"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13. masih menyembunyikan status.
Pagi hari seperti biasa Amelia membantu Budenya beres-beres rumah.
Dari mengepel, dan menyapu halaman depan dan halaman belakang.
"Kamu nyapu juga Mel? Aku kira tadi Bude yang nyapu."tanya Asih.
"Masa sih aku disamakan sama bude? Segitu tuanya kah aku?" Amelia pura-pura marah, Asih tertawa .
"Aku belum lihat kamu menyapu hanya mendengar suara sapuan saja.. sensi sekali."Amelia balik tertawa.
Kedua wanita beda status itu nyapu bersama-sama di halaman rumah mereka masing-masing.
Desa itu masih asri di mana setiap rumah memiliki lahan yang luas, ada halaman belakang dan ada halaman depan.
Dan setiap rumah ditanami pohon-pohonan seperti, pohon mangga dan jambu dan rambutan.
"Hari ini kamu mau ke mana As?"tanya Amelia sambil menyapu..
"Seperti biasa, membantu ibuku dirumah dan tidak ada rencana ke mana-mana. Kamu ada rencana pergi dan ngajak aku?" Tanya Asih penuh percaya diri.
"Aku rencananya ingin ke ibukota, mau ketemu dengan temanku yang satu kampung? Kamu mau ikut aku?"Amelia memang sudah bikin janji dengan Asti.
Setelah Asti menghilang beberapa bulan semenjak pertemuan tempo hari di sebuah Mall. Mereka tidak bertemu lagi bahkan komunikasi terputus.
Ternyata Asti ikut dengan bosnya ke luar negeri ke negara Timur Tengah untuk shooting sebuah film.
"Aku mau sekali ke ibukota? Tapi tidak punya uang."jawab Asih jujur.
Ia yang kehidupanya sangat pas-pasan jarang sekali pegang uang jika tidak jualan sayuran atau hasil panen tanaman yang lainnya.
"Aku handel semuanya,kamu cukup temenin aku saja, Tapi tanyakan sama ibumu dulu bisa tidak kamu menemaniku? Jika Ibumu repot tidak bisa ditinggalkan tidak apa-apa aku sendiri saja." Keduanya sudah selesai menyapu dan mereka mengobrol sambil memegang sapu lidi masing-masing.
"Hari Jumat biasa kami libur tidak ada kegiatan baik di ladang maupun di sawah. Insya Allah ibuku mengijinkan jika aku menemanimu."Amelia tersenyum manis.Ia senang Asih bisa menemaninya.
Setelah menemui kesepakatan antara Asih dan Amelia. Keduanya masuk dalam rumah masing-masing.
"Handphone-mu dari tadi berdering terus, sepertinya Bapakmu menelpon." Baru saja Amelia meletakkan sapu lidinya di tempatnya.
Ia dikagetkan oleh kehadiran budenya yang tiba-tiba sudah ada di belakang.
"Astaghfirullahaladzim..! Bude sudah pulang dari warung ibu Salamah? " Tanya Amelia.
Semenjak bertemu dengan Karim atau Kamila, Bude Gendis tidak diizinkan oleh Amelia menjual sayuran di pasar.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan..
Kalau ingin ke pasar lebih baik pergi kepasar yang lain walaupun itu lebih jauh tidak apa-apa yang penting aman.
"Sudah! dari tadi Bude pulang.. kamu sedang asik mengobrol dengan Asih makanya tidak tahu jika Budi sudah di rumah." Jawab Bude Gendis.
"Oh ya nduk.. di warung sayur Salamah ibu-ibu membicarakan keluarga Rudi, katanya Rudi akan menikah dalam waktu cepat dengan pacar barunya yaitu Kamila. Mereka bertanya pada Bude, apakah kamu sudah diceraikan secara resmi atau belum? Bude jawab apa adanya, belum ada surat cerai yang resmi dari pengadilan." Amelia manggut-manggut mendengar laporan budenya.
