NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Fajar di Gerbang Hijau

Tahun 2030 adalah panggung sandiwara bagi Ria. Di bawah naungan langit Jakarta yang dipenuhi jalur mobil terbang otonom dan menara-menara kristal, Ria adalah sang ratu. Sebagai pemilik Imperium Aurora, namanya adalah sinonim dari kemewahan dan teknologi Neuro-link. Di usia 28 tahun, otaknya bukan lagi sekadar organ biologis, melainkan superkomputer yang mampu membedah pergerakan saham global dan tren mode dunia dalam denyut nadi yang sama. Ia hidup di dalam gelembung kaca yang steril, mahal, dan tak tersentuh.

Namun, keagungan itu hancur dalam satu detik yang brutal. Suara decit ban yang memekakkan telinga, dentuman logam yang beradu, dan pecahan kaca yang menghujani aspal tol layang menjadi simfoni terakhirnya. Kegelapan merenggutnya sebelum ia sempat memerintahkan asisten AI-nya untuk memanggil bantuan.

Saat kesadaran mulai merayap kembali, hal pertama yang Ria rasakan adalah sensasi yang sangat primitif. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa tebal dan lembap, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu bakar yang samar. Ini bukan udara dingin dari filter AC sentral yang biasa membelainya. Ini adalah udara yang "hidup".

Ria membuka kelopak matanya dengan berat. Langit-langit di atasnya bukan lagi panel fiber optik yang bisa berubah warna sesuai suasana hati. Alih-alih, ia menatap anyaman bambu kusam yang ditopang oleh balok kayu sederhana yang mulai menghitam dimakan usia. Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela kayu tanpa kaca, hanya ditutupi tirai katun tipis yang menari ditiup angin. Pola garis-garis cahaya itu jatuh di atas lantai semen abu-abu yang nampak dingin.

"Apa... apa yang terjadi?"

Suara itu mengejutkannya. Bukan nada bariton yang tegas dan penuh wibawa miliknya, melainkan suara yang nyaring, serak, dan terdengar jauh lebih muda. Ria mencoba menggerakkan tangannya. Alih-alih jari-jari lentur dengan kuku yang dirawat di salon terbaik Paris, ia melihat tangan yang kasar, dengan kulit yang sedikit gelap terbakar matahari. Pakaian yang ia kenakan adalah daster katun murah bermotif bunga, bukan eco-silk rancangan pribadinya yang berharga ribuan dolar.

Rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya saat ia mencoba duduk. Di sudut ruangan, tiga sosok manusia berdiri dengan wajah yang memancarkan campuran antara kelegaan luar biasa dan kecemasan yang mendalam.

Ada seorang wanita paruh baya dengan wajah yang guratan lelahnya tak mampu menyembunyikan senyum hangatnya. Di sampingnya, seorang pria dengan dahi berkerut dan pundak yang tampak memikul beban berat dunia, namun matanya menatap Ria dengan penuh tanggung jawab. Dan seorang remaja laki-laki yang berdiri gelisah di belakang mereka, matanya berkaca-kaca menahan haru.

Ria menatap mereka satu per satu. Otaknya secara otomatis melakukan pemindaian data pengenalan wajah. Hasilnya: Nol. Tidak ada dalam basis data memorinya.

"Kalian... siapa kalian?" tanya Ria. Nada suaranya tajam dan menuntut, refleks seorang bos besar yang sedang menanyai bawahannya yang tidak kompeten.

Reaksi ketiga orang itu sungguh menyayat hati. Senyum di wajah wanita itu membeku. Pria di sampingnya terkesiap, dan si remaja laki-laki itu tampak seolah dunianya baru saja runtuh untuk kedua kalinya.

"Valaria? Nak, apa yang kamu katakan?" Wanita itu, Ratri, mendekat dengan tangan gemetar. Ia menyentuh dahi Ria dengan lembut. Air mata mulai mengalir di pipinya yang keriput. "Ini Ibu, Nak. Ibu kandungmu. Apa kamu tidak ingat? Kecelakaan itu... apakah benturannya membuatmu lupa pada kami?"

Pria itu, Arjun, meletakkan tangannya di bahu istrinya, mencoba menguatkan. Namun, matanya yang menatap Ria seolah memohon sebuah keajaiban. "Valaria, ini Ayah. Dan ini Raka, adikmu. Jangan bercanda seperti ini, Nak. Kami sudah sangat takut kehilanganmu."

Raka, sang adik, melangkah maju dengan wajah pucat pasi. "Kak Valaria, kenapa? Kami mencari semalaman di tepi sungai setelah kamu jatuh. Kenapa Kakak tiba-tiba tidak kenal kami?"

Ria terpaku. Kehangatan tangan Ratri dan getaran tulus di suara mereka tidak bisa dimanipulasi oleh teknologi apa pun yang ia kenal. Mereka tidak berbohong. Mereka bukan aktor, bukan penculik, dan bukan musuh bisnisnya.

Aku berada di tubuh orang lain. Dan tubuh ini memiliki keluarga yang sangat mencintainya, batin Ria. Sebagai seorang pragmatis, ia memilih untuk diam dan menunduk, membiarkan keheningan menjadi topeng bagi keterkejutannya yang luar biasa.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam kebisuan yang dipaksakan. Keluarga itu percaya bahwa Valaria mengalami amnesia traumatis akibat kecelakaan. Mereka memperlakukannya dengan kelembutan yang luar biasa seolah-olah Valaria adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.

