NovelToon NovelToon
Kembali Ke Tahun 2005

Kembali Ke Tahun 2005

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Misteri / Nikahmuda / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nunna Zhy

Pernikahan seharusnya menjadi awal kebahagiaan, tetapi bagi Dara Sarasvati, tapi justru menjadi akhir dari mimpi-mimpi mudanya. Rutinitas rumah tangga dan keterbatasan hidup membuatnya mempertanyakan semua pilihan yang pernah ia buat.

Satu malam, pertengkaran dengan suaminya, Aldi Laksamana, mengubah segalanya.

Dara pergi—dan terbangun kembali di masa SMA, di tahun 2005.

Di hadapan kesempatan kedua ini, Dara dihadapkan pada dilema yang tak terbayangkan:
mengubah masa lalu demi dirinya sendiri, atau mempertahankan masa depan yang kelak menghadirkan anak yang sangat ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nunna Zhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Yang Salah

Aku membenci malam itu.

Bukan karena hujan yang turun tanpa henti, bukan juga karena rumah terasa terlalu sunyi—melainkan karena aku sadar satu hal menyakitkan: aku menyesal menikah.

......................

“Kamu tahu capeknya aku cari uang tiap hari?” suara Aldi meninggi. “Jangan pernah remehkan nafkahku.”

Kalimat itu menghantam Dara tanpa ampun. Wajahnya menegang saat menatap suaminya—laki-laki yang dulu ia pilih dengan keyakinan penuh, namun kini terasa seperti orang asing.

Mata Aldi kosong, bahunya jatuh, dan Dara sadar… mereka sudah terlalu jauh untuk kembali seperti dulu.

“Aku juga capek, mas.” ucap Dara, suaranya bergetar tapi tegas. “Capek ngurus rumah, ngurus Rey, ngurus keuangan yang selalu kurang dan kamu nggak mau tahu. Capek jadi istri yang hidupnya berhenti di rumah ini.”

Sunyi menyergap ruang tamu.

Tangisan Rey terdengar samar dari kamar sebelah, tetapi tak satu pun dari mereka bergerak. Amarah telah mengalahkan segalanya.

“Aku pergi,” kata Dara akhirnya.

Aldi tak menahan. Tak juga menoleh.

Malam itu Dara keluar tanpa tas, tanpa tujuan, dan tanpa kepastian apakah ia ingin kembali. Langkahnya terburu-buru, hingga kakinya tersandung batu kecil di pinggir jalan.

Tubuhnya terjatuh.

Gelap.

 

“Dara! BANGUN!”

Dara tersentak.

Tangannya refleks mencengkeram meja kayu yang dingin. Bukan sofa rumahnya. Bukan lantai ruang tamu.

Ia menoleh.

Seragam putih abu-abu.

Bangku sekolah.

Papan tulis penuh coretan spidol.

Suara tawa dan bisik-bisik yang terlalu asing… sekaligus terlalu familiar.

Pak Gatot berdiri di depannya dengan wajah merah padam.

“Kamu tidur di kelas saya?” bentaknya dengan mata yang hampir melotot penuh. “Kerjakan soal dipapan tulis. Sekarang!”

Dada Dara sesak.

Ini bukan rumahnya. Ini bukan waktunya.

Tatapannya beralih ke kalender di dinding dekat papan tulis. Angkanya membuat napasnya tercekat.

2005.

Dara Sarasvati baru saja kembali ke masa lalu—

ke saat hidupnya belum hancur,

dan kesalahan terbesarnya belum terjadi.

"OMG! Gue Time Travel kah?" Dara kembali menatap sekeliling. "Gila, ini kayak di drama dan novel yang sering gue baca."

Dara tertawa.

Bukan tertawa kecil, tapi tawa lepas yang keluar tanpa bisa ia kendalikan. Ia menutup mulutnya cepat-cepat ketika beberapa murid menoleh, tapi senyum di wajahnya tak juga hilang.

"Dara? Kenapa kamu diam saja? Kerjakan soal dipapan tulis!"

"Ah, iya pak."

Namun sialnya, lebih dari 8 tahun dia tak membuka buku-buku pelajarannya.

Ya, walaupun Dara dulu termasuk siswa pintar dan berprestasi, tapi 8 tahunnya yang sibuk dan tak ada waktu membuka buku pelajaran kembali membuatnya kesulitan mengerjakan soal tersebut. Dara akhirnya disetrap hormat bendera di lapangan.

