NovelToon NovelToon
Mawar Desa Di Tangan Mafia

Mawar Desa Di Tangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Roman-Angst Mafia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.

Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.

Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Sebatas Sahabat?

Di tengah hiruk pikuk jalanan kota, Shasha turun dari bus dengan langkah hati-hati. Begitu kakinya memijak aspal, ia segera menyeka butiran keringat yang mulai muncul di dahinya akibat udara di sekitarnya yang mulai memanas. Ia membuang napas lelahnya perlahan, namun sedetik kemudian sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Sambil membenarkan letak tas di bahunya, ia mulai berjalan menyusuri trotoar menuju kampusnya yang letaknya sudah tidak jauh dari halte itu.

Bagi orang lain, ini mungkin hanya perjalanan biasa. Namun bagi Shasha, setiap langkahnya terasa seperti permulaan hidup yang baru. Ia adalah seorang yatim piatu yang nekat merantau. Bukannya tanpa keluarga. Sebenarnya ia masih memiliki paman, bibi, dan sepupu di desa. Sayangnya, hubungan mereka tidak sedekat keluarga pada umumnya, sebuah alasan kuat yang mendorongnya untuk mengadu nasib di kota besar.

Mengandalkan uang beasiswa, Shasha merasa sangat bersyukur bisa makan dan tinggal di sebuah kos sederhana. Sebenarnya, kampus menyediakan asrama, tapi Shasha harus bekerja paruh waktu di sebuah kafe pada malam hari. Peraturan asrama yang ketat soal jadwal pulang-pergi membuatnya terpaksa memilih tinggal di luar agar bisa tetap mencari penghasilan tambahan.

Sesampainya di depan gerbang, ia berhenti sejenak. Ia mendongak, memandang bangunan-bangunan bertingkat yang sudah hampir dua tahun ini menemaninya menimba ilmu. Ia memanglah gadis dari desa, tapi ia percaya bahwa pendidikan adalah satu-satunya kunci untuk mengubah nasibnya suatu saat nanti.

Sebelum masuk, Shasha merapikan penampilannya. Hari ini ia mengenakan dress putih panjang berbahan katun dengan detail bordir bunga yang cantik di bagian bawahnya. Karena udara pagi masih terasa sedikit lembap, ia melapisi dress-nya dengan kardigan rajut berwarna biru muda.

Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai, sesekali bergerak tertiup angin. Dengan tas selempang putih dan sepatu sneakers yang mulai termakan usia, ia pun melangkah melewati gerbang kampus dengan penuh harapan.

Langkah Shasha kemudian tertuju pada salah satu bangunan bertingkat tempat Fakultas Ekonomi berada. Di sinilah kesehariannya dihabiskan. Sejak awal mendaftar, ia memang sangat menginginkan masuk ke jurusan Manajemen Bisnis, dan lagi-lagi ia harus bersyukur karena keinginan itu terwujud.

Di depan lift yang baru saja terbuka, ia pun ikut masuk dan berdesakan dengan mahasiswa lain. Jam-jam seperti ini memang merupakan waktu rawan padatnya penggunaan lift akibat jadwal kelas yang berdekatan. Setelah perjuangan singkat itu, Shasha akhirnya bisa bernapas lega saat melangkah keluar di lantai empat.

Dengan langkah mantap, ia menuju ruang kelas yang sudah diinformasikan oleh ketua kelas melalui grup. Tanpa ragu, ia pun membuka pintu kayu di hadapannya.

Pemandangan kelas yang luas dan modern menyambut Shasha. Ruangan itu didominasi warna krem yang hangat dengan pencahayaan lampu dari langit-langit. Deretan meja panjang berbahan kayu tertata rapi membentuk barisan bertingkat menuju ke arah belakang, menyerupai sebuah teater kecil.

Kursi-kursi hitam dengan sandaran jaring tampak kosong di barisan depan, namun beberapa sudah terisi di bagian tengah dan belakang. Termasuk seorang pria yang duduk di salah satu kursi. Pria itu adalah sosok yang sejak awal kuliah sudah menjadi teman baik bagi Shasha.

“Shasha!” panggil Bima yang telah duduk di kursi yang letaknya di tengah ruangan kelas yang masih cukup lengang itu.

Shasha tersenyum lebar, lalu melangkah mendekati Bima dan duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya.

“Kau datang pagi sekali,” ucap Shasha sambil mengeluarkan buku catatan dan alat tulis dari dalam tasnya.

Bima tidak langsung menjawab, ia hanya membalas dengan senyuman penuh arti. Tangannya kemudian bergerak merogoh sesuatu dari bawah meja, lalu menyodorkannya ke hadapan Shasha.

“Ini untukmu.”

Gerakan Shasha yang hendak menaruh tas di sandaran kursi langsung terhenti seketika kala Bima memberinya kejutan kecil itu. Matanya membulat saat melihat apa yang ada di tangan Bima.

“Astaga, Bima. Sudah kubilang jangan sering mentraktirku seperti ini,” ucap Shasha yang diakhiri dengan kekehan renyah. Ia merasa sedikit tidak enak hati karena Bima terlalu sering memperhatikannya.

“Beli satu gratis satu,” jawab Bima asal, sebuah alasan klasik yang selalu ia gunakan untuk menutupi niat baiknya agar Shasha tidak merasa terbebani.

