"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Accident.
"Baru saja terjadi sebuah kecelakaan tunggal di ruas jalan tol XXX kilo meter 5. Menurut informasi yang dihimpun oleh tim kami yang berada dilokasi kejadian, kecelakaan tersebut mengakibatkan dua orang penumpang mobil sedan berwarna hitam dengan nomor polisi B 5015 AT mengalami luka serius pada bagian kepala akibat benturan hebat. Kini kedua korban telah dilarikan ke rumah sakit XXX."
Deg.
Jantung Sonia seperti berhenti berdetak, berkas ditangannya pun terjatuh begitu saja dari genggamannya, saat mendengar berita yang baru saja di bacakan oleh pembaca berita.
"Daddy.... Mommy....." Suara Sonia tercekat di tenggorokan. Mobil sedan berwarna hitam dengan nomor polisi B 5015 AT merupakan nomor plat mobil milik Om Abimana yang pagi tadi dikemudikan oleh Daddy-nya bersama dengan Mommy-nya, menuju ke lokasi acara pernikahan sahabat baik mommy-nya.
Sepersekian detik kemudian Sonia pun tersadar dari syok yang sempat dialami oleh Gadis itu. Sonia berlari meninggalkan lobby gedung perusahaan tempatnya bekerja. Dengan perasaan cemas bercampur takut, Sonia berlari ke arah mobilnya berada.
"Apa yang terjadi?." Tanya Tomi yang baru saja turun dari mobilnya.
"Daddy dan Mommy mengalami kecelakaan. Sekarang telah dilarikan ke rumah sakit." Jawab Sonia dengan suara bergetar menahan tangis.
"Masuk!." Tomi gegas membukakan pintu mobilnya untuk Sonia. Sebagai bosnya Sonia, Tomi tak bisa membiarkan pegawainya mengemudi dalam kondisi seperti ini, apalagi Sonia merupakan adik sepupu dari sahabatnya baiknya. Hingga pria itupun memutuskan untuk mengantarkan Sonia ke rumah sakit.
Hanya butuh waktu lima belas menit, akhirnya mobil Tomi tiba di rumah sakit. Dengan wajah cemasnya, Sonia bergegas turun dari mobil, dan Tomi pun segera menyusul langkah sekretarisnya itu.
Dari ambang pintu kaca bening ruang tindakan IGD, Sonia dapat melihat sepupunya, Zaliva, beserta beberapa dokter lainnya, sedang berusaha menyelamatkan nyawa kedua orang tuanya. Tangis Sonia pecah melihat kedua orang tuanya terbaring dengan kondisi memprihatinkan.
"Hiks....hiks....hiks.... Daddy.... Mommy...."
Melihat Sonia dalam kondisi seperti itu membuat Tomi tidak tega. Pria itu berusaha menenangkan, dengan membawa tubuh Sonia yang hampir ambruk, ke dalam pelukannya.
Tomi hanya diam saja, ia merasa tak pantas meminta gadis itu untuk tenang, karena faktanya jika dirinya yang ada di posisi Sonia saat ini, mungkin ia akan lebih histeris lagi. Ya, jika terjadi sesuatu pada orang terkasih kita apalagi itu adalah orang tua kandung, siapapun pasti akan bersedih dan terpuruk, seolah dunia ini runtuh seketika.
Dengan langkah terseok-seok akibat rasa pusing yang tiba-tiba menderanya, Sonia menghampiri Zaliva yang baru saja keluar dari ruang tindakan IGD.
"Bagaimana kondisi Daddy dan juga Mommy, Kak Za?." Desak Sonia, tak sabar ingin mendengar penjelasan dari Zaliva tentang kondisi kedua orang tuanya.
"Saat ini Uncle dan Aunty Syifa dalam kondisi kritis akibat pendarahan hebat pada bagian kepala. Dokter menyarankan keduanya untuk segera di operasi. Kakak sudah mengurus semuanya, dan tim dokter yang akan melakukan tindakan operasi masih menyiapkan segala keperluannya."
Deg.
Tubuh Sonia terhuyung beberapa langkah ke belakang, gadis itu merasa kehilangan keseimbangan setelah mendengar penjelasan Zaliva tentang kondisi kedua orang tuanya.
Zaliva sigap berpindah posisi guna menopang tubuh Sonia. "Sonia, kamu harus kuat, dek!." Zaliva memeluk adik sepupunya itu, akhirnya kedua wanita itu sama-sama terisak dalam tangis.