Wanita itu tak peduli dirinya dijemur di lapangan. Tak peduli jika kulitnya akan terbakar oleh matahari. Yang terpenting sekarang, ia duduk di bangku SMA lagi.

Bukan sebagai ibu.

Bukan sebagai istri.

Bukan sebagai perempuan lelah yang hidupnya berputar di dapur dan ruang tamu.

Ia masih Dara Sarasvati yang berusia tujuh belas tahun.

"Gue nggak lagi mimpi, kan?" gumamnya sambil tersenyum lebar di bawah sinar matahari yang menyengat kulit.

...----------------...

Bel pelajaran terakhir berbunyi, Dara hampir ingin berteriak. Ia melangkah masuk ke kelas dengan ringan, seolah beban bertahun-tahun terangkat begitu saja dari pundaknya. Ruang kelas terasa berbeda—lebih terang, lebih hidup.

Neraka itu hilang.

Tak ada suara pertengkaran. Tak ada tangisan Rey yang menjadi backsound di rumah. Tak ada tuntutan hidup yang menyesakkan dada.

“Dara!”

Suara itu membuat langkahnya berhenti.

Dara menoleh, dan dunia seperti berhenti sesaat.

Rere.

Rambut sebahu penuh jepitan warna-warni, dan senyum yang sama—senyum yang dulu selalu menunggunya di gerbang sekolah.

Rere masih di sini.

Belum ikut ayahnya ke London.

Belum menghilang dari hidup Dara.

Tanpa pikir panjang, Dara berlari dan memeluk sahabatnya itu erat-erat.

“Eh, kenapa lo?” Rere tertawa sambil berusaha melepaskan diri. “Kayak abis lolos dari penjara aja.”

Dara tertawa lagi. Kali ini air matanya ikut jatuh.

“Lo nggak tahu betapa gue kangen sama lo,” gumamnya.

Rere mengernyit. “Kita juga ketemu tiap hari, kali.”

Dara hanya menggeleng. Rere tak perlu tahu. Belum sekarang.

Sepanjang jalan pulang, Dara menikmati semuanya. Suara motor tua yang lewat. Jajanan di pinggir jalan. Obrolan receh yang dulu terasa biasa, tapi kini terasa mahal.

Ia hidup lagi.

......................

Di kamar, Dara menjatuhkan tubuh ke kasur tipisnya. Langit-langit penuh stiker bintang menyambutnya. Ia menutup mata, menarik napas panjang, lalu tertawa pelan.

“Gue bebas,” bisiknya. "Gue akan kuliah. Gue akan kerja. Dan gue akan punya hidup yang tidak bergantung pada siapa pun."

Dara terkekeh, lalu berguling ke kanan dengan sumringah. "Nggak ada Aldi Laksamana. Nggak ada pernikahan. Dan nggak ada masa depan yang menghancurkan. Yes!!!!"

Namun di balik euforia itu, satu nama berkelebat di pikirannya.

Rey Laksamana.

Senyum kecil bocah itu muncul begitu jelas, membuat dada Dara tiba-tiba terasa sesak.

Dara membuka mata. Lalu menggeleng cepat.

“Kali ini… gue yang bakal milih,” katanya lirih. “Dan gue nggak bakal ngulang kesalahan yang sama.”

......................

Di luar, senja perlahan turun.

Bola basket memantul di lapangan, dan seorang laki-laki tinggi bertubuh atletis melemparkannya ke arah ring.

Swish.

Bola itu masuk dengan sempurna.

“Bravo!” seru seseorang dari pinggir lapangan.

Seorang pemuda menoleh sambil tersenyum tipis. Ia mengusap keringat di pelipisnya, lalu mengambil kembali bola yang menggelinding. Senja membuat siluet tubuhnya terlihat tegas—terlalu mencolok untuk diabaikan.

Bersambung...

1
Vivi Zenidar
karyanya bagus..... semoga akan banyak yg baca dan menyukai
achi
wihhh makin seru thorr👍👍👍
achi
naluri orang tua pasti selalu ada
achi
wkwkwk mari kita lihat siapa yg kebakar duluan
achi
kurang waktu buat komunikasi mereka dulu
achi
sama2 mau ubah takdir tp kalo dah jodoh pasti dikasi jalan
achi
semangatt ka nulis cerita ini 😍😍😍
I'm Girl
nah kan bner, si aldi emang dr masa depan
I'm Girl
cie cemburu si aldi
I'm Girl
ini Aldi pasti dr masa depan deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!