Takashi, seorang otaku yang mendalami cerita Maou Gakuin no Futekigousha, tiba-tiba bereinkarnasi ke dunia tersebut sebagai Raja Iblis Kuno Valerius yang memerintah ribuan tahun sebelum Anos Voldigoad. Valerius memiliki kekuatan tak terukur dan tujuan adalah mengakhiri perang antar ras melalui kekuatan dan diplomasi, membangun dasar untuk kerajaan iblis yang kuat. Namun, ia menyadari masa depan yang akan datang, di mana Anos akan lahir untuk melanjutkan warisan perdamaian. Valerius menghadapi pemberontakan dari bangsa iblis yang ekstrem dan ancaman dari ras lain, menggunakan kepintaran dan kekuatan untuk menaklukkan musuh, sembari menyimpan warisan yang akan diwariskan kepada penerusnya kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reinkarnasi
Takashi baru saja menekan tombol selesai pada laporan kerja pukul 3 pagi, mata terasa seperti terpasang dengan lem dan tubuhnya berat seperti besi. Sebagai seorang otaku yang setiap malam setelah kerja harus mengejar episode Maou Gakuin no Futekigousha, ia sudah terbiasa dengan tidak tidur, tapi malam ini berbeda. Kepalanya berputar, layar komputer yang menampilkan gambar Anos Voldigoad seolah berkedip-kedip, lalu semuanya gelap.
“Tidak… aku belum selesai nonton arc terakhir…” itu adalah pikiran terakhirnya sebelum jatuh ke lantai.
Ketika mata terbuka lagi, Takashi tidak melihat kamar apartemennya yang sempit, melainkan langit berwarna ungu pekat dengan awan berkilau seperti permata. Di sekelilingnya adalah istana batu hitam yang megah, dengan tiang-tiang yang tinggi hingga menyentuh awan. Suara langsing seruling iblis bergema di udara, dan ketika ia menunduk, melihat tangan yang berwarna putih keperakan dengan cakar runcing yang halus—tangan seorang iblis.
“Siapa aku?” bisu Takashi, lalu tiba-tiba ingatan yang bukan miliknya meluap: nama Valerius, Raja Iblis Kuno yang memerintah ribuan tahun sebelum Anos Voldigoad. Ia adalah sosok yang tidak ada di anime atau novel aslinya, tapi bagi Takashi, dunia ini sudah terlalu familiar—pulau Jepang yang sama dengan latar belakang anim, dengan kota-kota iblis yang tersembunyi di antara pegunungan dan hutan.
“Yang Mulia Valerius! Pasukan ekstremis dari klan Zalgard telah menyerbu gerbang barat! Mereka menuduh Anda terlalu lunak terhadap ras manusia dan elf!” suara seorang iblis muda dengan sayap kecil menghampiri, kakinya gemetar.
Takashi—atau sekarang Valerius—berdiri perlahan, merasakan kekuatan yang mengalir di dalam dirinya seperti lautan yang tidak terbatas. Ia tahu dari cerita aslinya bahwa perang antar ras akan berlangsung selama berabad-abad sebelum Anos lahir, dan tujuan barunya adalah mengakhiri perang itu melalui kekuatan dan diplomasi, membangun dasar untuk kerajaan iblis yang kuat.
“Bawa aku ke sana,” katanya dengan suara yang dalam dan berwibawa, sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh Takashi sebagai manusia biasa.
Di gerbang barat, ribuan iblis ekstremis memegang pedang berenergi gelap, memanggil suara untuk perang total terhadap ras lain. Pemimpin mereka, Zalgard, seorang iblis dengan tubuh besar dan tanduk yang menonjol, menengadah dan membanting tangan ke tanah. “Valerius! Kamu telah mempermalukan bangsa iblis dengan berbicara tentang perdamaian! Karena hanya kekuatan yang akan membuat kita tak terkalahkan!”
