"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.1 -Sebuah Ide
Aksara memijat pelipisnya yang terasa pusing, dia menatap sang kakek yang terbaring lemah.
"Dua minggu, aku akan membawa calonku pada Kakek." Putus Aksara, membuat Abian dan Kirana menatap putra pertamanya dengan tak percaya.
Mereka tahu, bahwa Aksara di gosipkan penyuka sesama jenis. Lalu, bagaimana bisa membawa seorang gadis ke hadapan Harsa sang Kakek.
"Dad, sudahlah jangan paksa Aksa. Yang terpenting sekarang Daddy sembuh dulu," sahut Abian
"Diam kamu! Bukannya mendukung keputusan Daddy. Malah melarang, memang kamu gak mau punya cucu, hah? Kakek mau lihat cicit dari Aksara sebelum menyusul Mommy kamu." Omel Kakek Harsa.
"Dad ..."
Saat akan bicara, Kirana mengelus lengan sang suami. Agar tak memperparah keadaan sang mertua.
"Sudah, Pi. Kita ikuti saja apa mau Daddy," bisik Kirana.
"Baiklah," balasnya berbisik pula.
"Ya sudah, terserah kamu Aksa. Papi gak akan ikut campur, Papi mau tinggal beres dan bawa gadis itu jika sudah ada." Ujar Abian.
"Siap Papi." Balas Aksara dengan tegas.
Harsa pun tersenyum senang, kali ini rencananya harus berhasil. Dia ingin melihat cucunya menikah dan hidup bahagia dengan keluarganya.
Bukan tanpa alasan, ini semua adalah wasiat mendiang sang istri Dewi Santika sebelum pergi selamanya. Dia ingin, cucu kesayangannya mendapatkan pasangan yang baik.
"Sekarang Daddy makan, lalu minum obat." Titah Kirana.
"Baiklah, demi melihat cucuku menikah aku harus sehat, bukan?" katanya dengan semangat, asisten Kakek Harsa yang berada tak jauh dari sang Tuan hanya menggeleng pelan.
Demi pura-pura sakit, dia rela mengeluarkan uang untuk menyewa ruangan VIP rumah sakit terkenal.
"Orang kaya mah bebas." Gumam Hadi.
*
*
*
Di tempat yang berbeda, Aylin menatap kemeja berwarna hitam yang menjadi incarannya. Dia mengambil satu dan mencoba di tubuhnya.
"Lin, udah dapat kemeja yang kamu, suka?" tanya Olivia, sahabat sekaligus teman yang di gosipkan mereka pacaran. Padahal kan engga, Oliv punya pacar sendiri namanya Iqbal
"Belum, tapi aku suka ini." Aylin berbalik dan menunjukannya pada Olivia.
"Astaga, Lin. Itu buat cowok loh! Kamu kan mau melamar kerja, bukan jadi preman. Minimal pake kemeja putih celana bahan hitam. Yang kaya gini nih!" omel Olivi memberikan baju pilihannya.
"Huh! Ya sudah aku coba." Putus Aylin, dia mencoba dan bercermin sangat cocok dan menunjukan sisi perempuannya. Namun, bayangan mengerikan membuatnya menggeleng dan buru-buru keluar.
Saat akan membayar, ponselnya berdering dan nama Mbak Anisa tetangga rumah susunya menghubungi.
Olivia pun melirik sekilas, lalu membiarkan sang sahabat menerima panggilan.
"Mbak, ada apa? Apa terjadi sesuatu sama, Mama?" tanya Aylin, begitu dia mengangkat panggilan.
"Kamu di mana, Aylin? Mama kamu masuk rumah sakit." Jawab Anisa dengan cepat.
"Apa?" pekik Aylin.
Anisa pun menjelaskan secara detail kejadian yang menimpa Rosalind Ibu Aylin, dan sekarang mereka sedang berada di rumah sakit yang tak jauh dari rumah susun mereka. Namun, Anisa juga memberitahu besar kemungkinan Rosalind harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap alat-alat medisnya.
"Makasih Mbak, aku segera ke sana." Balas Aylin.
"Iyaa, hati-hati di jalan. Lin," ujar Anisa.
Oliv menangkap kecemasan di mata Aylin.
"Mama kamu kenapa, Lin?" tanya Oliv.
"Pastinya kenapa, aku gak tau, Liv. Eh! Ini udah di bayarkan?" Aylin melirik belanjaannya.
"Udah, gue yang bayar. Entar lo ganti aja, sekarang nyawa Ibu lo yang lebih penting ayo." Olivia menarik tangan Aylin, beruntung mereka menggunakan motor dan memudahkan perjalanan.
Aylin berdoa dalam hati, semoga Rosalind baik-baik saja. Hanya Rosalind yang Aylin punya, Ayah? Jangan tanyakan pria brengsek tersebut.
Berpuluh menit kemudian, motor yang dibawa Oliv sudah sampai di rumah sakit. Aylin bergegas turun dia memberikan helm pada Oliv, dan dengan tergesa masuk kedalam.
