"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Persyaratan Kerja
"Astaga ini perusahaan besar tapi kenapa isinya seperti perempuan LC begini?" batin Lily menatap beberapa wanita yang sedang melakukan interview padanya.
Kancing baju atas yang dibiarkan terbuka memperlihatkan jelas lekukan dada, dan membiarkan perut bawahnya terekspos jelas.
Lily meneguk ludahnya berulang kali. Meski ia adalah perempuan, tapi melihat lekukan dada perempuan lain dengan jelas membuatnya penasaran, meski rasa geli ikut hadir di hatinya.
Lily menghela nafas pelan berulang kali untuk menekan agar jiwa sinis dalam dirinya tidak keluar.
Sebisa mungkin ia memberikan senyuman manisnya demi sebuah pekerjaan.
"Baiklah kami sudah periksa CV kamu, latar belakang kamu juga tidak masalah. Karena kamu hanya melamar jadi office girl, kami hanya akan memberikan interview ringan, kamu siap?" sahut seorang wanita berkulit putih memakai blazer hitam sebagai penutup bikini yang dipakai.
Lily tersenyum terpaksa hingga wajahnya sedikit memerah karena pikirannya yang terus melayang ke mana-mana.
"Si-siap," ucap Lily dengan suara sedikit bergetar.
"Baiklah langsung intinya saja." Wanita itu terdiam beberapa detik. Tubuhnya condong lebih dekat ke arah Lily. Telunjuknya mendarat di ujung dagu Lily.
"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" tanyanya.
Lily terbegong. Keningnya sedikit berkerut kebingungan. "Berhubungan?" tanyanya ingin memperjelas sebelum menjawab.
Wanita itu lalu sedikit menjauh kembali duduk di tempatnya dengan tenang. "Berhubungan intim," jawabnya yang membuat Lily tersentak kaget.
Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata. Wanita itu kembali menyahut. "Itu syarat utama bekerja di sini."
"Hah?" Lily semakin dibuat syok. Ia menatap dua wanita lain di depannya dengan penampilan seksinya itu.
Pikirannya semakin berputar dan mulai menebak alasan kenapa pakaian wanita di sana sangat terbuka.
Salah satu diantaranya menyahut. "Bos kita itu, pemilik perusahaan ini, sangat suka berbagi kehangatan dengan karyawan wanitanya. Bisa dibilang di Hyper, bisa tidur beberapa wanita dalam satu waktu, dan dia sangat hebat di ranjang jadi semuanya terpuaskan. Kamu ...." Ia terdiam menatap Lily lebih lekat dengan senyuman manisnya.
"Meski office girl jarang dilirik, tapi kamu cukup cantik, jadi peluang kamu dilirik ada 50%," lanjutnya yang membuat jantung Lily berdebar cepat dan semakin syok.
"Itu benar. Bagaimana kamu siap atau tidak?"
Pertanyaan yang membuat Lily tak mampu untuk menjawab. Lily meremas rok hitam yang dikenakannya, menatap ketiga wanita di depannya dengan ragu.
"Apa ... apa benar harus seperti itu?"
"Hm, kontrak seperti itu. Jika setuju kamu akan diterima, dan kamu tidak perlu khawatir, bos sangat menjaga kesehatannya. Jadi penyakit tularan itu pasti tidak ada," ucapnya menjelaskan dan memberikan pengertian sedetail mungkin.
"Dan lagi, dia sangat tampan, perkasa, dan hangat, kamu tidak akan rugi jika berhasil berhubungan dengannya," ucap wanita itu dengan wajah genitnya yang tampak senang menceritakan bosnya yang membuat Lily merasa semakin jijik.
Dalam benaknya Lily mendumel. "Tetap saja bukan dia berhubungan dengan banyak wanita. Itu artinya dia buruk, dia hyper, menjijikkan!" batin Lily sembari berusaha tersenyum.
"Tapi gaji di sini cukup tinggi. Pengobatan Ibu akan terjamin ke depannya," batin Lily yang menjadi alasan keraguan untuk menolak pekerjaan itu.
"Em, maaf, sekali lagi maaf. Tapi, benar kan office girl jarang dilirik?" sahut Lily hanya bisa berharap dengan itu.
"Ya tentu. Office girl jarang dilirik, tapi belum tentu tidak dilirik. Sekali lagi kamu cantik ada peluang 50%."
Lily memejamkan mata, tangannya mengepal di atas pangkuan. Usianya sudah 27 tahun, dan sudah 9 tahun ia bekerja di berbagai tempat.