"Ibu Salamah menanyakan aku apa tidak Bude? Aku sebenarnya kangen sama Ibu Salamah... Dia orangnya sangat baik dan mengerti keadaanku, sering sekali aku dikasih uang jajan oleh ibu Salamah." Amelia tidak tertarik membahas pernikahan Rudi dan pacarnya kamilah atau Karim.
Ia sudah tidak perduli dengan keluarga itu, dan tidak ada rasa sakit hati di hatinya dicampakkan oleh Rudi.
Statusnya saja yang janda ia masih perawan belum tersentuh oleh Rudi.
Amelia sangat bersyukur Rudi tidak memiliki nafsu dengannya sehingga ia aman.
Walaupun ia tahu itu dosa jika tidak melayani suami. Bukan apa-apa dia tidak melayani suaminya suami yang tidak ingin menyentuhnya..
"Bude baru tiba , Salamah langsung menanyakan kabarmu? Ia senang kamu sudah keluar dari rumah mertuamu itu."jawab Bude Gendis.
Warung Ibu Salamah dengan rumah Bude Gendis berjarak kurang lebih 2 kilo. Mereka masih satu desa yaitu desa wanajaya..tapi beda RT dan RW..
"Panen berikutnya aku saja yang menjual di warung Ibu Salamah. Sekalian melepaskan Rindu." Jawab Amelia .
"Besok pagi panen lagi, hari ini Bude mau mencabut kangkung yang sudah siap dipanen." Amelia tercengang ia tidak tahu jika sudah ada kangkung yang siap dipanen.
"Kenapa tidak sekalian Bude cabutnya?"protes Amelia.
"Bude sengaja mencabut sayuran sedikit dulu namanya juga pertama kali menjual hasil panen sayuran di warung. Ternyata banyak sekali peminatnya, sayur yang Bude bawa langsung ludes diborong ibu-ibu. Dan Salamah meminta Bude setiap panen dijual di warungnya." Amelia manggut-manggut.Ia senang jika budenya memiliki pelanggan tetap.
"Kamu telepon Bapakmu dulu, supaya mereka tidak khawatir.. setelah itu, kamu makan. Jadi pergi bertemu Asti?"perintah Bude Gendis.
Amelia sampai melupakan tujuannya mengambil handphone di kamar, ingin menelpon bapaknya.
Amelia langsung menekan tombol warna hijau untuk melakukan panggilan.
Panggilan pertama tidak diangkat kedua pun tidak diangkat, panggilan ke-5 baru diangkat.
"Assalamualaikum..! Ibu ke mana saja, aku telepon sudah berkali-kali Ibu tidak angkat?"protes Amelia, Gendis hanya bisa menggelengkan kepala melihat keponakannya yang memiliki kesabaran tipis saat teleponnya tidak diangkat oleh kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.. ibu dan bapak sedang beres-beres di belakang rumah, pohon kedondong tumbang karena hujan semalam sangat lebat. Buahnya sangat banyak, Jadi Bapak dan Ibu panen kedondong, Amelia Kamu apa kabar? Kenapa tega merahasiakan hal yang sangat penting dari bapak dan ibu? Apa kamu sudah tidak menganggap kedua orang tuamu ini ada di dunia ini lagi? Sehingga kamu diceraikan oleh Rudi tidak memberitahu ibu dan bapak."
Degghh..!
Amelia mematung ia tidak menyangka ibunya sudah tahu dari orang lain Jika ia sudah menjanda.
"Emmmm..! Ibu tahu dari siapa jika aku sudah diceraikan oleh Mas Rudi?"tanya Amelia dengan perasaan cemas.
Perasaan bersalah takut semua jadi satu. Tidak ada niatnya untuk membohongi kedua orang tuanya perihal perceraian nya dengan Rudi.
Amelia menunggu waktu yang tepat untuk bercerita, ia ingin pulang kampung setelah mendapatkan honor dari menulisnya.
Walaupun sekarang ini ia memiliki uang yang cukup banyak. Tetapi Amelia ingin pulang dengan hasil menulis, ada kebahagiaan tersendiri di hatinya menggunakan hasil keringatnya.
