Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JALAN BERDURI YANG SEMAKIN TAJAM
Hawa dingin seolah tak mau pergi dari gedung Arkananta Tower pasca rapat pemegang saham yang berakhir panas itu. Udara di setiap lorong dan ruangan terasa penuh muatan listrik negatif, seolah ada badai besar yang tertahan di balik langit-langit mewah yang menjulang tinggi itu. Kabar mengenai pertarungan tajam antara Devan dan Nyonya Rina menyebar dengan cepat, seperti api yang disiram bensin. Di kalangan karyawan, bisik-bisik dan spekulasi liar tak bisa dibendung lagi. Namun yang paling membuat hati Alana teriris dan sesak adalah bagaimana namanya kini terseret ke dalam pusaran kotor itu.
Di koridor, saat dia berjalan mengambil dokumen, dia sering menangkap pandangan-pandangan miring, tatapan penuh rasa ingin tahu yang bercampur dugaan kotor, bahkan ada yang berisi rasa iri yang nyata. Ada yang berbisik kalau dia adalah "wanita simpanan" yang memanfaatkan kelemahan bos besarnya. Ada yang bilang dia penyihir yang memikat hati pemimpin perusahaan sampai lupa pada kewajiban dan keluarganya sendiri. Tak ada satu pun yang bicara soal kerja kerasnya selama dua tahun, soal malam-malam tanpa tidur demi menyelesaikan pekerjaan, atau soal bagaimana dia menjadi satu-satunya penopang jiwa Devan saat pria itu hampir runtuh tertimpa beban masa lalu. Semua jasa pengabdiannya ditutup rapat, digantikan oleh label buruk yang disebarkan secara sistematis dan terencana.
Alana tahu persis dari mana asalnya semua ini. Nyonya Rina. Wanita itu memang licik dan berbahaya. Kalah di meja rapat karena kurang bukti dan kekuatan hukum, dia memilih berperang di medan yang lebih kotor: persepsi publik dan reputasi. Dia tahu betul bahwa bagi Devan, nama baik dan wibawa adalah senjata utamanya. Dan cara paling ampuh untuk menumpulkan senjata itu adalah dengan mengotori nama orang yang paling dicintainya.
Sore itu, Alana duduk di mejanya, mencoba fokus bekerja meski pandangan matanya berkabut dan dadanya terasa penuh duri. Di meja besar di seberang sana, Devan duduk diam. Dia tidak bekerja. Dia menatap Alana lekat-lekat, dengan sorot mata yang penuh amarah tertahan, rasa bersalah yang mendalam, dan perlindungan yang membara. Dia tahu segalanya. Dia mendengar setiap bisikan, dia melihat setiap tatapan tajam, dan dia merasakan betapa sakitnya hati wanita itu meski Alana selalu tersenyum tipis dan berpura-pura kuat setiap kali menoleh ke arahnya.
Devan merasa menjadi orang paling hina di dunia. Dia yang bersumpah akan melindungi Alana dari segala luka, justru menjadi alasan kenapa wanita itu kini disakiti, dicemooh, dan dikucilkan. Dia yang seharusnya menjadi tembok kokoh, malah membuka pintu bagi serangan musuh untuk masuk dan melukai bagian paling lembut dan paling berharga dalam hidupnya. Rasa benci pada dirinya sendiri meluap-luap, membakar setiap inci akal sehatnya. Kalau dulu dia merasa berkuasa karena punya segalanya, sekarang dia merasa paling miskin karena tak sanggup menjaga ketenangan wanita yang rela memberikan segalanya padanya.
“Alana...”
Suara berat Devan memecah keheningan ruangan. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan mendekat. Langkahnya berat, seolah ada rantai besar yang mengikat kakinya. Saat dia berdiri tepat di samping meja kerja Alana, dia tidak langsung bicara. Dia hanya menatap punggung tangan wanita itu yang terlihat tegang, jari-jarinya memutih saat mencengkeram pulpen sekuat tenaga agar tidak gemetar.
“Berhenti dulu,” perintah Devan lembut namun tegas. Tangan besarnya terulur, menutupi punggung tangan Alana, mengambil pulpen itu dan meletakkannya jauh ke sisi meja. “Jangan pura-pura kuat di depanku. Aku tahu. Aku tahu semuanya, dan aku tahu betapa sakitnya hatimu sekarang.”