Baru kali ini ia mendapatkan persyaratan terbodoh dalam pekerjaannya.
Wanita yang menginterviewnya itu kembali menyahut. "Meski kontrak persyaratan utamanya sama dengan semua karyawan wanita. Tapi, semua tergantung bos dengan siapa ia mau berhubungan. Jika sudah tanda tangan artinya setuju, dan jika melanggar akan dikenakan denda, dan pastinya kamu tidak akan bisa melaporkan ke polisi. Bagaimana, kamu siap menerima persyaratan ini?"
Lily menghela nafas kasar, sembari meremas ujung roknya. "Tidak apa Lily demi Ibu. Gaji ini sangat tinggi, jadi obat Ibu akan terjamin. Lagipula kamu juga bukan lagi gadis, dan hanya kemungkinan 50% aku bertemu langsung dengan bos. Jadi, tidak apa Lily, tidak apa, terima saja," batin Lily.
Ia tersenyum menatap ketiga wanita di depannya lalu mengangguk pelan. "Baik, saya bersedia."
"Baiklah kalau begitu kamu diterima silahkan tanda tangani." Wanita itu mendorong map biru yang berisi kontrak kerja sama.
Hal itu membuat Lily mengerutkan keningnya heran. "Maaf, hanya itu?"
"Iya. Kamu hanya office girl. Tidak perlu banyak pertanyaan. Silahkan," sahutnya yang membuat Lily menggeleng kepala pelan karena bingung, dan mau tak mau segera menandatangani kontrak perjanjian kerja itu.
Coretan indah miliknya kini telah berada di atas kertas dan telah disahkan secara hukum. Sebagai bentuk segala keuntungan dan konsekuensi akan siap diterima.
Lily menghela nafas pelan, meletakkan kembali bolpoin yang digunakannya. "Sudah selesai Bu. Kapan bisa saya bekerja?" tanyanya.
"Hari ini saja. Akan ada yang membimbing kamu, bisa?"
Lily mengangguk tanpa ragu. "Bisa Bu."
Lily tersenyum kemudian berucap kembali. "Em, kalau boleh tau nama bos kita siapa ya?"
Di saat bersamaan pintu ruang kerja terbuka membuat mereka menoleh kecuali Lily yang masih dalam kecemasan. Merasa keputusannya terlalu cepat untuk di ambil.
"Eh, Pak Axton anda di sini," sapa tiga wanita itu secara bersamaan bangkit dari kursinya dan segera menghampiri sosok yang baru datang itu.
Lily mengerjapkan mata. Ia mengikuti arah langkah mereka, hingga tatapannya terhenti pada sepasang kaki yang sudah ditebak pemiliknya adalah laki-laki.
Perlahan Lily mengangkat pandangannya semakin ke atas, dengan jantung yang ikut berdebar cepat. Hingga pandangannya terhenti pada wajah rupawan dan mata tajam yang sedang menatap ke arahnya.
Lily langsung tersentak, matanya membulat, dan jantungnya semakin berdebar cepat. "Bos ... Bos Hyper itu mantanku, Axton?" batinnya syok langsung membelakangi mereka sembari menyentuh dadanya.
Di saat ia sedang syok, ketiga wanita tadi sudah merangkul manja di tubuh kekar milik Axton.
"Pak kenapa tidak mengabari anda akan ke sini?" sahutnya dengan suara manja nan seksi.
"Hey apa maksudmu berkata begitu. Bos ke sini pasti untuk melihat kita merekrut karyawan. Dan melihat apakah ada wanita cantik yang pantas jadi teman tidurnya nanti, iya kan Pak," ucap yang lainnya sembari tersenyum manis dengan telunjuk bermain nakal di dada Axton.
"Kamu memang paling tau aku, Ciara sayang," sahut Axton tersenyum manis sembari mengusap bibir seksi Ciara.
"Ah Bapak anda bisa saja," ucap Ciara tersenyum genit.
"Oh ya Pak, ini ada office girl yang baru kami rekrut. Dia cukup cantik, hanya saja dadanya sedikit kecil, tapi cukup dalam genggaman anda," ucap Ciara berterus terang membuat Lily yang mendengarnya kesal dan malu.
Ciara menunjuk ke arah Lily, yang membuat perhatian teralihkan padanya.
"Eh, Hay kamu kenapa begitu? Ayo sambut bos kamu," sahut Ciara menegur posisi Lily yang membelakangi mereka, karena masih kalut dalam keputusannya.