100 juta hasil jual naskah sudah ia depositokan selama 1 tahun. Amelia ingin kuliah tatap muka di universitas ternama di ibukota..
Sebelum menjawab pertanyaan ibunya Amelia menarik nafas panjang. Menetralkan hatinya yang berdetak tidak karuan.
"Perceraiannya sangat singkat Bu.. tiba-tiba saja kami bercerai. Itu lebih baik daripada aku terus-menerus tinggal di rumah mertuaku, yang hanya dijadikan pembantu oleh mereka."jawab Amelia dengan dada bergemuruh.
"Pernikahan itu sangat sakral nak..! Usahakan sekali seumur hidup itu janji nikah? Tetapi jika pernikahan sudah tidak sehat, walaupun itu dibenci oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Tidak apa-apa berpisah, karena diteruskan juga tidak baik Jika salah satu ada yang tertekan... Ibu sangat kecewa kamu tidak memberitahu ibu, bahkan Ibu tahu kamu sudah menjadi janda dari Bude Tantri. Budenya Rudi yang datang ke rumah ini memberitahu jika Rudi telah menjatuhkan talak padamu. Budi Tantri pun cerita, Rudi membawa perempuan ke rumah mertuamu, mertuamu yang perempuan menyambutnya dengan baik. Pulanglah ke rumah, kita kumpul kembali..Buat apa kamu berumah tangga jika tersiksa, walaupun kita miskin harga diri itu perlu dijunjung tinggi." Amelia diam air matanya hanya menetes, bukan sedih karena dicerai oleh Rudi. Hanya sedih saja meratapi nasibnya yang menjadi orang miskin.
Andaikan ia tidak miskin tidak mungkin ia menikah dengan Rudi hanya demi uang.
"Ibu dan bapak tidak apa-apa kan aku menjadi janda? Tidak malu kan Ibu memiliki anak seorang janda?"tanya Amelia dengan suara serak.
"Kamu lahir dari rahim ibu, Ibu melahirkanmu bertaruh nyawa? Apapun yang terjadi dengan hidupmu ibu terima jeleknya ibu terima bagusnya ibu terima.. Ibu tidak perduli apa kata tetangga atau orang lain perihal statusmu seorang janda. Yang Ibu perdulikan kesehatan dan keselamatanmu."jawab Aisyah tegas..
"Terima kasih Ibu dan Bapak, yang selalu ada untuk Amelia.. Maafkan jika Amelia belum bisa membahagiakan ibu dan bapak. Yang ada Amelia selalu bikin susah ibu dan bapak."Aisyah menggigit kain, berusaha menahan tangis mendengar ucapan putrinya.
Sebagai ibu ia merasa gagal melindungi putrinya. Karena kemiskinannya, Amelia bisa menikah dengan Rudi.
"Ibu dan bapak yang minta maaf denganmu nak. Jika Ibu tidak nekat pinjam uang dengan rentenirnya untuk menanam padi dan cabe.. Ibu tidak kelilit hutang, dan kamu tidak jadi tumbal untuk melunasi hutang ini."Gendis ikut menangis ia ikut terbawa perasaan dengan suasana yang sangat haru.
Percakapan ibu dan anak itu membuat Gendis meneteskan air mata. Kesedihan Amelia itu artinya kesedihannya juga. Amelia anak dari adik laki-lakinya itu artinya darah Gendis mengalir di tubuh Amelia.
"Ajak budemu pulang kampung. Jika tidak punya ongkos bapak akan mengirimi kalian ongkos."ucap Aisyah. Gendis dan Amelia memang akan pulang kampung setelah memperingati maulid nabi Muhammad shallallahu alaihi salam di desa wanajaya.
"Insya Allah minggu depan kami pulang kampung Bu.. setelah maulid nabi, aku dan bude langsung berangkat ke kampung." Percakapan itu selesai, Lia pamit ingin mengakhiri pembicaraan karena hari sudah siang..Ia dan Asih akan berangkat ke kota dengan menaiki kereta.