Valerius melangkah maju, tidak menunjukkan rasa takut. Ia tahu bahwa jika menggunakan kekuatan penuh, akan menghancurkan seluruh klan Zalgard, tapi itu bukan tujuan. Ia mengangkat tangan, dan dari tanah muncul dinding batu besar yang memisahkan pasukan ekstremis dari gerbang. “Zalgard, kamu salah. Perang akan menghancurkan kita semua. Karena ras manusia memiliki ilmu pengetahuan yang bisa kita gunakan, ras elf memiliki keahlian dalam sihir alam yang bisa memperkuat tanah iblis. Mengapa kita harus berperang jika bisa bekerja sama?”
“Kamu adalah pengecut!” Ia melompat menuju Valerius, pedangnya menyala dengan api gelap. Valerius dengan cepat menyilang tangannya, membentuk perisai sihir yang menangkis serangan itu dengan suara denting keras. Energi yang terpancar membuat tanah bergetar, dan beberapa ekstremis terlempar ke belakang.
“Aku tidak ingin membunuh saudara-saudaraku, Jika kalian mau bergabung, kita akan membangun kerajaan yang lebih kuat dari sebelumnya. Jika tidak, kalian bisa pergi, tapi jangan kembali lagi.” katanya kepada para ekstremis.
Beberapa ekstremis terlihat ragu, lalu satu demi satu menurunkan pedangnya. Zalgard akhirnya menghela nafas dan mengangguk. “Baiklah, Yang Mulia. Saya akan memberikan kesempatan untuk ide-mu.”
Setelah menangani pemberontakan, Valerius segera bergerak ke tahap berikutnya: diplomasi dengan ras lain. Ia pergi ke kota manusia di dataran rendah, yang dipimpin oleh Raja Aldric. Para prajurit manusia segera menarik pedang ketika melihat iblis datang, tapi Valerius mengangkat tangan untuk menunjukkan perdamaian. “Raja Aldric, saya datang untuk berbicara tentang perdamaian. Kita bisa saling membantu: kerajaan iblis akan melindungi kota kalian dari monster hutan, dan kalian akan memberikan makanan dan obat yang kita butuhkan.”
Raja Aldric ragu, tapi melihat kekuatan Valerius dan sikapnya yang jujur, akhirnya menyetujui untuk membuat perjanjian. Selanjutnya, Valerius pergi ke hutan elf, bertemu dengan Ratu Elfa Liana. Ia tahu dari anime bahwa elf sangat protektif terhadap alam, jadi ia berkata: “Ratu Liana, kerajaan iblis akan membantu melindungi hutan dari penebangan liar oleh monster, dan dalam balasan, mohon ilmu sihir alam untuk memperbaiki tanah iblis yang rusak akibat perang.”
Liana mengangguk setelah berpikir sebentar. “Kita akan mencoba, Valerius. Tapi jika kamu berkhianat, maka perjanjian ini akan berakhir.”
Selama beberapa bulan berikutnya, Valerius bekerja keras untuk membangun kerja sama antar ras. Ia membuat sekolah sihir di kerajaan iblis yang menerima siswa dari ras manusia dan elf, sehingga mereka bisa belajar bersama dan memahami satu sama lain. Ia juga membangun sistem pertanian bersama, di mana manusia memberikan benih, elf memberikan sihir untuk membuat tanaman tumbuh cepat, dan iblis memberikan keamanan. Namun, tidak semua hal berjalan mulus. Sekelompok elf ekstremis yang tidak menyukai kerja sama dengan iblis menyerbu sekolah sihir, mencoba menghancurkan gedung. Valerius segera tiba, menggunakan kekuatan untuk menahan mereka tanpa membunuh.
“Mengapa kalian melakukan semua ini?” tanyanya yang masih tetap tenang dan mengintimidasi.
“iblis adalah makhluk kejahatan!” teriak salah satu elf. “Mereka akan menghancurkan kita semua!”
“Lihatlah. Mereka tidak melihat perbedaan ras. Mereka hanya melihat teman. Itu adalah masa depan yang aku inginkan.”
