Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula
Matahari Desa Watuasih sedang terik-teriknya. Di jalanan yang dikelilingi pohon, tampak seorang pemuda berjalan dengan gaya yang... yah, sulit didefinisikan. Namanya Adi. Ia berjalan dengan dada dibusungkan, tangan mengayun lebar, dan wajah yang dipasang sedemikian rupa agar terlihat seperti jawara.
Adi sebenarnya pemuda biasa. Tak ada prestasi mentereng, tidak ada keahlian khusus selain memancing ikan sepat di empang. Akan tetapi gayanya setinggi langit. Ia ingin diakui, ingin dianggap waw oleh warga kampung. Sayangnya bagi warga Watuasih, Adi lebih sering dianggap sebagai gangguan kecil yang menghibur daripada seorang tokoh penting.
Langkah petantang-petenteng Adi tiba-tiba terhenti. Seorang gadis berdiri tepat di jalur jalannya. Gadis itu tidak tampak seperti orang lokal. Pakaiannya modis, namun wajahnya ditekuk sedemikian rupa hingga menciptakan aura dingin.
Azalea menatap Adi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tanpa senyum sedikit pun, ia mulai bertanya.
"Adi?" Tanya Azalea memastikan, apakah cowok di depannya bernama Adi atau bukan.
"Iya," Jawab Adi. Azalea lalu menghela nafas.
"Gue nggak suka basa-basi, gue ke sini cuma mau bilang satu hal, Lo harus tolak perjodohan kita. Sekarang juga."
Adi berkedip. Ia mundur satu langkah, menatap gadis di depannya dengan dahi berkerut maksimal. "Hah? Tunggu, tunggu. Perjodohan? Memang kamu siapa?"
Azalea mendengus. Sengaja ia menggunakan gaya bahasa yang menurutnya akan membuat pria seperti Adi merasa tidak nyaman atau ilfeel.
"Gue Azalea, cewek yang dijodohin sama lo. Sebaiknya lo batalin perjodohan itu, karena gue gak akan pernah mau nikah sama lo. Paham?"
Adi terdiam. Ia bukan terpesona, tapi otaknya sedang berputar keras mencerna informasi yang masuk. Azalea? Dijodohin?
Di dalam hatinya Adi mulai mendumal. Emang iya sih, daku ini pemuda tampan yang lagi nyari jodoh. Tapi kok Bapak nggak ada omongan apa-apa ya?Oh, apa jangan-jangan dirahasiakan biar jadi kejutan? Biar seolah-olah perjodohan alami pas kita ketemu di jalan? Wah, tidak nyangka Bapak sampai kepikiran nyariin jodoh kelas kakap begini buat aku. Diam-diam perhatian juga si Bapak.
"Woi! Malah bengong!" bentak Azalea, membuyarkan lamunan narsis Adi
"Lo denger nggak sih? Pokoknya lo harus bilang ke orang tua lo kalau lo menolak. Gue nggak mau tau!"
Semua kekacauan saat ini bermula beberapa hari yang lalu, di sebuah ruang tamu yang suasananya lebih mirip ruang sidang pengadilan.
"Ayah nggak mau denger alasan lagi, Azalea! Kamu sudah cukup umur, dan ini demi kebaikan kamu juga," suara Pak Sutopo menggelegar.
Azalea berdiri dari sofa dengan wajah memerah menahan amarah. "Kebaikan siapa, Yah? Kebaikan Azalea atau kebaikan relasi bisnis Ayah? Ini zaman apa sih? Mana ada lagi jodoh-jodohan kayak gini."
"Ini bukan soal bisnis, ini soal janji Ayah sama teman lama Ayah di desa. Dia orang baik, anaknya juga pasti dididik dengan benar."
"Pokoknya Azalea nggak mau! Azalea mau cari laki-laki sendiri."
"Keputusan Ayah sudah bulat. Kalau kamu mau protes, protes sana sama calon suamimu!"
Azalea menatap ayahnya dengan api di matanya. "Oke! Siapa namanya? Azalea bakal datengin dia ke desanya sekarang juga. Azalea bakal bikin dia sendiri yang nangis-nangis minta batalin perjodohan ini."
"Namanya? Tanya saja sama Lurah di sana."
"Ayah bercanda? Masa nanyain calon suami harus nanya ke kepala desa atau lurah dulu? Kayak mau nyari buronan aja."