Alana menoleh perlahan. Senyum tipis yang dipaksakan terukir di bibirnya, tapi air mata sudah menggenang penuh di pelupuk matanya, siap tumpah kapan saja. “Saya tidak apa-apa, Pak. Ini hanya omongan kosong. Nanti juga hilang sendiri.”
“Jangan bohong!” potong Devan, suaranya sedikit meninggi karena frustasi, namun tangannya langsung bergerak menangkup wajah Alana, mengarahkan pandangan wanita itu tepat ke manik matanya yang merah padam menahan emosi. “Kau tahu itu bukan omongan kosong. Itu serangan. Itu senjata yang mereka arahkan tepat ke jantungmu, tepat ke jantungku. Dan aku... aku tidak bisa berbuat apa-apa selain melihatmu terluka begini. Dasar aku bodoh! Dasar aku pengecut!”
Devan memalingkan wajah, mengusap kasar wajahnya sendiri dengan tangan yang bebas. Rasa marah itu meledak, bukan pada orang lain, tapi pada dirinya sendiri. “Seharusnya aku mengunci mu di sini selamanya. Seharusnya aku tidak membiarkanmu melangkah satu langkah pun keluar dari ruangan ini. Semua ini salahku. Aku yang terlalu egois. Aku yang tidak peduli risiko saat aku menarikmu masuk ke dalam hidupku yang penuh racun dan duri ini. Aku yang membuatmu menjadi sasaran, Alana. Semua salahku.”
Air mata Alana akhirnya jatuh, menetes melewati celah jari-jari Devan yang menahan pipinya. Dia menggoyangkan kepalanya pelan, bangkit berdiri dan mendekap erat pinggang pria itu, menyandarkan wajahnya ke dada bidang yang selama ini menjadi tempat paling aman baginya.
“Jangan bicara begitu, Devan. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Saya yang memilih ini. Saya yang memilih masuk, saya yang memilih bertahan, dan saya yang memilih mencintaimu. Ini risiko yang saya tahu sejak awal. Saya tahu siapa Bapak, saya tahu seperti apa keluarga Bapak, dan saya tahu seberapa berbahaya dunia tempat Bapak berdiri ini. Tapi saya tetap mau ada di sini. Karena saya tahu, di balik semua kekejaman dan bahaya ini, ada hati yang paling tulus yang pernah saya temui.”
Alana mengangkat wajahnya, menyeka air matanya dan menatap tajam ke dalam mata Devan yang penuh rasa bersalah itu.
“Mereka boleh bicara apa saja. Mereka boleh menyebar fitnah, boleh memandang saya dengan pandangan kotor, boleh memusuhi saya. Tapi satu hal yang tidak bisa mereka ambil: kenyataan bahwa saya ada di sini bukan untuk mengambil, tapi untuk memberi. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menyatukan. Dan kalau rasa sakit ini adalah harga yang harus saya bayar untuk bisa bersamamu, untuk bisa menjagamu, maka saya rela membayarnya seratus kali lipat sekalipun.”
Kalimat itu seperti aliran air dingin yang membasuh api amarah dan rasa bersalah yang membakar dada Devan. Dia tertegun, menatap wanita di hadapannya ini dengan perasaan takjub yang makin dalam. Di dunia yang semua orang menghitung untung rugi, wanita ini justru menghitung pengorbanan sebagai bentuk kasih sayang. Dia merasa makin kecil, makin tidak berharga dibandingkan kemuliaan hati Alana.
Devan mendesah pelan, lalu memeluk Alana seerat-eratnya, seolah ingin meleburkan raga mereka jadi satu agar tak ada lagi jarak, tak ada lagi pandangan orang lain yang bisa menembus batas dunia mereka. Dia mencium puncak kepala Alana berkali-kali, dengan rasa syukur dan rasa sayang yang meluap-luap.
“Kau malaikat yang salah alamat, Alana. Atau mungkin aku setan yang dicintai malaikat. Aku tidak pantas mendapatkanmu. Tapi sumpah demi apa saja yang paling suci, aku tidak akan membiarkan mereka menang dengan cara kotor begini. Mereka mau main kotor? Baiklah. Aku akan ajarkan mereka, apa artinya bermain kotor dengan murid terbaik dari guru kejahatan itu sendiri.”
