

"Itu artinya mata mereka yang bermasalah. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan dan pesona Nasya, anak kesayangan mama dan papa." tutur perempuan itu lagi.

Mereka adalah ibu dan anak. Bu Indri dan putri bungsunya, Nasya.

Tanpa mereka sadari, ada gadis lain yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka dari balik dinding di sisi pintu yang terbuka. Gadis itu adalah si putri pertama, Yumna. Yumna teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat Bu Indri mengambil dress pink itu dari tangan Yumna. Dan berkata kalau dress itu akan lebih cocok dipakai oleh adiknya. Dengan alasan seorang kakak harus pengertian dan mengalah pada adiknya, juga sebuah ancaman yang tersisip di dalamnya. Yumna terpaksa menyerahkan dress itu.

"Jangankan selembar kain. Bahkan untuk semua yang aku miliki, aku harus menyerahkannya pada Nasya." batin Yumna.

Yumna kemudian melangkah pergi, dia menuju kamarnya. Lalu menguncinya rapat-rapat.

Tak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar. Dengan langkah malas, Yumna membukanya.

"Ya ampun..., kamu masih begini?!" seru Bu Indri. "Lihat adik kamu. Dia sudah terlihat sangat cantik. Cepat siap-siap. Kita harus segera pergi!" ujarnya.

Yumna melihat Nasya dengan tatapan yang sulit diartikan. Satu sisi dia tak bisa memungkiri kalau Nasya terlihat cantik dengan dress pilihannya, ucapan mamanya memang benarnya. Tapi di sisi lain, dia juga mengeluh. Ada ketidakrelaan dalam dirinya, saat lagi-lagi barang miliknya berpindah tangan.

"Aku nggak ikut, ma." kata Yumna.

"Maaa..." Nasya langsung menarik-narik tangan mamanya. "Aku juga nggak mau pergi, kalau kakak nggak ikut..." ujarnya dengan manja.

Bukan karena Nasya peduli sama Yumna, saat dia mengatakan hal itu. Dia hanya tidak mau melewatkan momen yang menurutnya sangat seru. Dimana Yumna dan dirinya akan dibanding-bandingkan oleh keluarga besar mereka, dan para undangan. Dia selalu excited ketika sang kakak dibicarakan, ditertawakan, dan dihina banyak orang.

"Dia pasti malu karena tidak punya gaun lagi. Tapi aku harus bisa bikin dia datang. Harus...!!" batin Nasya.

"Kamu dengar itu, Yumna?!! Cepat bersiap!!" perintah mamanya lagi.

"Aku harus mengoreksi nilai anak-anak, ma. Nggak bisa ikut sama kalian. Kalian pergi saja bertiga." ujar Yumna beralasan.

"Yumna!!!"

Semua menoleh saat mendengar suara teriakan itu. Papanya yang sudah rapi pun muncul.

"Kamu harus ikut!" ujar pak Jodi menegaskan.

"Tapi, pa..."

"Jangan membantah!!" hardik papanya.

Yumna tahu, membantah artinya Yumna akan mendapat hukuman. Entah pukulan, tamparan, atau apapun itu. Yang pasti sangat merugikan dan menyakitkan bagi Yumna. Lalu Nasya mendekati Yumna, meraih tangannya dengan gerakan yang lembut. Tapi Yumna sangat tahu, itu hanyalah akting.

"Kakak..., aku tunggu di bawah ya..." ujarnya dengan cengkok yang dibuat selembut mungkin.

Yumna kemudian menarik tangannya dengan malas. Dia bosan dengan tingkah adiknya yang selalu seperti itu. Lalu dia kembali menutup pintu kamarnya.

"Kalau saja besok tidak ada acara penting, aku tidak akan pergi. Besok aku tidak boleh tampil berantakan." gumam Yumna.

___

Acara yang dihadiri oleh keluarga pak Jodi adalah pesta resepsi pernikahan keponakan pak Jodi. Acara dihadiri para kerabat, rekan bisnis, dan teman terdekat dari keluarga besar kedua mempelai.

