Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tubuh ringkih itu.
Arina mengangkat kepalanya tatkala telinganya mendengar suara langkah kaki gontai yang bergerak ke arah nya. Saat itu juga air mata nya membuat bendungan kecil di sudut mata.
Wajah teduh yang menemani tumbuh kembangnya dengan banyak senyuman kini tampak suram, jenggot yang biasa nya tak pernah di izinkan tumbuh kini mulai menampakkan taring nya.
" Assalamualaikum." meski begitu nada lembut yang selalu dirindukan nya tetap mengalun untuk nya.
Arina mendongak, matanya terus mengerjap agar air matanya tak menganak sungai di wajah nya, ia tak bisa membuat ayah nya semakin sedih karena melihat nya menangis.
Hari itu ia berjalan masuk ke pesawat di iringi senyum Ayahnya yang sangat menyejukkan, siapa sangka saat ia kembali, ia tak lagi bisa menemukan senyum setulus itu. Yang terlihat hanyalah sebuah senyum agar terlihat baik-baik saja di depannya
Setelah pandangannya kembali jernih, ia menurunkan wajah nya, menatap sang ayah dengan senyum lebar, meski ada getaran di bibir nya.
" wa'alaikum salam, ayah." Arina menggapai tangan ayah nya, mencium nya dengan takdzim. Namun, saat ayah nya memeluk nya, tangis nya pecah seketika. Ia tidak bisa lagi berpura-pura tegar.
" maafkan Arina, Ayah. Maafkan Arina! Arina tidak langsung pulang saat mendengar Ayah mengalami kecelakaan dan di penjara." ia meraung merutuki kebodohan yang telah ia lakukan.
Malam itu, saat ia melepas lelah setelah perjuangannya untuk mencapai kesepakatan setelah menjalani meeting yang sangat alot, ia mendapatkan telepon dari mbak sarah tetangga di sebelah rumahnya.
Tubuhnya lemas seketika, jantung nya berdegub kencang, tulang nya seakan di lucuti satu persatu dari tempatnya , pikirannya kacau.
Ayah nya, cinta pertamanya, pria yang tak pernah sekalipun mengayunkan tangannya bahkan saat ia sangat nakal sekalipun saat itu tengah mendekam di balik jeruji besi.
Tidak, Ayah nya tidak melakukan tindak pidana apapun, bagaimana bisa orang yang selalu mengangkat tangannya di sepertiga malam, mendoakan kebahagiaan Arina, meminta perlindungan kepada tuhan untuk nya. Agar dia, putri satu-satunya selalu mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat. Jangankan membunuh manusia, membunuh lebah yang menyengat nya pun dia tidak tega.
"Bapak ngantuk Rin hingga mobil yang beliau kendarai hilang kendali, beliau menabrak gerbang sekolah SD, kebetulan saat itu sedang diadakan upacara hari senin dan..." ucapan mbak sarah saat ia bertanya seperti apa kronologi nya tadi pagi terngiang-ngiang di otak nya.
Mbak sarah menghentikan ucapannya saat tangis Arina pecah, " itu tidak mungkin mbak, Ayah bukan orang yang seceroboh itu" Mbak Sarah lantas memeluk Arina erat. Mbak sarah adalah seorang yatim piatu sejak kecil, dan Ayah nya Arina lah yang selalu membantu nya selama ini. Bahkan saat dia menikah, Ayah Arina lah yang membantunya, mulai dari mengembalikan lamaran hingga biaya pernikahan yang tidak sedikit.
" Sabar rin, kamu yang kuat ya. Mas diki sedang mengusahakan agar pihak korban mau di ajak berdamai." meski sudah mengatakan banyak kalimat untuk menguatkan nya, mbak sarah tetap gagal menghentikan tangisannya.
" sudah sudah, anak Ayah nggak boleh nangis, Arina kan anak kuat. Ayah nggak apa-apa Rin. Bang diki sudah berjanji akan membantu ayah. Kamu nggak boleh sedih, sebentar lagi Ayah akan bebas." ucapan serta usapan pada punggung nya seakan mengembalikan nya ke dunia nyata.
Arina meremas ujung bajunya, melihat ayah nya yang berpura-pura tegar membuatnya semakin sakit. Ia menyesal saat mendengar kabar itu ia tak bisa langsung pulang karena alasan pekerjaan.
" waktu berkunjung habis."
" berjanji sama Ayah, apapun yang terjadi kamu tidak boleh terlalu bersedih." untuk yang terakhir kali nya, ayah nya mengusap air mata di pipinya.