Nada suara Devan berubah. Lembutnya hilang, digantikan oleh ketajaman dan tekad yang sedingin es dan sekeras baja. Cahaya di matanya berubah menjadi kilatan bahaya yang membuat siapa pun yang melihatnya pasti bergidik ngeri. Sang Predator sedang bangkit, bukan untuk memangsa sembarangan, tapi untuk membela miliknya dengan segala kekuatan yang dia punya.
Malam itu, Devan tidak pulang ke apartemen mewahnya yang sepi. Dia mengajak Alana masuk ke ruangan rahasia kecil di dalam kantornya yang jarang diketahui orang, ruangan yang berisi rak-rak arsip dan satu set komputer canggih. Di sana, dia membuka lemari besi rahasia yang terkunci berlapis sandi. Isinya bukanlah uang atau emas, melainkan tumpukan dokumen, rekaman, dan data-data penting yang selama sepuluh tahun ini dia kumpulkan diam-diam, bagaikan mengumpulkan pecahan peluru untuk pertempuran terakhir.
Alana duduk diam di sampingnya, mengamati satu per satu bukti yang ditunjukkan Devan. Semua catatan transaksi mencurigakan, penyuapan, pemalsuan laporan, dan penggelapan dana yang dilakukan oleh Nyonya Rina, suami keduanya, dan juga Dion. Semua ini adalah bom waktu yang selama ini dia simpan, menahan diri untuk tidak meledakkannya karena masih ada sedikit sisa pertimbangan sebagai keluarga. Tapi sekarang, saat mereka sudah berani menyerang Alana, batas kesabaran itu sudah hancur lebur.
“Lihat ini, Alana,” ucap Devan pelan, jarinya menunjuk satu baris angka yang sangat besar. “Dion dan ibunya, mereka tidak hanya ambisius dan serakah. Mereka pencuri. Selama bertahun-tahun, mereka menyedot uang perusahaan secara diam-diam untuk gaya hidup mereka yang boros dan main judi. Ayahku sebenarnya sudah tahu ini sebelum beliau meninggal. Beliau mau mengusir mereka, dan itulah alasan kenapa... kenapa kecelakaan itu terjadi.”
Alana menutup mulutnya dengan tangan, kaget luar biasa. Jadi dugaan Devan benar-benar nyata. Jadi mereka bukan hanya musuh kekuasaan, tapi juga pembunuh berdarah dingin yang siap menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalan mereka, bahkan suami dan ayah kandung sekalipun.
“Jadi selama ini Bapak diam saja?” tanya Alana bergetar.
“Aku diam bukan karena takut. Aku diam karena aku butuh bukti yang sempurna, bukti yang tak bisa dibantah dan bisa menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya tanpa ada celah untuk lolos hukum. Aku mau mereka merasakan jatuhnya lebih sakit daripada sakit yang mereka berikan padaku. Dan sekarang... saat mereka berani melibatkanmu, saat mereka berani mencoreng namamu yang suci ini... waktunya sudah tiba.”
Devan menoleh, menatap Alana dengan tatapan tajam namun penuh perlindungan mutlak.
“Besok, kita tidak akan diam lagi. Kita tidak akan jadi korban yang hanya menerima pukulan. Kita balik menyerang. Tapi dengar aku baik-baik, Alana. Mulai detik ini, keamananmu adalah nomor satu. Aku sudah mengubah seluruh akses gedung. Aku sudah menugaskan tim pengawal pribadi terbaik yang ada, orang-orang yang setia kepadaku dan bukan pada uang. Ke mana pun kau pergi, mereka ada. Di mana pun kau berdiri, aku atau pengawalku ada dalam jarak pandang. Jangan menerima makanan atau minuman dari sembarang orang. Jangan pergi ke tempat sepi. Dan yang paling penting: kalau ada apa-apa, sekecil apa pun yang terasa aneh atau mengganggu, langsung hubungi aku. Bahkan kalau aku sedang di pertemuan paling penting di dunia, aku akan datang dalam hitungan menit.”