Beruntung Anisa sudah memberitahu, bahwa Rosalind masih di IGD. Mereka juga menunggu kamar yang kosong.
"Mbak." Panggil Aylin. "Gimana keadaan Mama?"
"Aylin, Tante Rosalind mengalami patah tulang kaki." Beritahu Anisa, membuat Aylin lemas.
"Aylin, kamu gak papa?" tanya Anisa.
"Aku baik-baik aja, Mbak. Lalu Mama udah sadar?"
"Belum, dia kembali tidur karena pengaruh obat. Lin, kalo Mama mu mau supaya cepat di tindak. Kamu haru segera membayar administrasinya."
"Iyaa, Mbak. Tenang aja jangan khawatir Mbak boleh pulang ada aku dan Olivia disini." Kata Aylin.
"Baiklah, kalau ada apa-apa segera hubungi Mbak ya!"
"Iyaa Mbak."
Aylin menatap punggung Anisa yang menjauh, dia terduduk di kursi ruang tunggu dia menghela nafas dengan pelan. Dari mana dia dapat uang, untuk biaya pengobatan Ibunya?
"Ay, gimana Tante Rosalind?" tanya Oliv yang baru saja datang, setelah memarkirkan motornya.
"Mama dia ... Dia harus segera di operasi untuk pemasangan pen." Lirih Aylin, untuk yang pertama kalinya dia menangis setelah kepergian Ayah kandungnya.
Olivia mengusap bahu sang sahabat, mencoba menenangkan Aylin. Dia juga tidak bisa banyak membantu, hanya dukungan yang bisa dia berikan. Olivia memeluk Aylin, membuat orang yang melihat salah paham.
"Astaga, mereka lesbong kah?" bisik suster yang melihat.
"Husss ... Siapa tau dia laki, tapi cantik."
"Gak mungkin, namanya Aylin masa cowok."
Olivia dan Aylin mendengar pembicaraan mereka, dan dengan cepat buru-buru melepaskan pelukan masing-masing.
"Lin, lebih baik lo ubah deh tuh penampilan. Biar kayak cewek," kesal Oliv, beruntung Iqbal sang kekasih tidak mempermasalahkan itu semua. Malah senang karena tidak ada yang berani mendekati Olivia.
Aylin mendengus dengan permintaan Oliv, dia sudah nyaman dengan penampilan seperti ini.
"Cih, lagian si Iqbal senang gue dekat lo." Cibir Aylin, membuat sang sahabat tertawa.
Kini mereka membahas tentang Rosalind.
Sementara itu di IGD yang tak jauh dari bed Rosalind, Aksara memandang Arvano yang terbaring penuh luka. Awalnya, Aksara akan memindahkan Arvano kerumah sakit yang lebih bagus. Namun, Arvano menolak karena ini luka biasa hanya keserempet motor saja.
"Kenapa bisa keserempet?" tanya Aksara dengan dingin.
"Terlalu pinggir." Jawabnya, jika di lihat mereka terlihat normal-normal saja. Padahal aslinya mereka sepasang kekasih.
Huh! Aksara menghembuskan nafasnya dengan pelan, Arvano memang keras kepala.
"Bentar lagi juga pulang kok. Jangan khawatir, Yang," goda Arvano.
"Vano! Jaga bicaramu. Ini tempat umum," desis Aksara tajam.
"Kenapa? Aku ingin diakui, Aksa. Orang tuamu sudah tahu mungkin. Kita bisa menikah di Thailand atau negara yang melegalkan kita," ujar Arvano ambisius.
Aksara memejamkan mata. "Kakek memintaku menikahi seorang gadis, bukan laki-laki. Sudah, jangan bahas ini di sini. Aku urus administrasi dulu."
Aksara melangkah pergi dengan gusar. Arvano menatap punggung itu dengan seringai licik.
"Suatu saat kamu akan jadi milikku sepenuhnya, Aksa. Dan saat itu tiba, aku akan menyingkirkan siapa pun yang menghalangi kita, termasuk kakek tua bangka itu."
Tanpa mereka sadari, di balik tirai sebelah, seorang gadis mendengar segalanya dengan jantung berdebar kencang. Aylin, yang awalnya berniat mencari info biaya, justru menemukan jalan keluar yang gila.
Menikahi seorang gadis?
Aylin menarik napas panjang, menghapus sisa air matanya. Pikirannya yang kalut karena biaya operasi Mama mendadak menjadi sangat jernih.
"Apa pun akan kulakukan untuk Mama. Bahkan jika harus menjual diriku pada lelaki ini," gumam Aylin mantap. Ia keluar dari balik tirai, menunggu lelaki bernama Aksara itu kembali.
Bersambung ....
Selamat datang di cerita baru ku dan terima kasih sudah mampir di "Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam". Cerita ini baru saja dimulai, dan perjalanan Aylin dan Aksara masih panjang.
Mohon dukungannya dengan memberikan Like dan Komen ya, teman-teman. Sampai jumpa di bab selanjutnya! ✍️🔥
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