Air mata Arina semakin mengucur deras, begitu tubuh kurus ayah nya sudah menghilang dari pandangan. Setelah kepergian ibunya beberapa tahun silam, ia hanya memiliki Ayah nya sebagai sandaran.
" tiga orang luka ringan, satu orang harus kehilangan sebelah kakinya dan satu orang lagi meninggal, Rin." ucapan mbak sarah menguasai pikiran nya
Arina menatap kosong pada seorang gadis berusia sepuluh tahunan yang terbaring di atas brangkar, alat-alat medis menempel pada tubuh nya. Bagaimana ia akan meminta keadilan untuk Ayah nya, perasaan para korban kecelakaan itu beserta keluarganya jauh lebih hancur dari nya.
Tapi, kecelakaan itu terasa sangat janggal menurut nya, Ayah nya tipe orang yang sangat hati-hati saat berkendara, jika ia ngantuk ia akan menepikan mobil nya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di ingin kan. Tapi saat kejadian, Ayah nya tiba-tiba terserang kantuk yang sangat dahsyat, mobil yang di kendarai nya juga tiba-tiba hilang kendali, Bukankah ini terdengar sangat tidak masuk akal
Ia terlonjak manakala seseorang menepuk bahu nya, seseorang dengan jas hitam menjulang di hadapan nya. " ada yang bisa saya bantu, ? "
Arina mengerjap, melihat orang itu secercah harapan timbul dalam hatinya." apa anda keluarga pasien yang ada di dalam?" meski tak kelihatan karena terhalang kaca mata hitam, ia tau pria ber jas hitam itu tengah menaruh kecurigaan padanya. Terlihat dari dahi nya yang berkerut, dan pertanyaan nya yang tak langsung di jawab.
" saya anak dari orang yang menabrak adik yang di dalam." Arina meremas dress nya saat mendengar helaan napas pria itu.
" apa boleh saya meminta kemurahan hati anda, tuan? Ayah saya tidak sengaja menabrak adik itu, beliau, beliau.." Arina tak kuasa meneruskan ucapannya, Apa yang harus ia katakan sebagai pembelaan untuk Ayah nya?
Saat pria itu mengangkat tangannya. remasan pada dress nya semakin menguat, tubuh nya mengeluarkan keringat dingin. Meski begitu, dari lubuk hatinya yang paling dalam ia berharap pria itu mau di ajak berdamai. Berapapun uang yang harus ia keluarkan sebagai kompensasi, akan ia usahakan.
Ayah nya sudah terlalu tua, ia tidak sanggup melihat ayah nya menghabiskan waktu senja nya dengan penderitaan.
" saya telepon atasan saya dulu." Arina melongo, memperhatikan bahu pria itu yang semakin menjauh dengan ponsel di telinganya. Jadi, dia berbicara mulai tadi, mempertaruhkan mental nya karena posisi nya di pihak yang bersalah sia-sia saja?
Bayangan ia akan di caci maki bahkan akan di tampar karena dengan tidak tau dirinya meminta damai menguap seketika.
" maaf, atasan saya tidak berkenan menempuh jalur damai, beliau tetap akan menempuh jalur hukum sebagai bentuk keadilan untuk non Tania."
Tubuh Arina lemas seketika , beban yang menghimpit nya seakan bertambah beribu-ribu kilo ton rasanya , meski begitu harapannya tidak surut. Ia akan terus memperjuangkan keadilan untuk Ayah nya.
" boleh saya bertemu dengan atasan anda, tuan?"
Pria itu menggeleng." beliau tidak ingin bertemu siapapun dari pihak Anda, beliau akan menemui anda di pengadilan. Silahkan anda tinggalkan tempat ini, nona."
Dengan langkah gontai Arina berjalan menjauh dari ruangan itu, ia sudah melihat satu persatu korban yang kebetulan masih di rawat di sana, kecuali yang meninggal di tempat karena sudah di makamkan.
Dunia nya seakan runtuh saat itu juga, membayangkan tubuh ringkih ayah nya yang sebelumnya sangat perkasa meski usia nya sudah Senja. Ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa memaksa ayah nya untuk berhenti dari pekerjaan nya.
Ia merasa semua ini terjadi karena kesibukannya akhir akhir ini. Ia semakin sibuk dengan tuntutan pekerjaan, sering kali keluar kota dan membiarkan ayah nya kesepian belakangan ini.