Beberapa saat kemudian, Semua anggota keluarga tiba di rumah sakit. Meskipun semua anggota keluarga besar Sonia telah tiba di rumah sakit, Tomi memilih tetap berada di rumah sakit, mengingat selama hampir setahun terakhir hubungan antara ia dan kedua orang tua Sonia pun cukup dekat. Ya, sebagai sahabat baik Abil, tentunya Tomi sering berkunjung ke rumah Abil, sementara setiap kali berkunjung ke tanah air kedua orang tua Sonia menginap di kediaman Abil. Dari situlah hubungan Tomi dan kedua orang tua Sonia mulai akrab. Apalagi sudah hampir setahun terakhir Sonia bekerja sebagai sekretarisnya di kantor.
Di saat keperluan operasi sudah disiapkan dan pasien akan segera dipindahkan ke kamar operasi, salah seorang dokter keluar dari ruang tindakan IGD dan menyampaikan bahwa mommy-nya Sonia baru saja menghembuskan napas terakhirnya.
"Mommy...." Sonia menangis histeris, sebelum sesaat kemudian jatuh pingsan. Abil mengangkat tubuh Sonia dan memindahkannya ke bangku besi bercat putih di depan kamar operasi.
"Sonia.... bangun nak...." Mama Livia tak kuasa membendung air matanya. Gadis muda yang belum genap dua puluh satu tahun dihadapannya itu baru saja kehilangan ibu kandungnya. Musibah terbesar manusia adalah kehilangan ibunya untuk selama-lamanya, dan saat ini Sonia tengah mengalami musibah terbesar itu. Semua orang yang ada di sana tak kuasa membendung air mata, mereka baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga, yakni ibu kandung Sonia.
"Kamu sudah sadar, nak....." Mamah Livia sedikit lega melihat Sonia membuka matanya. Dengan tatapan kosong, Sonia menangis dalam diam.
Beberapa saat kemudian Sonia minta diantarkan menemui ibunya. Sonia berdiri mematung di samping tubuh ibunya yang kini telah terbujur kaku.
"Kilasan tentang nasehat ibunya, kini seakan menari-nari di kepala Sonia. Ibarat sebuah kaset lama yang diputar kembali.
"Sonia, kamu harus menjadi anak yang tegar dan tangguh, nak! Mommy tidak tahu kapan saatnya mommy akan pergi meninggalkan kamu untuk selamanya, Tetapi jika saat itu tiba, setidaknya mommy bisa pergi dengan tenang karena meninggalkan anak yang tegar dan juga tangguh seperti kamu, sayang." Masih terekam dengan jelas di memori Sonia, kata-kata mommy-nya setahun yang lalu saat ia pertama kali mulai bekerja.
"Mommy.... Mengapa mommy pergi meninggalkan Sonia? Apa mommy tidak sayang lagi pada Sonia? Jika mommy pergi, lalu Sonia di sini dengan siapa?." Sonia bergumam di samping tubuh ibunya. Tangis gadis itu terdengar begitu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.
Sonia terpaksa meninggalkan jasad ibunya ketika perawat meminta izin untuk melakukan tugas mereka, memindahkan jenazah mommy-nya Sonia ke kamar jenazah. Sebelum nantinya akan dibawa pulang oleh pihak keluarga.
Baru saja meninggalkan ruang tindakan IGD, tiba-tiba salah seorang dokter menghampiri mereka semua.
"Apa masih ada lagi yang perlu ditanda tangani oleh pihak keluarga guna kepentingan operasi, dokter?." Papa Abimana berpikir masih ada lagi yang perlu ditanda tangani guna keperluan operasi adik iparnya.
"Tidak ada, tuan. Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari pasien, beliau ingin bertemu dengan putrinya.
"Apa itu artinya Daddy sudah sadar, dokter?." Potong Sonia tak sabar.
Dokter mengangguk lemah.
"Boleh saya bertemu dengan Daddy saya, dokter?." Sonia mengatupkan kedua tangannya dihadapan dokter, berharap dokter mengizinkannya bertemu Daddy-nya.
"Sabar Sonia, biarkan dokter selesai bicara dulu, nak!." Mamah Livia berusaha menenangkan Sonia, dengan mengusap lembut punggung Sonia
"Pasien memang sudah sadar, tetapi kondisinya masih kritis. Saat ini pasien ingin bertemu dengan putrinya, Tuan Abil dan juga Tuan Tomi." Kata dokter.
Tomi yang kini duduk di bangku tunggu depan kamar operasi dibuat terkejut bukan main mendengarnya. Bagaimana tidak kaget, masih banyak anggota keluarga inti, lalu mengapa Daddy-nya Sonia malah ingin bertemu dengan dirinya yang bukan siapa-siapa bagi pria itu.
Selamat datang di kisah Sonia, sayang-sayangku....semoga kalian suka dengan alurnya......😘😘😘😘🥰🥰🥰🙏🙏🙏
Sonia suruh pindah aja Thor
kasian Dede bayinya