Para elf ekstremis terlihat terkejut, lalu menurunkan senjatanya. Mereka akhirnya menyetujui untuk bergabung dengan upaya perdamaian. Selama waktu yang lama, Valerius membangun kerajaan iblis yang kuat dan stabil. Tapi damai itu tidak bertahan lama. Suatu hari, kabar datang bahwa sekelompok gabungan ras ekstremis—manusia yang tidak puas dengan perdamaian, elf yang membenci iblis, dan bahkan beberapa iblis yang masih mengikuti doktrin kekuatan—serbu perbatasan kerajaan iblis. Mereka menghancurkan pertanian bersama dan membakar bagian dari sekolah sihir. Valerius harus berperang lagi, bukan untuk menaklukkan, tapi untuk melindungi kedamaian yang telah dibangun.
“Yang Mulia! Pasukan musuh sudah mencapai gunung Kurotora! Mereka ingin menghancurkan semua yang kita bangun!” Teriak Zalgard, yang sekarang menjadi panglima perang Valerius, sambil berlari ke istana.
“Siapakan pasukan kita, Kita akan melindungi rakyat kita, tapi jangan lupa prinsip perdamaian. Jangan bunuh lebih dari yang perlu.” katanya Valerius dengan wajah tegas.
Perang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Valerius menggunakan kekuatan penuhnya untuk menahan musuh, tapi setiap serangan yang ia lepaskan membuat energi tubuhnya berkurang. Akhirnya, ia berhasil mengusir pasukan ekstremis, tapi dirinya sudah sangat melemah. Saat ia kembali ke istana, kaki nya goyah dan pandangannya kabur.
“Yang Mulia, tolong istirahat saja! Kamu sudah terlalu lelah!” suara bawahannya, Lira seorang iblis muda yang selalu mengikutinya teriak dengan menangis.
“Sebelum aku tidur… aku harus menyimpan warisan ini untuk penerusku,” katanya. Ia merangkak ke bawah istana, menciptakan ruang rahasia dengan sisa kekuatannya. Di sana, ia menuliskan semua pengalaman dan pengetahuannya: teknik sihir yang aman untuk digunakan, cara memelihara kerja sama antar ras, dan pesan untuk Anos. “Untuk penerusku,” tulisnya. “Perdamaian tidak mudah, tapi itu layak untuk diperjuangkan. Gunakan kekuatanmu untuk melindungi yang lemah dan mempertahankan kedamaian yang kita bangun.”
Setelah selesai, Valerius merasa lelah tapi puas. Ia berbaring di atas batu di dalam ruang rahasia dan tertidur panjang—sebuah tidur yang akan berlangsung ribuan tahun. Selama itu, kerajaan iblis terus berkembang, dan akhirnya, seorang anak laki-laki bernama Anos Voldigoad lahir yaitu keturunannya yang memiliki kekuatan lebih besar dari siapapun. Anos tumbuh menjadi Raja Iblis yang kuat, membangun sekolah iblis yang sama dengan di anime: dibagi menjadi kelas bangsawan iblis murni, kelas campuran, dan kelas biasa. Suatu hari, ketika Anos sedang menjelajahi bagian bawah istana yang terlupakan, ia menemukan ruang rahasia Valerius. Saat ia menyentuh tulisan Valerius, cahaya terbit dan tubuh Valerius muncul, bangun dari tidur panjang.
“Kamu akhirnya datang,” katanya Valerius dengan senyum, melihat anak muda dengan rambut hitam dan mata merah yang kuat.
“Siapa kamu?” tanya Anos dengan suara tegas dan sedikit waspada, tapi tanpa rasa takut.
“Valerius, Sang Raja Iblis Kuno. Dan kamu adalah Anos Voldigoad, keturunanku benar bukan, Aku telah menunggu ribuan tahun untuk melihatmu melanjutkan warisan perdamaian yang aku bangun.” jawab Valerius sambil sedikit mengintimidasinya.
“Perdamaian? Aku hanya ingin melindungi rakyatku dan menghancurkan siapa saja yang mengganggu kedamaian.” Anos mengerutkan keningnya
“Kita sama, Anos, Aku telah melihat masa depanmu dalam ingatanku. Kamu akan melakukan hal yang lebih besar dari aku.” Kata Valerius dengan senyum tipis.