Alana mengangguk patuh. Dia sadar, permainan ini sudah bergeser dari sekadar perebutan kekuasaan menjadi pertarungan nyawa yang nyata dan mengerikan. Musuh mereka sudah kehilangan akal sehat karena ambisi, dan mereka tak akan ragu menggunakan cara apa pun, termasuk menghilangkan nyawa, untuk mencapai tujuan mereka.
“Baik, Pak. Saya janji. Saya akan berhati-hati. Tapi saya juga minta satu hal: jangan bertindak sembarangan. Jangan menempatkan dirimu di depan bahaya demi saya. Kita berjuang bersama, kita bertahan bersama. Jangan ambil semuanya sendirian.”
Devan tersenyum tipis, menyeringai dengan pesona berbahayanya. Dia mencium kening Alana lama dan dalam.
“Tidak ada pilihan lain, Sayang. Nyawaku ada di tanganmu, dan nyawamu ada di tanganku. Kita sudah terikat sampai mati, ingat? Dan aku berjanji, akhir cerita ini akan menjadi milik kita. Aku akan membersihkan nama baikmu, aku akan menghancurkan mereka sampai tak punya sisa untuk bangkit lagi, dan aku akan membuat seluruh dunia tahu bahwa wanita ini bukan penyihir atau simpanan, melainkan Ratu yang menduduki takhta di hatiku, dan kelak akan menduduki takhta di sampingku.”
Malam makin larut. Di luar sana, kota Jakarta masih sibuk dan bising, namun di dalam ruangan kecil ini, dua jiwa sedang menyusun strategi dan membulatkan tekad. Jalan ke depan makin sempit, makin curam, dan makin tajam durinya. Tapi mereka tidak lagi berjalan sendirian. Mereka adalah pasukan berdua, saling menjadi perisai dan saling menjadi pedang.
Besoknya, suasana di lantai 42 berubah drastis. Devan berjalan keluar dari ruangannya dengan aura yang jauh lebih dingin, jauh lebih berkuasa, dan jauh lebih menakutkan dari sebelumnya. Dia tidak lagi tersenyum sedikit pun. Matanya tajam menyala, memandang setiap orang dengan tatapan penilai yang membuat siapa saja gemetar. Dia memanggil satu per satu kepala divisi, memberikan instruksi tegas dan keras, memperketat segala aturan dan akses. Dia mulai menggerakkan bidak catur di papan permainannya, mendesak musuhnya masuk ke dalam sudut-sudut perangkap yang sudah dia siapkan bertahun-tahun lamanya.
Dan saat Alana berjalan di sampingnya, meski tatapan orang masih penuh bisik dan kecurigaan, dia berjalan tegak, mantap, dan bangga. Karena di sisi kanannya, tangan Devan selalu berada dekat, kadang menyentuh lengan atau punggungnya dengan gerakan tak terlihat namun bermakna: Aku di sini. Aku bersamamu. Tak ada yang berani menyentuhmu.
Nyonya Rina dan Dion yang menyangka dengan merusak nama baik Alana akan membuat Devan mundur atau melemah, justru kaget luar biasa. Mereka menyadari bahwa bukannya menjauh, Devan malah makin berani dan makin terang-terangan menunjukkan posisi Alana sebagai pendukung utamanya. Mereka menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan singa tidur yang jauh lebih ganas daripada yang mereka bayangkan.
Pertempuran besar ini belum selesai. Bahkan bisa dibilang baru saja memasuki babak yang paling berdarah dan paling krusial. Namun satu hal yang pasti: Alana dan Devan kini sudah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dan tak terkalahkan. Di tengah jalan yang penuh duri ini, mereka berjalan beriringan, mengubah rasa sakit menjadi kekuatan, dan mengubah kebencian menjadi bahan bakar untuk mencapai kemenangan mutlak.
Dan di dalam hati masing-masing, mereka menyimpan satu keyakinan abadi: bahwa sejauh apa pun jalan ini membawa mereka, seberapa dalam jurang yang harus mereka lewati, pada akhirnya, mereka akan tetap berdiri tegak di atas puing-puing kekalahan musuh, dengan hati yang saling takluk selamanya.