Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 1.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi pria dewasa itu. Ia terhuyung, jelas terkejut. Bukan hanya oleh rasa perih, tapi juga oleh kekosongan di kepalanya. Ingatannya... terhenti di usia dua puluh dua tahun.
“Apa-apaan ini? Kenapa kau menamparku?” tanyanya dengan suara naik.
“Karena kau berani menciumku!” bentak wanita di depannya, amarah jelas terpancar dari wajahnya.
Pria itu mengernyit bingung. “Bukankah kau bilang aku ini suamimu? Kalau begitu, apa salahnya aku menciummu?”
Wanita itu menggeleng keras. “Kita akan bercerai, kau sendiri yang menginginkan perceraian itu!”
Pria itu terdiam sesaat, lalu menatap sang wanita seolah baru saja mendengar lelucon paling tidak masuk akal. “Mustahil! Aku benar-benar gila, kalau sampai menceraikan wanita secantik kamu.”
Mata Milea menyipit tajam, menahan emosi yang kembali naik. Dalam benaknya, berputar kenangan beberapa hari lalu.
Flashback...
...*****...
Pagi itu Milea duduk di tepi ranjang, memandangi punggung suaminya yang tengah mengancingkan kemeja kerja dengan gerakan rapi dan dingin... seperti biasa.
Empat tahun menikah, dan pemandangan ini tak pernah berubah.
Rangga Azof tak pernah menoleh, tak pernah bertanya. Tak pernah menyentuhnya, kecuali sekadar kewajiban sebagai suami.
“Aku akan pulang malam,” ucap Rangga datar.
Milea hanya mengangguk.
Ia sudah terbiasa dengan sikap dingin sang suami. Tak pernah ada pelukan hangat, tak ada kecupan. Bahkan tak ada salam perpisahan.
Pintu kamar tertutup pelan, meninggalkan Milea sendirian lagi. Ia menunduk, menatap cincin kawin di jarinya yang terasa lebih berat dari beban hidupnya sendiri.
Empat tahun.
Empat tahun ia bertahan dalam pernikahan tanpa cinta. Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Milea berpikir…
Mungkin bercerai bukan pilihan terburuk.
Esoknya...
Pagi di rumah besar itu selalu terasa terlalu sunyi.
Milea berdiri di dapur, mengaduk kopi hitam di cangkir keramik putih, itu adalah kopi kesukaan Rangga. Ia hafal betul takaran pahit yang disukai suaminya, meski pria itu tak pernah benar-benar menghargainya.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Rangga Azof turun dengan setelan jas abu-abu gelap yang tampak mahal dan rapi. Jam tangan eksklusif melingkar di pergelangan tangannya, sepatu pantofel hitam mengilap. Aura pria sukses itu begitu kuat. Dingin, berwibawa, dan sulit didekati.
Rangga adalah Direktur Utama Azof Group, sebuah perusahaan properti dan konstruksi besar yang namanya sering muncul di majalah bisnis. Proyek apartemen, hotel, hingga kawasan elit, semua berada di bawah kendalinya. Ia dikenal sebagai pemimpin tegas, ambisius, dan nyaris tak pernah gagal.
Namun di rumah, semua itu berubah menjadi jarak.
Milea meletakkan cangkir kopi di meja makan. “Kopinya sudah siap.”
Rangga duduk tanpa menatapnya. Ia meraih ponsel, membaca email sambil sesekali mengernyit, lalu menyesap kopi itu.
Tak ada pujian, tak ada terima kasih.
Seperti biasa.
Milea duduk di seberangnya. Ia memperhatikan wajah suaminya yang tampan namun terasa asing. Rahang tegas, mata tajam, dan ekspresi datar yang seolah tak pernah berubah sejak hari pernikahan mereka.
“Ada rapat besar hari ini?” tanya Milea, mencoba membuka percakapan.
“Iya.”
Satu kata, dan... selesai.
Milea menunduk, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ia sudah sering berada di posisi ini, mencoba bicara, mencoba peduli, mencoba menjadi istri yang baik, namun selalu berakhir seperti menabrak dinding.
Empat tahun lalu, ia menikah dengan Rangga bukan karena cinta.
Mereka dijodohkan oleh keluarga.
Saat itu Milea pikir, cinta bisa tumbuh. Ia pikir, waktu akan mengubah segalanya.
Ternyata tidak.
Rangga menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Pulang larut, berangkat pagi. Bahkan ketika ada di rumah, pikirannya tetap tertambat pada grafik, laporan, dan proyek.
“Kalau kamu perlu sesuatu, bilang ke asisten rumah tangga,” ucap Rangga tiba-tiba sambil berdiri.
Milea menatapnya. “Aku istrimu, Rangga.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, lirih namun penuh makna.
Rangga terdiam sesaat. Lalu menoleh, menatap Milea sekilas. Tatapan yang bukan marah, bukan benci, tapi... kosong.
“Aku tahu,” jawabnya datar. “Dan aku sudah menjalankan tugasku sebagai suami.”
Milea tercekat.
Tugas.
Bukan cinta.
Bukan kebersamaan.
Hanya tugas.
Rangga meraih jasnya dan berjalan menuju pintu.
“Aku mungkin pulang larut lagi,” katanya tanpa menoleh.
Pintu tertutup.
Milea tetap duduk di sana, menatap kopi di cangkir Rangga yang belum habis. Dadanya terasa sesak. Ia mengangkat cangkir itu, meneguk sisa kopi pahit yang dingin.
Rasanya… seperti pernikahannya sendiri.
Di kantor, Rangga duduk di ruang kerja lantai paling atas gedung Azof Group. Dinding kaca memperlihatkan panorama kota dari ketinggian. Meja kerjanya dipenuhi berkas proyek bernilai miliaran.
“Pak Rangga, investor dari Singapura sudah menunggu,” ujar sekretarisnya.
Rangga mengangguk, wajahnya kembali dingin dan profesional.
Tak ada yang tahu, bahwa di balik kesuksesan itu, ada seorang istri yang perlahan kehilangan tempat di hidupnya.
Sementara itu di rumah, Milea berdiri di depan cermin kamar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri, wanita yang sah secara hukum, namun merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.
Air mata menetes pelan.
“Berapa lama lagi aku harus bertahan?” bisiknya.
Dan tanpa ia tahu, keputusan yang akan ia ambil sebentar lagi… akan mengubah segalanya.
*
*
*
Othor saranin, baca sinopsisnya dulu yua. Ini genre romantis 🤏😚
Bersambung...
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