Shasha kembali tersenyum, kali ini matanya tampak berbinar, “Baiklah, tidak akan kutolak,” jawabnya sambil meraih cup berlabel kafe terkenal yang berisi cokelat hangat kesukaannya.

Uap tipis keluar dari lubang kecil di tutup cup tersebut, membawa aroma cokelat yang menenangkan. Bima memang sahabat terbaiknya, dan pria itu selalu tahu hal favorit yang bisa memperbaiki suasana hatinya di pagi hari.

“Oh ya, aku ada sesuatu lagi untukmu.”

“Mm?” Shasha dipenuhi rasa penasaran. Matanya terus memerhatikan gerakan tangan Bima yang sedang merogoh sesuatu dari dalam tas ranselnya.

“Tiket?” tanya Shasha dengan dahi berkerut saat membaca tulisan di dua lembar kertas yang kini ada di tangan Bima.

“Benar.” Bima mengangguk mantap, “Nanti malam ada pertunjukan teater musikal yang sudah lama sekali ingin aku tonton. Em...” Bima menjeda kalimatnya, menatap Shasha dengan sorot mata penuh harap, “Maukah kau menemaniku malam ini?”

“Tentu saja aku mau!” jawab Shasha spontan. Bima pun langsung tersenyum lebar.

Namun, antusiasme itu tidak bertahan lama. Bahu Shasha perlahan luruh, senyumnya sedikit memudar, “Tapi sayangnya tidak bisa. Kau tahu sendiri kan, aku harus bekerja.”

“Ah ya, aku melupakannya,” jawab Bima cepat dengan nada kecewa yang kentara, “Kemarin aku terlalu bahagia saat memesannya sampai tidak ingat kalau kau ada jadwal kerja. Maafkan aku, Shasha.”

Melihat perubahan ekspresi sahabatnya, Shasha segera merangkul bahu Bima dengan akrab, “Hey ayolah, jangan merasa bersalah seperti itu. Tidak apa, Bima. Kita kan sahabat.”

Bima terdiam. Ia menatap tangan Shasha yang bertengger di bahunya, lalu beralih menatap wajah gadis di depannya yang terlihat tulus.

“Sahabat?” gumam Bima lirih, seolah kata itu terasa berat di lidahnya.

Shasha mengangguk mantap, lalu menjauhkan tangannya, “Bagaimana kalau kau mengajak orang lain saja?”

Bima menghela napas panjang, ia mulai memasukkan tiket tadi ke dalam tasnya lagi, “Siapa yang harus kuajak?”

“Gadis itu.”

“Gadis itu siapa?” Bima mengernyit bingung.

“Ayolah jangan menipuku. Gadis itu... yang selalu mengejarmu ke mana-mana,” ucap Shasha dengan nada menggoda sambil menyenggol lengan Bima.

“Ah, dia,” jawab Bima setelah sadar siapa yang dimaksud. Seketika wajahnya berubah datar tanpa ekspresi, “Jangan menyebutnya lagi. Aku sama sekali tidak tertarik dengannya.”

Shasha terkekeh melihat reaksi dingin itu, “Sepertinya karena kau telah menyukai orang lain. Iya kan?”

Bima menoleh secepat kilat. Jantungnya berdegup kencang, “Apa... sekentara itu?”

Shasha kembali mengangguk yakin, “Kau selalu senyum-senyum sendiri saat melihat layar ponselmu. Aku bisa menebaknya, kau pasti sedang memandangi foto gadis yang kau sukai. Benar kan?”

Bima menatap lurus ke dalam manik mata Shasha. Ada keberanian yang tiba-tiba muncul di matanya, “Aku memang telah menyukainya sejak lama. Dan dalam waktu dekat, aku pasti akan mengungkapkan perasaanku padanya.”

“Wah, aku tidak sabar! Kalau kau butuh bantuan untuk menembaknya, katakan saja padaku,” sahut Shasha semangat.

“Kau tidak akan bisa membantuku,” ucap Bima pelan sambil mengalihkan pandangannya ke depan kelas.

“Kenapa?” Shasha heran.

“Karena—“

BRAK!

“Ada apa dengan kalian semua?! Sudah jam berapa ini?”

Pintu kelas tiba-tiba terbuka dengan kasar, menampilkan sosok dosen killer yang paling ditakuti seantero fakultas. Suasana kelas yang tadinya hangat langsung berubah mencekam.

“Kemana teman-teman kalian?” tanya dosen itu dengan suara menggelegar saat melihat kelas yang belum terisi penuh.

“Kami tidak tahu, Pak,” jawab mahasiswa yang ada di kelas secara serempak dengan suara mencicit.

“Hubungi mereka semua! Siapa pun yang telat akan mendapat hukuman!” ucap dosen itu, “Buka halaman 56 sekarang!” perintahnya tanpa ampun.

Kelas pun dimulai dengan suasana kaku tanpa menunggu mahasiswa lain. Shasha segera fokus pada buku di depannya, berusaha mencatat setiap penjelasan. Namun, ia merasa ada yang memperhatikannya. Bima sesekali melirik Shasha dari samping dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Jangan melirikku, nanti kita kena marah,” bisik Shasha tanpa menoleh.

“Ah, maaf,” ucap Bima buru-buru menunduk, pura-pura menulis meski pikirannya tertinggal pada kalimat yang belum sempat ia selesaikan tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!