Tanpa jawaban lebih lanjut, Pak Sutopo bangkit dan melenggang pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Azalea yang menghentak-hentakkan kaki ke lantai dengan kesal.
Saat ayahnya sudah menghilang di balik pintu, Azalea menghampiri ibunya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan perdebatan antara ayah dan anak tersebut.
"Bu... Ibu tolonglah. Siapa sih nama cowok itu? Masa Azalea harus nanya ke Lurah dulu."
"Aduh, Ibu juga nggak terlalu ingat detailnya, Lea. Tapi kalau nggak salah... namanya Adi. Iya, Adi... Adipati gitu kalau nggak salah."
"Adi? Adipati?" Azalea mendesis. "Oke, Adi atau Adipati atau siapa pun itu, tunggu ku obrak abrik pertahanan mu agar perjodohan ini gagal."
Kembali ke jalanan Desa Watuasih.
Azalea menatap Adi dengan sisa-sisa badmood yang ia bawa dari Jakarta. Baginya pemuda di depannya ini adalah representasi dari segala hal yang ia benci. Ketidaktahuan, gaya yang sok, dan perjodohan paksa.
"Jadi gimana? Lo bakal tolak kan?" tagih Azalea lagi.
Adi yang masih merasa dirinya sedang berada dalam skenario film romantis "Cinta Sang Adipati Desa", mencoba memasang wajah keren. Ia memperbaiki kerah bajunya yang sedikit membleh.
"Ehem...Jadi gitu ya. Kamu jauh-jauh dari kota cuma buat nyari aku? Ya ampun, pesonaku emang tidak bisa ditutupi ya," ucap Adi.
Azalea hampir saja ingin muntah di tempat. "Heh, denger ya, gue ke sini bukan karena pesona lo yang nggak seberapa itu. Gue ke sini buat minta lo nggak usah ngarep kita nikah. Kita itu beda benua. Lo itu... lo itu cuma..." Azalea mencari kata-kata yang tepat, "Lo itu cuma Adi, dan gue Azalea."
"Iya, aku Adi. Pemuda paling dicari di Watuasih. Kalau Bapak kamu udah titip kamu ke aku, berarti memang aku ini calon mantu idaman."
Azalea memijat pelipisnya. Ternyata menghadapi orang seperti Adi lebih sulit daripada berdebat dengan ayahnya. Pria ini tidak hanya menyebalkan, tapi juga sepertinya memiliki gangguan delusi yang cukup parah.
"Dengerin gue baik-baik, Adipati," ucap Azalea, mendekatkan wajahnya ke arah Adi hingga pemuda itu sedikit tersentak. "Gue nggak peduli apa yang Bapak gue omongin ke bapak lo. Intinya, kalau sampai perjodohan ini jalan terus, gue bakal bikin hidup lo kayak di neraka. Mending lo bilang lo nggak mau, atau lo bakal nyesel seumur hidup."
Setelah mengucapkan kalimat ancaman itu, Azalea berbalik badan dan berjalan pergi menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari sana. Ia merasa puas telah memberikan peringatan keras. Dalam pikirannya, misi telah selesai. Ia sudah melabrak si Adi dan memberikan gertakan yang cukup untuk membuat nyali pria desa mana pun ciut.
Namun di belakangnya, Adi justru menatap punggung Azalea dengan senyum mesem-mesem.
"Galak banget. Tapi cantik sih. Kayaknya Bapak emang tahu selera aku. Mungkin ini cara Tuhan ngasih ujian sebelum aku dapet bidadari kota," gumam Adi sambil melanjutkan jalannya dengan gaya petantang-petenteng yang makin menjadi-jadi.
Azalea tidak tahu, bahwa di Desa Watuasih nama Adi adalah nama sejuta umat. Terlebih, alih-alih bertanya ke Lurah yang disebut-sebut sang ayah, Azalea malah bertanya ke RT setempat. Tanpa ia sadari, kedatangannya ke desa ini bukan untuk mengakhiri perjodohan, tapi justru berjumpa dengan takdir lucu yang akan menjungkirbalikkan hidupnya.
Takdir sedang tertawa mempersiapkan skenario yang akan mengubah hidup Azalea 180 derajat.
Perjalanan Azalea di Desa Watuasih baru saja dimulai.
.
.
Bersambung.
karena Hagia salah ngomong
🤣🤣🤣🤣🤣🤣