Dan seperti yang sudah-sudah. Nasya berjalan dengan menggandeng kedua orang tuanya. Sedangkan Yumna berjalan seorang diri, sedikit berjarak dengan keluarganya. Yumna sudah tak canggung lagi, karena dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.

"Tante Sasa..." Nasya melepaskan tangannya dari lengan kedua orang tuanya. Lalu dia mendekati Sasa, adik papanya.

"Bukannya itu dress yang dibeli Yumna kemarin? Kok bisa anak manja itu yang pakai?" gumam Sasa dalam hati.

"Hai..." Sasa hanya melambaikan tangannya.

"Apa kabar, Sa?" tanya Bu Indri.

"Baik, mbak." balas Sasa.

"Lihat anak gadis kita...!!" ujar Sasa sambil tersenyum.

Nasya yang terlalu percaya diri, segera mengubah sikap menjadi seorang gadis yang pemalu dan lemah lembut. Seolah tak enak hati karena Sasa memujinya. Saat Sasa melewatinya, dia baru sadar kalau ucapan itu tidak ditujukan padanya. Melainkan pada sang kakak.

"Kamu bilang ada banyak kerjaan jadi tidak bisa hadir. Mau bohongi Tante, ya...?" kata Bu Sasa sambil mencubit pelan pipi Yumna.

Yumna hanya tersenyum, tanpa membalas ucapan sang Tante.

"Yumna...!!" hati Nasya mulai memanas. Padahal Yumna tidak melakukan apapun.

"Kamu cantik sekali malam ini." puji Sasa kemudian. Tanpa ingin mempertanyakan perihal baju yang dikenakan Nasya.

"Tante juga makin cantik saja..." balas Yumna.

Yumna kemudian pamit untuk menyusul keluarganya, memberi selamat pada mempelai. Setelahnya dia kembali menemui Sasa. Karena dia hanya merasa nyaman ketika bersama Sasa. Dibanding yang lainnya.

"Keponakan kamu itu auranya luar biasa ya. Cantiknya mancar banget..." puji teman Sasa.

"Orang itu kalau memiliki inner beauty, nggak perlu neko-neko cantiknya sudah menyilaukan." balas Sasa yang selalu memandang kagum pada sosok Yumna.

"Sekalipun itu hanya dress lama. Penampilan kamu tetap memukau, Yumna. Kamu benar-benar bersinar...!!" batin Sasa.

Ekor mata Sasa kemudian melirik Nasya yang berada di depan Yumna. Namun Nasya tidak menyadarinya. Nasya lebih dulu menyapa Sasa dan teman-temannya.

"Senang sekali bisa bertemu Tante Sasa. Iya kan kak...?" Nasya menoleh pada Yumna.

Teman-teman Sasa saling tatap. Lalu ada yang mengangkat sudut bibirnya, ada juga yang menutup mulutnya.

"It's show time...!!" batin Nasya.

"Yumna, umurnya berapa ya?" tanya seorang teman Sasa.

"Dua puluh tiga, Tante." jawab Yumna.

"Seriusan??!!" sahut mereka terkejut.

"Ya ampun..., Tante pikir masih belasan. Bahkan tadi Tante pikir kamu yang adiknya. Kalau saja adik kamu tidak manggil kakak." celoteh salah satu dari mereka.

Ujaran yang blak-blakan itu tentu saja membuat Nasya sakit hati. Dia pikir reaksi aneh teman-teman Sasa saat dia dan Yumna datang tadi, karena penampilan Yumna yang biasa saja untuk ukuran sebuah pesta. Tapi ternyata, dialah yang jadi sasaran tatapan julid teman-teman Sasa. Yang secara tidak langsung, mereka mengatakan kalau dia lebih tua dari kakaknya. Tapi demi jaga image, Nasya terus berusaha mengontrol emosinya.

"Ini belum berakhir, kamu tidak boleh lebih unggul dariku...!!" Nasya mengumpat dalam diam.