Ria memanfaatkan waktu ini untuk mengumpulkan kepingan ingatan pemilik asli tubuh ini. Sedikit demi sedikit, fragmen mimpi itu muncul. Nama gadis ini adalah Valaria Sarawati, usia 20 tahun. Seorang gadis desa yang... Ria mendesis dalam hati saat ingatan itu utuh.

Valaria asli adalah sosok yang sangat naif, bahkan cenderung bodoh. Ia menemukan memori tentang uang tabungan keluarga yang dikumpulkan dari hasil memeras keringat di ladang, habis dihamburkan oleh Valaria untuk membelikan barang-barang mewah bagi seorang pria tampan di kota pria yang jelas-jelas hanya memanfaatkan kepolosannya.

Uang hasil kerja keras orang tuamu... kamu buang untuk pria yang bahkan tidak sudi melihatmu saat kamu jatuh ke sungai? Ria merasakan kemarahan yang dingin menyelimuti hatinya. Sebagai seorang tycoon, pengkhianatan terhadap aset dan kepercayaan keluarga adalah dosa terbesar.

Ria menatap ke luar jendela. Halaman rumah itu hijau dan rapi. Ada tanaman bayam, kangkung, dan beberapa pohon cabai yang tumbuh subur di dalam pot gantung buatan sendiri. Ia melihat ibunya yang sedang memasak di dapur kayu, ayahnya yang sibuk memperbaiki genteng bocor, dan Raka yang dengan rajin menyiram tanaman tanpa mengeluh. Mereka adalah definisi dari ketulusan.

Aku tidak bisa membiarkan mereka menderita lagi. Meskipun aku bukan Valaria yang asli, aku memiliki tubuh ini sekarang. Dan sebagai "investor" baru dalam kehidupan ini, aku akan memastikan Imperium Sarawati berdiri tegak, sumpah Ria dalam hati.

Perubahan harus dimulai dengan data. Ria bangkit dari tempat tidur dengan langkah yang lebih stabil. Ia berjalan menuju ruang tengah dan matanya langsung tertuju pada sebuah kalender dinding bergambar pemandangan alam yang warnanya sudah agak memudar.

Tangan Ria gemetar saat menyentuh kertas kalender itu. Matanya terpaku pada angka di bawah nama bulan.

TAHUN 1997.

Dunia Ria seolah jungkir balik. Ini bukan sekadar berpindah tempat, ini adalah perjalanan waktu. Tahun 1997 adalah masa yang sangat krusial dalam sejarah ekonomi Indonesia. Tahun di mana stabilitas Orde Baru mulai retak, dan krisis moneter yang menghancurkan sedang mengintai di tikungan jalan.

Mie instan Rp 400. Gula pasir Rp 1.600 per kilogram. Bensin hampir tidak ada harganya jika dibandingkan dengan zamanku, pikir Ria cepat. Memorinya tentang sejarah ekonomi segera bekerja. Ini adalah ladang emas. Dengan pengetahuan tentang apa yang akan terjadi di tahun 1998, aku bisa mengubah nasib keluarga ini menjadi penguasa agrikultur.

Namun, ia harus bertindak cerdik. Ia tidak bisa langsung berubah menjadi wanita jenius dalam semalam.

Malam itu, saat makan malam dengan menu sederhana nasi hangat, tumis kacang panjang, tempe goreng, dan sambal terasi yang aromanya membangkitkan selera Ria memulai langkah pertamanya.

"Ayah," panggil Ria. Suaranya sengaja dibuat lembut, sedikit ragu, meniru sisa-sisa karakter Valaria yang lama.

Arjun dan Ratri langsung berhenti makan, perhatian mereka sepenuhnya tercurah pada putri mereka. "Iya, Nak? Ada yang terasa sakit lagi?" tanya Ratri cemas.

"Tidak, Bu. Hanya saja... aku ingin tahu tentang ladang kita. Apakah kita menanam cabai keriting atau hanya cabai rawit? Dan bagaimana dengan stok benih kita?"

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan. Arjun dan Ratri saling pandang, mata mereka membelalak. Ini adalah pertama kalinya dalam bertahun-tahun Valaria menunjukkan ketertarikan pada sumber penghidupan mereka daripada membicarakan baju baru atau pria kota itu.

"Kamu... menanyakan tentang ladang?" Arjun tersenyum, sebuah senyuman lebar yang sangat tulus hingga membuat hati Ria sedikit bergetar. "Tentu, Nak. Ayah menanam cabai merah besar untuk dijual ke tengkulak, dan cabai rawit untuk kita sendiri. Kenapa tiba-tiba bertanya?"

Ria tersenyum lemah, tampak seperti seorang putri yang baru saja "sadar" dari tidur panjangnya. "Aku hanya ingin membantu, Yah. Aku ingin belajar bagaimana Ayah mencari uang untuk kami."

Ratri hampir meneteskan air mata bahagia. Ia menggenggam tangan Ria erat-erat. "Tentu, sayang. Besok kamu boleh ikut melihat ladang kalau sudah kuat."

Di bawah meja, tangan Ria mengepal. Ia tidak hanya akan membantu memanen. Ia tahu bahwa dalam beberapa bulan ke depan, harga komoditas pangan seperti cabai, jahe, dan rempah-rempah akan melambung tinggi akibat inflasi dan kegagalan distribusi.

Ria, sang Desainer dan Tycoon dari tahun 2030, telah mendapatkan data awalnya. Ia memiliki pengetahuan masa depan, keluarga yang loyal, dan tanah yang subur. Permainan baru telah dimulai di bawah bayang-bayang Gerbang Hijau rumah sederhana ini. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun meruntuhkan imperium yang akan ia bangun.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!