___

Pada satu momen, Nasya pergi mencari Yumna yang tiba-tiba lepas dari pantauannya. Rasanya tidak seru, kalau dia tidak menjatuhkan kakaknya di depan banyak orang. Apalagi setelah dia dipermalukan oleh teman-teman Sasa sebelumnya. Dia akan membalas sakit hatinya, dengan mempermalukan kakaknya dalam pesta itu juga.

Rupanya Yumna sedang ngobrol dengan salah satu undangan yang kebetulan dia kenal. Mereka sedang ngobrol sambil menikmati minuman di pinggir kolam renang. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nasya segera mendekatinya.

"Kak Yumna..." ujarnya dengan suara pelan.

Nasya mendekati Yumna dengan sedikit sempoyongan, sambil memegangi kepalanya.

"Kamu kenapa, Sya?" tanya Yumna. Biasa saja. Tak ada rasa khawatir, tak ada rasa curiga.

Setelah mendekat, Nasya menjatuhkan dirinya pada Yumna seperti orang yang tiba-tiba pingsan. Dengan gerakan super cepat dia mendorong Yumna dengan sikunya ke arah kolam. Yumna yang kaget, tentu saja spontan menarik tangan Nasya. Hingga keduanya berakhir dalam kolam renang.

BYUUURR...!!!

Yumna mulai panik karena dia tidak bisa berenang. Dia sangat ketakutan, dia merasa seperti sedang ditelan oleh air kolam dengan begitu cepat. Tangannya terus melambai untuk minta tolong. Dia semakin ketakutan karena air kolam seakan menariknya ke bagian kolam yang lebih dalam.

"Apa aku harus berakhir di sini...?"

Mata Yumna semakin berat. Dia kesulitan bernafas. Dan mulai pasrah dengan semuanya.

Sedangkan Nasya, dia tidak menyangka kalau Yumna akan menariknya juga. Namun saat genting seperti itu, otaknya mulai bekerja dengan cepat. Dia mulai memainkan perannya sebagai sosok protagonis yang tak berdaya. Dia melakukan hal yang sama dengan Yumna. Bahkan lebih dramatis, agar dirinya terlihat semenderita mungkin.

"Tolooong...!! Ada yang tenggelam...!!"

"Tolooong...!!"

Semua yang ada di sisi kolam berteriak minta tolong. Belum ada yang dengan sukarela menceburkan dirinya ke kolam untuk menolong. Mereka lebih memikirkan penampilan mereka malam itu. Tidak lucu menurut mereka, kalau harus berakhir basah-basahan di dalam sebuah pesta. Sampai dua orang sepupu mereka datang menolong. Lalu meraih tubuh kedua kakak beradik itu untuk dibawa ke permukaan.

Yumna dan Nasya sama-sama terbatuk-batuk. Kemudian Nasya terkulai di lantai yang basah bersamaan dengan kedatangan orang tuanya. Sementara Yumna, berada dalam dekapan Sasa. Aril yang menolongnya, masih berusaha mengeluarkan air kolam yang mungkin masuk dalam tubuhnya. Yumna pun terbatuk, dan air kolam keluar dari mulutnya.

Nafas Yumna masih tak terkontrol. Dia lemah dan kedinginan, tapi masih sangat sadar. Sehingga dia bisa melihat orang tuanya melewatinya, dan menghampiri Nasya. Dia juga tahu betapa khawatirnya mereka pada Nasya. Keduanya hanya memperhatikan Nasya. Lalu papanya menggendong Nasya. Kembali melewatinya dengan sedikit berlari, tanpa meliriknya sedikitpun.

"Nasya..., lagi-lagi kamu melakukannya..." batin Yumna.

Keduanya kemudian dibawa ke kamar tamu untuk ganti baju dan beristirahat.

"Gimana, Yumna? Sudah enakan?" tanya Sasa.

"Masih pusing, tan. Hidungku juga rasanya nggak enak banget..." jawab Yumna mengadu.

"Sabar ya. Dokter akan segera datang untuk memeriksa kondisi kamu." kata Sasa.

"Bagaimana bisa terjatuh? Kalian ini ada-ada saja." gerutu Aril, sepupu yang menolong Yumna.

"Kalau aku bilang..., aku sengaja dijatuhkan ke kolam. Apa ada yang percaya padaku?" tanya Yumna ragu-ragu. Tatapan matanya kosong.

"Dijatuhkan?!" balas Sasa pelan, terdengar seperti sebuah gumaman.

Sasa dan Aril saling tatap. Seolah memiliki tanggapan yang sama atas pernyataan yang diungkapkan oleh Yumna.

"Tidak masuk akal. Tapi aku tidak melihat sedikitpun kebohongan di matanya." begitulah isi pikiran Sasa.

"Masa iya?!!!" batin Aril.

Sebelum Yumna kembali menjawab, pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar. Dan terkesan sangat kasar. Pak Jodi menatap Yumna penuh amarah. Dengan langkah lebarnya dia mendekati Yumna.

PLAK...!!

Sebuah tamparan dia layangkan pada Yumna begitu saja. Matanya merah penuh amarah.

"Kak...?!!!" sentak Sasa sambil menarik lengan pak Jodi, lalu memeluk Yumna.

"Om ini apa-apaan sih?!!" sahut Aril yang tak suka dengan perbuatan pak Jodi.

Gerakan yang begitu cepat dan tiba-tiba. Membuat Sasa dan Aril tidak bisa menghalau tindakan pak Jodi.

"Apaan sih main tangan kayak begitu?!! Yumna lagi sakit lho...!!" tegur Sasa.

"Sakit?!! Hah...!!" pak Jodi tersenyum miring.

"Nasya jelas lebih parah. Dia terus menangis ketakutan!! Dan kondisinya sangat lemah." ujar pak Jodi dengan nada tinggi.

"Kenapa tidak menolong adik kamu, hah?!! Dia nyaris mati tenggelam!!" teriak pak Jodi.

"Kak!!!" sahut Sasa. "Yumna juga terjatuh. Apa kakak lupa kalau Yumna tidak bisa berenang?! Gimana dia bisa nolong Nasya, sementara dia saja berada di ambang maut...?!!" balas Sasa tak mau kalah.

Untuk sesaat pak Jodi terdiam. Dia bukannya lupa. Tapi dia tidak tahu apakah Yumna bisa berenang atau tidak.

"Dengan kondisinya sekarang, itu cukup membuktikan kalau dia lebih kuat dari Nasya. Harusnya bisa menjaga Nasya agar tidak sampai jatuh ke kolam." ucap pak Jodi yang masih kekeh menyalahkan Yumna.

Tak lama kemudian dokter datang. Dia memeriksa Yumna. Lalu memberikan obat untuknya.

"Bagaimana dengan Nasya, dokter?" tanya pak Jodi.

Jelas-jelas yang diperiksa adalah Yumna, tapi pria itu justru mempertanyakan kondisi Nasya. Membuat Sasa dan Aril semakin tak mengerti.

"Nona Nasya harus dirujuk ke rumah sakit. Kondisinya sangat lemah." jawabnya. "Saya permisi, karena harus segera membawa nona Nasya." pamitnya.

Pak Jodi mengangguk sejenak, lalu kembali menatap Yumna.

"Kalau sampai Nasya kenapa-napa, kamu yang harus terima ganjarannya!!" dia menunjuk Yumna dengan tatapan nyalang, seolah Yumna seorang penjahat.

Yumna menghapus air matanya dengan kasar. Beruntung sekali dia, karena air mata itu jatuh setelah papanya pergi. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan papanya. Karena melihat ketidakpedulian sang papa di depan matanya, itu jauh lebih menyakitkan.

Hati Sasa dan Aril bergetar, ketika melihat air mata Yumna. Mereka sama-sama baru menyadari, mata dan raut wajah Yumna, seolah menyimpan begitu banyak luka.

......................

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus ceritanya doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!